
Ruangan langsung begitu sunyi. Ibu Theodore yang baru membuka matanya tampak bingung melihat pemandangan aneh itu. Beberapa orang ada di ruangan, tetapi suasana begitu sunyi.
Theodore tiba-tiba berlutut di depan Ciel sambil menangis.
“Benarkah … benarkah itu? Apakah ibu benar-benar bisa disembuhkan?”
“Jaga sikapmu, Theo! Kamu pikir tuan ini siapa? Tuan ini adalah Pangeran Luciel, penguasa wilayah Southfield ini!” ucap Norwen dengan bangga.
Ciel langsung mengerjap, melirik ke arah Norwen dengan tatapan kosong. Dia agak kagum dengan sikap Norwen yang benar-benar tidak melewatkan kesempatan untuk menjilat. Ciel pikir, orang itu benar-benar sangat handal dengan masalah ini.
“Penguasa wilayah …” gumam Ibu Theodore.
Sementara putranya menangis menanyakan apakah Ciel bisa menyembuhkan dirinya, sang ibu malah menatap sosok pangeran itu dalam diam. Setelah agak ragu, wanita itu membuka mulutnya.
“Maafkan kelancangan budak ini, Tuanku. Menyembuhkan saya … meski itu tidak mustahil, pasti memerlukan banyak biaya. Saya atau putra saya tidak bisa menanggungnya.”
Mendengar perkataan wanita itu, Ciel mengangkat alisnya. Dia menggeleng ringan, sadar kalau Ibu Theodore pasti berhati-hati karena kebaikannya yang tiba-tiba. Padahal, sebelumnya mereka tidak saling kenal.
“Jangan salah sangka. Aku tidak melakukan ini secara cuma-cuma.
Aku akan membeli dirimu sekaligus dengan Theodore. Sebagai tuan, sudah sewajarnya aku merawat kalian. Tentu saja, sebagai budak, tugas kalian adalah melayaniku.
Khususnya Theodore. Aku memiliki firasat kalau kamu punya bakat bagus dalam bertarung. Sebagai ganti kesembuhan ibumu … apakah kamu mau menjadi kaki dan tanganku untuk melawan serta membasmi musuh-musuhku?”
Mendengar nada Ciel yang begitu mendominasi, Theodore tanpa sadar berlutut di depannya dengan hormat. Setelah memikirkannya baik-baik, bocah itu menjawab pertanyaan Ciel.
“Selama anda menyembuhkan dan merawat ibu saya dengan baik, saya … Theodore akan menjadi senjata anda! Saya berjanji untuk mengikuti anda sampai akhir hayat saya!”
“Theo, tidak perlu! Ibu baik-baik saja seperti ini!” ucap sang ibu.
“Kamu baik-baik saja, Bu. Namun tidak denganku! Kamu pasti tidak berpikir bagaimana rasanya jika aku harus kehilangan ibu!” ucap Theodore dengan tegas.
__ADS_1
“Theo …”
“Ini sudah keputusan bulat, Bu. Ini adalah pilihanku,” balas Theodore.
Sang ibu hanya bisa menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk. Dia merasa kasihan sekaligus bersyukur telah melahirkan anak yang berbakti seperti Theodore. Wanita itu menatap ke arah Ciel dan sekali lagi mengangguk sebagai tanda penyerahan diri.
“Kalau begitu sudah diselesaikan.” Ciel mengangkat sudut bibirnya. Pemuda itu menoleh ke arah Norwen. “Hitung. Aku akan membeli mereka berdua.”
“S-Saya tidak berani, Tuanku. Jika mereka tidak anda beli, kemungkinan besar mereka terpaksa ‘dibuang’. Jika anda bersikeras … anda bisa mengganti biaya makan mereka selama tinggal di sini.”
Tidak menunggu Norwen menghitung, Ciel mengeluarkan kantung kecil lalu melemparkannya ke arah pria paruh baya itu. Ketika melihat banyak koin emas di bawahnya, Norwen tercengang.
“Anggap saja sebagai bonus karena melayani dengan baik.”
“Ah! Seperti yang diharapkan dari pemimpin wilayah ini! Seperti yang diharapkan dari Pangeran Luciel! Begitu baik … begitu murah hati,” puji Norwen dengan ekspresi yang berlebihan.
Sudut bibir Ciel bergerak-gerak. Dia benar-benar bingung harus berterima kasih karena dipuji atau memukul pria bulat ini karena bertingkah menjengkelkan. Menggeleng ringan, pemuda itu kembali melihat ke arah ibu dan anak.
