
Pagi di hari berikutnya, Ciel tampak sedang duduk di atas batu besar sambil menikmati pemandangan.
Matahari baru saja terbit, kilau jingga ditambah dengan pemandangan hijau alami benar-benar memanjakan mata. Tidak hanya itu, merasakan embun di rerumputan yang dia injak sebelumnya juga udara bersih, Ciel merasa pikirannya jernih dan fresh.
“Jadi anda di sini, Tuan.”
Mendengar suara yang memanggilnya, Ciel yang duduk santai menoleh sambil tersenyum lembut.
“Camellia, kah? Ada apa?”
“Teh pagi untuk menghangatkan tubuh anda, Tuan.”
Melihat Camellia yang membawa gelas keramik berisi teh yang masih mengepul, Ciel mengangguk ringan.
“Terima kasih, Camellia.”
“Ini sudah tugas saya, Tuan.”
“Kamu juga duduk di sini,” ucap Ciel sambil menunjuk tempat yang cukup luas di sebelahnya.
Setelah memberikan teh kepada Ciel, Camellia mengangguk sebelum duduk. “Kalau begitu permisi.”
Camellia sesekali melirik tuan yang duduk di sebelahnya. Pemuda itu tampak begitu damai, menikmati pemandangan pagi sambil menyesap teh panas perlahan. Semakin lama mereka di wilayah baru ini, Camellia semakin tahu kalau tuannya menyembunyikan banyak hal darinya. Sebagai gadis yang telah bersama dengan Ciel selama 5 tahun, dia merasa sangat tidak berguna.
“Maafkan saya yang menjadi sangat tidak berguna, Tuan.” Camellia menunduk dengan ekspresi sedih.
“Kenapa kamu berkata demikian?”
“Meski sudah bersama dengan anda selama lima tahun, saya benar-benar tidak mengenal anda, Tuan.” Camellia bergumam pelan. “Aku bahkan sangat lemah.”
Ketika Camellia merasa sedih, tiba-tiba dia merasakan telapak tangan hangat yang menyentuh atas kepalanya. Dalam keadaan kaget, suara lembut terdengar di telinganya.
“Maaf. Sebenarnya aku ingin menyembunyikan semuanya. Hanya saja keadaan tidak mengizinkan. Tanpa kekuatan yang jelas … orang-orang tidak percaya apalagi tunduk kepadaku. Ini bukan salahmu.”
“…” Merasakan tangan Ciel yang mengelus rambutnya, Camellia merasa otaknya benar-benar menjadi kosong.
“Meski ada Elena, aku tidak akan melupakanmu, Ok? Lagipula, kamu pelayan pertama yang aku pilih secara pribadi. Jika kamu ingin sesuatu, katakan saja. Meski tidak bisa menjamin dapat memberikannya, paling tidak aku akan berusaha melakukannya.
Lagipula … kamu adalah milikku. Semua yang kamu miliki juga milikku.”
Aku … Aku miliki Tuan Ciel.
Camellia menatap ke arah Ciel. Setelah beberapa saat ragu, gadis itu memberanikan diri untuk berkata, “Saya ingin menjadi kuat dan berguna untuk anda, Tuan! Juga … saya ingin tahu anda berada di level mana.”
“Hanya itu?” Ciel memiringkan kepalanya.
“En.” Camellia mengangguk.
__ADS_1
Bukannya marah, Ciel malah merasa bahagia. Lagipula, semakin kuat bawahannya, semakin aman dan lega dia. Pemuda itu mendekatkan bibirnya ke telinga Camellia sambil berbisik, “Tahap awal … level 6.”
Le … Level 6???
Camellia menatap Ciel dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Yang gadis itu ketahui, orang-orang yang memiliki level 6 adalah seorang Duke atau Marquis tua yang telah pensiun. Bahkan pangeran pertama yang digadang-gadang sebagai seorang jenius belum mencapai level ini. Belum lagi, pangeran pertama berusia lebih dari 20 tahun.
“A … A-Apakah anda bercanda, Tuan?”
“Hm?” Ciel memiringkan kepalanya sebelum menghela napas panjang. “Sudah aku duga kamu tidak akan percaya.”
“Ja-Jadi itu benar?”
“Tentu saja. Ini rahasia antara kita berdua, jadi jangan dibocorkan, mengerti?” ucap Ciel dengan senyum lembut.
Camellia menatap Ciel dengan rona merah di pipinya. Gadis itu mengangguk dengan patuh. “En! Saya mengerti, Tuan.”
Ketika keduanya duduk santai, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari kejauhan. Ekspresi lembut di wajah Ciel tiba-tiba digantikan dengan wajah dingin yang biasa dia gunakan.
“Maafkan hamba telah mengganggu waktu santai anda, Tuan. Saya datang untuk melapor!”
Sosok ksatria muncul dan memberi hormat kepada Ciel.
