
Empat minggu kemudian.
Dua puluh hari setelah Camellia tertidur, Ciel berangkat menuju ke Kota Scarlet Roze. Alasan kepada dia meninggalkan gadis itu karena dirinya sudah tahu perkiraan kapan Camellia bangun. Dalam catatan yang dia baca, paling cepat, biasanya seorang Bloodborne akan bangkit setelah lima puluh hari.
Itu juga salah alasan kenapa Bloodborne sulit bangkit dan punah. Dalam kondisi seperti itu, mereka sangat mudah dibunuh. Itu juga alasan kenapa setiap Bloodborne yang melakukan ritual darah harus menyiapkan tempat persembunyian agar bisa menjaga keamanan mereka.
Dalam perjalanan kali ini, Ciel berangkat bersama dengan Shana. Alasannya sebenarnya sederhana … gadis itu ingin bertemu dengan sahabatnya, Arla.
Karena pelana di punggung Deschia khusus untuk satu orang dan tidak mungkin memangku Shana dalam perjalanan yang cukup panjang, jadi Ciel memutuskan untuk menggunakan kereta kuda yang lebih lambat.
Tentu saja, Ciel telah mengupgrade kereta kuda yang ditarik kuda kelas rendah menjadi ditarik oleh dua Iblis kuda level 3 berwarna hitam. Dia juga merubah gerbong menjadi lebih mewah. Paling tidak, sekelas dengan kereta yang digunakan seorang Marquis.
Juga, apa yang Ciel paling butuhkan tentu saja dekorasi dalam gerbong kereta. Dia memutuskan untuk menggunakan bahan-bahan yang kuat sekaligus nyaman, membuat dirinya bisa merasa santai sambil bermalas-malasan dalam perjalanan.
Karena pernah menjadi tentara bayaran, Shana bisa menjadi pendamping sekaligus kusir untuk Ciel. Wanita itu juga paham dengan tugasnya. Lagipula, tanpa dirinya, Ciel bisa datang ke pesta lebih cepat. Namun, pemuda itu masih mengizinkannya ikut untuk menemui sahabatnya.
Tidak seperti anak-anak bangsawan lain yang suka diiringi dengan ksatria berkuda, Ciel jelas memilih perjalanan yang lebih simple dan ringkas. Daripada beberapa ksatria berkuda level dua yang hanya memenuhi angka, dia lebih suka bergerak sendiri atau membawa satu atau dua orang yang dia anggap ‘cukup baik’.
Setelah lebih dari satu bulan, Kota Scarlet Roze yang awalnya mengalami kerusakan telah direvitalisasi. Banyak bangunan yang telah dibangun ulang. Terlihat jelas, Marquis baru benar-benar banyak mengeluarkan uang dan usaha untuk hal itu. Namun, masih banyak bangsawan yang tidak puas dengannya.
Alasannya sederhana, Marquis Roschild bisa dibilang melompati antrean. Jika dilihat baik-baik, Keluarga Roschild sebenarnya adalah bangsawan di bawah Marquis Bathory, bukan langsung dari Duke Raevern.
Jika itu dalam kondisi normal, seharusnya satu dari lima Count di bawah Duke Raevern yang harus naik ke posisi Marquis. Namun, Count Roschild benar-benar melewati antrean karena kondisi khusus dan akhirnya diangkat menjadi Marquis. Hal itu menyebabkan banyak ketidakpuasan.
Tentu saja, Duke Raevern juga paham dengan hal itu. Namun, jika dia memindahkan salah satu Count untuk mengurus wilayah Marquis Bathory, akan terlalu banyak hal tidak stabil di South Duchy.
Wilayah Blackfield yang diakuisisi oleh Ciel, perubahan pemilik wilayah kepada Keluarga Jadewine di Kota Jade Water, dan sekarang masalah dengan wilayah Scarlet Roze.
Jika harus ada pemindahan bangsawan, hampir separuh wilayah di South Duchy akan menjadi kacau, jadi Duke Raevern dengan terpaksa menaikkan salah seorang Count dalam wilayah itu untuk segera menstabilkan wilayah Scarlet Roze. Itu adalah pilihan terbaik.
__ADS_1
Selain satu wilayah yang hilang, dua dari tujuh wilayah yang dikelola bangsawan di bawah Duke Raevern masih agak rentan. Itu sudah pilihan tebaik. Jika dia asal memindahkan bangsawan, mungkin empat atau lima dari tujuh wilayah akan kacau. Benar-benar membuat lebih sakit kepala.
Dalam posisi yang rentan dan adanya gerakan dari organisasi Curses of Shadow, Duke Raevern tidak bisa menunggu cukup lama agar wilayah stabil. Setiap waktu berharga. Jadi, dia memilih untuk membuat keputusan sedemikian rupa.
Bangsawan itu rumit. Meski mereka tahu alasan Duke Raevern, keempat Count masih tidak puas. Sebagai bangsawan, mereka benar-benar memiliki sikap yang rakus atas harta serta kekuasaan. Ya, itu juga termasuk ayah Ferel, Count Guldebell.
Dalam surat yang dikirim Savian kepadanya, dituliskan kalau Ferel benar-benar kesulitan dalam menghadapi ayahnya yang keras kepala.
