Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Semakin Menjengkelkan


__ADS_3

“Kamu benar-benar menolak untuk berlutut?”


Ciel memandang Jean dengan ekspresi heran. Pemuda itu masih berdiri sambil menggertakkan gigi dan menopang dirinya dengan tombak hitam yang tertancap di tanah. Jika diperhatikan, di tangan kanan Jean tampak garis-garis hitam tak beraturan yang terlihat seperti akar.


“Selain tangan kirimu … bukankah anggota tubuh lain itu masih akan keracunan? Jika kamu terus memegang tombak itu, bukankah kamu akan mati?”


Bukannya melepaskan tombak, cengkeraman Jean ke tombak semakin kencang. Dia bahkan mulai tertawa dengan ekspresi kurang waras.


“Hahahaha! Daripada berlutut, aku lebih baik mati!” teriak Jean.


Setelah berteriak, Jean tiba-tiba memuntahkan seteguk darah. Meski tubuhnya berhasil dia paksa bertahan, organ dalam miliknya masih tak kuat menahan tarikan gravitasi dan akhirnya berguncang.


“Benar-benar keras kepala?” Ciel memiringkan kepala dengan tatapan heran.


Walau terlihat begitu tenang, Ciel sendiri sebenarnya menahan rasa sakit di kepalanya. Jika terus menerus menggunakan sihir gravitasi seperti ini, mungkin kepalanya akan meledak atau dirinya menjadi bodoh karena banyaknya guncangan.


“Hahahaha! Bagaimana kalau aku keras kepala? Meski bukan seorang bangsawan, aku masih punya harga diri. Aku tidak mungkin mati sambil berlutut! Jika tidak, aku tidak akan memiliki wajah untuk menemui mendiang ayahku!” seru Jean dengan ekspresi bangga.


“Mendiang ayahmu?” tanya Ciel.


“Karena hanya prajurit kecil, mungkin kamu tidak mengingat nama setelah membunuhnya. Ayahku adalah Kun, orang yang kamu bunuh karena menyusup ke wilayahmu!”


EEEHHH? Orang ini … benar-benar putra Kun?


Ciel terkejut tetapi tidak menampakkan di wajah. Meski begitu, dia mengamati wajah Jean dengan teliti, tetapi hasilnya nihil. Dibandingkan dengan Kun, Jean jelas sangat berbeda. Sosok itu lebih tampan dan terlihat memiliki gen yang lebih baik. Belum lagi dia memiliki bakat yang bagus untuk menjadi ksatria.


“Kamu benar-benar putra Pak Tua Kun?” tanya Ciel.


“Kamu … Kamu benar-benar mengingat ayahku?” Jean tampak terkejut ketika memandang Ciel.


“Kamu pasti anak angkat, kan?”


“Sial! Omong kosong! Aku jelas putra biologisnya!” seru Jean dengan ekspresi marah.


“Ya … kamu tahu? Pak Tua Kun itu terlihat agak … aku tidak akan berkomentar lebih.”


“Beraninya kamu menghina mendiang ayahku! Meski tidak tampan atau kuat, dia adalah ayah yang terbaik di dunia ini! Bunuh aku! Aku ingin segera menemuinya untuk minta maaf!” seru Jean dengan ekspresi tidak sabar.


“Itu tidak mungkin. Jika kamu mati, kamu tidak akan bisa bertemu dengan ayahmu.”

__ADS_1


“Bahkan jika tidak bertemu, aku akan tetap pergi ke alam baka!” seru Jean.


Ciel yang melihat Jean tercengang. Dia tidak bisa tidak bertanya, “Apakah kamu bodoh?”


“...”


“Kenapa diam saja?” tanya Ciel dengan bingung.


Bukannya menjawab, Jean terus menatap ke arah tertentu.


Ciel yang melihat Jean tertegun menoleh ke arah yang orang itu lihat. Dari kejauhan, tampak seorang pria paruh baya memacu kudanya dengan tergesa-gesa. Pada saat melihat Jean, pria paruh baya itu terlihat bahagia.


“Tuan! Tolong tunggu sebentar … Tuan!”


Melihat sosok itu, Ciel mengangkat alisnya.


“Kenapa kamu berada di sini, Kun? Apakah keluargamu baik-baik saja?”


Setelah kuda itu mendekat dari sisi yang berlawanan dengan Jean, Kun langsung melompat dari kuda dan berlari menuju Ciel. Dia langsung berlutut.


“Karena kebaikan anda, keluarga saya selamat, Tuan. Mereka sekarang mengikuti sebuah karavan perdagangan yang menuju Kota Black Lily.”


