Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Perpisahan Sementara


__ADS_3

Setelah Aiz dan Vahn makan kenyang, Ciel mengajak mereka untuk meningalkan tempat kotor itu. Pemuda itu sebenarnya sudah tidak tahan berada di sana. Meski di Kota Black Lily juga ada perbatasan untuk kalangan atas dan bawah, semua rumah tampak layak huni. Yang paling penting, meski itu lingkungan kelas bawah … tempat itu bersih!


“Kita pergi ke mana, Tuan?” tanya Vahn dengan ragu.


“Penginapan.” Ciel menjawab santai. “Karena kebanyakan toko di distrik perdagangan sudah tutup, kita pergi untuk beristirahat terlebih dahulu.”


“Bukankah tempat itu mahal, Tuan? Kami berdua bisa tidur di sini untuk malam ini.”


“Ya. Kakak Vahn benar, Tuan. Kami bisa tidur di sini.” Aiz menambahkan.


“Tidak perlu. Kalian ikuti saja aku.”


Vahn dan Aiz saling memandang. Mengetahui kalau tuan mereka bersikeras, keduanya tidak menolak dan memilih untuk mengikuti.


Karena Aiz telah meminum potion penyembuhan tingkat menengah dan makan banyak makanan, dia sudah tampak lebih baik. Sudah bisa berjalan dan berlari. Hanya saja, penampilannya masih kurus dan cukup pucat.


Melihat dua pengikut kecil yang berjalan di belakangnya, Ciel mengangguk puas.


Benar! Itu hanya uang receh … dibandingkan jasa kalian di masa depan untuk melindungi wilayahku, itu hal sepele!


Ya! Sepele!


Melihat keduanya, Ciel tidak bisa tidak mengingat wilayah Blackfield dan orang-orangnya. Dia yakin kalau Camellia pasti sudah bangun. Pemuda itu juga yakin kalau Ariana, Elena, dan Isabella pasti merindukannya. Banyak orang terlintas dalam benaknya. Bahkan dia cukup merindukan kadal bersayap dan kerbau bodoh!


“Kita sudah sampai.”


Melihat penginapan, Vahn dan Aiz tampak agak takut. Biasanya gelandangan seperti mereka tidak diterima di tempat seperti itu.


“Ikuti aku.”


Masuk ke dalam penginapan, Ciel segera menuju meja resepsionis. Melihat wanita di belakang meja, pemuda itu mengangguk ringan sebagai sapaan sebelum berbicara.


“Satu kamar, dua ember air hangat beserta handuk, juga … bisakah tempat ini menyiapkan pakaian anak-anak? Sederhana tidak apa-apa. Yang penting bersih.”


Resepsionis yang menatap wajah tampan Ciel sedikit melamun. Menggeleng ringan, dia melihat ke arah dua anak kotor yang mengikuti Ciel. Wanita itu langsung menatap Ciel dengan ekspresi aneh, seolah meminta penjelasan.


“Anak seorang kenalan. Tidak menyangka mereka menjadi gelandangan. Aku akan merawat mereka mulai sekarang.”


“Anda benar-benar baik, Tuan.”


Resepsionis tersenyum hangat. Pipinya sedikit memerah, kagum dengan Ciel yang begitu murah hati. Ya, kagum karena tidak tahu apa yang direncanakan pemuda itu.


“Jadi bagaimana?” tanya Ciel.


“Di sini memang menyediakan layanan semacam itu, Tuan. Ini rincian biayanya.”

__ADS_1


Ciel segera membayar. Penjaga penginapan kemudian menunjukkan kamar untuk Aiz dan Vahn. Alasan Ciel memesan satu kamar karena kedua anak itu sangat lengket dan sulit dipisahkan. Dia takut kalau keduanya akan menjadi panik dan tidak nyaman jika dipisahkan untuk waktu yang cukup lama.


Setelah semuanya beres, penjaga penginapan yang hendak pergi menatap ke arah Ciel.


“Sebelumnya saya tidak melihat anda keluar, Tuan Gin?”


“Benarkah? Mungkin karena kamu melamun?” Ciel mengangkat bahu dengan ekspresi santai.


“Mungkin saja.”


Penjaga penginapan mengangguk sebelum meninggalkan Ciel dan kedua anak itu sendiri.


Melihat dua ember air hangat, handuk, dan pakaian ganti membuat Ciel langsung mengalihkan pandangannya ke arah Vahn serta Aiz.


“Tidak mungkin mandi di waktu seperti ini. Seharusnya ini cukup untuk menyeka tubuh kalian. Setelah selesai, ganti pakaian baru lalu tidur.”


“Baik, Tuan.”


Ciel segera pergi untuk meninggalkan kedua anak itu. Karena sudah cukup besar, dia yakin kedua anak mandiri itu mengerti apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


Sementara Ciel kembali ke kamarnya, Vahn dan Aiz segera menyeka tubuh mereka yang kotor. Air hangat di ember yang awalnya jernih menjadi hitam dan keruh dengan bau tidak menyenangkan.


