Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Selamat Tinggal


__ADS_3

“Apakah sudah selesai?”


Gumam Duke Harry yang membunuh lawan-lawannya lalu menatap ke arah di mana Ciel bertarung melawan Ferdo dan Fito. Banyak orang memiliki perasaan yang sama dengan Duke Harry, mereka juga sangat penasaran.


Siapa yang menang?


KLANG!


Dua senjata berbenturan. Dua sosok Lycan dengan surai perak masih saling berhadapan. Mereka sebelumnya telah beradu teknik pedang, kekuatan, dan lainnya. Namun belum ada titik terang.


“Apakah kamu merasa cemas, Charles? Hahahaha!” Andrew menatap adiknya itu dengan ekspresi mengejek.


“Gin akan memenangkan pertempuran itu.”


Charles mengatakan dengan ekspresi tenang. Sama sekali tidak terkecoh dengan siasat Andrew. Dia sangat yakin dengan kekuatan Gin. Lagipula, selain cerdas, orang itu juga mampu membersihkan semua kendala yang akan menghalangi jalan ketika dirinya dan pasukan menuju ke ibukota.


“Kelihatannya kamu begitu percaya diri, Charles. Apakah Gin itu sangat kuat? Level berapa? Jika aku tebak … mungkin level 6? Tapi …” Andrew menyeringai. “Musuhnya adalah dua Jenderal dari Curses of Shadow. Mereka berdua adalah iblis level 6 yang sangat kuat!”


“...”


Gerakan Charles tampak sedikit berubah sejenak, tetapi Andrew bisa melihatnya dan tidak melepaskan kesempatan itu. Dia langsung memukul mundur Charles, kemudian mengayunkan pedang dengan kuat untuk melukai pundak orang itu.


“Kamu ceroboh, Charles!”


Melihat luka di bahunya, ekspresi Charles menjadi agak buruk. Dia sendiri tahu sebenarnya tidak bisa kehilangan fokus. Dalam pertarungan intensitas tinggi, satu detik kesalahan bisa berakibat fatal. Menatap sosok kakaknya yang sudah kehilangan kewarasan, mata pria itu menyipit.


Orang ini …


Sementara itu, di sebuah kota kecil yang tidak terlalu jauh dari ibukota.


Di sebuah penginapan, terlihat tiga sosok yang berada dalam kamar. Mereka adalah Ratu Claudia, Camellia, dan Jenny.


Karena keadaan perang di ibukota, tempat itu menjadi cukup sunyi. Semua orang berada di dalam rumah untuk menghindari kecurigaan para ksatria yang berjaga. Disebabkan oleh jaraknya, mereka tidak akan terlibat dengan perang saudara itu. Namun, sesekali mereka akan mendengar ledakan atau merasakan sedikit getaran.


“Ini semua salahku …”


Di dalam kamar, sosok Ratu Claudia menunduk dengan ekspresi sedih. Jenny duduk di sampingnya. Mengelus punggung wanita itu untuk menenangkannya.


Sementara itu, Camellia berdiri di dekat jendela sambil memandangi luar. Gadis itu sebenarnya ingin ikut membantu Ciel dalam perang maupun menghadapi lawan. Hanya saja dia tidak menyangka, Tuannya itu malah menyuruhnya untuk menjaga Jenny dan Claudia.


Memang, misi itu sangat penting. Namun, gadis itu ingin menjadi lebih berguna untuk tuannya. Camellia ingin berjalan di sisi Ciel, tetapi dia pun sadar, hal itu tidak mungkin. Ciel terlalu kuat, sosok pemuda itu berjalan terlalu jauh di depan semua orang.


Jika memikirkannya dengan seksama, Camellia menyadari sesuatu yang sangat aneh. Sejak awal, sejak dirinya bertemu dengan Ciel, Tuannya itu selalu menjaga jarak dengan semua orang. Bahkan keluarganya sendiri.


Meski Camellia sekarang adalah selirnya, dia juga masih merasakan hal yang agak mirip. Gadis itu juga melihat hal yang sama ketika Ciel bersama orang lain. Baik itu bersama Ariana, Elena, Isabella, atau Jenny … masih ada jarak di antara mereka.

__ADS_1


Memang, mereka sebagai kekasih Ciel merasakan kasih sayang yang tulus. Selain itu, mereka juga mendapat tempat bersandar yang kokoh. Tempat mereka mendapatkan rasa aman dan nyaman. Bukannya mereka diperlakukan dengan buruk, hanya saja … masih ada sedikit, bahkan hanya secuil kekurangan.


Kenapa Tuan begitu malas? Sikap bawaan lahir? Aku curiga … Tuan menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang kami tidak pernah pikirkan sebelumnya.


“Camellia … kamu sedang melamunkan apa?”


Mendengar suara Jenny, Camellia tersenyum lembut sebelum menjawab.


“Kamu pasti lupa, Kak Jenny. Kita sedang dalam misi, tolong panggil aku Hara.”


“Maaf …” Jenny menunduk agak malu. Merasa agak menyesal. Lagipula, awalnya dia hanya pelayang yang tidak terlalu penting.


Melihat ekspresi Jenny, Camellia menggeleng ringan.


“Jangan terlalu memikirkan hal itu, Kak Jenny. Aku dulu juga hanya pelayan, pengikut kecil Tuan kita. Bahkan, aku tidak memiliki latar belakang besar seperti kamu.


Tidak perlu berkecil hati sama sekali.”


