
“Aku sudah memutuskan …”
Cherry tiba-tiba berkata lalu mameluk Ciel. Tanpa ragu, dia mendongak lalu memberi ciuman kecil tepat di pipi pemuda tampan itu.
“Karena kamu telah menyelamatkan hidupku, aku akan mengikutimu, Gin. Tidak peduli hasil akhirnya, aku akan mengikutimu. Meski aku mati, aku tidak akan menjadi beban bagimu.”
“...”
Merasakan sensasi lembut dan sedikit basah yang membekas di pipinya, Ciel tercengang. Gerakan pemuda itu stagnan. Melihat ke arah wanita cantik yang memeluknya dengan penuh kasih sayang … dia tidak bisa berkata-kata.
Bukankah seharusnya kita saling melepas dengan pahit dan merasakan cinta yang tak harus memiliki?
Kenapa malah menjadi seperti ini? Ini jelas melenceng dari naskahnya!
Setelah berpikir cukup lama, Ciel akhirnya membuka mulutnya. Memeluk Cherry, dia menjelaskan perlahan.
“Masih ada waktu. Kamu bisa memikirkannya. Lagipula … aku tidak ingin kamu berpisah dengan saudari dan teman-temanmu.”
“Aku tidak keberatan selama Cherry bisa bahagia.” Jeva berkata sambil menyeka sudut matanya. “Aku serius. Tidak apa-apa, yang terpenting … Cherry bahagia bersama denganmu.”
Anu … Kak Jeva? Bisakah kamu diam sebentar? Aku sedang mencari jalan keluar di sini!
Ciel meraung dalam hati. Benar-benar merasa tertekan karena Jeva menyela ucapannya. Pemuda itu langsung berpikir keras. Melihat ke arah Ryo, sebuah ide masuk ke dalam otaknya.
Ciel mengecup kening Cherry dengan lembut sebelum melepaskan diri dari pelukan wanita itu. Dia kamudian menyeret Ryo yang tertegun untuk meninggalkan ruangan sembari memberi senyum minta maaf.
“Kalau begitu kami akan pergi untuk bersiap. Sebuah pertempuran besar … banyak yang harus di siapkan.”
Melihat ke arah Ciel yang sudah berdiri di depan pintu sambil menyeret Ryo, yang lain mengangguk secara responsif. Adler juga menjawab sopan.
“Kalau begitu, silahkan datang kemari besok pagi, Tuan Gin. Aku akan menyiapkan semuanya.”
“Baik.”
Setelah menjawab singkat, Ciel langsung meninggalkan ruangan sambil menyeret Ryo.
Melihat ke arah Ciel dan Ryo yang pergi, Cherry agak menyesal.
“Mungkinkah Gin tidak menyukaiku?” gumam wanita itu.
“Mana mungkin. Dia hanya malu karena dilihat beberapa orang asing.” Jeva langsung berkata penuh percaya diri.
“Benarkah?”
__ADS_1
“Tentu saja benar!”
Sementara suasana bahagia mulai memenuhi ruangan, kejadian berbeda di kamar penginapan.
Ciel melemparkan Ryo yang menatap kosong ke ranjang. Dia kemudian duduk di sofa dengan wajah tertekan.
Bukankah itu aneh? Aku hanya bertemu dengannya satu malam. Tidak ada kejadian spesial seperti hamil di luar nikah atau semacamnya, tetapi masih bisa seperti ini?
Kenapa wanita itu seperti seekor jaguar kelaparan yang mengejar antelope? Benar-benar buas!
Kembali ke kamarnya sendiri, Ciel langsung mengeluarkan kertas, tinta, dan pena bulu. Daripada membuat strategi untuk melawan Pangeran Fenton dan pasukannya … pemuda itu benar-benar menghabiskan malam untuk membuat strategi untuk melarikan diri dari Cherry.
Mencari cara menghindar yang lembut dan halus!
...***...
Dua hari kemudian, di sebuah pegunungan batu yang berada jauh di barat laut Kota Redstone.
“Serius … sekarang aku curiga rombongan orang itu tidak akan lewat sini.”
Di atas satu bukit batu besar, Ciel menatap satu-satunya jalan yang berada di ngarai. Melihat ke bawah, ke jalanan yang ditumpuki oleh salju, dia merasa cukup tertekan.
Ciel dan Ryo sekarang memakai mantel panjang sebagai penghangat. Meski memiliki level tinggi, keduanya masih menyukai hal-hal yang praktis dan nyaman.
“Kemungkinan mereka tertunda karena salju yang mulai turun.”
