Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Undangan Count Baru


__ADS_3

Setelah mencari beberapa waktu, Ciel akhirnya menyerah.


Kemana wanita itu berlari? Benar-benar susah dicaari. Lupakan, aku akan meminta maaf nanti.


Menggeleng ringan setelah berkeliling, Ciel hanya bisa menyerah untuk mencari wanita itu. Dia memutuskan untuk mengecek Deschia. Agar Wyvern itu tidak merasa diabaikan, paling tidak, Ciel akan muncul sehari sekali pada pagi atau sore hari. Kebetulan, hari ini dia belum menemui Deschia.


Sampai di kandang, Ciel dikejutkan oleh kehadiran sosok lain di sana. Itu adalah sosok Arla yang sedari tadi dia cari. Pemuda itu tidak menyangka kalau Arla malah bersembunyi di kandang. Daripada bersembunyi, wanita itu lebih mirip mengawasi salah satu kandang, dan kandang itu adalah milik Deschia.


“Apakah kamu tertarik dengan Frost Wyvern?” tanya Ciel kepada Arla.


Mendengar pertanyaan Ciel yang tiba-tiba, Arla kaget dan mundur beberapa langkah. Wanita itu menatap Ciel dengan ekspresi tidak percaya. Tidak menyangka pemuda itu sampai di sana.


Mengabaikan Arla yang tertegun, Ciel mendekat lalu masuk ke dalam kandang. Meski dibilang kandang, itu lebih mirip sebuah kamar kosong yang luas dan bersih. Hanya ada wadah menaruh makanan di sudut ruangan, tidak ada hal lainnya. Bahkan tidak ada jerami sebagai penghangat karena lantai bersih itu sudah diukir dengan rune khusus yang memiliki efek mirip.


Melihat Ciel yang datang, Deschia membuka matanya. Menjulurkan lehernya lalu menggosokkan kepalanya ke tubuh Ciel. Pemuda itu juga memeluk kepala Deschia sambil menggosoknya. Keduanya adalah partner yang baik dan tampak begitu harmonis.


"Kamu boleh mendekat jika ingin melihat lebih jelas,” ucap Ciel tanpa menoleh. Masih sibuk mengelus kepala Wyvern hitam itu.


“...” Arla tidak menjawab, tetapi ekspresi penasaran tergambar jelas di wajahnya.


Awalnya wanita itu masih ragu. Belum lagi, dia juga masih marah karena apa yang Ciel lakukan sebelumnya. Namun, Arla juga tidak bisa menahan rasa penasarannya. Perlahan tapi pasti, wanita itu mendekat.


Ketika sampai pada jarak kurang dari empat meter, Deschia yang memejamkan mata sambil menikmati sentuhan tuannya membuka mata sambil menggeram. Suara itu dibuat untuk memperingatkan lawan.


Ciel menepuk kepala Deschia lalu menatap tepat di matanya.


“Wanita itu bukan musuh.”


Seolah paham dengan ucapan Ciel, Deschia tampak kembali tenang.


Merasakan tatapan Arla yang penasaran, Ciel tersenyum dalam hatinya.


Sepertinya, mendekati seorang perempuan dengan hewan peliharaan juga masih berguna di dunia ini.


Ya, meski itu bukan kucing, tetapi kadal raksasa bersayap.


“Kemarilah,” ucap Ciel dengan nada tak acuh, tetapi memiliki sedikit kesan memerintah.


Tanpa Arla sadari, dirinya mendekat sesuai perintah Ciel. Hendak mundur, wanita itu merasa sudah terlambat. Meski agak ragu, dia mendekati Ciel.


“Kelihatannya kamu tidak asing dengan Wyvern.”

__ADS_1


“...”


Melihat kalau Arla belum mau berbicara, Ciel tidak memaksa. Namun, tanpa disangka, wanita itu tiba-tiba berbicara.


“Saya memiliki kenalan yang juga memiliki makhluk tunggangan bermutasi.”


“Hm?” Ciel memandang Arla dengan ekspresi penasaran.


“Tidak sekuat Frost Wyvern, makhluk itu adalah jenis tunggangan eksklusif bagi pejuang elit suku kami. Makhluk-makhluk itu bernama Ground Raptor. Demonic Beast level 3 ketika dewasa, memiliki penampilan reptil yang berjalan dengan dua kaki.


Sedangkan kaki depannya lebih kecil tetapi masih memiliki cakar tajam untuk menyerang mangsanya. Tunggangan kenalan saya itu adalah mutasi yang disebut Shadow Ground Raptor.


Berbeda dengan Ground Raptor yang memiliki sisik cokelat muda seperti warna tanah. Mirip Wyvern anda, itu hitam legam. Dikatakan, makhluk itu bisa mencapai level 4 ketika dewasa.”


