
Beberapa hari kemudian.
Suara tawa yang dingin dan penuh dengan penghinaan terdengar dari ruang kerja Ciel. Di dalam ruangan, tampak seorang pemuda tampan yang tertawa dengan ekspresi puas.
“Hahaha! Akhirnya selesai. Pekerjaan menjengkelkan ini akhirnya selesai,” ucap Ciel dengan ekspresi sinis.
Pada saat itu, pintu ruang kerja terbuka. Ekspresi Ciel langsung menjadi stagnan. Di sana terlihat gadis kecil yang memandangnya dengan ekspresi bingung dan agak khawatir.
Mengetahui bagaimana putrinya melihatnya dalam kondisi agak memalukan, Ciel merasa agak tertekan.
“Apakah kamu baik-baik saja, Papa?”
Melihat bagaimana Eve kecil memandangnya dengan khawatir, Ciel menjadi lebih tertekan. Berusaha menenangkan diri, dia kemudian memandang putrinya dengan ekspresi santai.
“Tidak apa-apa. Kenapa kamu datang ke sini, Eve? Bukankah ini masih waktunya belajar?”
Eve kecil memasuki ruangan sambil membawa dua amplop. Gadis kecil itu kemudian menjelaskan dengan ekspresi serius, tetapi malah terlihat imut.
“Mama bilang ini surat yang dikirim untuk Papa. Jadi Eve membawakannya untuk Papa.”
“Terima kasih, Eve.” Ciel tersenyum lembut. “Namun, lain kali ingin memasuki ruangan siapa saja, Eve harus mengetuk terlebih dahulu.”
“E-Eve mengerti, Papa.”
Melihat Eve kecil menunduk dengan ekspresi menyesal, Ciel menghela napas pendek sambil tersenyum pahit.
“Kemarilah, Eve.”
Mendengar ucapan ayahnya, Eve kecil mendekat dengan ekspresi kasihan. Gadis itu terkejut ketika Ciel tiba-tiba mengangkatnya tinggi-tinggi lalu membuatnya duduk di pangkuan sang ayah.
Ketika gadis kecil itu bingung, dia merasakan tangan hangat Ciel mengelus kepalanya dengan lembut. Suara yang tenang sekaligus penuh kasih sayang terdengar di telinga gadis kecil itu.
“Eve sudah menyesal dan tidak berniat untuk mengulanginya, jadi tidak apa-apa. Eve mengantar surat untuk Papa, kan? Coba Papa lihat, itu surat dari siapa.”
“En.”
Eve kecil mengangguk dengan ekspresi bersemangat. Gadis kecil itu mengulurkan kedua tangannya. Memberikan dua surat yang ada di sana kepada Ciel.
Melihat dua surat itu, Ciel sedikit terkejut. Kedua suratnya ternyata dari kedua ibunya. Ya, ibu kandung dan ibu mertua. Melihat surat dari ibu tunangannya itu membuat pemuda itu agak kaget. Dengan ekspresi serius, dia segera membuka dan membacanya.
Setelah membaca surat, Ciel menghela napas. Ternyata, isinya adalah pesan dan permintaan tolong untuk merawat Ariana. Selain itu juga ada beberapa pertanyaan tentang kabar Ariana, dirinya, dan hubungan mereka berdua. Membaca itu membuat Ciel merasa agak hangat.
Itu terlihat jelas seperti ibu yang khawatir dengan putrinya.
Ciel kemudian membuka surat yang dikirim oleh ibunya sendiri. Dia penasaran apa yang ingin disampaikan Ratu Lilith. Meski terkadang kejam, pemuda itu yakin bahwa ibunya juga sangat menyayanginya.
‘BAWA CUCU RATU INI PULANG SEBELUM TAHUN BARU!’
__ADS_1
Melihat sebuah kalimat yang ditulis dengan warna merah darah itu, ekspresi Ciel langsung stagnan. Pemuda itu tidak menyangka kalau berita itu sudah sampai di telinga ibunya. Jelas, itu pasti karena Julia mengkhianati dirinya.
Ya. Bukan mengkhianati dalam hal lainnya, tetapi tentang rahasia kecil yang seharusnya disembunyikan. Apa yang dimaksud Ratu Lilith juga jelas. Sebelum tahun baru, lebih tepatnya pada musim dingin.
Wanita itu ingin Ciel ikut kembali bersama Julia ke Royal Capital. Masa latihan Julia akan selesai di musim dingin dan harus kembali. Meski ingin kakaknya tinggal di wilayahnya secara permanen, dia tahu bahwa hal semacam itu tidak mungkin dilakukan.
“Apakah kamu baik-baik saja, Papa?”
Mendengar suara Eve yang khawatir, Ciel menghela napas panjang sebelum tersenyum ke arah gadis kecil di pangkuannya itu.
“Tidak apa-apa. Eve, kamu pernah bilang ingin berlibur dengan Papa dan Mama, kan?”
“En!”
