
Empat hari kemudian, daerah perbatasan dengan Ibukota Kerajaan Silver Fang.
“Huh …”
Memimpin puluhan ribu ksatria, Raja Charles menghela napas panjang. Dia selalu berharap bahwa semua ini adalah mimpi. Namun, pria itu sekarang berdiri di depan banyak ksatria … membawa mereka ke Ibukota untuk melakukan perang.
Ini semua … apakah tidak bisa dihindari?
Tangan pria itu terkepal erat. Menatap padang rumput yang luas, di mana setelahnya akan ada sebuah kota. Kota yang akan menjadi pusat pertempuran. Memikirkan banyak nyawa yang akan melayang, Charles hanya bisa memejamkan mata sambil menghela napas.
Pada saat itu, seseorang menepuk pundaknya. Membuka matanya lalu menoleh, dia melihat Duke Harry yang menatapnya dengan senyum hangat.
“Apakah kamu gugup, Rajaku?”
“Tentu saja aku gugup. Bisa dibilang … aku bahkan belum mengalami perang yang sebenarnya,” ucap Raja Charles dengan senyum di wajahnya.
Apa yang dikatakan Charles memang benar. Kerajaan Silver Fang selalu damai. Lebih tepatnya, terlihat damai. Tidak ada konflik dengan kerajaan tetangga atau Kekaisaran Black Sun.
Sebagai gantinya, banyak bangsawan yang mencoba memainkan trik. Saling menjatuhkan dengan cara kotor. Tetap saja … tidak ada perang. Paling-paling hanya mengutus pembunuh untuk bertarung di balik bayangan. Para orang luar hanya bisa melihat perdamaian.
Setelah memikirkannya, Charles pun merasa Kerajaan Silver Fang sudah terlalu mundur. Awalnya, leluhur mereka … Raja pertama Kerajaan Silver Fang adalah seorang pejuang sejati. Beliau membangun kerajaan miliknya sendiri dengan darah dan air mata.
Tidak terlalu banyak pemikiran licik dan kotor. Selalu menghadapi semuanya dengan apa adanya. Agak bodoh, tetapi itu juga membuat semuanya lebih mudah. Tidak ada yang perlu diungkap oleh musuh. Jika ingin mendapatkan kekuasaan, tantang saja secara langsung.
“Anda cukup memalukan, Rajaku. Kalah dengan keponakan anda sendiri.”
“...”
Raja Charles hanya diam. Mereka berdua kemudian melihat ke arah tertentu.
Di sana, terlihat Theodore yang duduk di atas rumput sambil terus mengasah sebuah pedang. Remaja itu tampak sangat serius. Memastikan bahwa senjatanya benar-benar tajam. Dia selalu mengingat nasihat dari Tuannya …
Dalam medan perang, kecerobohan berarti kematian.
Hal itu membuat Theodore tidak berani main-main. Ciel juga mengatakan kepada dirinya bahwa seekor singa pun harus berburu kelinci dengan segenap tenaga. Selemah apapun musuhnya, tidak boleh menyepelekan mereka sama sekali.
__ADS_1
Selain menjaga senjata dan fisiknya sendiri, Theodore juga memastikan mental dalam keadaan terbaik. Tidak gugup, tidak terlalu lelah, dan tidak depresi. Memikirkan sosok yang memberinya tugas, dia tampak serius.
Tenang … lebih tenang … ya, aku bisa melakukannya.
“Apakah kamu baik-baik saja, Theodore?”
Suara itu membuat Theodore menghentikan gerakannya. Menoleh ke sumber suara, dia melihat Raja Charles dan Duke Harry yang datang menghampirinya. Remaja itu kemudian mengangguk sopan sebelum menjawab dengan tenang.
“Saya baik-baik saja, Raja Charles.”
Menyeka air yang ada di tubuh pedang dengan handuk, Theodore mengangguk puas ketika melihat mata pedang yang tajam. Dia kemudian menyarungkan kembali pedangnya.
“Apakah kamu tidak gugup? Mungkin saja kamu akan membunuh seseorang dalam perang?” tanya Raja Charles.
“Membunuh seseorang?” Theodore memiringkan kepalanya. “Saya telah melakukan hal itu sebelumnya.”
Melihat ekspresi Theodore yang tidak berubah, Charles dan Harry agak terkejut. Mereka bahkan merasa agak malu. Di usia yang sama dengan Theodore, keduanya belum membunuh satu orang pun. Mereka sibuk belajar, berlatih, dan mempelajari beberapa taktik licik antara para bangsawan.