“Setelah beberapa saat, kamu seharusnya bisa berjalan. Kalian berdua akan ikut denganku pergi ke kastil.”
“Sesuai keinginan anda, Tuanku.”
...***...
“Dengan ini selesai.”
Sore hari di ruang latihan dekat ruang kerja, Ciel tampak menghela napas panjang. Di depannya, tampak Ibu Theodore yang berbaring di lantai kelelahan.
Wanita itu memuntahkan banyak darah hitam dan beberapa hal menjijikkan. Keringat kotor juga merembes melalui pori-pori ketika Ciel mengangkat kutukannya.
Bagi Ciel yang cukup handal masalah segel budak, kontrak jiwa, atau kutukan … hal semacam ini sebenarnya agak sepele. Namun, itu masih memerlukan kejelian serta waktu yang cukup lama untuk melakukannya.
__ADS_1
Sebelumnya, sesampainya ketiga orang itu di kastil, Ciel menyuruh Isabella untuk mengurus keduanya. Membantu ibu Theodore mandi dan memberi pakaian ganti untuk keduanya.
Setelah itu, Ciel langsung mengeluarkan barang-barang berharga pemberian gurunya dan memilih yang cocok untuk membuat kontrak jiwa dengan Theodore. Setelah melakukan kontrak jiwa, Ciel istirahat sebentar sebelum melanjutkan dengan sihir pengangkatan kutukan ibu Theodore.
Akhirnya … semuanya berjalan dengan aman dan lancar.
“Isabella, segera bereskan kekacauan ini. Setelah selesai, bantu ibu Theodore mandi lagi. Terakhir … siapkan kamar untuk keduanya dan beri mereka makan.”
“Sesuai keinginan anda, Tuanku.”
Kali ini, orang yang menemani Ciel bukanlah Camellia tetapi Isabella. Ciel menyuruh Camellia mengurus calon-calon Alkemis. Sedangkan masalah Theodore, Ciel berencana untuk memasukkan pemuda itu dalam divisi bayangan. Jadi Isabella yang akan mengurusnya.
Keesokan harinya, Ciel yang sudah berpakaian rapi pergi menuju ke kandang untuk mengeluarkan Deschia. Menepuk kepala Wyvern itu, Ciel menghela napas lega.
“Senang memilikimu, Deschia …” ucap Ciel. “Jika tidak ada dirimu, aku pasti akan kesusahan untuk pergi bolak-balik seperti orang gila. Huh … aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak.”
Deschia yang mendengar ocehan tuannya hanya bisa diam. Dia merasa bahagia karena berguna. Namun dia juga merasa ingin protes karena hampir tidak diberi waktu untuk beristirahat atau bersantai.
“Baiklah. Kita akan pergi ke Kota Greenscale. Kita harus mengurus banyak hal sebelum Jean dan teman-temannya tiba.”
Setelah mengatakan itu, Ciel langsung naik ke punggung Deschia. Keduanya kemudian berangkat menuju Kota Greenscale.
Kota Greenscale terkenal karena tanahnya yang subur. Sebelumnya, ini adalah daerah kekuasaan Viscount. Orang itu bahkan bisa dibilang lebih kaya daripada mantan Count Lawrence (sekarang Viscount). Tanahnya juga lebih subur dibanding dengan bidang pertanian milik dua Viscount.
Hanya saja, setelah kematian Viscount beserta seluruh keluarganya, daerah ini menjadi cukup kacau. Banyak orang bodoh dan naif berusaha naik dan memimpin wilayah. Pada akhirnya, tidak hanya gagal, mereka malah binasa karena dianggap mencoba memberontak dan menjalankan daerah tanpa seizin kekaisaran.
Tidak adanya pemimpin membuat daerah itu lebih rawan bahaya. Jika tidak ada ksatria yang ditugaskan untuk menjaga ketertiban, mungkin akan ada banyak kelompok gelap seperti geng atau semacamnya yang menyusup dan diam-diam tinggal di sana.
Pada akhirnya, karena belum memutuskan pemimpin yang baru, barisan ksatria yang mengatur daerah dan menjalankannya. Awalnya itu agak kacau, tetapi berakhir lebih tertib setelah beberapa waktu berjalan. Namun setelah Ciel mengambil alih wilayah serta mengakuisisi Kota Greenscale, sekali lagi daerah itu mengalami perubahan.
Hanya saja, ada sebagian orang yang tidak puas karenanya.
__ADS_1
Ya … mereka adalah para ksatria yang sudah mulai terbiasa berada di atas dan memerintah.
>> Bersambung.