Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Tiga Serangan


__ADS_3

“Luciel, kamu …”


Melihat senyum tulus Ciel, Kaisar Julius menghela napas panjang.


“Bukannya aku tidak menghargai tekadmu, Luciel. Namun … aku masih tidak bisa mengizinkan kamu pergi ke Kerajaan Black Star untuk bunuh diri.”


“Kenapa?”


“Karena persentase kematianmu jika pergi melebihi 50%. Selain itu, sebagai ayah dan Kaisar dari Kekaisaran Black Sun, aku tidak bisa membiarkan anak sekaligus masa depan kekaisaran mati di tempat seperti itu.”


“Aku pasti kembali hidup-hidup.”


“Apakah kamu yakin 100% bahwa bisa kembali dengan selamat?”


“Itu …” Ciel tampak kusam. Setelah memikirkan baik-baik, dia berkata dengan nada penuh tekad. “Selama lelaki tua bernama Will, ketua, atau wakil ketua Curses of Shadow tidak ada di sana … saya yakin akan selamat.”


“Kamu …”


“Saya mohon, Ayahanda!” ucap Ciel dengan ekspresi penuh tekad.


Melihat putranya sampai seperti itu, Kaisar Julius menghela napas panjang. Dia tidak menyangka bahwa bocah yang sebelumnya bahkan susah diminta turun dari ranjangnya itu mau pergi ke Kerajaan lain untuk membantu.


“Tiga …” ucap Kaisar Julius. “Aku mengizinkan kamu menyerang dengan tiga serangan terbaikmu. Selama kamu bisa melukai aku … aku akan mengizinkan kamu pergi ke Kerajaan Black Star.”


Melihat ayahnya sudah mau memberi toleransi, Ciel mengangguk.


“Baik.”


“Waktunya besok pagi. Beristirahat baik hari ini. Pastikan dalam keadaan paling optimal. Untuk lokasinya … di arena latihan khusus dalam istana.”


“Baik.”


Melihat ke arah putranya, Kaisar Julius menggeleng ringan.


“Kamu boleh pergi.”


Ciel bangkit lalu memberi hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan.


Melihat punggung putranya, Kaisar Julius bersandar di kursi lalu menutup matanya. Setelah beberapa saat, pria itu hanya bisa menghela napas panjang.


...***...


Malam hari, di kamar tamu.


Dalam ruangan, hanya ada Ciel dan Eoran. Pangeran pemalas dari Kekaisaran itu melihat ke arah pria cacat dengan ekspresi kosong di wajahnya itu.


“Kamu terlihat menyedihkan, Pangeran Eoran. Ya … mungkin itu yang pantas kamu terima.”


“...”


Melihat Eoran hanya diam saja, Ciel menggeleng dengan ekspresi tak acuh di wajahnya.

__ADS_1


“Meski kamu sampah dan pantas mendapatkannya, seharusnya kamu bersyukur karena masih hidup. Bersyukur karena masih memiliki kesempatan hidup.


Selain itu … kamu seharusnya melakukan yang terbaik. Aku tidak tahu seperti apa Felice itu, tetapi aku yakin dia istri yang baik.


Bukankah kamu bisa sampai ke tempat ini karena dirinya? Jadi … aku harap kamu tidak mengecewakan dirinya dengan menjadi sampah yang bahkan tidak memiliki motivasi hidup.”


“...”


Meski masih diam dan menatap kosong, tangan kiri Eoran mengepal erat ketika mendengar nama Felice disebutkan.


Melihat itu, Ciel berbalik pergi meninggalkan ruangan dengan ekspresi tak acuh.


“Sebaiknya kamu mengingat ucapanku.”


Sebelum meninggalkan ruangan, Ciel mengatakan itu.


Menutup pintu kamar, Ciel yang keluar dari ruangan itu melihat sosok Sheera yang bersandar pada dinding di luar kamar tempat Eoran berada.


“Apakah kamu mendengar semuanya?” tanya Ciel.


“...”


Mendengar ucapan Ciel, Sheera mengangguk.


“Kalau begitu, seharusnya kamu tahu bahwa Kerajaan Black Star mungkin tidak bisa lagi diselamatkan.”


“...”


“...”


Setelah mengucapkan itu, Ciel pergi meninggalkan Sheera yang meringkuk sendirian. Gadis itu hanya bisa terisak pelan, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.


Kembali ke kamarnya, Ciel diikuti oleh seseorang. Sebelum masuk ke dalam kamar, dia melihat sosok Ariana yang mengikutinya dalam diam.


“Masuk. Aku akan membicarakan semuanya,” ucap Ciel.


“Baik.”


