Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Namanya Juga Hidup


__ADS_3

“Aku tidak percaya ini! Semua ini pasti dibuat-buat! Ini pasti mimpi!”


Raungan marah dengan nada tinggi menyadarkan orang-orang dari lamunan mereka. Para penonton menoleh ke arah sumber suara. Lebih tepatnya, ke arah Istri Victor yang marah ketika melihat suaminya kalah dengan cara yang sangat memalukan.


“Pangeran Luciel pasti curang! Dia pasti melakukan sabotase!”


“Nona Mona, mohon tidak membuat pernyataan yang kasar seperti itu. Anda juga harus tahu kalau peraturan Colosseum diawasi oleh dua Duke dari Royal Capital secara langsung. Kedua Duke juga melaporkan semuanya secara berkala kepada Yang Mulia Kaisar.”


“...”


Mengerti batasannya, Mona yang marah tidak berani membantah. Dua Duke sendiri sudah membuat ayahnya kerepotan. Belum lagi jika Kaisar turun tangan. Bahkan keluarganya sendiri tidak akan bisa menanggung akibatnya.


Mona hanya bisa menatap sosok Ciel yang tampan tetapi berusaha tidak mencolok itu dengan marah. Dia juga tahu, kedua orang tua dan keluarga pasti akan menyalahkannya karena kehilangan wilayah yang luas dan kaya akan mineral.


Meski ada pikiran untuk tidak menepati janji, itu tidak mungkin terjadi. Karena sudah membuat kesepakatan tiga hari sebelumnya, janji itu sudah dianggap resmi dan valid. Jika menarik kata-kata, kemungkinan malah akan menjadi masalah yang lebih besar. Wanita itu akhirnya hanya bisa menggertakkan gigi untuk menerima kenyataan.


Bukan hanya Mona, ekspresi Ratu Victoria dan orang-orang dalam kubunya juga sangat buruk. Bukan hanya kehilangan reputasi, kali ini mereka benar-benar kehilangan wilayah penghasil uang. Dukungan keuangan untuk fraksi Ratu Victoria akan berkurang karena duel sepele ini.


Terkadang harapan memang tidak sesuai ekspektasi. Berniat untuk menginjak Ciel untuk debut sekaligus mendapat wilayah subur sebagai bonus, fraksi Ratu Victoria malah kehilangan banyak hal dalam pertempuran ini.


“Bisakah kamu mengumumkan pemenangnya? Aku sudah lelah berdiri di sini seperti orang bodoh.”


Semua orang terkejut ketika mendengar ucapan Ciel. Ratu Lilith dan kedua putrinya yang awalnya bahagia langsung terdiam. Sudut bibir mereka berkedut, ingin turun untuk mengajari Pangeran kecil itu bagaimana sopan santun.


“Uhuk! Maafkan saya karena sempat tercengang. Untuk duel kali ini, pemenangnya adalah … Pangeran Luciel!”


Selesai presenter mengumumkan, Ciel langsung berbalik pergi meninggalkan arena. Melihat sosok Ciel yang meninggalkan arena dan Victor yang diangkut oleh tim medis, para penonton baru sadar dan mulai berseru.


“Oohhh!!!”


“Lihat Pangeran Luciel tadi, benar-benar keren!” Salah satu gadis di kursi penonton berkata.


“Melihat gerakan indah dan elegan Pangeran Luciel benar-benar membuatku basah.” Teman di sampingnya gemetar karena kegirangan.


“Gadis kecil tidak bermoral.” Temannya membalas lalu mereka tertawa bersama.



“Kamu tahu gerakan terakhir itu? Bunga penuh dengan duri? Benar-benar kuat!” Salah satu remaja berkata dengan ekspresi bersemangat.


“Benar! Serangan itu langsung mencabik-cabik armor keras seolah kertas. Luar biasa!” Temannya menambahkan.

__ADS_1



Banyak penonton bersemangat ketika melihat pertarungan sebelumnya. Mereka berpikir kalau ‘jurus pamungkas’ dari Ciel sangat luar biasa.


Jika Ciel mengerti apa yang mereka pikirkan, dia pasti hanya tertawa. Dibandingkan gerakan Black Euphorbia, dia memiliki gerakan lain yang lebih kuat. Black Sakura, topan kelopak sakura yang bisa membakar hampir semuanya. Ada juga Night Cereus, mengompres api lalu membuatnya mekar dan meledakkan semua yang ada di sekitarnya.


Tentu saja Ciel tidak menggunakan jurus itu atau mungkin Victor akan mati. Alasan dia menggunakan gerakan Black Euphorbia adalah untuk merusak armor dan membuat lawan kehilangan kesadaran karena dampak keras dari serangan. Meski tidak menyukai Victor, Ciel tidak akan dengan ceroboh membunuh kakaknya sendiri.


“Pangeran Luciel!”


“Yang Mulia Luciel!”


