
“Daripada membahas hal-hal semacam itu, bagaimana kalau aku memberi satu atau dua saran?”
Ciel tiba-tiba berkata dengan nada misterius. Meski wajahnya dingin, matanya jelas memancarkan kilau sedikit bersemangat.
“Apa itu, Pangeran Ciel?” Savian berkata dengan ragu.
“Uang. Ya, banyak uang.” Ciel berkata dengan penuh kepastian.
“Maksud anda …”
“Bukankah organisasi baru bernama Southern Star akan segera didirikan?” Ciel mengangkat sudut bibirnya. “Itu berarti akan ada banyak rekrutan baru, kan? Jika demikian … bukankah pasar untuk potion akan terbuka lebar? Jika kita berhasil memanfaatkannya-”
“Tolong tunggu sebentar, Pangeran Ciel.”
“Ada apa?” tanya Ciel.
“Membuka pasar itu tidak mungkin.” Savian menggeleng ringan. “Organisasi baru itu berencana untuk membuat kelompok elit kecil di masa depan. Setiap wilayah hanya bisa mengirimkan 10 orang generasi muda terbaik. Itu berarti … dari tujuh wilayah di bawah Keluarga Raevern, akan ada 70 orang. Ditambah wilayah kami sendiri yang mengirim 20 orang, berarti akan ada 90 orang. Sebenarnya …”
“Sebenarnya kalian berniat mengundangku yang akan membawa 10 orang. Total anggota akan menjadi pas 100 orang, kah?”
“Benar.” Savian mengangguk ringan. “Setiap anggota harus memiliki usia di bawah 25 tahun, yang masih dianggap generasi muda. Sedangkan pengembangan setiap anggota seperti pelatihan, potion, dan semuanya … itu akan ditanggung seluruh bangsawan South Duchy bersama-sama.”
“Karena aku menolak, aku yakin, wilayah dua Marquis akan menambah masing-masing 5 anggota. Jadi kamu tidak perlu khawatir.” Ciel berkata santai.
“Karena itu, kita tidak membuka pasar. Maafkan saya, Pangeran Ciel.”
“Bukan masalah.” Ciel menggeleng ringan. “Aku hanya salah prediksi.”
“Syukurlah kalau anda tidak marah.” Savian menghela napas panjang.
“Kalau begitu, mari kembali ke kamar masing-masing dan bertemu lagi nanti malam.” Ciel mengalihkan pandangannya ke arah Ferel yang tertidur pulas di atas meja. “Kelihatannya Ferel terlalu banyak minum.”
“Baik.” Savian juga mengangguk.
__ADS_1
“Kalau begitu aku duluan.” Ciel bangkit dari kursinya. “Ayo, Shana.”
Kembali ke kamar, ekspresi santai dan lembut Ciel langsung berubah menjadi lebih tak acuh dan dingin.
Seratus generasi muda South Duchy yang paling menjanjikan, kah? Aku ingin melihat seperti apa mereka.
Mata Ciel memancarkan kilau misterius, tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam kepalanya.
Sebenarnya, alasan kenapa Ciel ingin ‘membuka pasar’ bukan karena dia kekurangan uang. Namun, karena dia telah menolak undangan Savian, sangat tidak baik untuk mencaritahu informasi organisasi baru itu. Dengan dalih ‘membuka pasar’, Ciel kurang lebih mengetahui seperti apa organisasi baru itu.
Tanpa terasa, waktu berlalu dan malam tiba.
Keluar dari kamarnya, Ciel memakai pakaian khas bangsawan berwarna hitam dengan garis serta ornamen perak. Ada beberapa aksesoris dari batu safir berwarna biru yang tidak terlalu berlebihan. Seperti biasa, meski memiliki desain yang berbeda-beda, pemuda itu suka memakai pakaian dengan warna dasar hitam.
Turun ke lantai pertama, Ciel menjadi sorotan utama. Memakai pakaian bangsawan yang santai saja sudah membuatnya menarik. Belum lagi memakai pakaian yang begitu indah, benar-benar membuat pemuda itu semakin mengagumkan. Mengabaikan orang-orang yang menatapnya, dia segera menemui Savian dan Ferel.
Melihat keduanya, Ciel mengangguk ringan. Savian menggunakan pakaian indah berwarna hijau tua dengan garis-garis serta ornamen perak. Beberapa aksesoris bertatahkan dengan batu amber berwarna kuning pucat. Terlihat menyegarkan dan enak dipandang mata.
Sedangkan Ferel … dia memakai pakaian ‘glamor’ berwarna emas dengan banyak garis serta ornamen perak. Ada beberapa aksesoris yang bertatahkan batu rubi berwarna merah yang besar. Jangankan Ciel yang membenci sesuatu yang berlebihan, Savian saja juga tidak bisa berkata-kata melihat penampilan Ferel yang ‘luar biasa’, bahkan istimewa.
