
Meringkuk di tanah, Vahn kecil meraih kaki salah satu perampok dengan putus asa. Apa yang menantinya kemudian adalah sebuah tendangan tepat di perutnya. Dia terung memegang kaki orang itu meski ditendang berkali-kali.
“Kembalikan. Tanpa itu, Aiz akan …”
Sekali lagi, sebuah tendangan keras mendarat di perut Vahn. Tidak bisa menahan rasa sakit, akhirnya dia melepaskan cengkeramannya. Melihat beberapa orang yang menertawakannya, dia tidak bisa membalas apa-apa.
“Merasa beruntung karena aku tidak membunuhmu, Nak.”
Bersamaan dengan suara itu, Vahn melihat beberapa orang itu pergi menjauh. Membuat Vahn yang meringkuk di tanah kotor menggertakkan gigi sambil mengepalkan tangannya dengan ekspresi marah.
Kenapa dunia seperti ini? Kenapa kami harus merasakan semua ini? Apa salah kami?
Sementara tidak bisa bergerak, bocah itu hanya bisa mengutuk dalam hati karena apa yang telah dilaluinya.
Sementara itu, para perampok kecil yang beranggotakan empat orang tertawa bersama.
“Kali ini berapa banyak, Bos?”
Setelah menghitung beberapa saat, orang yang dipanggil bos oleh temannya mendengus dingin.
“Hanya 11 bronze. Benar-benar miskin.”
“Karena miskin, kenapa kamu harus mengambilnya?”
Mendengar suara malas dan tak acuh, keempat orang itu tertegun. Mereka kemudian mendongak ke atas. Di atap salah satu bangunan, terlihat pemuda tampan berambut perak dengan jubah hitam yang menutupi tubuhnya.
Ya, dia adalah Ciel. Pemuda itu baru saja tiba. Sebelumnya, dia telah menandai salah satu bronze coin agar dirinya bisa melacak Vahn. Sebelum tidur, pemuda itu sadar kalau Vahn mungkin telah membelanjakan bronze coin, jadi dia memutuskan untuk menyelinap dari penginapan untuk mencari.
Bukannya melihat Vahn di lokasi, Ciel malah melihat beberapa orang tidak penting di sana. Hal itu membuat dirinya agak jengkel.
“Ya … cuma perlu satu mulut untuk bicara.”
Setelah menagatakan itu, Ciel menghilang dari tempatnya. Sebelum empat orang perampok itu merespon, tida di antaranya tiba-tiba menjadi patung es. Menyisakan bos mereka yang terkejut.
Karena terkejut dan takut, kaki orang itu lemas dan dirinya jatuh ke tanah. Menatap Ciel seolah sedang melihat monster.
“A-Apa yang kamu inginkan dari kami?”
Tidak langsung menjawab, Ciel berjalan ke arah orang itu perlahan lalu mengambil salah satu bronze coin. Ya, coin yang telah dia tandai.
“Anak yang kamu rampok … di mana dia sekarang?”
“J-Jika aku menjawab, kamu harus melepaskan-”
__ADS_1
Krak!
Sebelum menyelesaikan ucapannya, perampok itu melihat Ciel dengan santai menginjak salah satu kakinya. Terlihat santai, tetapi langsung menghancurkan salah satu kaki berkeping-keping.
“Arghh!!!”
“Tidak perlu banyak bicara. Jawab saja pertanyaanku. Jangan buang-buang waktu.”
“...”
Krak! Krak! Krak!
Tidak mendengar jawaban yang dia inginkan, Ciel langsung mematahkan tiga anggota tubuh lain orang itu. Meski memiliki bakat yang bagus, anak yang bertemu dengannya itu masih sangat lemah. Jika sampai orang-orang tidak berguna ini membunuhnya …
Ciel menatap sosok yang berbaring di tanah ketakutan. Dua tangan dan dua kaki telah dia patahkan, membuat orang itu terus menangis kesakitan.
“Anak itu ada di dua gang belakang kami. Terus lurus dan belok ke kiri.”
Perampok itu berkata sambil menahan tangis.
Ciel langsung menginjak tubuh orang itu. Beberapa saat kemudian, seluruh tubuh orang itu menjadi es. Sambil menatap tak acuh, pemuda itu berkata dingin.
“Sampah.”
Melihat anak kecil yang berbaring di gang kotor sambil menangis, Ciel menghela napas lega.
“Kenapa kamu berbaring sambil menangis di tempat seperti ini, Adik kecil?”
Mendengar suara yang dingin tetapi lembut itu membuat Vahn mengalihkan pandangannya. Matanya mengerjap, seolah sedang melihat ilusi sebelum kematian. Namun setelah mengusap matanya dan masih melihat sosok itu, dia terkejut.
