Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Ferel Guldebell


__ADS_3

Tanpa turun dari punggung Deschia, Ciel menyuruh Wyvern itu merayap di atas tanah. Meski kurang nyaman dibanding ketika terbang, cara Deschia merayap masih sangat stabil.


Ketika melihat Ciel dan Deschia, kereta kuda atau barisan iblis yang mengantri langsung menyingkir ke tepi jalan. Sampai di depan tembok kota, para ksatria yang bertugas langsung memberi hormat kepada pemuda itu.


“Selamat datang di Kota Jade Water, Pangeran Luciel. Kami seluruh ksatria beserta warga kota berharap anda memiliki hari yang menyenangkan.”


“Terima kasih.” Ciel mengangguk ringan. “Boleh aku lewat sekarang?”


“S-Silahkan.”


Melewati gerbang kayu besar, Ciel dan Deschia akhirnya masuk ke dalam kota. Mengingat seberapa merepotkan hal yang harus dilalui sebelum masuk kota, ditambah betapa antusiasnya para orang ketika melihatnya, pemuda itu hanya bisa menggeleng kepala.


Baru sampai di kota, Ciel melihat sebuah kereta kuda menuju ke arahnya. Dia tampak tidak asing dengan kereta kuda itu. Benar saja, kereta kuda berhenti tidak jauh dari darinya. Sosok yang Ciel kenal turun dari gerbong kereta. Mereka adalah Savian, Runa, dan Arla.


“Bagaimana kamu bisa tahu aku datang, Savian?” Ciel memiringkan kepalanya.


“Anda bercanda, Pangeran Luciel? Bukankah itu jelas? Sudah jelas … siapa lagi yang akan muncul mengendarai seekor Wyvern hitam selain anda?”


“Hmmm …” Ciel mengangguk.


“Tidak perlu terlalu dipikirkan, Pangeran Luciel. Tolong ikuti saya, saya akan mengantar anda ke penginapan yang bagus untuk menginap.”


“Baik.”


Seperti yang Savian katakan, karena hanya pesta satu malam, biasanya para keturunan bangsawan menginap di penginapan terbaik kota mereka singgah. Meski mereka bangsawan, ini bukan Royal Capital, tidak ada seorang bangsawan yang repot-repot membeli atau membangun tempat tinggal di setiap kota.


Selain merepotkan untuk mengurus. Hal seperti itu … menghabiskan banyak uang.


Setelah mengikuti Savian, mereka akhirnya sampai di sebuah penginapan bernama ‘Jadestone Inn’. Namanya terkesan sederhana, tetapi mudah diingat. Selain itu, penginapannya bisa dibilang luas, mewah, dan nyaman.


Sekali lihat, Ciel sadar kalau penginapan itu mungkin sudah seperti hotel berbintang di kehidupan sebelumnya. Pemuda itu menggeleng ringan.


Pemilik penginapan menyambut kedatangan Ciel dengan ramah. Tidak menyangka seorang pangeran benar-benar akan menginap di tempat mereka.


Hanya saja, staf yang bekerja untuk mengurus tunggangan kewalahan ketika melihat Deschia. Lagipula, biasanya pengunjung menaiki kuda, bukan Wyvern besar yang tampak ganas dan berbahaya.


Karena itu, para staf memindahkan barang di gudang dekat kandang lalu membersihkannya sehingga Deschia bisa tinggal sementara di sana. Ciel juga ingin membuat Deschia beristirahat hari ini karena sudah melakukan perjalanan jauh bersamanya. Sebagai gantinya, Ciel berencana untuk menumpang kereta kuda Savian.


Tentu saja, Savian sangat setuju dan malah merasa terhormat setelah mendengar rencana Ciel. Keduanya pun memasuki penginapan. Setelah mendaftar, membayar, dan melihat kamar … Ciel kembali turun ke lantai pertama. Dia dan Savian menuju bar untuk menemui sahabat Savian.

__ADS_1


Sampai di bar, Ciel yang muda dan tampan langsung menjadi pusat perhatian. Kebanyakan anak-anak bangsawan yang diundang juga menginap di tempat ini. Tentu saja, mereka juga menghabiskan waktunya di bar.


Mengabaikan tatapan penasaran mereka, Ciel mengikuti Savian sampai lokasi yang ada di sudut, ada beberapa ruang pribadi untuk makan. Masuk ke salah satu ruangan, di sana tampak siluet yang sedang menikmati makanannya. Di atas meja, tampak banyak hidangan yang berbagai macam.


Melihat sosok itu, mata Ciel menyipit.


Ini … apakah orang ini masih manusia? Tidak, maksudku … masih iblis?


Ciel melihat sosok iblis dengan rambut dan mata cokelat. Bukan itu masalahnya. Iblis di depannya terlihat pendek dan bulat. Bahkan lebih pendek dan lebih bulat daripada si pedagang budak, Norwen.


“Kenapa kamu makan duluan, Ferel? Aku sudah menyuruhmu menunggu!” ucap Savian dengan tidak puas.


Dengan tangan penuh minyak sambil terus memakannya, Ferel menjawab, “Itu karena kamu terlalu lama. Lagipula, siapa yang sebenarnya kamu-”


Ferel menoleh. Melihat sosok Ciel, pemuda itu langsung tersedak.


“Uhuk! Uhuk! A-Anda kan … Uhuk!”


Sudut bibir Ciel berkedut. Melihat si bulat yang memegangi leher dengan ekspresi putus asa, dia bingung harus menangis atau tertawa.


