Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Izinkan Saya ...


__ADS_3

“Mundur, Theo …”


Ciel berkata sambil menunjuk katana ke leher remaja itu dengan tatapan dingin. Namun bukannya mundur, Theo malah maju. Membaut ujung katana melukai lehernya.


Meski merasakan sakit, Theo hanya menggertakkan gigi sambil terus menatap ke mata Ciel.


Melihat mata jernih Theo, Ciel tiba-tiba menyadari sesuatu. Api yang menyelimuti katana di kedua tangannya langsung padam. Menyarungkan kembali kedua katana, pemuda itu memejamkan mata.


Setelah beberapa saat, Ciel mengembuskan napas panjang. Membuka kembali matanya, iris dalam mata ungunya kembali menjadi normal. Melihat ke arah Theo … dia merasa agak rumit.


Apakah aku benar-benar menganggap Theo … sebagai putra baptis?


Tersenyum pahit, pemuda itu menggelengkan kepalanya. Sebelum berjalan beberapa langkah ke dapan, menyentuh kepala lalu mengacak-acak rambutnya.


“Terima kasih, Theo.”


Melihat ke arah Ciel yang tersenyum lembut, mata Theo menjadi lebih cerah.


“Sama-sama, Tuan.”


“Syukurlah …”


Suara seorang wanita terdengar, semua orang langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara. Mereka semua melihat sosok Jenny yang tampak lega.


Melihat Jenny, ksatria tua bernama Tez menyeka sudut matanya. Dia langsung berlutut.


“Hormat kepada Putri Jenneva!”


Para ksatria elit dari Kerajaan Silver Fang tampak terkejut. Lagipula, selain beberapa senior, tidak ada yang tahu siapa wanita itu. Namun melihat bagaimana ksatria tua berlutut, semua orang langsung mengikutinya.


“Hormat kepada Putri Jenneva!” teriak ksatria dari Kerajaan Silver Fang serempak.


Melihat pemandangan banyak ksatria yang berlutut kepada wanita berpakaian maid membuat yang lainnya terdiam. Bahkan Theo mengerjap ketika melihat ke arah ibunya. Tampak bingung dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“A-Apakah itu benar-benar kamu, Jenneva?”


Melihat sosok Jenny, Charles tersedak. Pria itu tidak menyangka bahwa dirinya memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan adik perempuannya. Charles tidak sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Jenny.


“Panggil aku Jenny. Sekarang aku bukan lagi Putri Jenneva dari Kerajaan Silver Fang. Jadi … Pak Tez, para ksatria … berdiri dan angkat kepala kalian.”


Melihat kalau para ksatria ragu, Charles segera berkata, “Seperti yang dikatakan oleh Jenneva, kalian semua bangun!”

__ADS_1


Setelah melihat para ksatria berdiri, Charles kembali mengalihkan pandangannya kepada Jenny. Pria itu tidak bisa tidak bertanya.


“Apa yang sebenarnya terjadi, Jenneva?”


Jenny mengalihkan pandangannya. Melihat bagaimana Ciel memandangnya dengan ekspresi meminta penjelasan, wanita itu marasa malu. Meski agak sedih melihat wajah adiknya, Jenny merasa jantungnya berdegup kencang ketika melihat bagaimana Ciel membela ‘dirinya’.


“Bisakah kita membicarakannya di tempat lain?” tanya Jenny.


Mendengar ucapan Jenny, Ciel menghela napas panjang. Meski tidak berniat membahayakan dirinya, dia tidak menyangka kalau wanita itu menyembunyikan hal yang begitu penting. Menggeleng ringan, pemuda itu segera memberi perintah.


“Cari orang-orang yang akan membersihkan kekacauan ini,” ucap Ciel dingin.


“Baik, Tuan!” jawab para ksatria Ciel serempak.


Charles melihat para ksatria yang pergi dengan tertib. Melihat bagaimana mereka bertindak dengan disiplin serta merasakan kekuatan mereka, dia sangat terkejut. Pria itu memandang ke arah Ciel dengan tatapan dalam.


Pangeran Luciel … benar-benar bukan pemuda yang sederhana!


...***...


Di dalam ruang tamu bangunan utama Kastil Black Lily.


Biasanya selain keluarga atau bawahan yang paling setia, Ciel tidak menerima tamu di sini. Namun melihat bagaimana dia mengacaukan bangunan lainnya, pemuda itu hanya bisa memasang ekspresi pahit.


“Jadi … ada yang bisa menjelaskannya kepadaku?” tanya Ciel dengan ekspresi murung.


Pemuda itu sangat menyesal telah merusak perabotan. Dia sangat enggan untuk mengeluarkan uangnya untuk memperbaiki dan mengganti perabotan. Hanya untuk kepuasan sesaat, Ciel benar-benar merasa menderita kemudian.