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Ciel ketika dia perlahan turun dari langit.


“Dugaan?”


“Ratusan ksatria muda yang menjadi bahan eksperimen oleh Marcus Bathory. Putra saya adalah salah satu dari mereka.”


“Jangan bilang …” Ciel memandang ke arah tujuh orang yang dia kunci dengan sihir gravitasi. Pemuda itu kemudian kembali menatap Kun. “Ratusan? Hanya tersisa tujuh orang?”


Sial! Aku tidak menyangka Keluarga Bathory segila ini.


Memikirkan logika kurang waras musuhnya, Ciel merinding. Pemuda itu sama sekali tidak takut jika harus melawan musuh yang kuat. Namun dia agak menolak bermusuhan dengan orang gila. Mereka pasti memiliki perilaku aneh dan melakukan hal-hal di luar pemikiran secara ekstrem.


“Tuanku! Meski saya tahu ini tidak sopan. Meski saya juga tahu kalau mereka telah melakukan kesalahan fatal. Tolong … Tolong ampuni mereka, Tuan!”


“Apa untungnya membiarkan mereka hidup? Lagipula … mereka hampir mengacaukanku. Jika tidak ada aku, mungkin 40.000 prajurit akan dimakamkan di kota ini.”


Ciel berkata dengan ekspresi tak acuh. Orang-orang itu menunduk hanya bisa menunduk karena tidak bisa menyangkal.

__ADS_1


“Tapi Tuan-”


“Kun.” Ciel menatap pria itu dengan ekspresi dingin. “Aku bersikap baik bukan berarti kamu boleh semena-mena. Nyawamu dan keluargamu ada di tanganku. Jika aku ingin, keluargamu akan langsung dikirim ke pemakaman Kota Black Lily.”


Kun langsung menunduk dengan ekspresi pucat. Meski mengetahui kalau Ciel lebih baik daripada Marcus, kesalahan yang diperbuat putra dan kelompoknya sudah keterlaluan. Jika dia meminta lebih … dia mungkin akan kehilangan segalanya.


“Mereka bilang bilang kalau para korban eksperimen telah mati, kan?” Ciel menatap dingin. “Kamu tidak melihat apa-apa. Putramu telah mati di lab Keluarga Bathory. Sekarang pergi sebelum aku berubah pikiran.”


“T-Tuan, saya-”


Belum sempat Kun menyelesaikan perkataannya, dia merasakan sakit di bahu kirinya. Ketika mendongak, pria itu melihat Ciel yang memegang pedang sambil menatapnya dengan ekspresi tak acuh.


“Kamu bukan Camellia. Kamu bukan Elena. Kamu juga bukan Asterious.” Ciel berucap kata demi kata dengan nada semakin dingin. “Meski berbeda dengan bangsawan lain, aku masih menghargai bakat dan nilai individu. Dan orang sepertimu … bisa digantikan kapan saja.”


“...”


“Kenyataan memang kejam, Kun. Pergi sekarang juga. Jika kamu masih mengatakan sesuatu, mungkin kamu akan kehilangan kepalamu.”


Mengabaikan luka di bahunya, Kun langsung bersujud.


“Paling tidak ampuni putra hamba, Tuan! Sebagai gantinya, anda bisa mengambil nyawa hamba. Daripada saya, Jean memiliki bakat yang baik dan berguna untuk anda. Jadi tolong-”


“TIDAK!!!”


Bukan Ciel yang berteriak, tetapi Jean. Orang itu sedari tadi melamun karena tidak mempercayai apa yang dia lihat. Setelah sadar, tanpa ragu Jean melepaskan pegangannya pada tombak lalu berlutut.


“Pangeran Luciel! Semua ini kesalahan saya, ayah dan keluarga saya sama sekali tidak terlibat. Tolong ampuni nyawa keluarga saya!” seru Jean.


“Jean!”


“Ayah …”


“DIAM!!!”


Ciel berteriak sambil memegangi keningnya dengan ekspresi tidak berdaya. Melihat keluarga yang begitu harmonis membuatnya merasa tidak nyaman.


Memikirkan Royal Family yang saling berebut tahta, harta, dan lainnya … sudut bibir Ciel berkedut. Meski ada beberapa sosok yang baik kepadanya dalam keluarga, Ciel masih memiliki keraguan kepada mereka. Bahkan adik kecil yang dia sayangi akhirnya mengabaikannya dan bersikap dingin kepadanya.


Ciel mendongak sambil melihat langit penuh bintang sebelum menghela napas panjang.

__ADS_1


Sial! Semua ini malah menjadi semakin menjengkelkan.


>> Bersambung.


__ADS_2