“Apakah Pangeran Luciel memaksamu untuk pergi ke medan perang atau membunuh orang?” tanya Raja Charles dengan heran.
“Dipaksa …” gumam Theodore. “Saya rasa, dari seluruh ksatria yang berjuang bersama saya, tidak ada dari mereka yang terlihat dipaksa.”
“...”
“Menurutmu … bagaimana penampilan Pangeran Luciel dalam perang?”
“Penampilan Tuan dalam perang …” gumam Theodore. Ekspresi remaja itu berubah menjadi lebih cerah. Menatap dua pria di depannya dengan senyum tulus.
“Tuan itu … seperti cahaya fajar. Dia memusnahkan semua kegelapan dalam hati kami.
Ketika semua orang takut dan gugup, dia berada di depan kami untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan.
Ketika semua orang ragu untuk maju, dia akan menjadi orang yang berada di garis terdepan.
Ketika semua orang tertekan setelah pertempuran, dia akan menunjukkan bahwa semua itu tidak salah. Kami semua melakukan hal yang benar. Memperjuangkan … apa yang harus kami perjuangkan.”
__ADS_1
Ketika mendengar ucapan Theodore, Charles dan Harry entah bagaimana mulai membayangkan. Dalam benak mereka, tampak punggung seorang pemuda. Ketika semua orang berhenti dalam barisan, sosok itu berjalan ke depan tanpa ragu. Meski melihat musuh yang tak terhitung jumlahnya, pemuda itu tidak gentar dan maju dengan tenang.
Sungguh pemandangan yang luar biasa!
Jika Ciel tahu apa yang dibayangkan oleh Charles dan Harry sekarang, pemuda itu pasti akan merasa malu. Alasan dia maju langsung ke depan bukan karena ingin memimpin atau semacamnya. Ciel hanya ingin segera menyelesaikan masalah lalu pulang dengan tenang.
Selain itu, Ciel juga ingin menghindari korban dari ksatria-ksatria muda di bawahnya. Dia ingin mereka semua tumbuh menjadi kuat. Lagipula … mereka yang akan menjaga wilayahnya kelak. Pemuda itu hanya tidak ingin bibit mati sebelum tumbuh dewasa dan berbuah!
“Apakah kamu tahu alasan kenapa Pangeran Luciel itu suka peperangan, Theodore?” tanya Raja Charles dengan ekspresi sangat penasaran.
“Suka?” Theo memiringkan kepalanya. “Daripada perang, Tuan lebih suka menjaga wilayahnya sendiri dengan damai.”
“Lalu … apa alasan dia pergi ke medan perang?”
“Bukankah itu jelas. Tuanku bilang, kami memiliki alasan yang sama yaitu … untuk melindungi apa yang harus kami lindungi.”
Melindungi apa yang harus dilindungi?
Memikirkan kalimat itu, ekspresi khidmat muncul di wajah Charles dan Harry. Keduanya mengepalkan tangan dengan erat. Charles tidak bisa tidak memikirkan Kerajaan Silver Fang. Sebagai seorang Raja, dia merasa gagal dan perlu memperbaiki semuanya dan memulai kembali.
Sementara itu, Harry memikirkan keluarganya. Dia menjadi lebih bersyukur karena telah memilih pilihan yang menurutnya paling benar.
Tanpa Theo sadari, dia telah membuat kedua pria itu tercerahkan. Mereka yang awalnya bingung akhirnya mengerti arah dan tujuan.
Tiga hari kemudian.
Memimpin puluhan ribu ksatria melewati padang rumput, sosok Raja Charles yang akhirnya sembuh total tampak tegas. Melihat ke arah tembok kota yang sudah tidak terlalu jauh dan barisan ksatria yang menunggu di luar kota, ekspresinya menjadi lebih serius.
Di kubu musuh, jumlah ksatria yang berbaris dan siap untuk bertempur bahkan lebih banyak daripada ksatria yang dia bawa.
Duduk di atas kudanya, Raja Charles menarik pedang lalu menunjuk ke arah musuh yang tidak bisa dia hitung jumlahnya sebelum berteriak keras.
“UNTUK KEMULIAAN KERAJAAN SILVER FANG!!!”
Mendengar itu, para ksatria meraung sebelum bergegas ke arah musuh-musuh mereka tanpa rasa takut. Sangkakala ditiupkan, para ksatria mencabut pedang mereka, dan …
__ADS_1
Kobaran api perang mulai dinyalakan.
>> Bersambung.