
“Duel … Duel … Duel!!!”
Tidak tahu siapa yang mulai berteriak, lantai pertama sekarang dipenuhi dengan sorakan semacam itu. Kedua sisi Pangeran saling memandang. Suasana menjadi semakin panas.
Dalam tradisi Istana tamu, para tamu yang memiliki keluhan dipersilahkan untuk melakukan duel. Tentu saja, bukan duel antara hidup dan mati. Jika tidak ingin berduel, mengalah juga bisa menjadi solusi.
Bagi para bangsawan, hal itu tentu tidak dianggap sebagai solusi. Karena jika mereka menyerah tanpa melawan, mereka akan kehilangan ‘wajah’. Hal yang paling dibenci para bangsawan.
Pada saat itu, sosok Heath sebagai tuan rumah langsung datang dan menengahi mereka.
“Maafkan kekasaran kami, Kedua Pangeran. Jika ingin, kami bisa mengganti satu pelayan lain menjadi Succubus. Tentu saja, dengan kualitas yang sama.”
Meski mengatakan demikian, Heath hanya mengucapkan hal itu sebagai sopan santun. Dia sendiri tahu, setelah kejadian seperti itu, keduanya tidak akan mundur. Jika mundur, mereka pasti akan malu karena kehilangan ‘wajah’.
“Bagaimana menurutmu, Pangeran Silevran? Kamu boleh menukar satu pelayan menjadi gadis Succubus lain.” Elyas berkata dengan santai.
“Kenapa tidak kamu saja yang menukar pelayan dengan gadis Succubus lain, Pangeran Elyas?” Pangeran Silevran mendengus dingin.
Keduanya saling memandang lalu berkata bersamaan.
“Kalau begitu, mari bertarung!”
“OOOHHH!!!”
Seruan para tamu terdengar. Mereka sangat senang. Meski ada tradisi duel, tidak setiap saat mereka bisa melihat pertarungan di antara sosok berbakat seperti keduanya.
Health yang sudah menduga itu buru-buru maju lalu menjelaskan.
“Jika kedua belah pihak setuju, saya akan menyiapkan arena. Untuk waktunya … kedua belah pihak boleh menentukannya.”
“Kami setuju!” ucap Silevran dan Elyas bersamaan.
“Bagaimana tentang waktunya?”
“Besok siang. Apakah kamu keberatan, Pangeran Silevran?”
__ADS_1
“Aku tidak keberatan.” Silevran mendengus dingin.
Pesta malam itu pun akhirnya ditutup oleh perjanjian duel antara kedua pangeran. Banyak tamu yang mulai membahasnya dengan penuh semangat. Sementara itu, Ciel hanya kembali ke kamarnya dengan ekspresi tak acuh.
Siang di hari berikutnya.
Sebuah arena yang mirip dengan Colosseum kuno. Namun tidak ada langit cerah di atas arena, melainkan benda hitam yang merupakan tanah keras. Ya, arena tersebut berlokasi di bawah Istana tamu. Memang sejak awal dirancang untuk menyelesaikan permasalahan para tamu di sana.
Arena itu sendiri tidak sebesar Colosseum kuno, tetapi cukup untuk menampung ribuan penonton. Jumlah tamu sendiri tidak sebanyak itu, jadi tempat menonton lebih nyaman dan luas.
Di salah satu kursi VIP, Ciel duduk santai sambil menikmati keripik buah premium. Dia terlihat sangat bosan. Jika bukan karena terpaksa, pemuda itu bahkan tidak ingin datang untuk menonton.
Di belakang Ciel, terlihat tiga orang yang datang bersamanya. Tidak jauh di sisi kanan Ciel, terlihat Zack dan orang-orang yang dia bawa.
“Bisakah kamu berhenti memasang wajah seperti itu?”
Ciel menoleh ke sumber suara. Tidak jauh di sisi kirinya, terlihat sosok Jasper dan Xavier. Jika kursi VIP diurutkan dari kiri, akan ada Jasper, Xavier, lalu Ciel. Tiga kursi utama untuk para Pangeran.
Tempat menontonnya pun juga dibagi menjadi enam area berbeda sesuai dengan Kekaisaran atau Kerajaan masing-masing.
