Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Maaf dan Terima Kasih


__ADS_3

“Ada apa, Sayang? Kenapa anda memandang dengan ekspresi seperti itu?”


Ciel yang tertegun segera tersadar. Dia menggeleng ringan, merasa kalau dirinya terlalu banyak berpikir.


“Semenjak kamu datang kemari, kamu menjadi lebih kurus. Apakah kamu tidak cocok dengan makanannya? Kamu bisa bilang, aku akan mengaturnya.”


“Eh??? Saya sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Makanannya enak, hanya saja …”


Ariana tiba-tiba berhenti bicara. Gadis itu terlihat hampir mengatakan yang seharusnya tidak dia katakan. Menyadari kalau gadis itu sedikit gugup, Ciel malah mendesaknya.


“Katakan saja. Ada apa?”


“Tidak ada apa-apa, Sayang. Anda terlihat lelah, bagaimana kalau saya buatkan teh atau-”


“Ariana!” Ciel langsung menatap mata Ariana dengan ekspresi tegas.


Tiba-tiba Ariana menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung. Jari-jari gadis itu terus bergerak, terlihat lebih gelisah. Hanya saja, ekspresinya masih tidak berubah.


“Jika kamu tidak menjawabnya dengan jujur, kamu tidak boleh pergi dari sini.”


Ciel menatap Ariana, benar-benar kebingungan. Dia berharap gadis itu segera mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Hanya saja, pemuda itu salah.


Mentari telah tenggelam. Keduanya berdiri saling berhadapan dalam diam. Cahaya rembulan menerangi keduanya lewat jendela.


Melihat gadis keras kepala yang tidak merubah wajahnya, Ciel mengerutkan kening. Ciel sebenarnya bisa memerintahkan Ariana untuk mengatakannya karena gadis itu tidak bisa menolak ucapannya. Hanya saja, dia ingin Ariana jujur tanpa sebuah perintah.


Juga baru pertama kali Ciel melihat Ariana bertingkah keras kepala seperti ini.


“Jika saya mengatakannya … tolong jangan membenci saya, Sayang.”


“Aku tidak akan membencimu hanya karena kamu berkata jujur.”


“...”


Ariana hanya diam. Meski ekspresinya sama, bagian tubuh lain menjadi lebih gelisah. Gadis itu tiba-tiba membungkuk 45 derajat sambil berkata.


“Saya tahu kalau ini tidak sopan. Saya tahu kalau anda pasti sangat sibuk dengan banyak pekerjaan. Hanya saja … bisakah … bisakah anda menghabiskan waktu bersama dengan saya meski sebentar, Sayang?”


Mengatakan apa yang mengganjal dalam hatinya, Ariana menutup mata. Dia teringat bagaimana ayahnya selalu marah ketika dirinya tidak patuh. Dia teringat bagaimana ayahnya memukulnya hanya karena dirinya ingin bermain bersama dan ingin diperhatikan. Memejamkan matanya, Ariana siap menerima tamparan atau cemoohan dari Ciel.


Akan tetapi, hinaan atau tamparan tidak datang. Suara lembut terdengar di telinganya.


“Angkat kepalamu.”


Pada saat Ariana mengangkat kepalanya, Ciel mendekatinya. Pemuda itu mengelus kepalanya dengan senyum lembut di wajahnya. Tidak seperti senyum yang dibuat atau senyum menghina seperti biasa. Senyuman itu … terlihat begitu tulus.


“Kamu telah berusaha keras mengatakannya. Kerja bagus. Gadis pintar.”


Mendengar pujian tulus yang tidak dibuat-buat, tubuh Ariana gemetar. Melihat itu, Ciel langsung mendekatinya sambil memeluk tubuh kecil Ariana dengan lembut. Merasakan kehangatan dekapan tunangannya, Ariana menyandarkan kepala di dada Ciel sambil menutup matanya.

__ADS_1


Di bawah sinar bulan, dalam pelukan hangat seseorang yang dia kira hanya memperlakukan dirinya sebagai alat, perasaan yang terkunci setelah bertahun-tahun akhirnya sedikit terbuka.


“Terima kasih.”


Suaranya begitu pelan. Kalimatnya begitu singkat. Namun itu bukan kata-kata datar yang diucapkan Ariana seperti sebelumnya. Itu adalah sebuah kalimat yang menyampaikan seluruh perasaan gadis itu.


...***...


Membuka matanya, Ariana terkejut kalau matahari telah terbit. Cahaya jingga menembus jendela meneranginya. Dia kemudian menoleh ke samping. Gadis itu sedikit terkejut melihat kalau dirinya bersandar pada Ciel.


Keduanya tidur di sofa perpustakaan. Tidak melakukan apa-apa, yang Ariana ingat … dirinya terus bersandar sambil merasakan kehangatan sampai akhirnya kesadarannya memudar.


“Sudah bangun?”


Suara lembut itu membangunkan Ariana dari lamunannya. Dia segera berhenti bersandar, duduk tegap sebelum membalas.


“Maafkan saya karena membuang-buang waktu berharga anda, Sayang.”


“Kamu salah.” Ciel menggeleng ringan.


“Maksud anda?” tanya Ariana dengan ekspresi dan nada bicaranya yang biasa.


“Pada saat seperti ini, kamu seharusnya tidak mengatakan maaf, tetapi … terima kasih.”


“Terima kasih?” Ariana memiringkan kepalanya.


Setelah itu, Ciel mengajak Ariana untuk makan sarapan bersama. Barulah kemudian dia pamit pergi ke ruang kerjanya untuk mengurus bisnisnya sendiri.


