Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Diam Saja dan Ikuti


__ADS_3

“Pada akhirnya tidak terkejar.”


Ciel bergumam pelan ketika melihat ke arah Istana Kekaisaran di kejauhan.


Entah kenapa, meski Deschia sudah terbang secepat mungkin, keduanya tidak bisa menyusul kecepatan Pelican raksasa yang seharusnya lebih lambar daripada Wyvern. Menghela napas panjang, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk segera pergi ke Istana Utara.


“Ayo pergi, Deschia.”


...***


...


Sore hari, dalam Istana Utara.


“Pangeran Luciel telah tiba!”


Mendengar ucapan itu, orang-orang dalam Istana terkejut. Mereka semua segera pergi ke luar untuk menyambut. Namun saat itu, suara kaki sudah terdengar menuju ke dalam istana.


Masuk ke dalam istana, Ciel langsung berjalan menuju ruang santai keluarga. Benar saja, beberapa sosok yang tidak asing ada di sana. Dia melihat ibu serta adik perempuannya. Selain itu, ada juga Eve, Isabella, dan si kembar.


Eve kecil terlihat sedang makan kue manis sambil duduk di pangkuan Ratu Lilith. Melihat kedatangannya, gadis kecil itu segera melompat turun dari pangkuan neneknya dan berlari ke arahnya.


“Papa!”


Melihat gadis kecil yang berlari ke arahnya dengan penuh semangat, ekspresi Ciel yang biasanya dingin menjadi lebih lembut.


Eve kecil berhenti di depan Ciel. Dia mendongak dengan ekspresi heran, melihat sesuatu dalam pelukan ayahnya itu dengan mata berkilauan.


“Papa? Apa itu?”


“Dalam perjalanan sebelumnya, Papa bertemu dengan si kecil ini. Karena ingin ikut, jadi Papa membawanya. Papa pikir, kalian akan akrab.”


Setelah mengatakan itu, Ciel menurunkan bayi Frost Wyvern dalam pelukannya. Makhluk itu memandang gadis kecil di depannya dengan ekspresi bingung. Gadis kecil itu mengulurkan tangannya. Memberikan kue cokelat yang setengah digigit.


“Kamu mau???” tanya Eve dengan ekspresi polos.


Bayi Frost Wyvern itu mengendus kue di tangan Eve. Setelah merasa tidak bermasalah, makhluk itu mengambil kuat dari gadis kecil itu lalu menelannya.


“Wah! Kamu benar-benar memakannya! Kalau begitu kita berteman sekarang!” ucap Eve kecil dengan ekspresi bahagia.


Gadis kecil itu kemudian langsung memeluk leher bayi Frost Wyvern yang hampir sebesar dirinya itu.


Bayi Frost Wyvern yang agak kaget mencoba melepaskan diri, tetapi tercengang ketika tidak bisa melepaskan diri dari pelukan gadis itu. Dia berusaha keras, tetapi akhirnya malah diseret untuk mengikuti Eve pergi bermain.


Melihat sosok bayi Frost Wyvern, Ciel menggeleng ringan. Jangankan bayi, bahkan jika Tetua Frost Wyvern ada di sini, kakek tua itu pasti akan ditaklukkan oleh Eve kecil.


Bahkan Ratu Lilith dan Lilia tampak terkejut. Mereka menoleh ke arah Ciel, membuat pemuda itu merasa tidak nyaman karena pandangan mereka.


“Sepertinya kamu masih tahu jalan pulang, Luciel Dawnbringer.”

__ADS_1


Melihat ke arah ibunya yang tersenyum lembut sambil menyebut nama lengkapnya, ekspresi Ciel langsung stagnan. Pemuda itu merasa punggungnya basah oleh keringat dingin.


“S-Saya pulang, I-Ibunda. Lilia juga.”


“...” Lilia hanya menatap kakaknya, tetapi sudut bibirnya tiba-tiba terangkat.


Gadis ini …


Ciel merasa tertekan ketika melihat Lilia menahan tawa karena dirinya telah ditangkap oleh sang ibu.


Ratu Lilith kemudian menoleh ke arah Eve kecil yang sedang bermain dengan bayi Frost Wyvern. Menatap gadis kecil yang sepertinya senang karena adanya teman sekaligus mainan baru, wanita itu tersenyum.


“Eve kecil … kemarilah sebentar.”


Mendengar panggilan Ratu Lilith, Eve kecil berhenti bermain. Meninggalkan bayi Frost Wyvern yang kelelahan, dia berjalan menuju sang nenek dengan wajah bingung dan tampak imut.


“Ada apa, Nenek?” Eve memiringkan kepalanya.


“Bukankah kemarin kamu bilang merindukan Papa kamu? Kenapa tidak memintanya menggedong kamu?”


Nata Eve kecil berkedip, tampak agak bingung. Namun setelah memikirkannya baik-baik, gadis kecil itu berlari ke arah Ciel lalu melompat ke dalam pelukannya.


