Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Hanya Ingin Melakukannya


__ADS_3

Ciel kemudian melirik ke arah Ariana yang sedikit gemetaran. Ekspresinya menjadi lebih dingin. Namun saat mendengar pembawa acara menyampaikan kalau acara segera di mulai, dia memilih tetap duduk di tempat yang sama.


“Kita tidak bisa pergi sebelum acaranya selesai,” ucap Ciel dengan nada tak acuh.


“...”


“Tidak perlu khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa,” gumam Ciel.


Tanpa terasa, beberapa jam berlalu. Tidak menutupi ekspresinya, Ciel benar-benar terlihat bosan. Dia merasa kalau kebosanan itu tak tertahankan. Hingga akhirnya, waktu pemberian hadiah dilakukan.


Melihat para bangsawan berbaris rapi mendekati Alexander, Ciel menggeleng ringan. Apa yang terjadi sekarang bisa dibilang ajang pamer. Bangsawan akan menunjukkan kepada bangsawan lain kalau dirinya memberi hadiah yang luar biasa atau semacamnya.


Sedikit tidak tahu malu, tapi … ya, begitulah budaya di Kekaisaran ini.


“Ciel, mari kita juga beri hadiah!” ucap Zack yang bersemangat.


“Kamu tidak melihat betapa ramainya itu? Betapa panjangnya antrian itu? Berdiri mengantri untuk memberi hadiah? Yang benar saja …”


“Mempelai wanita adalah kakakku, mempelai pria adalah kakakmu … kenapa kita harus ikut mengantri?” Zack memiringkan kepalanya.


“Hmmm … pintar! Jarang sekali otakmu bekerja sebaik ini, Zack.”


“Hahahaha! Aku memang pintar … eh? Tunggu! Kamu berkata kalau biasanya aku bodoh?”


“Sama sekali tidak. Itu hanya perasaanmu …”


Sembari mengucapkan itu, Ciel berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Ariana. Ariana kemudian memegang tangan Ciel sebelum berdiri. Keduanya kemudian berjalan langsung menuju ke arah pengantin.


Zack yang ditinggalkan sendiri terdiam. Sudut mulutnya bergerak-gerak. Belum sempat memroses semuanya dalam kepala, dia segera menyusul Ciel dan Ariana.


“Sial! Tunggu aku, Rivalku!” seru Zack.


Pada saat ketiga orang itu berjalan mendekati pengantin, para bangsawan yang mengantri melihat mereka. Beberapa bangsawan mulai berbisik.


“Bukankah itu Zack Flamehart, jenius dari Keluarga Flamehart? Siapa pemuda tampan dan gadis cantik di sampingnya? Kelihatannya pemuda itu adalah pemimpinnya.”


“Sttt … dia adalah Pangeran Luciel. Pangeran Luciel sangat jarang mengikuti acara seperti ini, jadi tidak semua bangsawan muda seperti kita melihatnya.”


“Pangeran Sampah itu?”


“Apanya yang Pangeran Sampah? Kamu tidak tahu, dia sama sekali bukan sampah.”


“Lalu?”


“Dia adalah Pangeran Gila! Dia sebenarnya iblis level 5! Belum lagi, beberapa waktu lalu … dia benar-benar membakar sebuah kota lengkap dengan penghuninya!”

__ADS_1


“Sial! Sangat galak?”


“...”


“...”


Diskusi semacam itu mulai terdengar. Tentu saja, mereka hanya saling berbisik dan … ya, Ciel atau Zack masih bisa mendengarnya. Namun keduanya memilih untuk diam.


Sedangkan Zack, dia terlihat begitu serius. Merenungkan sesuatu, pemuda itu bergumam, “Mungkin aku juga akan mencoba membakar kota.”


Mendengar gumaman temannya, Ciel langsung menoleh ke Zack dengan tatapan tidak percaya.