Sedangkan Ariana kembali ke kamarnya. Dalam perjalanannya, para maid menatap gadis itu dengan heran. Meski ekspresi dan caranya bertindak tidak berubah, aura di sekelilingnya tampak lebih cerah.


Di ruang kerjanya, Ciel yang sibuk mengurus beberapa dokumen yang berkaitan dengan daerah Greenscale mendengar ketukan di pintu.


“Masuk.”


Ketika pintu terbuka, Ciel agak bingung melihat Camellia dan Isabella yang memasuki ruangan bersama. Keduanya sesekali saling melirik. Meski tidak ada kebencian yang dalam, terlihat jelas kalau keduanya saling bermusuhan.


“Ada apa dengan kalian?” tanya Ciel.


“Bukan apa-apa, Tuan.” Keduanya menjawab bersamaan.


“...”


Apakah kalian menganggap diriku bodoh? Jelas kalian berdua bermasalah. Aku tidak semudah itu untuk dibodohi!


Sudut bibir Ciel berkedut. Namun dia juga tidak memarahi keduanya. Lagipula, ada sedikit gesekan sudah biasa dalam hubungan. Yang terpenting, hal semacam itu tidak berlarut dan menjadi lebih dalam.


“Camellia, katakan tujuanmu datang kemari.” Ciel langsung berkata tegas.


“Saya di sini untuk melapor perkembangan proses belajar para budak yang akan dijadikan Alkemis, Tuanku. Mereka belajar membaca dan mulai berolah raga dengan baik.

__ADS_1


Perkembangan mereka juga stabil. Khususnya Tania, gadis kecil itu adalah yang terbaik. Selain memiliki bakat yang lebih baik daripada rekannya, dirinya juga yang paling rajin. Meski yang lain juga rajin, mereka masih kalah dengannya.”


Ciel mengangguk puas. Dia kemudian menatap Isabella. “Bagaimana denganmu, Isabella?”


“Saya ingin melaporkan masalah Theo, Tuanku.”


“Oh?” Ciel terlihat cukup tertarik.


“Anak itu berkembang sangat cepat. Dia mulai terbiasa dengan olah raga serta latihan dasar tebasan. Dia juga bekerja sangat keras. Bukan hanya itu, Theo memiliki tekad yang kuat.


Tidak seperti beberapa ksatria yang berhenti ketika lelah. Selama hitungannya belum selesai, Theo terus mengayunkan pedang kayu di tangannya. Meski dirinya gemetar, bocah itu benar-benar menggertakkan gigi dan menahannya.


Hal itu membuat para calon ksatria baru dalam divisi bayangan malu. Mereka juga mengikuti Theo, benar-benar membawa perubahan baik dalam divisi bayangan.”


“Benarkah?” tanya Ciel sedikit bersemangat.


Sebagai tanggapan, Isabella mengangguk sebelum kembali menjelaskan.


“Jika terus seperti ini, saya percaya jadwal yang anda buat untuk divisi bayangan serta perkembangan mereka akan maju. Benar-benar lebih cepat daripada yang dijadwalkan.”


“Sangat bagus!” ucap Ciel. Dia kemudian berdiri sebelum melanjutkan, “Isabella, Camellia, kalian ikut denganku. Aku ingin pergi ke pangkalan militer pribadi untuk menemui semua orang.”


“Baik!” jawab keduanya bersamaan.


Setelah berjalan cukup lama, mereka bertiga akhirnya sampai di pangkalan militer pribadi Ciel. Meski dibilang ‘kecil’ dibandingkan dengan pusat di Kota Black Lily, tempat ini masih bisa menampung sampai 3000 orang prajurit.


Ketika sampai di lapangan latihan yang luas, Ciel melihat banyak orang dalam barisan. Ada 15 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari lima baris. Dalam setiap baris ada sepuluh orang. Jadi dalam satu kelompok ada 50 orang. Jadi totalnya 750 orang.


Semua orang itu ada dalam satu divisi yaitu Shadow Striker. Karena luas latihan hanya bisa menampung kira-kira 1000 orang yang berlatih bersama, penggunaannya pun dibagi menjadi tiga sesi.


Sesi pagi sampai siang untuk Shadow Striker. Sesi sore untuk Shadow Defender. Terakhir, sesi malam untuk Shadow Watcher.


Karena kemampuan Theo … Ciel memasukkannya ke pelatihan bersama divisi Shadow Striker. Melihat sosok kecil di depan 750 orang sambil terus mengayunkan pedangnya, senyum bahagia muncul di wajah Ciel.


Bocah ini benar-benar membawa keberuntungan! Astaga … lihat 750 orang lainnya. Semua orang tidak ingin kalah dan juga bersemangat!


Ciel berseru dalam hati. Dia kemudian berjalan ke lapangan. Semua orang hendak berhenti latihan untuk menyapa, tetapi Ciel langsung berkata, “Tidak usah pedulikan aku, lanjutkan!”


Melihat ekspresi serius Theo, Ciel sekali lagi mengangguk.


“Theo! Berhenti berlatih dan datang kemari!”


Mendengar orang memanggilnya, Theo menoleh dan terkejut dengan kedatangan Ciel. Dia dengan ekspresi bersemangat berhenti latihan dan berlari ke arah Ciel.


“Theo datang untuk melapor, Tuan!” ucap Theo dengan nada bersemangat sambil memberi hormat.


Tidak langsung membalas, Ciel malah tertegun. Karena di matanya, dia seolah sedang melihat husky yang bersemangat sambil mengibaskan ekornya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2