“Papa, gendong!”


“Baik … baik … berhenti terlalu bersemangat,” ucap Ciel sebelum menghela napas.


Melihat ke arah Ciel yang menggendong Eve, Ratu Lilith melirik ke arah Lilia.


“Benar, Ibunda.”


“Seperti terbuat dari cetakan yang sama, kan?”


“Anda benar, Ibunda.”


“Hehehe …”


Ratu Lilith kemudian memandang ke arah Ciel. Tersenyum lembut, dia kemudian berkata.


“Sepertinya kamu harus menjelaskan sesuatu kepada ibu, benar kan, Luciel Dawnbringer?”


Ciel yang awalnya merasa senang ketika menggendong putrinya. Namun kebahagiaan itu hanya sementara. Ya … paling tidak sampai sang ibu tersenyum ramah sambil terus menatapnya.


“S-Saya akan menjelaskannya nanti, Ibunda.” Memikirkan susuatu sebagai alasan, dia kemudian bertanya, “Kenapa aku tidak melihat Ariana? Ada di mana dia sekarang?”


Mendengar ucapan Ciel, ruangan langsung menjadi sunyi. Pangeran pemalas itu langsung bingung. Pada saat itu, suara ibunya kembali terdengar.


“Ariana ada di belakang. Flora, Fiona … antarkan Ciel pergi menemui Ariana.” Setelah mengatakan itu, Ratu Lilith menghela napas panjang.


“Sesuai perintah anda, Yang Mulia.”

__ADS_1


“Eve, kamu ikut Kak Lilia dan Nenek dulu ya? Biarkan Papa kamu pergi menemui Mama,” tambah Lilia sambil mengambil Eve dari pelukan Ciel.


Melihat adiknya yang tidak mau dipanggil ‘Bibi’, sudut bibir Ciel berkedut. Namun saat melihat ekspresi serius semua orang, dia memilih untuk diam lalu pergi mengikuti si kembar.


Sampai di sebuah kamar yang luas, Ciel terkejut melihat tiga sosok di dalamnya.


Selain Ariana, ada dua sosok yang tidak asing baginya. Yang pertama adalah sosok gadis kecil yang biasanya mengikuti Ratu Elizabeth, adik perempuan Ariana … Sheera Vandiir.


Selain itu, dia juga melihat sosok kakak Ariana yang biasanya menjengkelkan, Eoran Vandiir. Namun penampilannya sangat berbeda, bahkan Ciel hampir tidak mengenalinya.


Pria itu bersandar ranjang. Tangan kanannya hilang dan mata kanannya diperban. Selain itu, kedua kaki dari lutut ke bawah juga hilang. Ekspresinya juga tampak pucat.


Bahkan Sheera yang biasanya juga pendiam dan agak tenang sekarang pucat, terlihat bingung dan linglung. Ketika melihat dirinya datang, adik Ariana itu tiba-tiba berlari ke arahnya lalu memeluknya.


Sheera memegang erat dan menarik pakaian Ciel lalu berteriak.


“Kakak Ipar! Kakak Ipar! Anda harus menyelamatkan Ibunda, Kakak Ipar!”


Ciel menunduk ke bawah, melihat Sheera yang berlinang air mata dengan ekspresi panik, pemuda itu terkejut.


Ciel bahkan tidak terlalu mengenal gadis itu, tetapi sepertinya Sheera terlihat sangat berharap kepadanya. Gadis itu berbicara seolah dirinya adalah harapan terakhirnya.


“Eh??” Ciel tampak bingung. “Sebenarnya apa yang telah terjadi?”


“Sebenarnya-”


“Kamu akhirnya pulang, Luciel.”


Sebelum Sheera mengatakan sesuatu, suara lain memotongnya. Menoleh ke sumber suara, Ciel melihat ayahnya, Kaisar Julius berjalan ke arahnya.


Penguasa Kekaisaran Black Sun itu melirik ke arah Sheera sebelum berkata,


“Saya minta maaf, Putri Sheera. Saya memiliki keperluan dengan putra saya terlebih dahulu.”


“T-Tapi …”


Sheera memegang pakaian Ciel lebih erat, benar-benar takut dan tidak mau melepaskannya.


Pada saat itu, Ariana berdiri dari tempat duduknya. Gadis itu menghampiri Sheera lalu menepuk pundaknya. Melihat si adik yang menoleh kepadanya dengan ekspresi pucat dan takut, dia tersenyum lembut lalu menggeleng.


Ciel juga melihat itu dan semakin bingung.


“Ayah, lebih baik aku-”


“Diam, LUCIEL!”


“...”


Melihat ekspresi serius di wajah ayahnya, ekspresi Ciel juga menjadi lebih serius. Keduanya saling memandang dalam diam sebelum akhirnya Kaisar Julius memberi perintah.

__ADS_1


“Luciel Dawnbringer … kamu, ikuti aku.”


>> Bersambung.


__ADS_2