Membakar kota tanpa alasan yang jelas? Sungguh? Aku heran … kenapa selama ini bukan kamu yang dianggap gila.


Ciel, Ariana, dan Zack sampai ke tempat pengantin. Kakak Ciel, Alexander … dan kakak Zack, Leona … keduanya memandang tiga junior itu dengan senyum bahagia di wajah mereka. Pada saat itu, Ciel tersadar.


Benar. Ini adalah pesta pernikahan kakakku. Aku terlalu bodoh, malah memikirkan hal-hal lain.


Suara Zack tiba-tiba terdengar di telinga banyak orang.


“Kak Leona, Kak Alexander … selamat atas pernikahan kalian! Bukan hadiah besar, tetapi terimalah!”


Selesai mengatakan itu, Zack mengulurkan tangan kanannya. Bersamaan dengan suara ‘Bang!’, sebuah kotak kayu besar yang diikat dengan simpul rapi terlihat di mata semua orang.


Alexander memandang Leona, sementara wanita itu tersenyum kecut. Dia jelas mengetahui sikap adiknya yang agak berlebihan. Sementara itu, sudut bibir Ciel berkedut. Dia memandang Zack dengan tatapan aneh.


Sial! Jika mereka tidak mengenal sifatmu … ini jelas akan dianggap sebagai penyergapan atau penghinaan!


Melihat orang-orang mulai pulih dan pelayan yang memindahkan kado itu ke samping dengan hati-hati, Ciel akhirnya maju. Menepuk tas kecil di pinggangnya, dia mengeluarkan sebuah kotak kayu sederhana, panjangnya kira kira 30 cm dengan tinggi dan lebar 15 cm.


Terlalu sederhana bahkan untuk hadiah pernikahan seorang bangsawan kelas rendah. Leona langsung memandang Alexander, bingung apakah Ciel membenci salah satu dari keduanya. Sedangkan sang mempelai pria, Alexander … dia tidak terlalu memperdulikan itu. Dia tahu sifat adiknya. Meski agak kecewa, dia masih senang Ciel tidak melewatkan formalitas.


“Kak Alex, Kak Leona … selamat atas pernikahan kalian. Aku tidak bisa banyak bicara. Ya, aku harap yang terbaik untuk kalian berdua.” Ciel berkata dengan nada monoton.


“Terima kasih …” balas Alexander saat menerima hadiah dari Ciel.


Tanpa terasa, beberapa jam kembali berlalu. Semua orang telah memberikan kado pernikahan. Saatnya membuka tujuh kado yang dipilih. Pada akhirnya, tujuh kado yang dipilih adalah ... hadiah dari Duke Selatan, tiga Marquis dari Central Plain, Lilia, Zack, dan Ciel.


Pada saat kado dibuka, banyak orang terkejut. Hadiah dari Duke adalah sebuah pedang elegan level 5 yang berharga. Sedangkan hadiah dari ketiga Marquis, itu adalah perhiasan sekaligus perlengkapan sihir untuk pengantin wanita. Lagipula, mereka sadar kalau Alexander memiliki perlengkapan baik pemberian Kaisar. Lilia, sebagai adik … gadis itu memberi sebuah potion ‘Tears of Thunder Birds’.


Dikatakan kalau potion itu mampu menyembuhkan saat kritis sekaligus memberi keuntungan bagi seorang mage dengan atribut angin dan petir. Sangat cocok untuk Alexander.


Pada saat membuka hadiah dari Zack … semua orang tercengang.


Hadiah itu merupakan satu set armor level 4 berwarna merah menyala yang mahal. Itu jelas hal yang sangat berguna untuk Alex. Namun yang membuat orang-orang tercengang bukan itu, tetapi cara kado itu dibungkus.

__ADS_1


Satu set Armor itu dibungkus bersama dengan manekinnya. Yang berarti, daripada disusun rapi, itu lebih mirip sebuah patung ksatria dalam kotak kayu. Semua orang dibuat heran karenanya.


