Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Terbaik dan Terburuk


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu begitu saja.


Tanpa Ciel sadari, warna kuning mulai mewarnai tepi daun. Gabungan warna hijau dan kuning terlihat dengan jelas. Selain menjadi pemandangan indah, pemandangan itu juga menyampaikan pesan bahwa musim gugur akan segera datang.


Tidak seperti tokoh-tokoh dalam cerita yang Ciel baca dalam kehidupan sebelumnya yang selalu memiliki masalah setiap saat, dia bisa merasakan sebuah periode tenang. Ya … periode ketika dirinya bisa menjalani hari-hari dengan biasa tanpa harus berhadapan dengan banyak masalah.


Merasakan angin yang mulai berembus lebih kencang dari biasanya, Ciel memejamkan mata sambil merenung. Sadar kalau Camellia tidak akan segera bangun, dia akhirnya membuat keputusan. Pemuda itu harus meninggalkan wilayahnya dan kembali ke Royal Capital.


Untuk itu, Ciel memanggil seluruh bawahan langsung di bawahnya lalu mendiskusikan banyak hal bersama mereka. Selain menghabiskan waktu bersama dengan mereka, dia juga memberi perintah. Daripada perintah, lebih tepatnya adalah permintaan.


Permintaan untuk melindungi Wilayah Blackfield ketika dirinya tidak ada di sini.


Duduk di atas kastil sembari menatap seluruh pemandangan Kota Black Lily dan daratan hijau yang luas di sekelilingnya, Ciel mengangkat sudut bibirnya. Tanpa terasa, dia benar-benar menganggap tempat ini sebagai rumah. Tempat di mana dirinya akan kembali.


Entah kenapa, aku merasa kalau akan pergi cukup lama kali ini.


Memikirkan firasatnya yang jarang meleset, sebenarnya Ciel merasa agak ragu untuk pergi. Namun firasat yang lain juga mengatakan kalau dirinya harus pergi.


Pergi cukup lama untuk menghadapi sesuatu yang tidak pasti atau menunggu di sini untuk menyesali apa yang akan terjadi? Benar-benar situasi yang buruk.


Ciel tersenyum pahit. Dia bangkit sebelum melompat ke bawah. Menggunakan sihir gravitasi untuk meringankan beban tubuhnya, pemuda itu melayang perlahan ke bawah dengan tenang.


Setelah kakinya menginjak tanah, Ciel kemudian berjalan menuju ke kandang. Tidak cepat atau lambat, tetapi santai dan stabil. Sambil mengamati lingkungan, dia menghela napas panjang.


Menyapa Deschia, Ciel kemudian mengelus kepala Wyvern hitam itu sebelum naik ke punggungnya.


“Mari berangkat, Deschia.”


...***...


Setelah perjalanan cukup melelahkan, Ciel yang naik di punggung Deschia melihat Royal Capital yang begitu makmur.


“Akhirnya kita sampai di tempat ini, Deschia.”


Menarik tali, Ciel menyuruh Deschia turun dari atas awan ke gerbang kota. Melalui jalan khusus yang dibuat untuk para bangsawan lewat, dia menunjukkan emblem miliknya sebelum masuk ke kota tanpa penundaan.


Tidak seperti terakhir kali Ciel datang, dia memilih untuk melakukannya dengan sedikit formalitas. Setelah melewati jalan dan menarik perhatian banyak orang, pemuda itu akhirnya sampai ke gerbang Istana Kekaisaran.


Melewati gerbang Istana Kekaisaran, Ciel langsung mengarahkan Deschia menuju ke Istana Utara.

__ADS_1


Di depan gerbang Istana Utara, para ksatria dengan armor lengkap berwarna perak memberi hormat serempak.


“Selamat datang di rumah, Pangeran Luciel!”


“Terima kasih atas sambutan kalian.”


Ciel tersenyum ringan. Meski tahu kalau semua itu hanya sekadar formalitas, dia juga harus menghormati para ksatria yang mendedikasikan diri kepada Istana Utara, tempat ibunya berada.


Setelah memasukkan Deschia ke kandang, Ciel masuk ke Istana Utara. Melewati pintu depan, dia melihat tiga sosok yang telah menunggunya di sana. Mereka adalah Ratu Lilith, Putri Julia, dan Putri Lilia.


“Selamat datang di rumah, Ciel.”


Ratu Lilith tersenyum lembut. Sementara itu, Putri Julia mengangguk ringan dan Putri Lilia … adiknya itu menatapnya dengan ganas.


Apa yang salah dengan gadis kecil itu? Kenapa harus menatapku dengan ekspresi semacam itu? Apakah dia sedang dalam masanya?


Sudut bibir Ciel berkedut. Menggeleng ringan, pemuda itu segera menghampiri ibunya lalu membungkuk sopan sebagai formalitas.