Sampai di depan gedung penginapan, Ciel melihat sosok yang tampak akrab dengannya. Ya, mereka adalah Savian dan Ferel.
Setelah ‘memarkir’ kereta kuda, Ciel yang diikuti oleh Shana menghampiri keduanya. Melihat sosok Savian, Ciel mengangguk.
“Bagaimana kabarmu, Savian?”
“Meski tidak terlalu nyaman, saya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, Pangeran Ciel.”
“Ferel, kelihatannya kamu menjadi lebih … makmur?”
Bingung bagaimana menggambarkan situasi Ferel, Ciel hanya bisa menggunakan kata ‘makmur’. Alasannya adalah, Ferel benar-benar kembali menjadi bola bulat. Menambah banyak berat badannya. Bahkan, dibandingkan pertama kali bertemu, sosok Ferel lebih bulat.
“Meski itu kalimat yang baik, kenapa saya merasa kalau tatapan anda sedikit menghina, Pangeran Ciel.” Ferel merasa tidak berdaya ketika Ciel menatapnya dengan ekspresi rumit.
“Mari masuk. Kita bisa membahasnya di dalam.” Savian menyarankan.
“Baik.” Ciel mengangguk ringan sebagai jawaban.
Setelah itu, Ciel mengikuti Savian untuk pergi ke resepsionis untuk memesan kamar terlebih dahulu sebelum menuju ke bar untuk menikmati anggur dan makanan.
Mereka memesan kamar khusus agar percakapan tidak didengar dari luar. Melihat banyak hidangan, Ciel mengangguk puas. Namun, selain orang-orang yang dia kenal, pemuda itu menatap ke arah Ferel. Di belakang Ferel, terlihat sosok ksatria wanita dengan kulit cokelat gelap yang sehat. Wanita itu jelas dari ras Abyssal Barbarian, sama dengan Shana dan Arla yang mengikuti Ciel atau Savian.
__ADS_1
“Ferel … dia?” Ciel bertanya dengan ekspresi penasaran.
“Oh! Betapa tidak sopannya saya.” Menyadari tatapan Ciel, Ferel terlihat cukup bangga. “Ini adalah Mara. Selain terlihat cantik dan cukup kuat, dia sangat pandai di atas ranjang. Dia bisa melakukan berbagai gerakan … benar-benar luar biasa!”
Mendengar perkenalan Ferel, Ciel dan Savian saling memandang lalu menggeleng ringan. Sementara itu, Shana dan Arla memandang ke arah gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Sedangkan gadis itu, Mara, dia benar-benar menunduk dengan wajah merah. Benar-benar malu karena perkenalan Ferel yang konyol tetapi sombong.
“Kenapa kalian berdua diam? Savian, kamu dan Pangeran Luciel pasti heran. Hah! Jangan kira hanya kalian yang bisa mendapat budak Abyssal Barbarian yang cantik.” Ferel mengangkat kepala dengan ekspresi bangga, membuat Savian dan Ciel bingung harus berkomentar bagaimana.
Meski Arla dan Shana memang bisa dibilang kecantikan eksotis, itu bukan alasan kenapa Savian atau Ciel memilih mereka.
Savian, sebagai putra Duke dengan kekuatan yang lemah, dia memerlukan perlindungan yang baik. Dengan usaha penuh, akhirnya pria itu menemukan Arla, sosok ksatria wanita yang tidak hanya cantik, tetapi juga bisa melindunginya.
Sedangkan Ciel sendiri, dia memiliki banyak kriteria untuk memilih bawahan. Menemukan Shana secara tidak sengaja dan memiliki bakat yang ‘cukup’, Ciel tanpa ragu membawa gadis itu bersamanya. Lagipula, pemuda itu memerlukan banyak bakat untuk membuat wilayahnya menjadi lebih kuat dengan cepat.
Sedangkan alasan seksual … baik Savian atau Ciel bahkan tidak memikirkannya.
Ciel kemudian memandang ke arah Ferel. Karena bisnis mereka berjalan lancar, ketiga pemuda itu bisa dibilang memiliki banyak uang dari kelompok perdagangan mereka. Belum lagi Ciel, selain dari kelompok kecil mereka, dia juga mendapat banyak uang dari pajak wilayahnya.
Setelah dipotong di sana-sini untuk pembangunan, pertanian, merekrut prajurit, membesarkan prajurit, dan sebagainya … sebenarnya Ciel memiliki cukup banyak sisa. Tentu saja, dia berencana mengumpulkan ‘sisa’ itu untuk merekrut prajurit lain tahun depan.
Sedangkan kekayaan yang dia hasilkan dari Golden Dusk Group, pemberian dari guru, orang tua, atau kakeknya … dia menyimpannya untuk beberapa urusan pribadi. Terkadang, dia juga harus mengeluarkannya pada saat genting, untuk mempercepat pertumbuhan prajurit sebelum perang misalnya.
Melihat Ferel yang begitu makmur, terlalu memanjakan diri dan menghamburkan uangnya setelah mendapat bagian dari saham grup, Ciel tidak bisa berkata kata. Makanan dan wanita … pemuda itu benar-benar tenggelam di dalamnya.
Ciel hanya bisa berkata dengan senyum pahit.
“Ya … cocok untuk pengusaha muda sepertimu.”
>> Bersambung.
__ADS_1