“A-Apa yang anda lakukan di tempat seperti ini, Tuan?”
“Jalan-jalan.”
Mendengar Ciel yang berbohong dengan ekspresi lurus, Vahn tercengang. Jika ini adalah gang di distrik perdagangan, mungkin dia akan langsung percaya dengan jawaban dan ekspresi orang itu. Namun ini adalah pemukiman kumuh! Tidak ada orang yang jalan-jalan di tempat kotor dan berbahaya seperti ini!
Melihat anak kecil yang tidak mempercayainya, sudut bibir Ciel berkedut. Dia tidak menyangka kalau anak itu cukup cerdas untuk memahami situasi dan kondisi. Hal itu membuatnya cukup puas.
Berpura-pura batuk, Ciel menghampiri anak itu.
“Lupakan. Kenapa kamu menangis di sini? Apakah ada masalah?”
Setelah mendengar pertanyaan Ciel, Vahn langsung tertegun. Dia mengingat kondisi adiknya. Melihat sosok di depannya, bocah itu berusaha duduk lalu bersujud di depan Ciel.
__ADS_1
“Tuan, tolong adik saya! Izinkan saya berhutang sepuluh bronze coin untuk membeli herbal! Saya berjanji … saya berjanji akan segera mengembalikannya.”
“Tidak mungkin.”
Mendengar jawaban Ciel yang tak acuh, hati Vahn langsung terasa dingin.
“Untuk apa aku meminjamkanmu bronze coin sementara aku bisa mengobati adikmu?”
“...”
Vahn mendongak. Melihat Ciel yang tersenyum ke arahnya, anak itu mengerjap. Dia merasa matanya mulai berkabut dan tidak bisa lagi menahan tangisnya.
“Bawa aku ke rumahmu. Biarkan aku melihat kondisi adikmu.”
“Baik.”
Sampai lokasi yang Vahn sebut dengan rumah, Ciel tertegun di tempat. Melihat banyak tong sampah, tempat kotor, dan bau menyengat membuatnya mengerutkan kening. Tenda compang-camping di depannya membuat pemuda itu merasa agak heran dan sedikit tertekan.
Tempat ini bahkan lebih buruk daripada kandang …
Melihat Vahn yang malu, Ciel hanya menghela napas panjang. Dia kemudian mengikuti anak itu untuk memasuki tenda. Di dalam tenda, Ciel langsung mengamati sekitar. Tempat itu benar-benar tidak layak disebut dengan rumah. Itu adalah kesimpulan yang Ciel dapatkan kemudian.
Ciel kemudian menatap Aiz. Tanpa ragu, dia langsung memeriksa gadis kecil itu. Sadar kalau gadis itu terkena demam, kurang gizi, dan beberapa organ dalam sedikit terluka karena pernah dipukuli … Ciel tersenyum pahit.
Kehidupan … benar-benar rapuh.
Hal-hal yang sepele semacam itu, yang bisa langsung disembuhkan dengan potion penyembuh tingkat rendah benar-benar mengancam nyawa gadis kecil itu.
Ciel kemudian mengeluarkan potion penyembuhan tingkat menengah. Ya … karena dia tidak menyimpan potion tingkat rendah semacam itu. Paling-paling, hal semacam itu dibagikan ke anggota barisan ksatria setiap beberapa waktu sekali. Sedangkan dirinya tidak menyimpan hal semacam itu.
Vahn yang melihat Ciel mengeluarkan potion tingkat menengah langsung ketakutan. Hidup di tempat seperti itu, Vahn beberapa kali melihat potion tingkat rendah dan pernah sekali melihat potion tingkat menengah. Sedangkan potion tingkat tinggi dan di atasnya, dia belum pernah melihatnya.
Menatap sang adik yang memejamkan mata sambil gemetaran, Vahn membulatkan tekad. Meski tidak tahu seberapa lama dia harus menabung untuk membayar hutang, bocah itu ingin adiknya diselamatkan.
Sebotol kecil potion masuk ke mulut kecil Aiz. Beberapa waktu kemudian, tubuh gadis kecil itu gemetar. Setelah batuk beberapa saat, ekspresi nyaman terlihat di wajah Aiz. Tubuhnya juga berangsur-angsur membaik.
“Terima kasih banyak, Tuan! Meski memerlukan waktu lama, saya pasti akan membayar hutang ini.”
Melihat ke arah Vahn, Ciel mengangkat sudut bibirnya.
“Bukan masalah. Pertemuan kita ini … mungkin sudah ditakdirkan.”
>> Bersambung.
__ADS_1