
“S-Siapa kalian ini!”
Boris yang melihat kedatangan orang-orang asing tampak ragu. Selain pakaian bangsawan mereka, keempat orang yang datang itu benar-benar memiliki kekuatan lebih dari dirinya atau para ksatria.
Ciel sendiri dapat menutup rapat auranya, tampak sangat biasa. Sedangkan Clark, Savian, dan Ferel … mereka juga berusaha menyembunyikan. Namun, masih ada kebocoran.
Boris, iblis level 2 (awal) hanya bisa mendeteksi level Savian dan Ferel. Tidak memiliki kemampuan, dia bahkan hanya bisa menebak level Ferel. Sedangkan level Clark … dia benar-benar tidak tahu ada di tingkat apa. Belum lagi Ciel, bagi Boris, pemuda tampan yang tidak memiliki aura itu bahkan lebih mencurigakan.
“Dia benar-benar kasar.” Ferel mendecak tidak puas.
“Mungkin, arogansi bangsawan kelas rendah?” Savian berkata dengan nada santai.
Bangsawan kelas rendah?
Mendengar ucapan dari Savian, Boris marah. Namun pria gempal itu sama sekali tidak kehilangan akal. Sosok yang mengatakan seperti itu paling tidak adalah bangsawan yang dipilih oleh Duke secara langsung. Count … mungkin juga Marquis.
“K-Kalian … kalian bangsawan dari wilayah mana?”
Meski ucapannya masih arogan, nada bicara Boris telah lebih lembut. Dia sangat tahu bahwa orang-orang yang datang sama sekali tidak bisa dia pusingkan. Kekuatan Ferel saja mungkin lebih kuat daripada ayahnya.
“Sudah aku duga, bahkan tidak memiliki sopan santun yang baik.” Ferel menggeleng dengan ekspresi menghina.
Mendengar ucapan Ferel, ekspresi Boris tampak jelek. Dia buru-buru memperkenalkan diri.
“Nama saya adalah Boris Oakson, putra dari Baron Oakson. Saya harap anda memberi saya wajah untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadi dalam daerah kekuasaan ayah saya.”
“Pfftt … Hahaha!”
Ferel tiba-tiba tertawa. Di kekaisaran Black Sun, khususnya di South Duchy, pemuda itu sangat terkenal dengan arogansi dan sifat berlebihannya. Melihat anak seorang Baron meminta wajah dengan sombong, dia tidak bisa menahan tawa.
“Kalian dengar itu? Bahkan bukan seorang Baron. Meminta wajah pada kami? Apakah orang itu bercanda?”
“Teman-teman, jika bisa … setidaknya kalian harus memperkenalkan diri. Itu adalah etiket bangsawan!” Boris mengerutkan kening.
Melihat itu, Ferel maju dengan ekspresi sombong. Dia meletakkan tangan kanan di dada kirinya lalu membungkuk ringan sebelum berkata,”Nama saya adalah-”
“Cukup.”
Ciel yang sedari tadi diam tiba-tiba menyela. Membuka matanya, dia melirik semua orang dalam ruangan dengan ekspresi tak acuh. Tatapannya berhenti pada sosok Boris.
“Kembalilah kepada ayahmu. Aku memberimu kesempatan untuk pergi,” ucap Ciel dengan nada tak acuh.
“KAMU-”
__ADS_1
Sebelum sempat melanjutkan ucapannya, Boris merasa kedinginan. Melirik ke bawah, dia melihat mata tombak yang telah menempel di lehernya. Pandangannya bergeser, pria gempal itu kemudian melihat sosok Clark yang berdiri dengan ekspresi dingin.
Melihat pupil vertikal yang menatapnya seperti ayam gemuk yang siap disembelih, Boris merasa ketakutan. Namun, daripada takut, dia lebih marah. Marah dengan orang-orang yang baru tiba. marah dengan orang-orang yang merusak rencananya.
“Baik! Aku akan pergi!” ucap Boris.
“Clark …” Ciel berkata santai.
Tanpa mengucap sepatah kata, Clark menarik kembali tombaknya. Dia kemudian menatap sosok Boris dengan ekspresi penuh penghinaan.
“Ayo pergi!” ucap Boris dengan ekspresi buruk di wajahnya.
Sebelum pergi, Boris menatap Ciel dan yang lainnya dengan tatapan penuh dengan kebencian. Jelas, pria gempal itu menaruh dendam kepada mereka. Dia bahkan mengutuk dalam hati.
Biarkan kalian sombong, ayahku adalah favorit dari seorang Count. Setelah kembali, aku akan mengadu. Kalian … tunggu saja pembalasan dariku!