Ariana mengangguk ringan. Gadis itu memasang ekspresi senyum palsu seperti biasanya. Dia sudah siap dengan apa yang akan Ciel katakan.


Ketika Ariana masuk ke dalam kamar Ciel, gadis itu terkejut ketika sosok pangeran itu memeluknya erat.


“Maafkan aku, Ariana.”


Mendengar itu, hati Ariana tergerak. Gadis itu menghela napas dalam hati. Tersenyum lembut, dia membalas pelukan Ciel sambil mengelus punggung pemuda tampan itu.


“Tidak apa-apa. Sama sekali tidak apa-apa, Pangeran Luciel. Saya … saya sangat senang dan bahagia selama berada di Kastil Black Lily bersama dengan anda dan yang lainnya.


Terima kasih. Terima kasih atas segalanya.”


“Maaf … aku tidak bisa memperhitungkan semuanya. Seandainya aku tahu Louie memiliki hati yang mudah digerakkan, seharusnya aku tidak membiarkan dia pergi waktu itu.

__ADS_1


Aku tidak bisa memutar kembali waktu. Namun … aku akan pergi ke Kerajaan Black Star untuk membantu. Jika tidak bisa, paling tidak … paling tidak aku akan membawa ibumu kemari secara paksa.”


“Eh???” Mendengar Ciel yang menyalahkan dirinya sendiri, Ariana terkejut.


Gadis itu tiba-tiba mengingat sosok Louie, putra Duke Zevirrius. Hampir mirip dengan Ciel, orang itu selalu dihindari oleh para bangsawan lain. Tidak hanya dihina seperti Ciel, bahkan terkadang ada yang masih berani melecehkan pemuda itu.


Mengingat kebencian besar yang seharusnya ditanggung oleh Louie yang selama ini hanya diam dan menurut, Ariana menghela napas panjang.


“Itu sama sekali bukan salah anda, Sayang. Walau anda menghabisi Louie saat itu, Curses of Shadow pasti akan memilih bidak catur lain. Lagipula … banyak yang tidak menyukai Ayah saya karena kekejamannya.


Selain itu … anda tidak perlu pergi ke Kerajaan Black Star. Kaisar Julius pasti tidak akan setuju. Juga … saya tidak keberatan jika anda memutuskan pertunangan kita.


Anda tidak perlu ikut menanggung beban ini. Saya-”


“Cukup, Ariana.”


“...”


Merasakan pelukan Ciel yang kian erat, Ariana hanya diam.


“Selama ini kamu telah berusaha sebaik mungkin. Kamu telah berjuang sekuat tenaga. Jadi … kamu bisa menyerahkan sisanya kepadaku. Lagipula, kamu tunanganku, kan?”


“...”


Mendengar ucapan lembut Ciel, Ariana menunduk. Gadis itu membenamkan wajahnya dalam dekapan tunangannya itu. Air mata mengalir membasahi wajahnya, meluapkan perasaan yang selama ini telah tertahan.


...***...


Keesokan harinya.


Di arena latihan, tampak sosok Kaisar Julius yang telah berdiri di sana dengan ekspresi tak acuh. Di sekitar arena sama sekali tidak ada penonton dari luar. Hanya ada beberapa orang yang merupakan keluarga.


Mereka adalah ketiga istri dan anak-anak Kaisar Julius. Bahkan suami atau istri anak Kaisar Julius tidak boleh datang untuk menonton. Ariana dan Isabella pun juga tidak boleh datang.


Di luar bangunan Arena, banyak ksatria elit Kekaisaran Black Sun yang berjaga untuk mencegah seseorang masuk. Jika ketahuan mencoba melanggar, orang itu akan dibunuh di tempat. Tidak peduli apakah mereka orang biasa atau bangsawan.


Kaisar Julius memandang ke arah tertentu. Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar.


Beberapa saat kemudian, sosok Ciel memasuki arena dengan setelan hitam dan katana di sisi kiri serta kanan pinggangnya. Seluruh anggota keluarga terkejut dengan penampilan Ciel karena …


Daripada penampilan bosan dan sembrono seperti biasanya, pemuda itu tampak begitu dingin dan serius!


“Akhirnya kamu tiba, Luciel.”


Melihat ekspresi serius Luciel, Kaisar Julius mengangguk.


“Seperti yang aku katakan sebelumnya … aku akan menilai kamu dalam tiga serangan."


Sebagai jawaban, Ciel langsung memberi salam bangsawan sebelum menarik kedua katana dari pinggangnya. Dia kemudian menatap ke arah Kaisar Julius.


“Pangeran ke-8 dari Kekaisaran Black Sun, Luciel Dawnbringer. Mohon bimbingannya!”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2