Hadiah dari Ciel adalah yang terakhir dan yang ditunggu-tunggu. Lagipula, itu terlihat paling sederhana. Jelas, itu mungkin akan menjadi sebuah lelucon dalam sejarah pernikahan seorang pangeran.


Alexander dan Leona menghela napas panjang. Mereka tidak berharap banyak. Keduanya membuka kotak kayu kecil dan melihat hadiah di dalamnya.


Di dalam kotak, terdapat 3 item. Sebuah botol kristal berisi tujuh bunga putih yang direndam cairan biru muda, sebuah badge hitam, dan sebuah kotak kecil.


Alexander yang mengambil botol kristal merasa aneh. Dia bergumam, “Ini …”


Semua bangsawan saling memandang dengan heran, tidak mengerti apa itu. Namun seorang bangsawan dari South Duchy sekaligus Marquis tiba-tiba mengangkat tangannya.


“Kelihatannya saya mengenali hal itu, Pangeran. Perlukah saya menjelaskan?”


“Datang.” Alexander mengangguk.


Marquis itu mendekat lalu dengan sopan menerima botol kristal itu. Mengamati dengan serius, dia melihat tujuh bunga berwarna putih dengan kilau keperakan. Masing-masing bunga memiliki tujuh kelopak.


“Tidak salah lagi. Bunga ini disebut ‘Seven Silver Stars’. Bunga ini biasanya hidup di pedalaman Blackwood Forest. Bunga ini mekar setelah setahun menyerap cahaya bintang dan bulan. Belum lagi … setelah tiga hari, bunga akan layu dan jatuh.


Biasanya dipetik ketika mekar dan direndam dalam cairan herbal khusus untuk menjaga kesegarannya. Ketika dibuka, aromanya sangat segar … membuat pikiran menjadi tenang.


Ini sangat langka bahkan di daerah South Duchy. Selain itu, tujuh kelopak bunga melambangkan harapan akan keberuntungan.”


Semua orang kemudian terdiam. Alexander dan Leona bahkan tercengang. Berpura-pura batuk, Alexander berkata, “Lanjutkan.”


“Badge ini … terlihat seperti logam tetapi bukan logam,” ucap Marquis. “Kalau tidak salah, lambang serigala bertanduk dengan latar bulan sabit adalah lambang anda kan, Pangeran?”


Mendengar perkataan Marquis itu, Alexander mengangguk.


“Ukiran ini sangat bagus, terlihat seperti badge aslinya. Namun jelas, ini terbuat dari Iron Wood dan diukir sendiri.


Seperti yang diketahui, di South Duchy khususnya daerah dekat Blackwood Forest ada tradisi untuk memberi ukiran Iron Wood. Alasan kenapa dinamai Blackwood Forest juga karena tumbuhan ini banyak ditemukan di pedalaman hutan. Pohon itu berwarna hitam, kuat seperti logam. Semakin tua, semakin kuat juga kayu itu.


Banyak furnitur bangsawan yang terbuat dari kayu pohon Iron Wood. Karena semakin tua, semakin keras … banyak orang yang membuat ukiran dari pohon tua dan memberikannya sebagai hadiah. Itu juga bisa diartikan sebagai harapan umur panjang.


Saya sendiri curiga … ini pasti terbuat dari cabang pohon Iron Wood berusia lebih dari 1000 tahun. Pohon yang hanya ada di pedalaman Blackwood Forest.”


Mendengar itu, semua orang terkagum-kagum. Mereka memandang Ciel dengan kaget. Alexander bahkan merasa sudut matanya agak gatal, terharu karena hadiah itu.


“Ciel, kamu …”


Tanpa menunggu Alexander menyelesaikan ucapannya, Ciel berkata dengan ekspresi bosan.


“Apa yang dikatakan Marquis terlalu berlebihan. Ya … aku memberi itu hanya karena aku ingin melakukannya. Tidak kurang. Tidak lebih.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2