Xavier yang agak netral merasa itu lucu, tetapi menahan tawanya. Dia sendiri sangat penasaran bagaimana si pemalas itu bisa menjadi begitu kuat sampai bisa mempermalukan Pangeran Victor. Benar-benar menampar keras wajah kubu Ratu Victoria.
“Kelihatannya itu cukup nikmat, Pangeran Ciel. Bagaimana kalau-”
“Jangan pernah memikirkan itu,” ucap Ciel dengan nada bosan, tetapi mengandung sedikit ancaman.
Xavier yang bercanda dan mencoba memulai pembicaraan langsung terdiam. Tidak menyangka si pemalas itu benar-benar mengancamnya hanya karena satu toples keripik buah murahan. Pemuda itu akhirnya tahu kenapa Jasper jengkel. Si bungsu itu benar-benar sosok yang sulit didekati. Benar-benar menganggap orang-orang di sekitarnya tidak ada sama sekali.
Jangan ganggu aku, aku tidak mengenal kalian, anggap saja aku tidak ada.
Mungkin itu adalah gambaran cocok dengan apa yang dilakukan oleh Ciel. Xavier menggeleng ringan, memilih untuk mengabaikan si pemalas yang mudah tersinggung ketika makan itu. Dia tidak ingin mencari masalah, belum lagi di Kerajaan orang.
Setelah menunggu beberapa saat, bintang utama dalam acara itu muncul.
Pangeran Silevran muncul dengan full-plate armor hitam dengan garis-garis merah yang tampak mendominasi.
__ADS_1
Di sisi lain, Pangeran Elyas muncul dengan armor kulit yang tampak ringan berwarna hitam dengan garis-garis biru yang elegan. Dua belati melengkung terlihat di kedua sisi pinggangnya. Daripada seorang penyihir, dia mirip dengan seorang assassin.
Pangeran Heath kemudian muncul. Karena yang bertanding adalah dua Pangeran, dia tidak keberatan untuk menjadi wasit. Pemuda itu kemudian mulai berbicara.
“Tamu-tamu sekalian. Kali ini kita akan menyaksikan duel antara dua Pangeran yang hebat. Siapa yang tidak mengenal keduanya? Yang satu adalah prajurit kuat dan memiliki banyak pencapaian di medan perang. Sementara yang lainnya adalah penyihir hebat dengan banyak pencapaian dalam mengembangkan sihir miliknya.
Mereka berdua tentu saja adalah Pangeran Silevran dan Pangeran Elyas!”
“OOOHHH!!!” Para penonton berteriak penuh semangat.
“Di sini keduanya akan memperjuangkan harga diri dan martabat mereka. Tidak hanya itu, mereka berdua bahkan bertaruh dengan senjata sihir tingkat tinggi!”
“OOOHHH!!!”
Melihat bagaimana mereka sangat bersemangat dengan taruhan itu, Ciel hanya menggeleng ringan. Bagi banyak bangsawan, bahkan Pangeran dari Kerajaan lain, hal semacam itu luar biasa. Namun bagi Pangeran dari Kekaisaran Black Sun, mereka terasa biasa saja.
Khususnya Ciel, dia telah membuang banyak senjata semacam itu ketika melawan Vesperr atau kadal junior kembar. Sudah menyentuh senjata artifak beberapa kali, hal semacam itu menjadi hambar bagi Ciel.
Jika orang-orang tahu yang ada di dalam pikiran pemuda itu, mereka pasti sudah muntah darah karena marah.
“Kedua belah pihak dipersilahkan bersiap. Namun sebelum mulai, saya akan mengingatkan …
Duel ini bukan pertarungan hidup dan mati, jadi tolong menahan diri dan memastikan tidak terluka terlalu parah.”
“Kami mengerti.” Kedua pangeran menjawab bersamaan.
Heath kemudian mundur ke tepi arena sebelum berteriak, “Kalau begitu … MULAI!”
Mendengar ucapan Heath, Silevran dan Elyas langsung menarik senjata mereka. Keduanya kemudian langsung maju bersamaan. Dalam segi kekuatan fisik, Silevran lebih unggul. Sedangkan Elyas sendiri lebih unggul dalam hal kecepatan.
Ketika semua orang melihat ke arah keduanya, Ciel sendiri malah mengamati seseorang. Melihat sosok itu, matanya menyempit. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Dalam pertarungan ini … sepertinya ada sesuatu yang menarik.
>> Bersambung.
__ADS_1