Bocah ini … dia tidak akan mati tersedak tulang ayam, kan?


“S-Senang bertemu d-dengan anda, Pangeran Luciel.”


Melihat penampilan gugupnya, Ciel tidak bisa tidak memandang ke arah Savian dengan curiga. Dia tidak menyangka … sosok putra Duke, benar-benar memiliki sahabat seperti ini.


“Jangan lihat dia dari luar, Pangeran Luciel. Meski terlihat seperti itu, dia bukan orang jahat. Perkenalkan, ini Ferel Guldebell, putra Count Guldebell. Satu dari lima Count selain Count Jadeline di South Duchy.”


“Senang berkenalan denganmu, Ferel.” Ciel mengangguk. Dia langsung memanggil namanya agar lebih akrab. Lagipula, mereka bertiga akan berbisnis bersama.


“S-Seharusnya saya yang bilang seperti itu, Pangeran Luciel. Saya merasa sangat sangat sangat terhormat bisa berkenalan dengan anda.”


“Tidak perlu gugup. Tenang.” Ciel berkata dengan ekspresi bosan.


Mendengar perkataan Ciel, Ferel yang sebelumnya bertindak tidak sopan terlihat cukup lega. Dia merasa senang pangeran di depannya tidak memarahi atau memukulinya karena tidak sopan. Ferel kemudian melirik Savian dengan tatapan penuh kebencian.


Lagipula, alasan kenapa Ferel tidak sopan karena dirinya tidak tahu kalau yang akan datang adalah Ciel. Ketika dirinya bertanya kepada Savian siapa yang akan berbisnis dengan mereka, Savian hanya menjawab itu adalah kejutan. Jadi, Ferel pikir itu akan menjadi pengusaha kaya atau semacamnya.


Tidak menyangka, yang datang adalah Luciel. Hal itu benar-benar mengejutkannya.

__ADS_1


Ferel merasa malu dan marah. Jika dia tersedak sampai mati karena tulang ayam, arwahnya pasti tidak akan tenang. Tidak hanya mati dengan memalukan, namanya pasti langsung dihapus dari daftar Keluarga Guldebell.


“K-Kalau boleh tahu, apakah anda yang akan berbisnis dengan kami, Pangeran Luciel?”


“Bagaimana kalau duduk dulu. Bukankah lebih nyaman membahasnya dengan santai?” ucap Ciel.


Ferel dan Savian tersadar kalau mereka masih berdiri dalam ruangan dengan canggung. Ketiganya duduk sementara pengawal Savian, Runa dan Arla berdiri di belakangnya putra Duke itu.


Lagipula, dari ketiga orang, Savian bisa dibilang yang paling lemah. Ferel, si bulat itu … meski berpenampilan seperti itu, dia adalah iblis level 3 (awal) dan lebih baik daripada Savian. Ciel rasa, kemungkinan besar Ferel itu adalah orang yang akan mewarisi posisi kepala Keluarga Guldebell berikutnya.


Ketiga orang itu kemudian memulai percakapan tentang bagaimana bisnis akan dilakukan, target konsumen, dan sebagainya. Ciel bahkan mengungkapkan kalau dirinya akan membuka Kota Black Orchid untuk menjadi lokasi perdagangan untuk wilayah-wilayah tetangga, hal yang mengejutkan Savian dan Ferel.


Semakin lama membahas, ketiganya semakin asyik dan menjadi lebih akrab. Meski di antara ketiganya, Ciel yang paling muda karena Savian dan Ferel berusia 17 tahun, pada saat meminum anggur, Ciel sama sekali tidak terlihat mabuk.


Ferel terlihat paling parah. Wajahnya yang bulat merah karena konsumsi anggur. Dia tiba-tiba menatap Ciel.


“Pangeran Luciel, apakah anda ingin menyewa ‘gadis pijat’? Saya dengar tempat ini memiliki kualitas luar biasa.”


“Kamu mabuk, Ferel. Tenanglah. Minum air dan jernihkan pikiran.” Savian berkata dengan senyum pahit.


“Apa? Apakah kalian meremehkan Ferel ini? Meski berpenampilan seperti ini, Ferel ini memiliki toleransi alkohol kuat! Selain itu, Ferel ini juga pandai mengayuh … kuat bagai kuda!” ucap Ferel dengan bangga.


Melihat tingkah kedua orang itu, Ciel hanya bisa menggeleng ringan. Dia menggoyang gelas di tangannya, membuat anggur dalam wadah berputar-putar. Benar-benar terlihat cukup bosan.


“Ya, meski perkataan Ferel cukup kacau … jika anda ingin, saya bisa memesan untuk anda, Pangeran Luciel.”


Ciel menggeleng ringan. “Aku bukan tipe seperti itu. Aku pikir kamu juga bukan, Savian.”


“Memang saya bukan. Namun, kebanyakan bangsawan sudah terbiasa dengan kehidupan seperti itu. Paling tidak … saya ingin menawari anda,” balas Savian.


Serius? Pasti ada yang salah dengan otak para bangsawan di dunia ini. Benar-benar menawarkan hal seperti itu kepada temannya … aneh.


Ciel menyesap anggur sebelum melihat ke arah Arla yang sesekali meliriknya.


“Jika kamu ingin menawari … bagaimana kalau meminjamkan Arla untukku sehari ini?”


Mendengarkan ucapan Ciel, ruangan langsung sunyi. Ferel yang tadinya mabuk berat tiba-tiba mengerjap. Dia langsung menoleh ke arah Ciel dengan ekspresi tidak percaya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2