
“Ini …”
Ciel yang melihat ke dalam ruangan langsung menoleh ke Duke Raevern. Jelas, tatapannya menanyakan apakah hal ini telah dilaporkan ke Royal Capital atau tidak. Jika sudah dilaporkan, itu berarti Ciel harus bekerja gratis untuk mengurus semua jebakan hanya untuk ‘kepentingan kekaisaran’.
Duke Raevern menggeleng ringan. Sudut bibirnya terangkat. Orang itu puas melihat Ciel yang penasaran.
“Tentu saja saya belum melaporkannya, Pangeran Luciel. Ini sama sekali bukan tindakan pengkhianatan atau semacamnya. Namun daripada melapor ke Royal Capital dengan kemungkinan informasi bocor di tangan musuh, saya ingin menyerahkan urusan ini kepada anda.”
Meski perkataannya agak munafik, Duke memberi tanda ‘OK’ kepada Ciel. Dengan kata lain, orang itu memang menyiapkan hal itu untuk Ciel.
Ciel sendiri tidak begitu naif untuk menerima hadiah secara cuma-cuma.
“Apa yang anda inginkan dariku, Duke Raevern. Jujur saja, tidak perlu menahan diri.”
“...”
Duke Raevern merenung, tidak berharap kalau Ciel benar-benar begitu langsung. Menghela napas, dia akhirnya menjelaskan.
“Ya. Kalau begitu saya juga akan langsung. Jawaban saya adalah … daripada menyerahkan ke Royal Capital dengan imbalan tidak jelas, saya memilih untuk memberikannya kepada anda. Itu agar anda berhutang budi.”
“Hutang budi?” Ciel melirik dengan tatapan dingin. “Meski benda itu belum tentu berguna untukku?”
“Anda pasti juga tahu, Pangeran Luciel. Meski benda itu berguna atau tidak, dari keamanan tempat saja … jelas hal itu begitu berharga.”
“Heh … Tidak buruk juga.” Ciel mengangguk ringan. “Jadi, apa yang ingin kamu dapat dari hutang budi itu?”
“Perlindungan.” Duke Raevern berkata dengan tegas.
“Meski anda lebih kuat dariku?” Ciel tersenyum ringan.
Meski sekarang Ciel dua tingkat lebih tinggi dibanding Duke Raevern, jelas dunia masih menganggapnya sebagai iblis level 5 (akhir). Jadi, apa yang Ciel katakan juga tidak sepenuhnya salah.
“Memang, sekarang saya lebih kuat. Namun di usia anda, iblis level 5 (akhir) … tidak lama lagi anda akan melampaui saya. Pada saat itu, ketika Keluarga Raevern membutuhkan bantuan anda … tolong, bantu kami!” Duke Raevern memberi hormat dengan tulus.
“Meski tidak tahu apakah itu berguna … aku berjanji. Satu bantuan. Selama kalian benar-benar membutuhkan bantuan di saat kritis, aku tidak akan berpura-pura tidak melihat. Aku akan terjun untuk membantu secara langsung.”
__ADS_1
Ciel dan Duke Raevern saling memandang. Melihat tatapan serius dari matanya, pria itu akhirnya percaya.
“Apakah anda akan pergi? Atau memilih untuk menonton?”
Melihat Duke Raevern yang masih mengawasinya, Ciel tidak langsung mencoba memecahkan jebakan. Dia malah bertanya langsung kepada pria itu.
“Jika anda tidak keberatan … biarkan saya melihat.”
“Baik.”
Ciel mengangguk ringan. Tidak terlalu peduli. Sebenarnya, dengan pengetahuan sekaligus sihirnya, pemuda itu bisa menyelesaikan hal itu dalam satu gerakan. Memecahkan pusat kunci secara langsung. Karena dilihat, dia akhirnya memutuskan untuk melakukan dengan bertahap.
Pergi ke satu titik tanpa memicu jebakan, geser dan susun rune, pindah ke titik lain. Mengulang itu belasan kali, ditemani dengan suara ‘klik’, semua jebakan akhirnya terselesaikan.
Duke Raevern yang melihat Ciel hanya bisa ternganga. Tidak menyangka, pemuda itu lebih pintar daripada dirinya. Bukan hanya lebih pintar, pemuda itu bahkan memecahkan semua jebakan seolah sedang memecahkan teka-teki anak TK. Jangankan bingung, pemuda itu bahkan sama sekali tidak berkeringat.
Ini … Pilihan ini adalah pilihan yang paling tepat.
Duke Raevern bergumam dalam hati. Pria itu menatap punggung Ciel dengan ekspresi bersemangat. Tidak sabar menunggu dia dan Keluarga Raevern terkena cipratan kemuliaan dari Ciel.