“...”


Mendengar itu membuat Jenny menghela napas lega. Wanita itu tersenyum ke arah Camellia. Pada saat itu, dia yang melihat ke arah kakak iparnya yang menyesal hanya bisa kembali mengingatkan.


“Itu bukan salah anda, Ratu Claudia.”


Tidak seperti Camellia dan Jenny yang telah melihat pembunuhan dan pembantaian, Ratu Claudia yang melihatnya untuk pertama kali langsung merasa trauma. Lagipula, itu pemandangan di mana banyak orang yang terbunuh secara bersamaan. Wanita itu merasa bersalah.


“Jadikan saja itu sebagai pelajaran untuk anda, Ratu Claudia.”


Berbeda dengan Jenny yang masih dengan lembut menghibur. Camellia lebih langsung.


“Pelajaran?” Ratu Claudia mendongak untuk menatap Camellia.


“Ya. Sebuah pelajaran yang tidak pernah bisa dilupakan. Pelajaran yang membuat anda akan ingat, dan membuat anda tidak akan mengulangi hal yang sama di masa depan.”


Mendengar itu, mata Ratu Claudia menjadi lebih cerah. Dia terus mengangguk. Tidak bisa melupakan kejadian sebelumnya, wanita itu hanya bisa membuatnya sebagai pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.


“Ngomong-ngomong … bisakah kamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadamu sehingga menghilang selama belasan tahun, Jenneva?”


Jenny yang mendengar itu tampak agak kusam. Dia ingin melupakan hal buruk itu, tetapi tidak bisa. Ditambah menyadari Camellia dan Claudia yang ingin mendengar seluruh ceritanya, wanita itu menghela napas panjang sebelum berbicara.


“Semuanya dimulai pada …”


Waktu perlahan berlalu.


Di medan perang, pemandangan luar biasa terlihat. Seorang remaja berlari ke arah musuh-musuhnya. Di belakang remaja itu, terlihat banyak ksatria yang mengikutinya secara sukarela. Layaknya seorang jenderal perang, Theodore yang memimpin banyak ksatria menghabisi dan menekan lawan-lawannya.

__ADS_1


Hal itu dimulai karena Duke Harry. Karena kinerja Theodore yang sangat baik di medan perang, baik ketika bertempur dan juga menyelamatkan banyak orang. Mulai banyak ksatria yang heran, kagum, dan bingung.dengan identitas Theodore yang sebenarnya.


Mereka belum pernah melihat ada bangsawan muda yang menjanjikan seperti itu di Kerajaan Silver Fang!


Pada saat banyak orang semakin bingung, Duke Harry mengumumkan hal yang begitu mengagetkan.


“Namanya adalah Theodore, putra dari Jenneva. Puteri Kerajaan Silver Fang yang menghilang belasan tahun yang lalu. Dengan kata lain … dia secara tidak langsung adalah seorang Pangeran!”


Ya. Seorang Pangeran!


Hal itu membuat medan perang menjadi gempar. Mereka tidak menyangka Kerajaan Silver Fang akan memiliki sosok tersembunyi yang sehebat itu. Identitas Theo membuat banyak orang mulai mengikuti di belakangnya. Bukan hanya karena dia seorang Pangeran, tetapi juga karena kekuatan dan wibawanya.


“PANGERAN THEODORE!!!”


Sambil menyerukan itu, para ksatria mengikuti Theo dan menekan pasukan lawan. Baik itu anggota Curses of Shadow atau bawahan Andrew.


Di sisi lain medan perang.


Charles mengarahkan pedangnya ke arah leher Andrew yang sedang berbaring terlentang di atas tanah. Pemandangan penuh kekacauan terlihat di area mereka bertempur. Namun hasilnya jelas, Charles yang sebelumnya adalah iblis level 6 (menengah) benar-benar menekan kakaknya, Andrew.


Tidak hanya pasukannya dibantai dan ditekan mundur, bahkan Andrew sendiri telah dikalahkan.


“Untuk hubungan keluarga … lepaskan aku, Charles. Aku dan keluargaku akan pergi meninggalkan Kerajaan Silver Fang. Kamu menang, kamu boleh mendapatkan segalanya.”


Mendengar itu, ekspresi Charles berubah. Bukan melunak, tetapi menjadi lebih keras dan lebih kejam. Dia benar-benar sangat marah.


Penyerahan? Pengampunan? Setelah semua itu … di mana banyak yang mati dan tidak bisa kembali, bahkan tidak ada penyesalan?


“Aku pernah belajar dari seseorang, Kak Andrew. Dia bilang … aku harus mencabut masalah dari akarnya.”


“CHARLES, KAMU-”


Berpikir bahwa adiknya yang lembut akan melepaskannya, Andrew agak santai. Dia berniat untuk pergi dan membalas dendam di kemudian hari. Namun pria itu tidak menyangka, jawaban dari Charles adalah pedang tajam yang langsung menembus dan mengoyak lehernya.


“Selamat tinggal … Kakakku tersayang.”


Charles memejamkan matanya sambil mendongak. Akibat dari pertarungan Ciel dengan Ferdo dan Fito, awan gelap menutupi langit.


Sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, Charles berteriak keras.


“UNTUK KEMULIAAN KERAJAAN SILVER FANG!”


Rintik hujan membasahi bumi. Melihat tuan mereka tumbang, para bawahan Andrew berhenti melawan. Setelah pertarungan yang panjang dan melelahkan … perang telah berakhir.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2