
“Senang rasanya mengetahui bahwa Nona Helena yang cantik mengingat Pangeran Buangan seperti saya.”
Ciel membalas sopan, tidak terlalu peduli tetapi tidak terlalu dingin. Sebagai tamu, dia juga harus memberi satu atau dua kata baik kepada tuan rumah.
Melihat Ciel yang terlihat begitu tenang sambil memujinya dengan sopan, Helena merasa agak panas di pipinya. Jika dia terkenal sebagai satu dari tiga gadis paling cantik di South Duchy, sebaliknya, Ciel malah terkenal sebagai pemuda paling tampan di seluruh lingkaran bangsawan Black Sun Empire dalam generasi yang sama.
Bukan hanya di Duchy atau Royal Capital, tetapi di seluruh Kekaisaran. Mewarisi sisi tenang dan halus dari ibunya, sekaligus tempramen mengesankan dan karakter mulia dari ayahnya … bahkan di generasi yang berbeda, sulit memiliki sosok yang bisa menyainginya.
Jika pikiran Ciel seperti Ferel, tidak bisa dibayangkan seberapa banyak gadis dalam kalangan bangsawan yang telah dirusak olehnya. Meski dulunya dia dianggap sampah, gelar pangeran masih membuatnya menjadi salah satu sosok yang ingin dinikahi. Tentu saja, masih terbatas bangsawan dalam gelar Marquis ke bawah.
Sedangkan gelar Duke, mereka mungkin memikirkan masa depan, jadi masih berhati-hati untuk menikahkan putri mereka ke sosok ‘Pangeran Sampah’ yang mungkin akan dibuang kapan saja. Namun mereka tidak menyangka, sosok ‘sampah’ itu ternyata adalah sosok jenius yang mulai membuat banyak keajaiban setelah pergi dari sangkar yang disebut dengan Istana Kekaisaran.
Nasi telah menjadi bubur. Bangsawan tinggi yang telah menolak Ciel sebelumnya merasa malu dan menyesal.
Tidak sama dengan para bangsawan itu, Count Roschild yang sekarang menjadi Marquis memiliki kesempatan. Dulu dirinya telah memberi ketersediaan kepada Ratu Lilith jika beliau menginginkan putrinya sebagai menantu. Hanya saja, gelarnya dulu masih kurang tinggi dan dianggap sebagai pilihan terakhir.
Sekarang situasi berbeda. Setelah naik menjadi Marquis, Keluarga Roschild mulai melirik Ciel. Jika berhasil membuat pangeran itu menikahi putrinya, Marquis Roschild pasti akan sangat bahagia karena masa depan yang cerah. Selain perlindungan pangeran, bukan tidak mungkin kalau dirinya menjadi mertua ‘Kaisar Berikutnya’.
Memiliki ambisi yang besar, Marquis Roschild menyuruh putrinya, Helena, untuk mendekati Ciel.
Sadar dari lamunannya, Helena sekali lagi berkata dengan sopan.
“Itu tidak benar. Anda sama sekali bukan Pangeran Buangan. Sosok yang begitu hebat seperti anda … mereka benar-benar salah menilainya.”
Helena memuji dengan nada sedikit bersemangat. Di benua ini, paras bukanlah nomor teratas dalam memilih pasangan. Dalam hukum kuat memakan yang lemah, kekuatan adalah yang paling utama. Selain itu, gelar dan kekayaan menyusul. Sedangkan paras … berada di belakang aspek itu.
Ciel mengangkat sudut bibirnya, tersenyum lembut sambil menatap Helena. Benar-benar membuat jantung wanita itu berdebar kencang.
“Jadi, menurut Nona Helena … orang-orang di Royal Capital itu salah?”
Mendengar pertanyaan Ciel, Helena yang awalnya bersemangat akhirnya sadar kalau dirinya telah melakukan hal yang salah. Hal itu membuatnya dalam pilihan yang kritis.
Jika Helena berkata Royal Capital salah, Ciel bisa menganggapnya melakukan ‘memberontak’ atau melawan apa yang orang-orang kelas tinggi pikirkan. Jika dia berkata kalau Royal Capital benar, itu akan membuat nilainya turun di mata Ciel karena tidak memilih pemuda itu.
Satu bisa dianggap sebagai pengkhianat dengan resiko besar. Sedangkan satunya kehilangan kesempatan dan gagal dalam tugas yang ayahnya berikan.
Melihat wajah tampan yang begitu mempesona itu, Helena merasakan hatinya menjadi dingin. Tidak menyangka, dia melakukan kesalahan karena kecerobohan kecil.
__ADS_1
“...”
Melihat Helena yang terdiam, Ciel menggeleng ringan. Meski wanita di depannya cantik dan bisa dianggap memiliki poin yang nyaris sempurna, dia tidak terlalu memperdulikannya. Pemuda itu kemudian berkata santai.
“Aku hanya bercanda. Terima kasih atas pujian Nona Helena.”
Sadar kalau dirinya kalah, Helena tidak menyerah. Dengan ekspresi yang sedikit ‘manja’, wanita itu bertanya dengan suara lembut.
“Bolehkah saya duduk di sini, Pangeran Luciel?”
“Silahkan.” Ciel langsung menjawab tanpa ragu.
Hah? Semudah itu?
Helena sempat tertegun sejenak. Tidak menyangka kalau Ciel benar-benar langsung mengizinkannya. Menurutnya, itu seperti kode kalau dia masih diberi kesempatan. Dengan tatapan penuh tekad, wanita itu duduk dengan sopan berhadapan dengan Ciel.
