Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Pertemuan Para Pangeran


__ADS_3

Sambil menunggu, hampir semua orang memiliki ekspresi serius di wajah mereka. Hampir semua orang kecuali Ciel yang menopang dagu dengan mata terpejam. Kelihatannya masih mengantuk karena telah diganggu oleh kakaknya semalam.


Sekitar setengah jam kemudian, langkah kaki terdengar dari kejauhan. Semakin lama suara lebih keras, pertanda semakin mendekat.


Pintu ruang rapat terbuka lebar, tiga sosok lelaki memasuki ruangan. Yang berada di tengah adalah seorang lelaki tampan dengan perawakan yang mirip dengan Kaisar Julius. Orang itu memiliki ekspresi ramah dan terlihat cukup tulus. Dia adalah Pangeran Pertama, Enzo Dawnbringer.


Di sisi kanan Enzo, terlihat sosok lelaki kekar dan tinggi dengan rambut pirang dan mata biru. Ekspresinya jelas angkuh dan mengganggap orang lain lebih inferior dibandingkan dirinya. Dia adalah Pangeran Ketiga, Victor Dawnbringer.


Sedangkan di sebelah kiri Enzo, terlihat sosok pemuda dengan rambut hitam dan iris biru. Penampilan yang tidak kalah baik dengan kedua kakaknya. Tentu saja, dia juga tidak kalah sombing dibandingkan kakaknya, Victor. Pemuda itu adalah Pangeran Keenam, Jasper Dawnbringer.


Mereka bertiga memberi salam sebagai formalitas sebelum duduk di kursi mereka.


Pangeran Pertama, Enzo Dawnbringer, 26 tahun. (Ratu Victoria)


Pangeran Ke-2, Sullivan Dawnbringer, 25 tahun. (Ratu Margaret)


Pangeran Ke-3, Victor Dawnbringer, 22 tahun. (Ratu Victoria)


Pangeran Ke-4, Alexander Dawnbringer, 21 tahun. (Ratu Lilith)


Pangeran Ke-5, Leon Dawnbringer, 20 tahun. (Ratu Margaret)


Pangeran Ke-6, Jasper Dawnbringer, 17 tahun. (Ratu Victoria)


Pangeran Ke-7, Xavier Dawnbringer, 17 tahun. (Ratu Margaret)


Pangeran Ke-8, Luciel Dawnbringer, 16 tahun. (Ratu Lilith)



Delapan pangeran duduk di sekitar meja yang sama. Suasana menjadi lebih dingin dan penuh tekanan.


“Bukankah anda seharusnya memberi kami penjelasan, Pangeran Enzo?”


Sullivan membuka pembicaraan. Menatap ke arah Pangeran Pertama dengan ekspresi dingin. Pangeran yang lain juga langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Enzo.

__ADS_1


“Bukannya kami ingin terlambat, ada beberapa masalah. Jadi akhirnya kami terlambat.” Enzo membalas dengan ekspresi ramah, tampak agak menyesal.


“Seharusnya kamu tidak begitu lembek, Kak Enzo!” Victor berkata kasar sebelum menatap ke arah Sullivan. “Jadi apa? Kami memang sedikit terlambat. Itu bukan urusanmu.”


“Heh? Orang yang tidak tertib seperti kalian menginginkan posisi Putra Mahkota? Para pendukung kalian mungkin buta.” Sullivan mendengus dingin.


“Jangan sombong hanya karena kamu telah menyusul level Kak Enzo, Pangeran Sullivan!” Victor menatap tajam ke arah Sullivan.


“Aku hanya mengatakan kenyataan. Kenapa kamu begitu emosional, Pangeran Victor?” Sullivan terkekeh.


“Bisakah kalian menghentikan itu? Ini agak memalukan. Bukankah kita bisa membicarakannya dengan tenang?” Enzo mencoba menengahi.


“Apa yang diucapkan Pangeran Enzo benar. Lebih baik kita berbicara dengan kepala dingin.” Alexander mendukung dari belakang. Tidak ingin ada kekacauan dalam ruangan.


“Itulah kenapa Ibu selalu memarahimu, Kak Enzo! Kamu terlalu baik dan lembek!” Victor mendengus dingin.


“Kita bicarakan masalah pribadi di rumah, Victor. Jangan membawa hal semacam itu ke dalam rapat.” Enzo tersenyum pahit.


Sementara keempat Pangeran berbicara, Leon yang dianggap tidak berguna hanya diam. Jasper dan Xavier yang merasa lebih muda tidak berani menyela. Sedangkan Ciel …dia tertidur. Benar-benar mengabaikan keberadaan tujuh pangeran lain.


“PANGERAN LUCIEL!”


Meja bundar sedikit bergoyang. Ciel yang menopang dagu hampir membenturkan kepalanya ke meja. Menggosok mata dengan ekspresi yang masih mengantuk, pemuda itu melirik sekitar dengan mata sedikit menyempit.


“Ada apa ini? Apakah rapat sudah selesai? Aku boleh pulang?”


