
Tanpa terasa, sekali lagi, hampir dua minggu berlalu sejak kedatangan Zack ke Kastil Black Lily.
Di lapangan latihan kastil, tampak dua orang saling berhadapan. Keduanya memegang pedang kayu dan tampak kelelahan. Mereka tentu saja Ciel dan Zack.
“Menyerah saja. Dalam tiga belas hari ini, kamu belum pernah mengalahkanku sama sekali.” Ciel yang terlihat banyak berkeringat dan agak pucat memandangi Zack.
Meski terlihat sangat lelah, Ciel sama sekali tidak memiliki luka di sekujur tubuhnya. Sebaliknya, wajah Zack dan beberapa bagian tubuhnya memar biru karena dipukul dengan pedang kayu oleh Ciel.
Sebenarnya, semenjak Zack datang, Ciel membatasi gerakan temannya itu dan memperlakukannya seperti tahanan. Dia tidak mengizinkannya berkeliling ke mana-mana dan membuat masalah.
Ciel dibuat kaget oleh Zack yang setuju. Namun, sebagai gantinya, setiap sore setelah Ciel bekerja … dia harus berlatih tanding dengan Zack. Karena tidak mau Zack mengacau, Ciel akhirnya menurutinya.
Pada latihan tanding pertama, Ciel merasa dibodohi oleh orang yang memiliki IQ lebih rendah daripada dirinya. Ternyata, latihan tanding itu adalah duel pedang … tanpa sihir.
Ciel yang memiliki bakat bawaan ‘Arcana Lord’ dan terbiasa menggunakan sihir karena sangat nyaman ketika bertarung langsung merasa kosong. Apa yang dia pelajari tentang berpedang atau semacamnya adalah hal-hal yang paling dasar.
Pada pertandingan pertama itu, Ciel benar-benar hampir dikalahkan oleh Zack. Namun akhirnya dia menang karena menggunakan kekuatan fisiknya yang lebih kuat untuk menekan Zack. Agak tidak tahu malu, tetapi Ciel juga tidak ingin kalah.
Tidak berhenti di sana, karena Zack berkata akan mengajak bertanding setiap sore, Ciel akhirnya dengan terpaksa belajar tentang beberapa teknik berpedang dalam buku yang diberikan oleh kakeknya.
Tiga hari pertama, Ciel menang karena kekuatan kasar. Ketika seminggu berlalu, Ciel mulai bisa mengimbangi Zack dalam teknik. Pada hari kesepuluh, Ciel berhasil melampaui Zack karena memiliki tubuh baik yang dibentuk oleh skill ‘Devour’ miliknya. Dan pada hari ketiga belas, Ciel dapat mengalahkan Zack dengan menurunkan level menjadi setara dengannya.
“Kamu benar-benar monster, Rivalku! Benar-benar menguasai teknik semacam itu dalam waktu singkat. Kamu membuat para ksatria cemburu!” ucap Zack.
“Jadi, ini kemenanganku … kan?”
“Aku belum menyerah! Jadi kamu belum menang.” Zack menggelengkan kepalanya.
“Lihat wajahmu yang penuh memar! Jika itu pertandingan nyata, kepalamu pasti sudah terpotong!” seru Ciel.
“Tapi aku masih memiliki tekad untuk hidup dan bertarung. Keajaiban mungkin terjadi!” balas Zack.
Sudut bibir Ciel berkedut. Dalam hal keras kepala, memang tidak ada orang yang lebih keras kepalanya dibanding Zack. Ciel padahal sudah mengalahkannya dengan kejam. Namun setiap selesai latihan, Zack akan minum banyak potion penyembuhan. Keesokan harinya, dia kembali menjadi sehat dan segar.
Bagi Ciel, Zack terlihat seperti raja kecoak. Rajanya hewan yang benar-benar yang sulit dibunuh!
Melihat ekspresi suram Ciel, Zack malah menunjuknya sambil terus tertawa. Pemuda itu jelas puas membuat Ciel mengalami aktivitas fisik selama hampir dua minggu. Meski terlihat tenang, Zack dengan jelas mengerti bahwa sang Pangeran Sampah itu sangat membenci aktivitas fisik semacam itu.
Mau menemaniku meski tidak menyukai aktivitas fisik. Kamu benar-benar teman yang baik, Ciel.
Jika Ciel tahu apa yang ada di dalam kepala Zack, pemuda itu pasti tercengang. Dia pasti akan merasa tercengang dengan sikap Zack yang selalu menganggap semuanya dengan positif.
__ADS_1
Padahal, Ciel benar-benar memukuli Zack tanpa niatan untuk melatihnya menjadi kuat atau semacamnya. Dia bahkan ingin mengirim Zack kembali ke Royal Capital sesegera mungkin.
“Karena lusa kita akan berangkat, kita sudahi sampai di sini saja, Rivalku!” ucap Zack dengan seringai di wajahnya.