Jika Ciel dan yang lainnya tahu apa yang dipikirkan Boris, mereka hanya akan menggeleng ringan atau menertawakannya. Mereka sama sekali tidak peduli dengan hal semacam itu. Bahkan, tidak takut sedikit pun.
Melihat sosok Boris yang telah pergi, Ralph yang babak belur berusaha berdiri, tetapi gagal karena tubuhnya terluka. Duduk di lantai, dia menunduk dengan hormat.
“Terima kasih atas bantuan kalian, Tuan-tuan. Namun … pria kecil seperti saya sama sekali tidak bisa membeli bantuan dari kalian. Jadi, saya harap tuan-tuan tidak tersinggung.” Ralph berkata dengan ekspresi pahit.
“Kamu tidak perlu merasa berhutang. Lagipula, kamu sudah membayarnya.” Ciel berkata dengan nada tak acuh.
Ruangan langsung sunyi. Ralph yang awalnya agak bingung langsung tercengang. Dia langsung menatap istrinya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Catherine … kamu …”
“Aku sama sekali tidak melakukannya, Sayang. Aku sama sekali tidak mengkhianatimu. Aku-”
“Hentikan drama bodoh itu.” Ciel menyela.
Melihat suami-istri yang salah paham dan memulai drama, Ciel merasa sangat tidak puas. Ketika pasangan itu menatap ke arahnya, dia menjelaskan dengan nada tak acuh.
“Kamu telah membayarnya dengan ini.” Ciel mengguncang botol anggur di tangannya.
“Anggur?” Ralph tampak bodoh. “Apakah … apakah anda bercanda, Tuan?”
“Lalu apa?” Ciel menatap dengan ekspresi tak acuh. “Kamu ingin istrimu berkorban untuk kehidupanmu? Begitu?”
Mendengar ucapan Ciel dan melihat tatapan dingin yang diarahkan kepadanya, tubuh Ralph gemetar. Namun dia masih menjawab dengan tegas.
“Tentu saja tidak! Aku tidak akan membiarkan Catherine melakukan hal seperti itu. Aku akan melindunginya, bahkan sampai aku mati!”
__ADS_1
“Sayang …” Melihat ke arah Ralph, Catherine bergumam pelan.
“Heh …”
Ciel tampak tak acuh. Dia malah kembali menuangkan anggur ke cawan lalu menyesapnya perlahan. Menikmati rasanya.
“Sensasi lembut yang berbeda dari anggur biasanya. Ini … madu?” tanya Ciel.
“Eh?” Ralph tampak terkejut. “Anda mengetahui hal itu, Tuan?”
“Aku tahu sedikit tentang anggur.” Ciel berkata tanpa nada rendah diri atau sombong.
“Itu … luar biasa,” gumam Ralph yang menatap Ciel dengan heran.
Dari sekian banyak konsumen, tidak ada yang menduga tambahan itu adalah madu. Terlihat agak sepele, tetapi tidak ada yang menebaknya dengan benar.
“Anggur ini tidak buruk. Aku dengar keluargamu adalah pembuat anggur. Dengan kualitas seperti ini … seharusnya kamu tidak hidup dengan buruk, kan?”
Mendengar ucapan Ciel, ekspresi Ralph meredup. Dia menggertakkan gigi karena marah.
“Itu … Itu karena Boris! Tidak hanya menaikkan pajak, dia bahkan mulai menyabotase penjualan anggur saya. Kebun anggur yang tidak lagi subur, pajak yang berlebihan, hutang yang menumpuk …”
Memikirkan semua masalah yang disebabkan oleh Boris, Ralph tampak penuh dengan kebencian.
“Jadi begitu,” ucap Ciel dengan ekspresi tak acuh.
Skill ‘Eye of The Lord’ diaktifkan. Ciel kemudian memejamkan mata sembari menggeleng ringan. Pemuda itu mengingat sosok Boris yang pergi dengan kebencian.
Apakah aku akan kembali ke jalan yang benar? Menjadi musuh seorang anak Baron? Ini agak menarik …
Membuka matanya, Ciel menatap sosok Ralph dan Catherine. Setelah beberapa saat diam, dia akhirnya kembali berbicara.
“Apakah kamu memerlukan bantuan?”
Mendengar pertanyaan Ciel, Ralph menatap Catherine lalu memandang pemuda tampan itu dengan waspada.
“Maksud anda …”
Melihat bagaimana Ralph tampak waspada, Ciel menganggapnya menarik. Mengangkat sudut bibirnya, pemuda itu kemudian bertanya.
“Jika kamu memerlukan bantuan … bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?”
>> Bersambung.
__ADS_1