Melihat ksatria itu, Ciel mengangguk ringan. “Kamu tidak mengganggu. Katakan.”
“Sosok Minotaur hitam datang ke tenda kami untuk menemui anda, Tuan!”
“Sesuai dengan perintah anda, Tuan.”
Setelah mengatakan itu, ksatria segera memberi hormat sebelum pergi memanggil Black. Beberapa waktu kemudian, sosok ksatria yang diikuti Minotaur hitam sampai di hadapan Ciel.
Ciel memandang ksatria lalu mengangguk. “Kerja bagus. Kamu boleh mundur.”
“Baik, Tuan!”
Usai kepergian ksatria, Minotaur hitam itu tiba-tiba bersujud di depan Ciel.
“Budak ini datang untuk meminta maaf atas kesalahannya, Tuan. Saya tidak berpikir dengan jelas dan melakukan tindakan yang begitu sembrono.”
“Aku memaafkanmu,” ucap Ciel santai.
“EH???” Black tampak terkejut. Dia mendongak untuk melihat Ciel yang duduk di atas batu. “Bukankah anda akan menghukum saya seperti memukul atau mencambuk saya, Tuan?”
“Untuk apa aku melakukan hal bodoh itu?” ucap Ciel dengan nada dingin.
Ya … jika itu Camellia atau Elena, aku mungkin akan berpikir dua kali.
Uhuk! Uhuk!
__ADS_1
Melihat Ciel yang begitu baik hati dan melepaskannya dengan mudah, Black tampak semakin takjub. Pada saat dia melamun, suara pemuda kembali terdengar.
“Aku akan menanyakan sesuatu, Black.”
“Silahkan, Tuanku!”
“Sebelum itu … lebih baik kamu duduk atau paling tidak berlutut.”
Ciel merasa agak aneh ketika melihat orang atau sosok yang bersujud di depannya. Jika itu berlutut, dia masih menerima, tetapi bersujud … dia merasa hal semacam itu tidak perlu. Lagipula, dia tidak ingin meninggikan dirinya sendiri dan bermain seolah dirinya adalah Dewa.
“Baik, Tuan!” seru Black sebelum berlutut di depan Ciel.
“Kenapa kamu berusaha melindungi suku yang bahkan membenci dan memperlakukanmu dengan buruk, Black?”
Black mengerjap sebelum menatap Ciel dengan ekspresi tegas. “Saya merasa hal itu yang pantas saya lakukan, Tuan. Menurut kepala suku Moogu, ayah saya adalah prajurit hebat yang pergi berperang untuk melindungi suku. Saya juga ingin melindungi apa yang mendiang ayah saya perjuangkan, Tuan!”
“Hmmm … jadi begitu.” Ciel merasa agak kagum dengan rasa patriotisme dan pemikiran sederhana Black. “Kalau begitu, maukah kamu menjadi Minotaur terkuat yang bisa menyaingi seorang Iblis tingkat tinggi?”
“A-Apakah saya bisa melakukan hal semacam itu, Tuan?” tanya Black dengan nada takjub.
“Kalau kamu sendiri, aku tidak yakin. Namun denganku, itu bukan hal mustahil.”
“Be-Benarkah demikian, Tuan?”
“Aku tidak akan banyak bicara. Jual jiwamu dan ikuti aku! Aku akan memberimu kekuatan agar para Minotaur hidup lebih layak. Kamu bahkan bisa dianggap sebagai pahlawan para Minotaur! Jadi … apa jawabanmu, Black?”
Memikirkan kehidupan Minotaur dan kemuliaan yang mungkin dia dapat, Black yang berpikiran sederhana merasa bersemangat. Tubuhnya gemetar karena senang. Jika bukan karena Ciel ada di depannya, dia pasti sudah meraung bahagia.
“Budak ini setuju, Tuanku!”
Melihat Black yang patuh, Ciel mengangguk puas. “Bagus!”
Setelah merasa senang karena memiliki pengikut baru dengan bakat yang baik, Ciel akhirnya menyadari sesuatu.
“Black … karena kamu mengikutiku, aku harus memberimu nama.”
“Na-Nama???” tanya Black dengan suara gemetar.
Salah satu yang Minotaur hitam itu paling inginkan dalam kehidupan ini adalah sebuah nama. Tidak menyangka, dia yang dianggap terkutuk masih bisa mendapatkannya. Belum lagi, nama itu adalah pemberian seorang Pangeran!
Ciel menatap Black yang berlutut di depannya sambil mengelus dagu.
“Kamu adalah Minotaur yang memiliki jiwa ksatria. Kamu memiliki impian besar yang ingin dicapai. Aku ingin kamu menjadi ksatria yang mengalahkan musuh-musuhku, bahkan jika mereka Iblis tingkat tinggi. Karena itu, aku akan memberimu nama yang sesuai. Mulai sekarang, namamu adalah …
Asterious!”
>> Bersambung.
__ADS_1