Sudut bibir ketujuh pangeran lain berkedut. Melihat pangeran paling muda yang digadang-gadang sebagai calon Putra Mahkota sekaligus monster yang begitu kuat, mereka sama sekali tidak bisa mencocokkannya. Penampilan yang begitu malas dan sembrono menjadi Putra Mahkota? Yang benar saja!


“Apakah kamu masih menginginkan gelar Putra Mahkota, Pangeran Luciel?! Dengan sikapmu yang seperti itu, kamu tidak pantas!” Victor mencibir dengan ekspresi jijik di wajahnya.


“Aku? Putra Mahkota?” Ciel menutup mulutnya ketika menguap. Dengan ekspresi malas, dia berkata, “Aku sudah dibuang ke sudut selatan yang terpencil. Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini, jadi … tolong abaikan aku dan biarkan aku pulang.”


Benar-benar tidak memiliki motivasi?


Ketujuh pangeran lain tercengang. Bahkan Victor yang biasanya pemarah terdiam. Dia berharap Ciel akan menjawab seperti ‘yang terpenting adalah kekuatan’ atau hal semacam itu. Namun dirinya salah, pemuda itu benar-benar berbicara di luar jalur!

__ADS_1


“Kamu tidak boleh seperti itu, Pangeran Luciel. Kita semua adalah Pangeran Kekaisaran Black Sun. Jika memiliki kemampuan, seharusnya kamu menggunakannya untuk membuat masa depan Kekaisaran lebih cerah.” Enzo berkata dengan ekspresi tulus. Menasihati Ciel seperti adik kandungnya sendiri.


“Kak Enzo, kamu!” Victor menggertakkan gigi.


Victor membenci kakaknya karena terlalu baik kepada semua orang. Berbeda dengan ibu atau adiknya, sang kakak tidak peduli dengan fraksi atau hal semacamnya. Dia benar-benar contoh yang baik. Sampai-sampai terlalu baik dan membuat fraksi Ratu Victoria agak ragu untuk mendukungnya.


Lagipula, setiap pendukung fraksi memiliki alasan tersendiri untuk mendukung fraksi. Hal itu jelas karena keuntungan. Jika orang yang didukung memperlakukan semuanya dengan setara, itu sama dengan mereka mengorbankan sesuatu untuk mendukung tetapi tidak mendapat balasan yang cukup. Ya, kebanyakan para bangsawan adalah makhluk tamak semacam itu.


Ciel menatap ke arah Enzo dengan ekspresi tidak peduli. Sebenarnya dia tahu kalau Pangeran Pertama bukan orang jahat. Hanya saja, sosok di belakangnya serta orang-orang di sekitarnya bisa dibilang mencurigakan dan berbahaya. Terkadang pemuda itu heran, bagaimana ‘orang baik’ bisa muncul di lingkungan yang seperti itu.


“Bukankah Kekaisaran sudah membuangku? Untuk apa repot-repot? Bukankah lebih baik seperti ini? Aku hidup santai di sudut selatan tanpa campur tangan ke Kekaisaran. Kekaisran juga melupakanku dan berjalan seperti biasa.


Bukankah itu adalah akhir yang sangat baik?”


Mendengarkan bagaimana Ciel menggambarkan seolah masalah Kekaisaran Black Sun adalah kotoran kuda di jalan yang harus dihindari membuat pangeran lain semakin tertekan. Mereka semua adalah pangeran. Mereka benar-benar penasaran kenapa pangeran paling muda itu miliki pikiran aneh yang begitu melenceng.


Jika bukan karena Ciel memiliki sayap hitam dan seorang Abyssal Angel, mereka akan curiga kalau Ratu Lilith berani bermain di belakang Kaisar Julius.


“Bukankah kamu diberi wilayah yang begitu makmur dan luas sebagai milik pribadi, Pangeran Luciel? Seharusnya memberi kontribusi kepada Kekaisaran Black Sun sudah wajar, bukan?


Apakah kami perlu membantu mengirim orang untuk mengelola wilayahmu?”


Mendengar ucapan Sullivan, mata pangeran lain menjadi lebih cerah. Ada kue besar di depan mereka. Jika bisa mendapat beberapa potong, itu pasti menyenangkan.


“Kamu hanya melihat di permukaan, Pangeran Sullivan. Kamu seharusnya tahu, banyak yang terjadi di South Duchy. Dunia menjadi semakin berbahaya dan aku mungkin bisa bertemu kecelakaan kapan saja.


Jika kalian membantu, aku akan senang. Hanya saja jika kalian mengirim sampah, aku tidak tertarik.”


“Apa maksudmu, Pangeran Luciel?” tanya Sullivan dengan ekspresi dingin.


“Artinya mudah, minimal iblis level 5 (awal). Jika kalian mengirim level itu, aku tidak akan menolak karena mereka akan membantu.


Jika kalian mengirim ksatria sombong dengan armor mengkilap tetapi kekuatan remeh level 3. Belum lagi mereka penuh omong kosong dan hanya bisa menjadi pakan meriam yang begitu rapuh serta mudah mati, dengan sopan aku akan menolaknya.


Wilayahku belum stabil. Terlalu banyak mulut yang harus aku beri makan. Tidak ada waktu untuk mengurus hal remeh semacam itu.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2