Mendengar penjelasan Arla, Ciel mengangguk. “Menarik.”


Meski lebih rendah dari Frost Wyvern, Ground Raptor memang tunggangan yang baik. Mereka cepat dan mudah dilatih bersama dengan kawanannya. Itu hanya salah satu keuntungannya. Tentu saja, masih ada beberapa keuntungan lain.


“Apakah itu sahabatmu?” tanya Ciel.


Mendengar pertanyaan itu, ekspresi sedih terlintas di mata Arla. Wanita itu berkata, “Ya … hampir bisa dibilang seperti itu. Lebih tepatnya, mantan sahabat saya.”


“Kamu boleh bercerita jika ingin.” Ciel berkata dengan nada tak acuh.


“...”


“Terima kasih, Pangeran Luciel. Namun itu tidak perlu.”


“Aku tidak memaksa,” jawab Ciel santai.


Setelah menghabiskan beberapa waktu dengan Deschia sambil memberi makan, keduanya hendak kembali ke bangunan utama. Namun, sebelum keluar dari kandang, Ciel tiba-tiba menghentikan Arla. Wanita itu kaget karena Ciel tiba-tiba menghentikannya.


“Maaf, aku tidak berniat menghinamu.”


Setelah mengatakan itu, Ciel pergi meninggalkan kandang. Sementara itu, Arla menatapnya dengan ekspresi terkejut. Senyum menawan terlihat di wajah cantik wanita itu.


“T-Tunggu saya, Pangeran Luciel.”


Arla segera berlari kecil menyusul lalu berjalan di belakang Ciel.


Akan tetapi, ketika keduanya memasuki bangunan utama kastil, mereka menjadi fokus para maid. Para maid itu menatap mereka dengan ekspresi takjub dan heran, seolah melihat pemandangan luar biasa. Suara bisik-bisik kembali terdengar.

__ADS_1


“Aku tidak melihat Pangeran Luciel dan wanita itu beberapa waktu. Ketika muncul, mereka berdua. Jangan-jangan …”


“Astaga, apakah mereka melakukan hal liar seperti itu? Di siang hari?”


“Aku dengar Pangeran Luciel mengambil wanita itu dari Tuan Savian dengan cara yang mendominasi.”


“Lihat wajah wanita itu, terlihat puas dan bahagia. Huh, benar-benar tidak tahu malu.”


“Jika itu kamu, apa mungkin kamu menolak sosok seperti Pangeran Luciel?”


“Tentu saja aku akan langsung menyerahkan diri di tempat.”


“...”


Mendengar para pelayan yang mulai bergosip dengan sembrono, Ciel mengerutkan kening. Dia kemudian melihat ke arah Arla, berharap wanita itu menyangkal atau protes. Lagipula, rumor seperti itu tidak baik untuk para wanita.


Akan tetapi, ketika melihat Arla, Ciel hanya bisa terdiam.


Wanita itu mengikuti Ciel dengan tatapan kosong. Sedikit menundukkan wajahnya, kulitnya menjadi merah karena malu. Bahkan, Ciel merasa kalau uap kecil terlihat di atas kepalanya.


Kenapa kamu bersikap malu-malu? Bukankah itu membuat mereka menjadi semakin curiga?


Ciel bingung harus menangis atau tertawa. Hanya saja, dia sudah tidak peduli. Dari gelar Marquis of Blackfield, Ciel sudah memiliki catatan buruk yang tertulis tentangnya. Menambah satu catatan lagi … itu tidak terlalu berpengaruh.


Kedua orang itu kemudian segera menemui Savian. Tentu saja, tanpa Ciel mengatakan apa-apa, Savian bahkan tidak curiga kepadanya. Lagipula, orang itu telah sangat mengenali sikap budak sekaligus penjaganya.


“Ngomong-ngomong … aku lupa menyampaikannya, Pangeran Ciel. Ini.”


Melihat Savian yang memberikan sebuah amplop kepadanya, Ciel merasa agak aneh. Amplop itu berwarna merah dengan tulisan dan pola hiasan berwarna emas. Melihat nama tidak dikenal pengirimnya, Ciel memiringkan kepala.


“Apa ini?”


“Surat undangan pesta dari Count baru yang ditunjuk oleh Ayah.” Savian berkata santai. Namun, pemuda itu menatap lekat ke mata Ciel. “Sebaiknya anda datang.”


“Kembali ke Kastil Jade Water?”


Melihat ke arah Savian, Ciel yang ingin menolaknya hanya bisa menghela napas panjang. Pada akhirnya … dia menerima undangan itu dan memutuskan untuk hadir.


Ya … selalu menghindari tempat itu mungkin malah menyebabkan trauma.


Pikir Ciel sembari menghibur diri sendiri.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2