Eve kecil mengangguk dengan penuh semangat.
“Kalau begitu, kita akan mengunjungi kakek dan nenekmu pada akhir musim dingin.”
“Kakek? Nenek?” Eve memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos.
“Iya.”
“Yay! Eve akan menemui Kakek dan Nenek!”
Meski tidak terlalu paham, gadis kecil itu terlihat bersemangat. Melihat sosok Eve kecil yang bersemangat, Ciel hanya bisa tersenyum pahit.
Seharusnya begitu, kan?
...***...
Keesokan harinya.
Pagi setelah memakan sarapan dengan tunangan, selir, dan putrinya … Ciel hendak pergi ke ruang kerja. Sebenarnya dia juga mengajak Theo untuk ikut makan bersama, tetapi anak itu cerdas dan memilih untuk tidak makan bersama dengannya. Theo malah makan sarapan dengan Aiz dan Vahn, dua junior yang selalu mengikutinya.
Meski Ciel menganggapnya sebagai putra angkat, Theo tahu batasannya. Belajar tentang etiket bangsawan, dia yang anak selir dan bahkan hanya anak tiri tidak pantas untuk makan di meja yang sama.
Ciel tidak mempermasalahkan itu, tetapi Theo masih enggan. Pada akhirnya, dia tidak memaksa bocah itu. Sedangkan masalah Eve, walau jelas hanya putri angkat, semua orang menganggapnya sebagai putri kandung Ciel karena wajahnya yang begitu mirip.
Ketika hendak pergi ke ruang kerja, seorang pelayan menghampirinya.
“M-Maafkan saya, Tuan. S-Saya datang untuk melapor.”
“Ada apa?” tanya Ciel.
“Ada beberapa orang yang mengaku sebagai bangsawan dari West Duchy datang untuk bertamu, Tuan.”
West Duchy? Orang-orang dari kubu Ratu Victoria?
__ADS_1
Ciel mengerutkan kening. Tidak tahu bagaimana orang-orang itu bisa sampai di Kastil Black Lily. Namun karena tidak tahu tujuan mereka, dia masih mengangguk ringan.
“Bawa aku untuk menemui mereka.”
“Sesuai kehendak anda, Tuanku.”
Ciel kemudian mengikuti pelayan itu menuju ke salah satu bangunan kastil yang digunakan untuk menerima tamu. Seperti sebelumnya, dia tidak suka menjamu tamu di bangunan utama kastil.
Sampai di sana, Ciel melihat dua orang yang duduk di sofa. Melihatnya datang keduanya langsung berdiri dan memberi hormat.
“Maaf jika kunjungan kami mengganggu anda, Pangeran Luciel. Perkenalkan, nama saya adalah Zander Fergus, Kepala Keluarga Fergus saat ini sekaligus Marquis yang ada di bawah Duke Astorio.”
“...”
Duke Astorio, penguasa West Duchy. Kepala Keluarga Astorio sekaligus ayah mertua dari Pangeran Victor.
Ciel memandang ke arah orang yang berbicara. Orang itu memiliki perawakan tinggi dan tegap. Fitur wajah tajam dan tampak cukup tampan dengan rambut pirang bergelombang serta iris mata berwarna biru. Orang itu memakai pakaian bangsawan dengan warna biru tua yang cocok dengan penampilannya.
“Sedangkan ini adalah Dedric Blackscar. Kepala Keluarga Blackscar sekaligus Count dalam wilayah saya.” Marquis Fergus memperkenalkan orang di sampingnya.
Ciel mengalihkan perhatiannya. Dia melihat sosok bangsawan dengan wajah garang. Orang itu memiliki rambut hitam bergelombang dan janggut cukup tebal. Dia memakai pakaian bangsawan berwarna hitam.
Mendengar keduanya, ekspresi Ciel masih tampak tak acuh.
“Duduk.”
Ciel berkata santai. Setelah melihat keduanya juga ikut duduk, pemuda itu langsung bertanya.
“Ada masalah apa sampai beberapa bangsawan dari West Duchy pergi ke tempat terpencil seperti ini?”
Mendengar pertanyaan Ciel, keduanya saling memandang lalu mengangguk. Marquis Fergus menjawab dengan sopan tetapi cukup tegas.
“Kami berdua datang kemari untuk mencari seseorang buronan, Pangeran Luciel. Dia adalah sosok berbahaya yang menyebabkan banyak kerugian dalam perang di perbatasan.
Saya harap anda tidak menghalangi kami untuk mencari, Pangeran Luciel.”
“...”
Mendengar apa yang dikatakan keduanya, Ciel langsung tahu maksud dari mereka. Berbeda dengan kasus Kerajaan Silver Fang, keduanya …
Jelas mencari masalah!
Ciel tersenyum sinis ketika memandang keduanya. Memandang keduanya dengan tatapan dingin sebelum berkata,
“Kebetulan sekali. Aku … juga mencari kalian.”
>> Bersambung.
__ADS_1