Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Begitu Lucu dan Naif


__ADS_3

“Siapa namamu?”


Mendengar pertanyaan Ciel, ketua kelompok Blue Moon menjawab, “Verrona Aendryr.”


Ciel sedikit terkejut dengan nama wanita di depannya, sudut bibirnya terangkat.


“Daripada memilih, bagaimana kalau menyerah? Biarkan anggota lain melarikan diri …”


Suara Ciel terdengar santai, tetapi membuat Verrona menjadi lebih bimbang.


Tangan Ciel terulur, mengelus lembut pipi wanita cantik di depannya. Mata pemuda itu memancarkan kilau misterius ketika berbisik lembut.


“Bagaimana kalau menyerah saja? Daripada mencoba melawan kemudian mati, atau memilih berujung salah … bagaimana kalau menyerah?


Mungkin aku akan melepaskan sisanya jika kamu dan keempat komandan mengikutiku dengan patuh. Kamu tidak berpikir aku tidak bisa mencari anggota Blue Moon yang menyebar, kan?”


Ketika Ciel terus membisikkan kata-kata yang mempengaruhi mental Verrona, salah satu sosok berjubah di belakang wanita itu tiba-tiba menyerang dengan belati di tangannya.


Menghindari serangan sosok itu, Ciel menunjuk lawan sambil berkata, “Hellfire …”


Api hitam sebesar bola golf terbentuk di ujung jarinya sebelum langsung ditembakkan ke arah sosok itu.


Karena terlalu dekat dan tidak bisa menghindar, sosok berjubah itu dengan sigap langsung melepas jubah yang terkena api hitam agar tidak melukainya.


Melihat wajah asli perempuan dalam jubah, Ciel merasa heran. Wanita itu jelas lebih muda daripada Verrona dan beberapa tahun lebih tua dibanding Elena, tetapi kekuatannya melebihi keduanya.


Kulit wanita itu sedikit kecoklatan tetapi sangat kencang. Tubuhnya terlihat sangat bagus dan lentur, bahkan perutnya terbentuk dengan baik. Wajahnya cantik tetapi terlihat tegas. Yang membuat mencolok adalah sebuah penutup mata yang menutupi mata kirinya.


Ciel tidak bisa tidak bertanya, “Aku cukup heran … kenapa bukan kamu pemimpinnya? Padahal kamu lebih kuat dibanding lainnya.”


“Aku tidak bijaksana seperti Kak Verrona.” Wanita itu berkata dengan ekspresi dingin.


“Kak Verrona? Jangan-jangan …” Mata Ciel menyipit.


“Lyfalia Aendryr.”


“Menarik.” Ciel menunjukkan senyuman. Terlihat tertarik dengan wanita dingin dan keras kepala di depannya.


“Cukup, Lyfalia! Aku sudah memutuskan. Seluruh kelompok Blue Moon akan jatuh ke tangan anda, Pangeran Luciel. Saya ikut dengan tauhan besar ini,” ucap Verrona dengan ekspresi serius.


“Hm???” Ciel memiringkan kepalanya. “Kenapa? Benar-benar langsung memutuskan?”

__ADS_1


“Itu sederhana, Pangeran Luciel. Terima kasih kepada Lyfalia, saya jadi tersadar oleh permainan kata anda.


Menurut informasi yang kami terima dan bahkan yang tersebar, anda bisa menghabisi ribuan Orc dengan mudah. Saya yakin mereka tidak bisa melarikan diri atau menyebar karena anda menggunakan sihir gravitasi skala besar.” Verrona berkata dengan pasti.


“Itu mustahil kan, Kak? Sihir gravitasi skala besar …” Lyfalia tampak ragu.


“Sejak awal anda hanya ingin memastikan apakah kami mau datang ‘dengan patuh’, atau pergi dari wilayah agar tidak menjadi variabel meski terlihat tidak terlalu penting.


Ingin melenyapkan kami … saya rasa itu semudah membalikkan telapak tangan, bukan? Pangeran Luciel …”


“Cih! Terlalu pintar. Sungguh membosankan,” ucap Ciel setelah mendecak tidak puas. Ekspresinya kembali terlihat tak acuh.


Menyadari bahwa para Dark Elf memandangnya curiga, Ciel yang memasang ekspresi bosan langsung menjentikkan jarinya. Tekanan kuat dari sihir gravitasi level 5 langsung membuat kedelapan wanita itu jatuh berlutut di tanah. Karena tidak siap, mereka bahkan terlihat kehilangan napas.


Sekali lagi CIel menjentikkan jarinya dan sihir itu langsung menghilang seolah tak pernah terjadi. Melihat para wanita memandangnya degan ekspresi horor, Ciel dengan bosan berkata, “Selamat. Pilihanmu tidak salah. Senang bisa memiliki puluhan wanita cantik sebagai bawahan.”