Menunggu cukup lama, Helena merasa tercengang melihat Ciel yang duduk santai sambil menyesap anggur perlahan. Sama sekali tidak membuka pembicaraan atau menggodanya. Wanita itu merasa kalau mungkin pesonanya mungkin turun karena pakaian yang dia kenakan.
Apakah Pangeran Luciel tidak suka tipe wanita elegan? Jadi mana yang dia suka? Manja? Penurut? Sadis? Terbuka?
Pikiran Helena mulai berputar. Melihat sosok Ciel yang begitu tenang seperti sebuah lukisan, dia benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada dalam kepalanya. Wanita itu memikirkan banyak hal. Menyadari kalau Ciel suka minum anggur, dia akhirnya bertanya.
“Ya.” Ciel menjawab singkat, dan ya … pembicaraan kembali berakhir.
Helena hendak mengatakan sesuatu. Namun ketika melihat Ciel, dia tercengang. Pangeran di depannya menikmati anggur sambil memejamkan matanya. Kelihatannya mendengarkan musik yang bergema di ruang pesta dan … mengabaikan keberadaannya.
Waktu berlalu. Helena merasa malu karena hanya duduk berhadapan dalam diam. Dia merasa sosok di depannya begitu aneh karena sama sekali tidak peduli dengan pesona darinya.
Helena langsung menatap sosok yang bersembunyi di sudut lantai dua. Sosok ayahnya yang memperhatikan mereka. Dalam tatapan wanita itu, hanya ada satu kalimat jelas …
Saya memerlukan bantuan anda, Ayah!
Seolah mengerti yang dimaksud oleh putrinya, Marquis Roschild pergi menghilang dari pandangan. Tidak lama kemudian, iringan musik berganti. Ya … acara dansa dimulai lebih cepat dari jadwalnya.
“Sudah waktunya berdansa. Pangeran Luciel … maukah anda?”
“Maaf, kelihatannya aku terlalu banyak minum. Aku takut malah mengacaukan acara dansa ini.” Ciel tersenyum lembut, tetapi menjawab dengan pasti.
__ADS_1
“...”
Helena merasa ingin menangis sekarang. Dia ingin mengutuk dan memukul pemuda di depannya yang diam dengan tenang seolah mengabaikan seluruh kenikmatan dunia. Menahan segala emosi, wanita itu tetap menahan senyum manis di wajahnya.
“Kalau begitu saya akan senang hati menunggu anda lebih baik.”
Melihat sosok Helena yang keras kepala, Ciel menggeleng ringan. Dia dengan santai berdiri dari tempat duduknya. Pemuda itu lalu meletakkan tangan kiri ke belakang dan mengulurkan tangan kanan sambil sedikit membungkuk sopan.
Dengan senyum lembut di wajahnya, dia berkata dengan nada mengalah.
“Sebentar saja, okay?”
Melihat sosok Ciel itu, jantung Helena kembali berdegup kencang. Dengan ekspresi malu-malu dia meraih tangan pangeran di depannya.
Menuju ke tempat dansa, semua pandangan di arahkan ke arah keduanya. Satu terlihat tampan, tenang, seperti es di Cocytus (neraka es). Satu terlihat cantik, menawan, dan membuat yang memandang terasa panas. Benar-benar perpaduan yang saling melengkapi. Membuat yang memandang keduanya cemburu.
Diiringi dengan musik piano dan violin yang lembut, lagu dimulai. Lampu dari kristal sihir menerangi keduanya. Seolah pasangan protagonis dalam acara ini.
Ciel dengan lembut memegang pinggang Helena dan satu tangan lain memegang tangannya. Hal itu membuat Helena merasa pipinya panas. Keduanya melakukan tarian waltz dengan elegan. Terkadang, Helena juga menempelkan dua melon segar ke arah Ciel, menatap mata pemuda itu dengan ekspresi sedikit menggoda.
Setelah satu tarian selesai, semua bangsawan muda dalam pesta bertepuk tangan. Benar-benar kagum dengan gerakan yang serasi di antara keduanya.
Sebelum masuk ke tarian berikutnya, Ciel tiba-tiba berkata lembut.
“Sepertinya aku masih terpengaruh oleh anggur, jadi tidak bisa menemani Nona Helena menari. Jadi, sebagai gantinya …” Ciel memandang ke arah tertentu. “Ferel, kemari!”
Sosok pendek bulat dengan pakaian berwarna emas dengan hiasan berlebihan mendekat dengan ekspresi linglung.
“Ada apa, Pangeran Luciel?”
“Kelihatannya aku mabuk. Kamu menggantikanku.”
Sebelum Helena bereaksi, tangan Ciel yang memegang tangan Helena langsung di arahkan dan dikaitkan dengan tangan Ferel. Membungkuk sopan, sosok pangeran itu pergi meninggalkan tempat menari.
Helena yang tertegun sadar karena sebuah tangan yang sedikit meremas tangannya. Melihat sosok bulat pendek di depannya lalu melihat sosok pemuda tampan dengan ekspresi tak acuh meninggalkan tempat menari, dia sadar kalau sedang dipermainkan sedari awal.
Melihat wajah tampan itu, Helena menggertakkan gigi sembari mengutuk dalam hati.
__ADS_1
Keparat itu …
>> Bersambung.