“Anak anda pulang, Ibu. Seharusnya anda tidak perlu menyambut kedatangan saya seperti ini.” Ciel tersenyum pahit.


Sebagai seorang pangeran, Ciel masih tidak terlalu menyukai formalitas semacam itu. Namun karena itu adalah kewajiban, dia juga tidak bisa menghindarinya.


“Tidak. Saya merasa kalau ini akan menjadi perjalanan panjang. Jadi tidak ingin membawanya ikut bersama. Wilayah Blackfield sudah aman sekarang. Lebih baik dia tinggal di sana.”


Ciel sama sekali tidak berbohong kepada ibunya. Hanya berkata dengan jujur dan santai.


“Hm?” Ratu Lilith tampak sedikit terkejut. “Firasatmu masih begitu baik, Ciel. Mungkin kamu bisa selalu lolos dari kejaran para penjaga karena itu.”


Mendengar pujian sekaligus sindiran dari ibunya, Ciel tersenyum pahit. Dia mengingat masa di mana dirinya selalu melarikan diri dan menghilang pada saat latihan. Ketika jam latihan selesai, dia akan muncul entah dari mana begitu saja. Tipikal bocah nakal pada umumnya.


Melihat Ciel terdiam di tempat, Ratu Lilith kembali berkata, “Pergi beristirahat. Ibu akan membahas semuanya nanti.”


“Baik.”


Kembali menuju kamarnya, Ciel yang hendak berganti pakaian melihat pintu kamar terbuka. Melihat sosok Lilia yang berdiri di depan pintu, sudut bibirnya berkedut.


“Apakah kamu tidak tahu cara mengetuk pintu, Lilia?” tanya Ciel.


“Hmph! Itu salahmu karena tidak mengunci pintu, Kak Ciel.”

__ADS_1


Melihat adiknya yang semakin hari semakin berani, Ciel benar-benar harus tidak bisa berkata apa.


“Ada apa?” tanya Ciel.


“Kenapa kamu tidak mati saja?”


Pertanyaan Lilia membuat Ciel mengangkat alisnya. “Apa maksudmu dengan mengatakan hal seperti itu?”


“Hampir mati di tangan Jenderal dari Curses of Shadow. Kembali melawan orang-orang gila itu beberapa waktu kemudian. Kamu selalu membuat ibunda cemas! Kenapa kamu tidak pulang saja? Kenapa kamu keras kepala seperti itu? Tidakkah kamu berpikir bagaimana ibunda mengkhawatirkan dirimu?


Pemalas keras kepala! Egois! Menyebalkan!”


Melihat Lilia yang berbicara dengan nada hampir berteriak ditambah ekspresi marah, Ciel sama sekali tidak membalas. Pemuda itu juga tahu kalau sebenarnya sang adik mengkhawatirkan dirinya.


Ciel berjalan mendekati adiknya lalu memeluk gadis itu dengan erat. Ekspresi lembut sekaligus bersalah terukir di wajah tampan pemuda itu.


“Maaf,” ucap Ciel pelan.


“Bodoh!”


“Maaf.”


“Egois!”


“Maaf.”


“Kamu … hmph!”


Lilia mendengus dengan ekspresi marah. Namun tubuhnya jujur. Gadis itu membenamkan diri ke dalam pelukan Ciel. Memeluk erat dan tidak melepaskannya.


Sejak kecil Lilia menjadi pengikut Ciel. Bagi gadis itu, kakaknya adalah sosok hebat dan lebih dewasa dibandingkan anak-anak seusianya. Selalu membalas tenang dan tidak kehilangan kesabaran dalam menghadapi masalah. Baginya, Ciel seperti sosok pahlawan yang ingin dia contoh dan ikuti.


Hanya saja, ada hari di mana semuanya berubah. Sang kakak yang selalu Lilia anggap hebat mendapat cap sebagai ‘sampah’. Dia bersikeras untuk tidak percaya, tetapi sikap Ciel yang mulai menjauh dari semua orang membuatnya akhirnya hanya bisa menerima kenyataan itu. Ditambah dengan ucapan orang-orang yang menyuruh dirinya menjauh dari Ciel, hubungan keduanya menjadi semakin renggang.


Pada saat Ciel dikirim ke tempat jauh, Lilia adalah yang paling menentangnya. Namun sebagai putri yang tidak terlalu dianggap dan tidak memiliki suara, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Gadis itu mengingat jelas punggung Ciel yang kesepian sebelum naik ke kereta kuda di hari dirinya meninggalkan Istana Utara.


Mendengar sosok Ciel yang ternyata adalah seorang jenius, Lilia menjadi sangat bahagia. Mendengar kabar ketika nyawa Ciel dalam bahaya, gadis itu merasa ketakutan dan khawatir. Lagipula, bagi Lilia …


Ciel adalah kakak yang terbaik sekaligus yang terburuk.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2