Meski berkata demikian, Ciel sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya. Dia mendekati Elena kemudian menepuk kepala wanita itu.


“Kamu tidak akan berpikir kalau aku akan sekejam itu, kan?”


“Hmph!”


Sebelum Elena sempat menjawab, Ciel telah naik ke punggung Deschia lalu kembali Kota Black Lily.


“Kamu sungguh memiliki tuan yang sangat mengerikan, Elena.”


Perkataan Verrona menyadarkan Elena dari lamunannya. Wanita itu kemudian mengamati para anggota Blue Moon tampak pucat. Khususnya Lyfalia, wanita itu tampak begitu terkejut dan terpukul karena tidak bisa melakukan apa-apa.


“Kalian salah,” Elena menggelengkan kepala. Senyum muncul di wajahnya. “Bukan tuanku, tetapi tuan kita semua.”


Verrona dan lainnya tampak terkejut lalu mengangguk.


“Benar. Pangeran Luciel adalah tuan kita semua. Hanya saja … apakah kamu yakin dia juga akan memperlakukan kami dengan baik, Elena?” tanya Verrona.


“Tentu saja tuan akan melakukannya. Salah satu sosok kepercayaannya bahkan dari Ras Minotaur. Beliau tidak membeda-bedakan,” jawab Elena dengan pasti.


“Tentu saja kamu bisa mengatakan hal itu karena kamu adalah salah satu favoritnya,” ucap Lyfalia dengan dingin.


“Apa maksudmu?” Elena mengerutkan kening.


“Bukankah sudah jelas? Kamu bisa memuaskannya dan dia memperlakukanmu dengan baik. Jelas orang itu mau menerima barang kotor seperti kami karena dirimu.” Lyfalia mendengus dingin.

__ADS_1


“Lyfalia!” Verrona langsung meneriaki adiknya.


“Apakah aku salah, Kak? Para bangsawan memang seperti itu. Bahkan jika kehidupan kami akan menjadi lebih baik, kami masih seorang budak tanpa kebebasan. Bahkan anak kecil tidak dia lepaskan.”


Mendengar perkataan dingin Lyfalia, Elena terlihat tak acuh.


“Aku tidak peduli dengan apa yang kalian pikirkan. Namun aku mengerti seperti apa tuan. Dia berbeda dengan para bangsawan dengan ucapan lembut tetapi melakukan hal yang sebaliknya.


Aku telah menjadi budaknya selama satu musim. Tuan selalu merawatku, memperlakukanku dengan baik, padahal aku sudah siap bertaruh dan merelakan segalanya. Namun kalian tahu apa yang dia lakukan?


Tuan memperlakukanku layaknya ‘seseorang’, bukan seekor ‘hewan’ yang bisa dipelihara lalu dijual atau dibuang. Dia selalu bertanya dan tidak memaksa meski bisa melakukannya.


Karena itulah … aku akan tetap mengikutinya bahkan jika bukan budaknya.”


“Itu …”


Verrona dan yang lain saling memandang. Mereka sulit untuk mempercayai hal semacam itu karena dari puluhan Dark Elf, tidak ada yang pernah mengalami hal semanis itu. Namun ketika melihat tatapan tulus Elena, mereka juga paham kalau wanita itu sama sekali tidak berbohong.


“Itu … Itu karena kemu dibesarkan dengan baik sebelum dimakan!” Lyfalia sama sekali tidak menyerah dan mencoba menyangkal.


“Bukankah itu sudah sepantasnya?” Elena berkata dengan nada dingin.


“Apa?” Lyfalia terkejut.


“Di benua iblis … yang lemah adalah makanan yang kuat. Karena lemah, kalian ditangkap dan diperbudak dengan paksa. Itu sudah hukum alam yang terpatri di tanah ini.


Mengharapkan kebaikan tanpa sebuah harga? Itu terdengar begitu naif. Tuan sudah mau menerima, merawat, dan membalaskan dendamku. Tentu aku tidak akan berpikir semua itu gratis.


Tuan pernah berkata, dia memberi harga, sebagai gantinya … aku menjadi miliknya.”


“Kamu telah dicuci otak olehnya!” teriak Lyfalia dengan ekspresi marah.


“Hehehe … begitu lucu.” Elena menggeleng kepala dengan ekspresi mengejek. Dia kemudian berkata, “Aku tidak menyangka sosok sepertimu bisa begitu naif.”


“SUDAH CUKUP!”


Verrona sebagai yang lebih dewasa dan berpengalaman langsung melerai mereka. Keduanya memiliki pemikiran yang berbeda, tetapi ini bukan waktu untuk berdebat atau semacamnya. Melihat keduanya menjadi lebih tenang, wanita itu menghela napas panjang.


“Mari kita bicarakan bagaimana dan kapan kita mulai bergera lalu memindahkan seluruh saudari kita.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2