Bisakah kamu berhenti menatapku seperti itu? Aku normal, okay? Aku tidak tertarik dengan om-om sepertimu. Aku punya seorang tunangan dan dua calon selir!
Ciel menggerutu dalam hati. Mengabaikan Duke Raevern yang terus menatapnya, pemuda itu memilih untuk fokus ke ‘benda’ yang ada di depannya. Dia mengamati tabung dengan tinggi lebih dari dua meter yang dipenuhi cairan nutrisi berwarna hijau kebiruan.
Di dalam tabung itu, terlihat siluet humanoid. Lebih tepatnya … sosok seorang gadis kecil.
Kira-kira memiliki tubuh seperti gadis seusia 11 atau 12 tahun. Rambutnya yang berwarna perak begitu panjang dan lurus. Selain itu, dia juga memiliki kulit seputih salju yang tampak lembut. Gadis itu berada dalam posisi seperti janin dalam kandungan. Memejamkan mata tanpa bergerak.
Melihat gadis kecil yang berada dalam kondisi vegetatif, Ciel tidak bisa tidak menghela napas panjang.
Jangan melihat dari penampilan luarnya yang seperti loli imut. Ketika Ciel mengamati dengan ‘Eye of The Lord’, jelas, ini memang cangkang yang dipersiapkan oleh Vonda. Lagipula …
Sosok yang terlihat seperti loli imut ini memiliki kekuatan setara dengan iblis level 6 (awal)!
Melihat gadis kecil itu, Ciel tersenyum pahit. Dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.
__ADS_1
Bukankah level 6 itu setara dengan Duke di Kekaisaran Black Sun atau bahkan raja di kerajaan tetangga? Sejak kapan makhluk setingkat itu muncul seperti jamur di musim semi?
Kenapa aku menemui makhluk-makhluk seperti itu? Tidak bisakah aku melawan tuan muda sombong dari anak Baron atau semacamnya agar aku bisa menyelesaikannya dengan satu jari?
Sial … ini tidak adil. Hidup ini rumit.
Meski banyak mengeluh, Ciel merasa bersyukur bisa menyelesaikan perang sebelum Vonda berpindah cangkang. Membayangkan loli manis itu bangkit, dia bisa membayangkan perang ganas di mana … mungkin Duke Raevern terbunuh dengan serangan gabungan dari ayah Marcus dan Vonda yang telah berpindah cangkang.
“Sepertinya firasatku masih bisa diandalkan,” gumam Ciel dengan ekspresi lega.
Jika Kekaisaran Black Sun kehilangan seorang Duke, itu adalah kerugian besar. Selain itu, pasti akan ada kekacauan di South Duchy … mungkin juga di seluruh Kekaisaran Black Sun.
Memikirkan apa yang dia dapat dari perang, Ciel tersenyum pahit.
Senjata kuat, manik misterius, peliharaan baru, dan … tubuh vegetatif dengan kekuatan setara iblis level 6 (awal).
Ciel sendiri juga belum menghampiri tempat yang Marcus sebutkan sebelumnya. Dia merasa kalau bangsawan atau bahkan sebuah kerajaan sering berperang itu normal. Itu karena banyaknya manfaat yang mereka dapat jika memenangkan perang.
Ya … memang para pemimpin memiliki banyak manfaat. Hanya saja, banyak korban yang berjatuhan di medan perang. Dengan kedok menjadi pahlawan yang membela kerajaan atau kekaisaran, nyawa demi nyawa dikorbankan. Saling bertarung dan saling menelan untuk berdiri di puncak rantai makanan.
Benar-benar sistem dunia yang menjijikkan …
Ciel tersenyum kecut. Sebagai seorang reinkarnator, dia tidak memiliki tujuan begitu mulia seperti membuat perdamaian dunia. Belum lagi … itu adalah dunia yang dipenuhi dengan jenis-jenis iblis.
Ciel tidak begitu naif karena tahu batasannya sendiri. Namun, matanya masih memancarkan kilau misterius. Terlihat penuh tekad.
Memang, aku tidak bisa mengubah dunia. Paling tidak, aku ingin membuat wilayah netral yang begitu aman ...
Begitu aman sehingga setiap orang di dalamnya merasa aman dari dunia gelap yang penuh dengan bahaya ini.
Tentu saja, agar aku bisa bermalas-malasan dan tidak memikirkan urusan dunia luar!
Ya. Daripada omong kosong yang dia pikirkan di awal, kalimat terakhir memang tujuan utama Ciel.
>> Bersambung.
__ADS_1