Charles juga memandang ke arah Jenny. Pria itu juga merasa tidak senang karena adiknya tidak menjelaskan situasi, dia harus dipukuli oleh seorang pemuda. Dia … seorang Raja, benar-benar dipukuli seperti itu.


“Sebenarnya … orang yang membuatku seperti ini adalah kakak pertama,” ucap Jenny.


“Maksudmu?” tanya Charles dengan ekspresi bingung.


“Dia meracuniku lalu menjualku sebagai budak Marquis. Meski sudah belasan tahun, aku masih tidak bisa melupakan hal itu.”


“...” Charles menatap Jenny dengan ekspresi terkejut.


“Kelihatannya dia takut aku akan mendukungmu untuk mendapatkan posisi Raja. Namun aku juga bersyukut, kakak pertama tidak menjadi raja.” Jenny menggeleng ringan. “Sudah. Aku tidak lagi ingin mengingat masa itu, Raja Charles. Jenneva telah mati … yang tersisa di sini hanya Jenny.”


“Kembalilah. Ayah sedang sekarat sekarang.”

__ADS_1


“Apa yang terjadi? Lelaki tua itu seharusnya bisa hidup lama. Lagipula … dia selalu menjaga tubuhnya.”


“Dia diracuni.” Charles menghela napas panjang. “Setelah mendengar ceritamu, aku curiga kalau orang itu yang meracuni ayah. Sudah sangat lama … tetapi dia masih tidak bisa melupakannya? Ini hanya posisi Raja …”


“Kakak pertama sangat ambisius. Dia sangat berbeda dengan orang-orang lain. Bahkan setelah beberapa tahun, orang itu pasti masih menyimpan dendam.”


“Pulanglah, Jenneva. Bawa putramu kembali ke Kerajaan Silver Fang.”


“Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya.” Jenny menggeleng ringan.


“Jika itu masalah kontrak … aku mengizinkan kalian pergi. Meski tidak bisa melepas kontrak, aku tidak akan mengganggu dan melepaskan kalian.”


Ciel tiba-tiba berbicara. Mendengar itu, Charles menatap Jenny.


“Sekarang, aku dan Theo adalah milik Pangeran Luciel. Jangan terlalu banyak berpikir … Pangeran Ciel sangat baik kepada kami.” Jenny kemudian memandang Theo. “Theo, kemari dan sapa pamanmu.”


“Tidak! Aku tidak ingin pergi. Aku akan tinggal bersama Tuan.” Theo menatap ke arah Charles. “Saya tidak peduli apakah anda Raja atau apa. Saya tidak mengenal anda. Saya tidak memiliki kerabat seperti anda!”


“Theo!” seru Jenny dengan senyum pahit.


Sejak kecil, Theo lahir serta hidup di tempat gelap, lembab, dan sempit. Dia tidak tumbuh dengan baik dan masih berpikiran seperti anak kecil. Theo juga sering diperlakukan lebih buruk daripada hewan peliharaan.


Sejak awal, Theo percaya kalau dia dan ibunya hanyalah orang yang tidak beruntung untuk menerima nasib itu. Remaja itu masih mengingat dengan jelas ketika melihat pemuda tampan yang menerobos tempat sempit dan bau itu.


Tidak hanya menyembuhkan ibunya, sosok itu membuatnya melihat cahaya mentari yang dulu hanya dia dengar dari bibir ibunya. Theo tidak tahu siapa ayahnya, tetapi sudah menganggap sosok yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu seperti seorang ayah. Seorang panutan hidup!


Dengan ibu dan tuan di sisinya, Theo merasa sangat bahagia. Dia bisa pergi untuk melihat dunia luar, bisa memakan berbagai jenis makanan enak, dan bertemu banyak teman baru. Itu benar-benar kehidupan yang menyenangkan.


Lalu … tiba-tiba ada seorang Raja yang datang dan mengaku sebagai pamannya. Tentu saja Theo tidak menyukainya. Jika dia memang memiliki paman, kakek, dan keluarga lain …


Di mana mereka selama ini? Di mana mereka ketika aku dan ibu menderita? Tidak mungkin aku menganggap mereka sebagai keluarga!


“Sudahlah, Jenneva. Ini juga salah kami sehingga kamu menjadi seperti sekarang.”


“...”


Merasakan suasana canggung dalam ruangan, Ciel merasa tidak berada di tempatnya. Pemuda itu menatap Jenny lalu memberinya pilihan.


“Kamu boleh mengambil keputusan sendiri, Jenny. Kamu tidak perlu menahan diri.”


Melihat bagaimana Ciel memperlakukannya dengan baik, ekspresi berat di wajah Jenny melembut. Wanita itu kemudian memandang Theo sebelum menjawab.

__ADS_1


“Kalau begitu … izinkan saya untuk terus mengikuti dan merepotkan anda, Tuanku.”


>> Bersambung.


__ADS_2