“PANGERAN TAMPAN LUCIEL!”


Dalam gerbong kereta kuda, Ciel bergidik ngeri ketika melihat para penonton khususnya para gadis menyambut kereta kuda dengan sangat antusias bahkan cukup frontal dan brutal. Dia tidak bisa tidak mengingat para fans fanatik yang menyembah idola mereka seolah itu Dewa dalam kehidupan sebelumnya. Diam-diam pemuda itu memutuskan untuk mencoba menyembunyikan sosoknya ketika berada di Royal Capital.


Melihat bibir Ciel yang agak pucat, Lilia cemberut. Sedangkan Ratu Lilith menggoda.


“Tidakkah kamu ingin membuka jendela untuk menyapa penggemarmu, Ciel kecil?”


“Tidak. Tidak mungkin. Jangan buka jendelanya.” Ciel bergumam dengan ekspresi pahit.


Kehidupan yang begitu damai dan tentram di sudut terpencil. Di mana semua itu? Kenapa semuanya semakin melenceng dari target hidupku?


Ciel mengeluh dalam hatinya. Dia tidak bisa tidak menduga kalau ada yang bermain-main dengan nasibnya. Mungkin itu benar. Mungkin itu salah. Hanya saja, pemuda itu sangat tertekan. Dia hanya ingin pulang karena sudah merindukan kasur dan bantal lembut dalam ruangannya.


Sampai di Istana Utara dan baru menginjakkan kaki di depan pintu, seorang ksatria datang menghampiri Ciel.


“Maafkan saya, Pangeran Luciel. Saya harus melaporkan sesuatu yang penting.”


“Apa?” Ciel memiringkan kepalanya.


“Yang Mulia Kaisar memanggil anda.”


“...”


Ekspresi Ciel yang awalnya sudah cukup cerah menjadi lebih suram daripada sebelumnya. Ksatria yang datang langsung merasa gugup. Dia benar-benar takut Pangeran yang tidak terduga itu tiba-tiba memenggal kepalanya begitu saja.


Bukankah aku selesai berduel dan butuh istirahat? Bukankah aku ini Pangeran? Kenapa aku merasa menjadi budak korporat?


Ciel mengeluh dalam hati. Dia memandang ke arah ksatria yang menggigil ketakutan.

__ADS_1


“Antar aku.”


“Baik, Pangeran Luciel.”


Diantar oleh ksatria muda itu dengan kereta kuda, Ciel akhirnya sampai ke Istana Kekaisaran.


Para penjaga dan orang yang berada di Istana tentu langsung mendengar berita bagaimana Pangeran Luciel yang tampak lemah lembut menghancurkan Pangeran Victor di arena. Mereka awalnya tidak terlalu percaya, tetapi akhirnya terpaksa menerima kenyataan.


“Putra datang memenuhi panggilan anda, Yang Mulia.”


Melihat sosok Kaisar Julius, Ciel memberi hormat sebagai formalitas.


“Ikuti aku, Nak.”


“Baik, Yang Mulia.”


Setelah mengikuti Kaisar Julius dan masuk ke ruang kerja pribadi, ekspresi hormat Ciel dan sikap tegapnya langsung runtuh. Dia terlihat malas dan berjalan dengan tidak bersemangat.


“Ayah tahu kalau kamu kelelahan, Ciel. Namun ini juga penting. Pertama-tama, duduk dulu.”


“Baik.”


Ciel duduk di kursi lembut lalu mengambil jus berry dingin yang ada di atas meja tanpa menunggu sang ayah menyuruhnya. Mengabaikan sudut bibir ayahnya yang berkedut, Ciel meminum jus berry dingin dengan ekspresi puas.


“Pertama, aku akan bilang kalau senjata artifak milikmu telah selesai dinetralkan.”


“Bukankah paling cepat besok, Ayah? Bagaimana begitu cepat?” Ciel tampak heran.


“Lupakan detailnya. Intinya, senjata itu selesai diproses. Juga, dalam satu bulan proses penyerahan wilayah akan terselesaikan.”


“Begitu cepat?” Ciel tampak heran.


“Ya. Itu paling cepat. Ngomong-ngomong … kamu melakukannya dengan baik kali ini.”


Kaisar Julius memuji pertarungan Ciel sebelumnya. Sedangkan Ciel yang mendengar pujian sang ayah tidak merubah ekspresinya.


“Itu sudah kewajiban saya, Ayah. Sebagai seorang Pangeran, kakak juga harus merasakan kekalahan. Ya … namanya juga hidup.”


Mendengar ucapan Ciel, Kaisar Julius terdiam. Dia diam-diam mengeluh dalam hatinya.


Bagaimana kamu bisa mengatakan hal semacam itu setelah mempermalukan kakakmu sendiri?

__ADS_1


Di mana hati nuranimu?


>> Bersambung.


__ADS_2