Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Vahn dan Aiz


__ADS_3

Sore harinya di depan sebuah penginapan distrik perdagangan.


“B-Bukankah ini terlalu banyak, Tuan?”


Melihat 26 keping bronze coin di tangannya, anak kecil itu tampak kaget.


“Anggap saja sebagai bonus.”


Ciel tersenyum lembut. Apa yang dia berikan kepada anak itu adalah bronze coin kembalian ketika membayar makan siang sebelumnya. Bukan karena dia pelit atau semacamnya, pemuda itu paham apa yang harus dan tidak boleh dilakukan.


Jika Ciel memberi satu keping silver coin, bukannya membantu, anak kecil itu justru dalam bahaya. Anak lemah yang tinggal di pemukiman kumuh sambil membawa uang yang bisa dianggap banyak di daerah itu. Kemungkinan besar anak itu akan ditindas dan dirampok. Ciel tidak ingin melihat hal seperti itu.


“T-Terima kasih banyak, Tuan.”


Melihat ekspresi bahagia di wajah anak itu, Ciel mengangguk ringan.


Ciel tidak merasa kalau dirinya adalah penyelamat atau semacamnya. Banyak orang-orang yang tidak beruntung di pemukiman kumuh Kota Redstone. Tidak mungkin untuk menyelamatkan mereka semua. Belum lagi, tempat ini juga bukan Kekaisaran Black Sun yang menjadi tanggung jawabnya. Hanya saja …


Shadow Stalker …


Melihat anak kecil yang membungkuk sopan lalu pergi dengan ekspresi ceria, mata Ciel menyipit. Pada saat berkeliling sebelumnya, dia dengan iseng mengecek anak kecil itu dengan Eye of The Lord. Apa yang mengejutkannya adalah … anak itu benar-benar memiliki sebuah skill langka.


Shadow Stalker, skill yang membuat pemiliknya bisa menyatu dalam bayangan dan sangat sulit dideteksi tanpa skill khusus. Ciel sendiri yakin, anak itu belum menyadari kemampuannya sendiri. Ketika tumbuh dewasa, meski tanpa bantuannya, Ciel dapat memastikan kalau anak itu dapat menjadi seorang pembunuh bayaran yang terkenal.


Awalnya Ciel membantu anak kecil itu karena sedikit dorongan hati nurani. Namun, setelah melihat skill yang begitu menyilaukan matanya, dia tidak cukup bodoh untuk melepaskannya. Apa yang Ciel dan Wilayah Blackfield butuhkan adalah bakat. Berarti, anak kecil itu sudah masuk kategori yang dibutuhkan.


“Apakah kamu tidak apa-apa, Gin?”


Melihat Ciel yang melamun, Ryo agak curiga.


Sadar dari lamunannya, Ciel menoleh ke arah Ryo sambil mengangkat sudut bibirnya.


“Tidak apa-apa. Mari kita pergi ke penginapan dulu.”


“Baik.”


...***...

__ADS_1


Malam hari di pemukiman kumuh.


Seorang anak kecil berjalan dengan ekspresi hati-hati sambil sedikit membungkuk. Bagian perutnya sedikit mengembang, menandakan kalau dirinya menyembunyikan sesuatu di balik baju compang-camping itu. Namanya adalah Vahn, anak yang mengantar Ciel dan Ryo untuk berkeliling kota sebagai pemandu.


Setelah berjalan cukup lama, Vahn kecil akhirnya sampai di sebuah gang kumuh penuh dengan tempat sampah dan aroma yang begitu menyengat. Melewati tempat kotor itu, dia akhirnya sampai di ujung gang yang merupakan jalan buntu.


Di sana, terlihat sebuah rumah kecil yang dibangun secara manual. Daripada rumah, sebenarnya itu terlihat seperti tenda yang dibuat dengan kayu dan sebuah kain compang-camping sebagai penutupnya.


Masuk ke dalam tenda, Vahn berkata lirih.


“Kakak pulang, Aiz.”


Tidak ada jawaban, di dalam tenda yang sempit hanya terdengar suara batuk yang pelan. Di sana, terlihat seorang gadis kecil yang satu atau dua tahun lebih muda dibandingkan Vahn. Gadis kecil itu memiliki penampilan yang begitu menyedihkan.


Rambut pirang bergelombang yang kotor dan acak-acakan, tubuh yang lebih kurus dibandingkan Vahn, warna hitam di kantung mata dan wajah yang begitu pucat. Terlihat jelas … gadis kecil itu sekarat.


“Selamat datang, Kakak.” Aiz berusaha menjawab meski dengan suara yang begitu pelan.


“Tunggu sebentar. Biarkan kakak membantumu duduk.”


“Kakak, apakah kamu mencuri? Itu tidak baik.”


