
“Cih! Dasar bocah tidak tahu malu. Merasa berkuasa padahal cuma anak buangan.”
Willy Palmer, seorang pria paruh baya dengan rambut dan iris cokelat. Tidak tampak mencolok dan biasa saja, tetapi dia adalah seorang mantan bangsawan. Duduk dalam gerbong kereta, dia terus mengutuk Ciel yang menganggapnya seorang jelata.
Cih! Dia hanya tidak tahu kekuatan Keluarga Palmer! Meski hanya Viscount, kami memiliki lima Baron di bawah kami. Sedangkan dia, Pangeran buangan? Bahkan tidak ada seorang bangsawan pun di wilayah yang dia kelola.
Willy mengutuk dalam hati, tidak puas dengan perlakuan yang dia peroleh dari Ciel. Karena perjalanannya cukup memakan waktu yaitu enam hari, pria paruh baya itu mencoba melupakan apa yang terjadi di Kota Black Lily. Dalam perjalanan, dia memilih untuk banyak meluapkan emosi dengan mengutuk Ciel sambil mabuk.
Enam hari kemudian, Kota Greenroot dimana Keluarga Palmer berada.
Ketika sampai di kastil, Willy terkejut melihat banyak ksatria yang berada di sana. Saat kereta berhenti dan dia turun, pria paruh baya itu melihat seorang ksatria menghampirinya.
Ksatria itu memiliki tubuh tegap. Sosoknya memiliki rambut dan janggut tipis hitam dengan iris cokelat. Orang itu adalah ksatria terkuat sekaligus Baron di daerah kekuasaannya, Robert Nelson.
“Akhirnya kamu kembali, Willy.” Robert menghampirinya dengan ekspresi santai seperti biasa.
“Haah … Perjalanan in benar-benar menyebalkan, Robert. Dua belas hari dalam perjalanan sia-sia. Penuh kebencian!” seru Willy dengan ekspresi marah. “Ngomong-ngomong … kenapa kamu berada di sini, Robert? Bagaimana urusan tempatmu jika kamu terus bermain di sini. Jangan bilang kamu mau makan gaji buta!”
“Hehehe … kamu benar-benar lucu, Willy. Seorang iblis tingkat 3 yang mengandalkan jerih payah leluhurnya untuk menjadi Viscount. Benar-benar tidak pantas!” Robert mencibir dengan ekspresi jijik.
“Jaga ucapanmu, Robert! Keluarga Palmer yang memberi keluargamu gelar Baron. Kami masih bisa mengambilnya!” Willy mendengkus dingin.
“Hahahaha!” Robert tertawa dengan ekspresi mencemooh. “Setelah kejatuhan Marquis Lawyer, kita semua jatuh menjadi rakyat biasa. Siapa yang tidak tahu itu? Oh, aku lupa! Bukan kita, tetapi kamu dan orang itu.”
“Apa maksudmu!” geram Willy sambil memelototi Robert.
Robert mengambil sebuah perkamen lalu membukanya di depan Willy.
“Sudah cukup dengan penindasanmu, Willy. Mulai kemarin, aku telah ditunjuk oleh Pangeran Luciel untuk menjadi Viscount. Dalam surat pribadi, beliau mengatakan kalau iblis level 4 menengah sepertiku lebih cocok menjadi Viscount.
Aku sudah lama bosan dengan sikapmu yang ceroboh, Willy. Selalu aku yang mengurus dan menjaga daerah kekuasaanmu, tetapi kamu selalu menyepelekanku bahkan tidak menghormatiku. Pangeran Luciel memiliki visi yang baik, memilihku untuk menggantikanmu.
__ADS_1
Kamu lupa, Willy! Leluhur kita hanya seorang petani! Berani-beraninya menentang Keluarga Kekaisaran!”
“Kamu … Kamu … Jadi kamu berani mengkhianatiku dan mencoba merebut kekuasaanku! Kamu tidak takut aku memanggil keempat Baron lain untuk menghancurkan Keluarga Nelson!” Napas Willy naik-turun, wajahnya semerah hati sapi. Benar-benar marah dan emosi.
“Ancamanmu sia-sia, Willy. Keluarga Nelson telah menarik tiga Baron lain ke sisi kami. Lagipula, mereka merasa kami lebih menghargai usaha mereka. Juga … kami berempat sudah sering berperang bersama.
Sedangkan satu lagi mantan Baron sekaligus orang sebusuk dirimu, pria itu memilih untuk mundur secara netral. Tidak ingin ikut jatuh bersamamu. Paling tidak, orang itu memiliki lahan luas untuk dijalankan.” Robert menggeleng ringan, sama sekali tidak merasa kasihan kepada Willy.
“Bagaimana dengan Keluarga Palmer?” Willy masih memelototi Robert.
