
“Apa maksudmu, Ciel?”
Zack bertanya dengan ekspresi penasaran. Vexia yang duduk di sampingnya juga menatap dengan heran. Sedangkan Ciel, dia tampak tak acuh dan tidak bermaksud menjawab.
“Kalau begitu aku akan kembali, Rivalku. Jika Ayah dan Ibu tahu, mereka pasti akan langsung menghukumku.”
“Baik.”
Melihat sosok Zack yang menghilang dari pandangan, Ciel mengalihkan tatapannya ke arah Ryo yang berdiri seperti patung penjaga.
“Kamu seharusnya bisa menebak, Ryo. Dan ya … tebakanmu benar.”
“Saya tidak akan membiarkan anda pergi ke tempat seperti itu, Pangeran Luciel.”
“Kamu boleh mencoba mencegahku. Namun aku pastikan kamu tidak akan bisa menghentikanku, Ryo.”
“Bagaimana jika saya melaporkan anda kepada Yang Mulia Kaisar, Pangeran Luciel?” Ryo berkata dengan nada sedikit mengancam.
“Paling-paling aku akan dikurung setelah kembali. Tidak mungkin Yang Mulia membunuh putranya sendiri.” Ciel menjawab dengan nada tak acuh. Menopang dagu dengan ekspresi bosan, dia sedikit cemberut. “Jika Zack tidak dalam keadaan separan ini, aku akan mempertimbangkan untuk tidak pergi. Sekarang Zack dalam bahaya. Karena tempat itu tidak terlalu berbahaya untukku, aku tidak keberatan membuat sedikit kebaikan.”
“Anda …” Ryo mengerutkan kening. Dia kemudian menghela napas panjang. “Kalau begitu izinkan saya mengikuti anda.”
“Kenapa?”
“Karena sudah tugas saya menjaga anda. Meski tidak sekuat anda, tetapi dalam kondisi tersudut saya masih bisa menjadi perisai daging untuk memberi anda waktu.”
“Kenapa harus mengatakan sesuatu yang suram?” Ciel mengangkat alisnya. Menoleh ke arah Ryo yang sangat serius, dia mendecak tidak puas. “Lakukan sesukamu. Namun … jangan menghalangiku.”
“Baik.”
Setelah percakapan singkat, keduanya hanya diam untuk menikmati senja. Berada di Kastil merah sambil menatap langit senja kemerahan yang memantulkan cahaya ke kolam penuh dengan ikan berwarna merah. Ciel terlihat tenang dan damai.
__ADS_1
Cukup unik … tidak buruk juga.
...***...
Empat hari berlalu begitu saja.
Kota Crimson Dust adalah sebuah kota besar yang dikuasai oleh seorang Marquis di bawah Duke Flamehart. Itu adalah wilayah paling utara dari Kekaisaran Black Sun.
Di pagi hari dalam sebuah penginapan terlihat sosok mencolok yang duduk berseberangan.
Satu orang terlihat lebih muda memiliki rambut perak, kuli putih pucat, dan wajah tampan. Apa yang membuat dia lebih berbeda adalah dua iris mata berwarna biru dan hijau. Pakaiannya sendiri agak berbeda dengan orang-orang sekitar.
Pemuda itu memakai pakaian turtle neck dengan lengan sebahu berwarna hitam dihiasi garis perak di bagian dalam dan memakai sebuah jubah hitam yang menutupi sebagian tubuhnya. Dia juga menggunakan sarung tangan panjang dan sepatu berwarna hitam. Sebuah sabuk memeluk pinggangnya. Di sana terlihat tas dimensi kecil berwarna hitam dan dua buah pedang pendek (bukan katana).
Sedangkan di sisi lin, terlihat lelaki tampan dengan rambut pirang dan mata biru. Memiliki tubuh yang bagus dan senyum ramah di wajahnya. Dia memakai armor layaknya ksatria berwarna hitam dengan ornamen emas yang indah.
Ya. Keduanya adalah Ciel dan Ryo yang menyamarkan penampilan mereka. Meski masih mencolok, penampilan mereka cukup berbeda dari sebelumnya.
“Bukan apa-apa, Gin.”
Melihat ekspresi Ryo yang agak buruk, Ciel tidak bisa tidak bertanya. Dalam perjalanan ini, keduanya memiliki nama samaran baru. Ciel menyebut dirinya sebagai Gin, yang berarti perak dalam bahasa Jepang. Sedangkan pemuda itu juga menamai Ryo dengan sebutan Xan dari kata Xanthos, yang berarti emas dalam bahasa Yunani.