“Bukankah terlihat bagus dan mewah? Ini adalah pesta para bangsawan muda di seluruh South Duchy, tidak seperti pesta di Kota Jade Water. Para bangsawan muda yang biasanya tidak datang juga akan muncul di sini.”
“Jangan bilang …” Savian menatap Ferel, tidak bisa berkata-kata.
“Sebagai tuan rumah, seharusnya Nona Helena akan muncul. Aku tidak bisa tampil biasa-biasa saja, kan?” Ferel berkata dengan bangga.
“...”
Ciel dan Savian saling memandang lalu menghela napas tanpa daya. Menghadapi seekor fan boy yang kehilangan sebagian besar IQ yang dimilikinya membuat keduanya tidak bisa banyak berkata. Bahkan jika keduanya mengingatkan, mereka seperti sedang berbicara dengan tembok.
“Lupakan. Mari berangkat.” Ciel berkata tak acuh.
“Baik.”
__ADS_1
Mengabaikan Ferel yang masih narsis, Ciel dan Savian menuju kereta masing-masing lalu pergi ke Kastil Scarlet Roze.
Sendirian dalam gerbong keretanya, Ciel tiba-tiba memikirkan hal acak. Seperti kenapa para bangsawan harus menggunakan kereta mereka masing-masing meski hanya satu orang, kenapa mereka saling pamer satu sama lain, dan sebagainya.
Enam belas tahun melakukan hal semacam ini … aku benar-benar tidak terlalu terbiasa.
Meski sudah tidak menolak hal-hal semacam itu, Ciel sendiri masih merasa agak risih. Belum lagi cara Ferel berpakaian. Benar-benar seperti merak yang memamerkan ekornya, mencoba menarik perhatian betina. Itu membuat Ciel tidak bisa banyak bicara.
Sampai di Kastil Scarlet Roze, Ciel disambut ramah oleh pelayan yang menerima dan menunjukkan mejanya. Beberapa bangsawan muda kelihatannya ingin mencoba mendekat. Namun melihat Ciel membuat penghalang tak kasat mata berupa ekspresi dingin, penampilan tak acuh, dan tatapan yang menyiratkan ‘jangan berani-berani mendekat’ … membuat para bangsawan muda mengurungkan niat untuk mendekatinya.
Duduk sendirian di meja yang disiapkan khusus untuknya, Ciel tampak begitu tak acuh. Melihat penampilan para bangsawan muda, khususnya para laki-laki, membuat pemuda itu semakin tidak bisa berkata-kata.
Meski kebanyakan tidak separah Ferel, mereka masih berpenampilan glamor. Bahkan ada beberapa orang yang berpenampilan lebih parah dibandingkan Ferel. Orang itu memakai kalung yang bertatahkan kristal ungu sebesar kepalan bayi. Bukannya terlihat keren, Ciel malah menganggapnya bodoh dan konyol.
Pada saat itu, semua orang mengalihkan pandangannya ke arah tertentu. Melihat ke arah itu, mata Ciel menyipit.
Seorang wanita muda tampak cantik turun dari lantai dua, melangkah perlahan menuruni tangga.
Rambut merah bergelombang, iris mata hijau bak emerald, kulit putih bagai salju. Paras yang begitu menawan ditambah tubuh indah berbalut gaun merah mawar dengan beberapa aksesoris emas yang tidak terlalu berlebihan.
Semua orang, khususnya pemuda menjadi lebih bersemangat. Ciel sendiri sempat agak kaget. Kecantikannya tidak kalah dengan istri dan calon selirnya. Yang membedakan, mungkin tubuhnya yang lebih matang. Membuat wanita itu semakin menarik. Tentu saja Ciel tidak bodoh dan langsung mengenalinya.
Helena Roschild …
Helena menyapa para tamu dengan senyum menawan dan sopan. Melihat posisi duduk Ciel, wanita itu dengan tenang berjalan ke arah pemuda itu tanpa tergesa-gesa. Hal itu membuat para bangsawan muda menatap ke arah Ciel dengan iri.
Sampai di depan Ciel, Helena membungkuk sopan. Menggoyangkan sedikit gundukannya, membuat pemuda itu melihat lereng dalam di antara dua gunung.
“Selamat datang di pesta kecil kami, Pangeran Luciel. Suatu kehormatan anda bisa datang.”
Bersama dengan aroma bunga mawar, suara lembut dan manis Helena masuk ke telinga Ciel.
Bukannya merasa tergiur karena sosoknya, Ciel yang ‘sedikit paranoid’ langsung meningkatkan level waspadanya beberapa tingkat. Tetap tampak tenang, dia menatap sosok Helena.
__ADS_1
Bagi Ciel, Helena seperti bunga mawar yang indah. Hanya saja, selain bunga yang indah … banyak duri tajam dan berbahaya yang harus diwaspadai olehnya.
>> Bersambung.