“Semuanya sudah dikemas.” Robert berkata tak acuh. Dia bahkan terlihat sedikit menghina Willy. “Tidak ada pembantaian. Namun, seluruh kekayaan Keluarga Palmer dikembalikan ke pemilik wilayah, Pangeran Luciel. Selain itu, seluruh anggota Keluarga Palmer diusir dari wilayah kekuasaan Pangeran Luciel.”
“…”
“Jika masih ada anggota Keluarga Palmer yang berada di wilayah Pangeran Luciel dalam satu bulan. Misi eksekusi akan dijalankan. Demi kebaikanmu dan keluargamu … segera pergi dari tempat wilayah kekuasaan Pangeran Luciel, Willy.”
“Jangan sok baik! Kamu telah mengkhianati Keluarga Palmer!” Willy meraung. Lelaki itu tampak gila dan tidak percaya akan kehilangan segalanya hanya dengan sebuah perkataan dari Ciel. “Ini kastil Keluarga Palmer! Jangan harap kamu bisa memindahkan kami!”
Robert berjalan mendekati Willy sambil menarik pedang dari sarungnya. Ekspresi ramahnya berubah menjadi dingin.
“Apa yang coba kamu lakukan, Robert! Pangeran Luciel menyuruhku untuk pergi, kan? Baik! Aku dan keluargaku akan pergi. Tidak perlu mengangkat senjatamu.”
“Mata itu … mata itu terlihat penuh dengan kebencian. Memang benar Pangeran mengizinkanmu pergi.” Mata Robert memancarkan kilau dingin, membuat Willy semakin gugup.
Pria paruh baya itu menambahkan, “Meski begitu, beliau tidak melarang penghapusan dan bahkan tidak peduli. Aku percaya Pangeran tidak takut Keluarga Palmer mungkin kembali membalas dendam suatu hari nanti karena beliau kuat dan memiliki latar belakang hebat.
Namun Keluarga Nelson berbeda. Kamu telah menunjukkan kebencian kepada kami. Melepaskan Keluarga Palmer … jelas tidak mungkin!”
Setelah itu, jeritan penuh keputusasaan menggema di Kastil Greenroot. Para ksatria menatap Robert yang penuh darah dengan ngeri. Pria paruh baya itu memicingkan mata sambil menatap ksatria di sekelilingnya.
“Meski Keluarga Palmer sudah menyerah, ini tidak bisa dilepaskan. Kalian semua … bunuh seluruh anggota Keluarga Palmer dan para pengikut setia mereka!” seru Robert.
__ADS_1
“T-Tapi Tuan … bagaimana dengan anak-anak dan perempuan?” tanya salah satu ksatria dengan gugup.
“Aku sudah membuat musuh, jadi aku harus menghabisi mereka sampai ke akarnya. Bunuh mereka! Lakukan dengan bersih!” perintah Robert.
“Baik, Tuan!”
Jika aku melepaskan Palmer dan mencemarkan nama Tuan, aku tidak bisa menanggung kemarahannya.
Robert bergumam dalam hati. Pria paruh baya itu menatap ke langit utara. Lebih tepatnya, ke arah Kota Black Lily berada.
Pada hari itu, adegan pembantaian terjadi di Kastil Greenroot. Selain para ksatria di bawah Robert, hanya bangunan kastil tua yang menjadi saksinya.
...***...
“Kapan kita akan sampai?”
Di dalam gerbong kereta mewah, Ciel tampak bosan ketika memakan keripik buah. Melihat ekspresi pemuda itu, Camellia dan Elena hanya bisa saling memandang lalu menggelengkan kepala.
“Besok kita akan sampai ke tempat tujuan, Tuan.”
Mendengar jawaban itu, Ciel hanya bisa menghela napas panjang. Setelah makan malam dengan empat bawahan barunya, pemuda itu sibuk mengatur wilayah selama dua hari. Setelah dua hari, dia segera melakukan perjalanan menuju ke selatan.
Meski tidak mau, karena perjalanannya cukup panjang, Ciel terpaksa membawa 100 ksatria bersamanya. Agak tidak berguna, tetapi untuk formalitas dia masih harus melakukannya. Selain gerbong miliknya, ada dua kereta kuda di belakangnya. Itu berisi berbagai jenis bahan makanan untuk persediaan perjalanan.
Sebenarnya, Ciel sendiri merasa perjalanan ini agak meragukan dan kurang kepastian. Namun untuk menjalankan rencana ke depannya, dia perlu melakukan perjalanan ini.
Melihat Ciel yang sedang melamun, Elena yang biasanya pendiam tiba-tiba bertanya, “Apakah anda yakin, Tuan? Saya dengar, mereka adalah tipe yang sulit diajak bicara.”
Ciel memandang ke arah Elena yang cantik lalu menghela napas panjang.
“Jika menggunakan mulut tidak bisa, gunakan saja kepalan tangan. Pukul mereka!”
__ADS_1
>> Bersambung.