Keduanya kemudian berganti dengan pakaian baru dan membawa dua ember air kotor dan membuangnya ke tempat yang sudah diberitahukan oleh penjaga penginapan sebelumnya. Setelah itu, Vahn dan Aiz kembali ke kamar mereka.


Keduanya saling memandang dengan ekspresi takjub. Naik ke atas ranjang empuk, kedua anak itu memiliki ekspresi rumit di wajah mereka.


“Iya?”


“Apa mungkin yang dikatakan oleh Tuan Gin itu benar? Apakah dia kenalan ayah atau ibu?” tanya Aiz dengan wajah polos.


“Kakak tidak tahu.” Vahn menggelengkan kepalanya. Dia kemudian menatap Aiz dengan ekspresi yakin. “Meski tidak tahu, aku masih yakin kalau Tuan Gin adalah orang yang baik.”


“Ya. Aiz juga berpikir demikian.” Gadis itu mengangguk dengan penuh semangat.


“Kalau begitu kita harus segera tidur dan bangun lebih awal. Jangan sampai menunda Tuan Gin.”


“Baik.”


Setelah berbicara beberapa saat, kedua anak itu berbaring di ranjang lalu tidur. Mungkin karena merasa aman dan nyaman, keduanya bisa tidur dengan pulas beberapa saat kemudian.


Keesokan paginya.


Ciel, Ryo, Vahn, dan Aiz sarapan bersama di restoran. Ryo memandang ke arah Ciel lalu ke kedua anak kecil itu. Dia tidak menyangka kalau Pangeran itu repot-repot keluar malam untuk menjemput kedua anak kecil.


Bukankah kedua anak itu akan menunda misi? Kenapa Pangeran Luciel memutuskan untuk membawa mereka? Bukankah lebih baik dilakukan setelah menyelesaikan misi?

__ADS_1


Banyak pertanyaan yang muncul dalam benar Ryo. Akan tetapi, sebagai seorang ksatria dan penjaga, tugasnya hanya mengikuti Ciel. Selama tidak ada bahaya, dia tidak akan bertindak.


Setelah sarapan, Ciel mengajak yang lainnya untuk pergi ke kantor Silver Snail. Sementara yang lain agak bingung, Ciel memesan dua kursi dalam caravan berikutnya menuju ke Kota Crimson Dust.


Kemudian, Ciel mengajak yang lainnya menuju tempat kelompok Skull Crusher berada. Pemuda itu secara khusus menemui Don dan berbicara berdua secara pribadi.


“Anda benar-benar ingin merawat dua anak itu, Tuan Gin?”


“Iya.”


Ciel mengeluarkan kantong kecil berisi empat keping emas dan beberapa perak dan meletakkannya di depan Don.


“Seharusnya ini lebih dari cukup untuk menghidupi mereka selama dua atau tiga bulan.”


“Itu terlalu banyak, Tuan Gin. Anda tidak perlu membayar, hanya tempat tinggal dan makanan … keluargaku bisa merawat dua anak itu untuk sementara waktu.”


“Tidak.” Ciel menggeleng dengan ekspresi tak acuh. “Aku tidak terbiasa berhutang. Kamu tidak perlu memanjakan mereka berdua, yang terpenting mereka bisa makan kenyang setiap hari. Sisa uang … kamu bisa memilikinya.”


“Itu …” Melihat ekspresi serius Ciel, Don si botak tersenyum pahit. “Kalau begitu saya akan menerima tugas ini, Tuan Gin.”


Tanpa terasa, empat hari berlalu begitu saja dan waktu Caravan Silver Snail berangkat telah tiba.


Ciel mengelus kepala kedua anak di depannya sambil tersenyum hangat. Dalam empat hari ini, dia menghabiskan banyak waktu untuk berjalan-jalan, membeli pakaian untuk Vahn serta Aiz, dan seterusnya. Hal yang membuat kedua anak itu bahagia.


“Kalian berdua akan tinggal di rumah Paman Don untuk beberapa waktu. Tunggu saja, aku dan Ryo pasti akan menjemput kalian.”


Dalam empat hari, Aiz dan Vahn juga mengenal Don beserta rekan-rekannya. Meski terlihat ganas, keduanya tahu orang-orang itu sangat baik.


Vahn dan Aiz memeluk Ciel sebelum mundur beberapa langkah lalu menatap sang tuan.


“Kami pasti akan merindukan anda, Tuan Gin.”


“Ya. Kami pasti akan sangat merindukan anda.” Aiz menambahkan.


Melihat dua anak itu, Ciel tersenyum. Dia kemudian menatap ke arah Don dan yang lainnya.


“Aku titipkan mereka kepada kalian,” ucap Ciel santai.


“Serahkan padaku, Tuan Gin.” Don berkata dengan penuh percaya diri.


Mereka pun akhirnya berpisah. Melihat Caravan Silver Snail yang keluar dari Kota Redstone, Ciel menghela napas panjang. Ekspresinya menjadi lebih tenang.


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ya …


Ini hanya perpisahan sementara.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2