Dua nama yang begitu singkat dan memiliki arti jelas. Rambut Ciel berubah menjadi perak, jadi dia disebut Gin. Rabut Ryo berubah menjadi pirang keemasan, jadi dia disebut Xan. Alasan yang cukup sepele.
“Selesaikan makananmu sebelum kita mencari Caravan untuk pergi ke kota berikutnya.”
“Baik, Pang-” Ryo berpura-pura batuk. Merasakan tatapan Ciel, dia tersenyum pahit. “Gin.”
Ciel dan Ryo sekarang menyamar sebagai pengelana sekaligus tentara bayaran. Ryo yang tidak bisa mengatur napas dan energinya masih terlihat sebagai iblis tingkat 4 (awal). Sedangkan Ciel menyembunyikan kekuatannya sebagai iblis level 4 (awal), hal yang membuat Ryo kagum dengan kontrol kekuatan Ciel.
Alasan Ciel dan Ryo tidak membawa Black Wyvern serta Griffim tentu saja karena mereka terlalu mencolok. Orang bodoh pun tahu kalau Black Wyvern itu unik dan kemungkinan muncul sangat kecil. Meski penampilan Ciel berubah, mereka masih bisa menebak dan mengira.
__ADS_1
Sedangkan Griffin, biasanya mereka dianggap tunggangan para ksatria elit di Kekaisaran Black Sun. Karena banyak jenis Griffin dengan bulu berbeda di beberapa wilayah tertentu, Griffin yang berada di pegunungan dekat Royal Capital mudah ditandai. Belum lagi, hanya ada satu pusat koloni Griffin pada dataran selatan di mana Kekaisaran Black Sun dan kerajaan lain berada.
Tentu saja, sebelum berangkat Ciel menitipkan Deschia dan Griffin kepada Duke Flamehart agar bisa merawat mereka dengan baik. Dia juga berpamitan dengan Deschia. Meski Wyvern itu agak enggan, pada akhirnya Deschia mengikuti kehendan tuannya.
Selesai makan sarapan bersama, keduanya membayar dan keluar dari penginapan.
Mereka berdua menuju ke distrik perdagangan untuk mencari apakah ada Caravan yang menuju ke Kerajaan Blood Diamond. Keduanya sengaja menutupi aura mereka dan sedikit membocorkan aura iblis level 4 (awal). Jadi orang-orang yang cukup mampu bisa merasakan kekuatan mereka dan mencoba menghindar. Membuat keduanya menjauh dari masalah.
Setelah sampai di distrik perdagangan, Ciel terus mengikuti Ryo yang bertanya ke beberapa pedangan dengan ramah. Sedangkan dia hanya mengikuti dengan ekspresi tak acuh.
Keduanya akhirnya sampai di sebuah bangunan besar berada. Di sana terlihat banyak kereta kuda dengan gerbong-gerbong besar dan sederhana untuk mengangkut bahan.
Di depan bangunan itu, terlihat beberapa orang yang sedang bertengkar. Satu sisi adalah seorang wanita cantik dengan rambut dan iris mata hijau dengan bagian depan dan belakang tubuh yang menonjol. Dia memegang sebuah buku cukup tebal sambil berkata dengan ekspresi marah dan gelisah.
Sedangkan di sisi lain terlihat tujuh orang yang kelihatannya tak acuh dan memiliki ekspresi cukup sombong di wajah mereka. Mereka adalah sebuah kelompok tentara bayaran kecil yang dipimpin oleh pria paruh baya botak yang kekar dan tinggi. Ekspresi garang di wajah dan bekas luka di kepalanya membuatnya terlihat seperti musuh antagonis dalam sebuah cerita klasik.
Oh! Situasi seperti dalam novel-novel klasik? Agak menarik.
Ryo menatap ke arah Ciel. Meski wajah Pangeran muda tampak tak acuh, Ryo yang mulai mengenalinya paham. Melihat mata Ciel sedikit berkilat misterius, dia tahu kalau pemuda di sampingnya ingin membuat sebuah masalah.
“Kamu harus ingat perjanjian kita, Gin.”
Mendengar ucapan Ryo, Ciel sempat stagnan. Dia kemudian menoleh ke arah ksatria tampan berambut pirang itu.
“Janji apa, Xan? Aku memiliki ingatan yang buruk. Kelihatannya aku melupakannya.”
Melihat Ciel berjalan ke arah orang-orang yang sedang berdebat, Ryo tercengang. Melihat ekspresi tak acuh dan tenang Ciel, dia mengutuk dalam hati.
Bukankah kamu seorang Pangeran? Apakah seorang Pangeran dengan mudah mengingkari janji?
Orang ini … lebih mirip penipu ulung!
__ADS_1
>> Bersambung.