Ryo menjawab dengan tenang dan sopan. Dia benar-benar melupakan wajah tidak tahu malu sosok pangeran yang dia ikuti itu.
“Tertunda karena salju? Dalam perjalanan, mereka tidak mempersiapkan diri untuk melewati hal semacam itu meski ketika mereka berangkat sudah dekat musim dingin?
Ketika musim dingin tiba, mereka tertunda? Benar-benar tidak profesional!”
Ryo menatap Ciel dalam diam. Dia sedang berdiri sambil melihat pemuda berambut perak yang duduk di kursi dekat api unggun. Di tangan pemuda itu, ada satu cangkir cokelat panas. Di tangan lainnya, ada satu toples camilan. Tidak hanya itu, tak jauh dari api unggun terlihat tenda sedang yang megah dan hangat.
Bukankah kamu menganggap ini piknik, Pangeran Luciel? Jujur saja, dari ekspresimu … kamu bahkan menikmati ini!
Melihat Ciel yang mengeluh sambil minum cokelat panas dan makan camilan membuat Ryo tertekan. Pemuda itu benar-benar terlihat ceroboh, tidak seperti orang yang siap berperang!
“Di luar agak dingin, aku akan masuk ke tenda.”
Ciel yang menghabiskan cokelat panas mengemasi barangnya sebelum masuk ke tenda.
“Kalau mau membuat cokelat panas, buat saja sendiri. Sedangkan camilan … makan saja daging asap yang kamu bawa.”
__ADS_1
“...”
Melihat Ciel yang memasuki tenda, Ryo sekali lagi kehilangan kata-katanya.
Pangeran Luciel … kamu datang ke sini untuk piknik, kan? Jelas bukan untuk berperang, kan? Katakan padaku!
Ryo mengeluh dalam hati. Setelah menenangkan diri, orang itu akhirnya memutuskan.
“Aku akan jalan-jalan untuk mengganti suasana.”
“OK. Kalau bertemu musuh, langsung maju sambil menyalakan suar. Aku akan segera menyusul.” Suara malas terdengar dari dalam tenda.
Sudut bibir Ryo berkedut. Menggeleng ringan, dia akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan.
Pada saat jalan-jalan, Ryo sama sekali tidak melihat banyak binatang atau tanaman. Melihat ke arah langit yang tertutup oleh awan, dii mana kepingan salju mulai berjatuhan, pria itu menghela napas panjang.
Karena suhu dingin, udara yang berembus dari mulutnya menjadi uap. Memejamkan mata sebentar, Ryo menikmati suasana dingin dan sunyi itu. Pada saat itu … suara lain masuk ke dalam telinganya. Suara itu memiliki ritme tertentu. Jika diperhatikan, itu adalah suara tapal kuda.
Melihat ke sumber suara, Ryo melihat barisan ksatria yang menunggang kuda. Mereka mengawal kereta kuda yang berada di tengah. Dalam jumlah, kurang lebih ada seratus penunggang kuda. Tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil untuk sebuah barisan pengawal.
Mengingat apa yang dikatakan oleh Ciel, Ryo memutuskan untuk segera maju dan menghadang mereka ketika orang-orang itu tidak siap.
Ryo segera turun dari bukit lalu menghalangi jalan. Seorang ksatria hitam yang menghadang lebih dari seratus penunggang kuda. Benar-benar pemandangan luar biasa.
Ketika barisan ksatria penunggang kuda melihat Ryo yang menghalangi jalan sambil memegang sesuatu di tangannya, mereka langsung berhenti dan siaga.
Sosok yang berada di bagian paling depan langsung berseru.
“Seseorang menghalangi jalan, kemungkinan besar sebuah penyergapan! Bersiap untuk bertempur!!!”
Memasang ekspresi dingin di wajahnya, Ryo mengangkat tangan kanannya lalu menembakkan suar ke langit.
Barisan ksatria berkuda langsung memasang posisi bertahan untuk melindungi kereta kuda Pangeran Fenton. Ketika cahaya merah mekar di langit, seruan pemimpin ksatria terdengar.
“Rapatkan barisan, siapkan diri untuk menahan penyergapan!”
Para ksatria langsung mundur dalam posisi tertentu sambil memegang perisai besar. Mereka bersiap dengan hujan panah atau tembakan sihir yang diarahkan kepada mereka. Namun, satu menit … lima menit … tidak ada yang terjadi.
Ryo yang berdiri di tengah jalan mengerjap. Sambil merasakan angin dingin membelai wajahnya, ekspresi orang itu menjadi buruk.
Jangan bilang … dia ketiduran!
>> Bersambung.
__ADS_1