Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Di Bawah Jutaan Bintang


__ADS_3

“Kalian berdua tidak perlu memaksakan diri.”


Berdiri santai, Ciel melihat ke arah Ariana dan Camellia yang terengah-engah. Keduanya berdiri dengan kaki gemetar, keringat mengucur di tubuh keduanya.


“Kami masih kuat, Tuan.”


“Tolong lakukan lagi, Sayang.”


Melihat keduanya yang sampai seperti itu, Ciel menghela napas panjang.


“Lebih baik kalian beristirahat. Melakukan berlebihan itu tidak baik.”


“T-Tapi …”


“Tidak ada alasan. Kita hentikan ini sampai di sini, mengerti?”


“Baik, Tuan.”


“Baik, Sayang.”


“...”


Melihat sosok yang pergi meninggalkan ruangan untuk segera mandi, Ciel menghela napas panjang. Dia tidak menyangka keduanya akan menjadi begitu keras kepala. Padahal pemuda itu sudah berkata kalau dia tidak memerlukannya, tetapi mereka memaksa untuk melakukannya.


Ya … keduanya meminta latihan keras agar level mereka tidak terlalu tertinggal.


Ciel kurang mengerti alasan mereka. Ariana dan Camellia berkata kalau mereka ingin menjadi lebih berguna. Akan tetapi, bagi pemuda itu, tidak hanya kekuatan yang berguna baginya. Kecerdasan keduanya juga sangat membantunya dalam mengurus masalah perekonomian wilayah.


“Aku harap mereka tidak memaksakan diri.”


Setelah makan malam bersama, Ciel mengajak Ariana, Camellia, dan Elena keluar dari kastil. Berjalan-jalan sebentar di belakang kastil, akhirnya mereka melihat sebidang tanah datar di antara taman bunga.


Ciel melambaikan tangan, sebuah karpet lebar dari kulit serta bulu Demonic Beast yang terlah diproses muncul. Benda terlihat halus dan lembut di atas tanah. Dia kemudian melepas sepatu dan menginjakkan kaki di atasnya.


Dengan lambaian tangan lain, beberapa camilan dan anggur Jade Flower muncul. Tentu saja, dia telah mempersiapkan sebelumnya. Dia memindah satu barel ke beberapa botol.


“Kalian tidak keberatan menemaniku untuk melihat bintang, kan?”

__ADS_1


“...”


Ariana, Camellia, dan Elena tersenyum lembut sembari menggeleng ringan. Mereka sama sekali tidak keberatan. Bahkan, ketiganya merasa lebih bahagia jika Ciel tidak terlalu dingin dan membutuhkan mereka.


“Duduk.”


Mengikuti perintah Ciel, ketiganya melepas sepatu lalu duduk dengan sopan. Ariana duduk di sebelah kanan Ciel. Camellia duduk di sebelah kiri Ciel. Sedangkan Elena, dia duduk di belakangnya. Daripada duduk, lebih tepatnya memberi bantal pangkuan.


Merasakan bagian belakang kepalanya yang bersentuhan dengan paha Elena, Ciel merasa begitu nyaman. Dia melihat langit tanpa mengucap sepatah kata.


Di langit, pemandangan jutaan bintang yang membentuk sungai bintang terlihat begitu indah. Karena tidak ada awan malam itu, mereka bisa melihat pemandangan dengan jelas.


Ditambah embusan angin musim semi yang tidak terlalu dingin serta suara beberapa serangga dan burung di malam hari, Ciel merasa pikirannya menjadi lebih jernih.


Melihat jutaan bintang di langit, Ciel juga bertanya-tanya apakah salah satu dari bintang itu adalah bumi, tempat dirinya dulu berasal. Menggeleng ringan, dia mencoba tidak memikirkannya.


“Elena … maukah kamu juga menemaniku selamanya? Tidak meninggalkanku meski di saat suka atau duka?”


Tiba-tiba suara lembut Ciel terdengar. Ketiga wanita itu terkejut. Ariana jelas akan menjadi istri Ciel karena pertunangan. Camellia, gadis itu sudah diberi janji oleh Ciel. Hanya Elena yang masih dalam status canggung. Dia begitu dekat dengan Ciel tetapi tidak diberi kepastian dan digantungkan.


Mendengar pertanyaan Ciel, Elena tampak kaget. Dia melihat Ciel yang berbaring di pangkuannya sambil memejamkan mata. Wanita itu tersenyum lembut lalu menjawab, “Saya bahkan rela mati untuk anda, Tuan.”