Mendengar itu, Ciel akhirnya menghela napas lega.
Setelah selesai latihan, keduanya duduk bersama di pinggir lapangan latihan. Zack yang biasanya sangat ceria dan optimis merubah ekspresinya.
“Hey, Rivalku …”
“Ada apa?” tanya Ciel yang sedang menyeka keringat.
“Sebenarnya aku ingin bertanya. Pada saat kamu akan menemui tunanganmu … apa yang kamu rasakan, Rivalku?”
Jangan tanya apa yang aku rasakan! Boro-boro sempat berpikir dua kali, aku langsung dipanggil ke rumah untuk menemuinya! Ini perjodohan sepihak!
Ciel berseru dalam hati. Namun ekspresinya masih tenang. Setelah memikirkan sesuatu, dia sedikit terkejut.
“Jangan bilang kalau kamu …”
“Begitulah. Setelah berkata kepada ayah kalau ingin mendapat tunangan, orang itu sangat bersemangat. Dia bahkan berkata kalau akan memilihkan yang terbaik.
Sekarang tunangan sudah dipilih. Aku tidak mengetahui seperti apa wajahnya. Aku merasa … agak gugup.”
Ini … apakah ini benar-benar Zack yang aku kenal?
“Kenapa kamu diam saja, Rivalku? Beri aku saran! Lagipula, kamu memiliki banyak wanita cantik di sisimu!”
Ciel menarik napas panjang sambil menatap Zack dengan ekspresi serius. Pandangannya membuat pemuda berambut merah itu gugup. Kemudian Ciel berkata, “Terima saja takdirmu.”
“...” Zack mengerjap.
“...” Ciel masih memandang dengan serius.
“Sial! Apakah kamu benar-benar serius, Rivalku?” tanya Zack dengan ekspresi tidak percaya.
“Jelas aku serius,” ucap Ciel dengan ekspresi bosan.
“Bagaimana kalau gadis itu tidak sesuai dengan seleraku?” tanya Zack.
“Selama tidak seperti istri Pangeran ke-2, terima saja.”
__ADS_1
Zack tiba-tiba membayangkan sosok Pangeran ke-2 Kekaisaran Black Sun lalu tertawa.
“Pfftt! Sial! Ini bukan waktunya bercanda seperti itu!” seru Zack.
“Aku serius.”
“Cih! Kamu bisa tenang karena sudah memiliki istri yang cantik, baik, dan penurut.” Zack mendecakkan lidahnya dengan ekspresi tidak puas. “Baru saja dibicarakan.”
Ciel memandang ke arah Zack memandang. Di sana tampak Ariana yang membawakan minuman dingin dan beberapa buah segar. Di belakangnya, ada pelayan yang Ciel tidak ingat namanya membawa hal sama. Ariana segera menghampiri Ciel sementara pelayan menghampiri Zack.
“Minuman dingin, Sayangku.”
“Terima kasih, Ariana.” Ciel mengangguk.
Ariana tidak merubah ekspresinya dan mengangguk sopan. Dia duduk di samping Ciel tanpa mengatakan apa-apa. Tidak ingin membuat Ciel marah atau jengkel karena hal yang tidak perlu. Gadis itu malah mengupas sebuah apel dalam diam.
“Ini apelnya, Sayangku.” Ariana mengulurkan piring kecil yang di atasnya ada potongan apel yang bersih dan rapi.
“Terima kasih, Ariana.”
“HENTIKAN SEMUA ITU!” seru Zack.
“...” Ciel dan Ariana memandangnya.
“KALIAN MENGUMBAR KEMESRAAN DI PUBLIK! ITU TIDAK BAIK DI MATA ORANG LAIN!”
“Kami tunangan dan pasti menikah,” balas Ariana.
“ITU BENAR! TAPI … APAKAH KALIAN TIDAK MEMIKIRKAN PERASAAN ORANG YANG MELIHATNYA? ORANG-ORANG SEPERTIKU!”
“Itu masalah anda. Jika ingin, anda juga bisa segera bertunangan atau menikah.”
“...”
Ciel menatap Zack yang terdiam. Entah kenapa, dia seolah mendengar suara sesuatu yang pecah dari dalam jiwa temannya. Pemuda itu kemudian menatap tunangannya.
Ariana … kamu benar-benar tidak menahan diri.
Pada saat itu, Ciel tiba-toba teringat kalau Zack akan segera bertunangan. Jika bertunangan, berarti Zack tidak akan berkeliling ke sana-sini. Temannya itu akan duduk di rumah dan tidak mengganggunya. Memikirkan itu saja membuat Ciel bersemangat.
Ini adalah kabar baik! Apapun yang terjadi … aku harus membuat Zack menerima pertunangan ini!
__ADS_1
Pada saat itu juga, Ciel berubah dari seorang Abyssal Angel yang kejam menjadi seorang Cupid.
>> Bersambung.