“Tidak. Tentu saja tidak. Siang ini kakak bertemu dengan tuan yang baik, mengantar mereka berkeliling dan mendapat uang.”


“Benarkah?” tanya Aiz lirih.


“Benar.”


“Syukurlah …”


Tinggal di pemukiman kumuh, menjadi pencuri atau perampok sudah biasa. Namun, Vahn dan Aiz yang dulu diajari oleh mendiang ibu mereka tidak melakukannya. mereka berdua masih teguh dengan prinsip kebaikan meski harus sekarat di lingkungan seperti ini.


Sebelumnya, Vahn dan Aiz tinggal bersama ibunya di sebuah desa dalah Wilayah Redstone. Meski tidak bisa dibilang kaya, mereka masih bisa makan dan minum setiap hari. Tumbuh sehat dan bahagia.


Suatu ketika, Vahn dan Aiz ingin tahu keberadaan ayah mereka. Bertanya kepada sang ibu, keduanya hanya tahu kalau ayah mereka berada di kota. Setelah memaksa dengan egois, ibunya setuju untuk membawa mereka ke Kota Redstone.


Berbeda dari yang mereka bayangkan, perjalanan mereka berakhir dengan duka. Dalam perjalanan menuju kota, mereka mendapat serangan dari rombongan Demonic Beast. Untuk melindungi kedua anaknya, sang ibu berakhir dengan mengenaskan. Dicabik-cabik oleh taring dan cakar Demonic Beast.

__ADS_1


Sampai di Kota Redstone, mereka sangat putus asa. Keduanya memilih untuk mencari sang ayah dan menceritakan semuanya. Vahn dan Aiz mencari ke tempat tentara bayaran biasa berkumpul. Namun setelah lama mencari, jawaban kejam menimpa mereka.


Tentara bayaran adalah profesi yang berbahaya. Selalu berjalan di tepi kehidupan dan kematian setiap saat. Ternyata, setengah tahun lalu ayah kedua anak itu meninggal dalam kecelakaan. Tidak hanya itu, orang-orang yang ayah mereka anggap sebagai rekan bahkan tidak mau membantu Van dan Aiz, mengusir mereka begitu saja.


Kedua anak itu ingin kembali ke desa, akan tetapi tidak bisa karena tidak memiliki uang untuk membayar tempat duduk. Sedangkan berjalan sendiri menuju desa, selain tidak tahu arah, mereka juga paham betapa berbahayanya dunia luar. Bahkan ibu dan ayah mereka meninggal di mulut Demonic Beast.


Pada akhirnya, mereka hidup di pemukiman kumuh tanpa rumah. Mengais sisa makanan dari tempat sampah untuk hidup. Hidup memang kejam, mereka sama sekali tidak bertemu dengan dermawan. Bahkan ketika melakukan pekerjaan sebisanya, mereka malah kerap dirampok dan dipukuli.


Tidak tahu berapa lama waktu berlalu, mereka berakhir menjadi seperti sekarang.


“Makan. Makan dulu, Aiz.”


“Baik, Kakak.”


Memakan roti keras, ekspresi penuh syukur terlihat di wajah keduanya. Bahkan di antara penghuni pemukiman kumuh, mereka berdua bisa dianggap sebagai kalangan paling bawah. Bisa makan pun, mereka berdua sudah bersyukur.


Setelah makan roti keras bersama, Vahn terkejut melihat Aiz yang batuk keras. Menempelkan punggung tangan ke dahi adiknya, dia sadar kalau gadis kecil itu terkena demam. Penyakit parah ditambah dengan demam tinggi ... membuat gadis kecil itu benar-benar tak berdaya.


“Sepertinya Aiz tidak bisa menemanimu lagi, Kak. Namun, tanpa Aiz, Kak Vahn seharusnya bisa hidup lebih baik tanpa beban.”


“Jangan bicara seperti itu, Aiz! Kamu sama sekali bukan beban.”


Vahn memikirkannya uang yang dia terima tadi. Setelah dikurangin 15 bronze coin, dia masih memiliki 11 bronze coin. Cukup untuk membeli satu potong tanaman herbal mentah.


“Tunggu sebentar, Aiz. Kakak akan membelikanmu obat.”


Sebelum Aiz sempat menjawab, Vahn langsung berlari meninggalkan tenda yang bobrok itu. Meninggalkan gang kotor, dia buru-buru menuju lokasi yang menjual herbal mentah.


Belum sempat meninggalkan gang kumuh, suara yang akrab terdengar.


“Mau kemana, Vahn kecil?”


Vahn menoleh ke sumber suara. Melihat beberapa orang kurus dengan wajah buruk dan pakaian seperti preman, matanya menyipit. Menggertakkan gigi, Vahn mengutuk dalam hati.


Orang-orang terkutuk ini …


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2