Ciuman itu berlangsung agak lama. Setelah selesai, Ciel merasa seseorang menarik pakaiannya dan menyadari kalau itu Camellia. Melihat ekspresi cemburu gadis itu, Ciel juga memberinya hadiah. Namun ketika mereka merasakan bunga-bunga cinta mulai mekar dan feromon mulai naik, suara dingin terdengar.


“Apakah itu begitu nikmat? Kalian terlihat sangat menikmatinya.”


Suara Ariana yang dingin ditambah ekspresi wajahnya yang tidak berubah membuat Ciel tersenyum pahit. Dia baru ingat kalau dirinya belum berani menyentuh tunangannya itu. Pemuda itu terbawa suasana sampai hampir melupakannya.


“Apakah anda cemburu, Putri Ariana?” Camellia bersandar ke dada Ciel, sedikit menggoda Ariana.


Mengerti yang dimaksud oleh Camellia, Elena juga bersandar ke Ciel tanpa mengucap apa-apa.


Ariana yang ditinggal sendirian tidak merubah ekspresinya. Bahkan dia tidak terlihat marah sama sekali. Namun, seolah tubuhnya bergerak sendiri, gadis itu mendekati Ciel lalu memeluknya erat.


Ciel, Camellia, dan Elena sempat terkejut. Ekspresi Ciel berubah ketika merasakan tubuh Ariana yang memeluknya sedikit gemetar. Dibandingkan cemburu, dia merasa kalau gadis itu ketakutan.


“Apa yang kamu takutkan, Ariana?”

__ADS_1


Tidak menjawab, Ariana terus memeluk Ciel tanpa memiliki keinginan untuk melepaskannya.


“Coba katakan perlahan. Tidak perlu takut, aku sama sekali tidak akan marah.”


Dengan kedua tangan melingkari leher Ciel, Ariana berbisik pelan.


“Berbeda dengan Camellia atau Elena, anda menikahi saya karena pertunangan. Anda … tidak akan meninggalkan saya kan, Sayang?”


Mendengar bisikan Ariana, tubuh Ciel agak kaku. Dia tiba-tiba melepaskan tangan Ariana yang melingkari lehernya. Hal itu membuat Putri dari Kerajaan Black Star itu agak terkejut.


Sebelum sempat bereaksi, Ariana merasakan sesuatu yang mengunci bibirnya. Melihat Ciel yang menciumnya, gadis itu tidak bisa banyak bereaksi. Otaknya mulai kosong, dan apa yang ada di dalamnya digantikan dengan sosok Ciel.


Setelah berhenti, keduanya saling memandang. Namun Ciel merasakan pandangan Elena dan Camellia. Melihat tiga wanita cantik di depannya, dia tidak bisa tidak menelan saliva. Pemuda itu merasa kalau sang naga sudah bangkit dari tidurnya.


“Kita pergi.”


Ciel berdiri enam sayap muncul di punggungnya. Dia kemudian menggendong satu per satu wanita layaknya seorang putri. Pemuda itu membawa Ariana, kemudian Camellia, lalu Elena. Dia membawa terbang ketiga gadis itu ke kamarnya. Tentu saja, tidak melalui pintu depan, tetapi melalui balkon.


Setelah ketiga wanita berada di kamarnya dan dia telah mengemas peralatan piknik mereka. Ciel yang melihat tiga wanita cantik yang malu-malu tidak bisa menahan diri. Baru membuka kancing teratas bajunya, suara terdengar dalam ruangan.


“Maaf mengganggu kesenangan anda, Tuanku. Namun anda harus keluar, ada seorang tamu yang datang.”


“Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?” tanya Ciel dengan ekspresi tidak puas. “Suruh dia kembali.”


“Tidak mungkin, Tuanku.” Sosok Isabella muncul dari kegelapan.


“Kenapa?”


“Tamu itu adalah sahabat anda, Tuan Zack Flamehart beserta rombongan.”


Ciel tiba-tiba terdiam. Ekspresi bersemangat, marah, dan semua yang bercampur tiba-tiba menghilang. Yang menggantikannya adalah wajah tak acuh dan tatapan dingin.


“Tunjukan jalan. Aku ingin tahu, kenapa dia selalu saja mengganggu waktu berhargaku.”


“Sesuai perintah anda, Tuanku.”


Sebelum pergi meninggalkan ruangan, Isabella melirik ke arah tiga wanita di atas ranjang. Ketiga wanita itu memandangnya penuh dengan kebencian.

__ADS_1


Sementara itu, sudut bibir Isabella terangkat. Benar-benar menunjukkan senyum penuh kemenangan.


>> Bersambung.


__ADS_2