Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Kembali Ke Kota Black Lily


__ADS_3

“Gunakan darahmu untuk mengikat cincin itu.”


Diingatkan oleh ibunya, Ciel mengangguk patuh. Pemuda itu segera menggigit jari telunjuknya lalu meneteskan darahnya ke kedua cincin dalam kotak.


Pada saat tetesan darah bersentuhan dengan kedua cincin, Ciel bisa merasakan hubungan spiritual dengan kedua artifak itu. Ciel tersenyum dan mengangguk puas. Dia kemudian memakai cincin dengan ornamen perak di jari tengah tangan kirinya. Sedangkan cincin dengan ornamen emas, dia menaruhnya di kalung lalu menyembunyikan di balik pakaiannya.


Selama bersentuhan dengan kedua cincin, Ciel merasa kalau dirinya bisa melihat apa saja yang ada di dalamnya.


Ciel kemudian melihat cincin pemberian kakeknya. Di dalamnya ada sebuah ruangan berbentuk kubus dengan ukuran 5 x 5 x 5, yang berarti 125 meter kubik. Dalam ruang hampa itu, ada beberapa kotak kecil yang ditandai dengan potion, herbal, dan beberapa item berharga lain.


Selain itu, ada juga satu set armor perang hitam legam lengkap dengan helm dan juga beberapa senjata yaitu pedang, tombak, busur, dan belati kembar. Yang membuatnya takjub adalah … satu set peralatan itu memiliki bahan utama yang terbuat dari Demonic Beast level 6, Shadowflame Dragon.


Jelas, kakeknya tidak main-main dan memberinya barang-barang kelas atas. Dari barang pemberiannya, lelaki tua itu benar-benar memiliki harapan besar kepada Ciel.


Ugh! Item-item ini terlalu berharga … tidak mungkin menggunakannya secara acak atau aku akan menjadi ‘rare boss’ yang akan diburu untuk mendapatkan barang-barang berharga!


“Ibu …”


Sebelum Ciel menyelesaikan ucapannya, Ratu Lilith menggeleng ringan.


“Tidak. Aku tidak berani mengecek isi kedua cincin karena kedua orang itu melarang orang lain melihat dan langsung memberikannya kepadamu.”


Mendengarkan ucapan Ratu Lilith, Ciel mengangguk dengan ekspresi lega. Dia kemudian memeriksa cincin pemberian Maria. Ekspresi pemuda itu langsung berubah. Dia jelas sangat terkejut.


Meski barang-barangnya tidak bisa dibandingkan dengan pemberian kakek, volume ruang cincin lebih luas. Itu memiliki volume 7 x 7 x 7, 343 meter kubik. Di dalamnya terdapat banyak kotak yang lebih besar daripada pemberian kakek dan berisi potion dan bahan yang lebih umum.


Hal yang membuat Ciel takjub adalah, kebanyakan potion itu jelas berfungsi untuk mengembangkan pasukan dengan cepat. Pemuda itu yakin kalau sang guru mengetahui niatnya untuk membuat sebuah pasukan dalam bayangan dan memberikan item ini. Dia benar-benar merasa terharu!


Dibandingkan ayah buruk yang mencoba menyuap anaknya sendiri dengan koin, kamu benar-benar lebih baik, Guru!


“Ngomong-ngomong … apa isi kedua cincin itu, Ciel?” tanya Ratu Lilith dengan ekspresi penasaran.


“Tidak banyak. Itu adalah beberapa item yang digunakan untuk budidaya.” Ciel tersenyum lembut. Tidak mengatakan isinya dan hanya menambahkan, “Mungkin mereka ingin putra ini segera menjadi iblis level 6?”


“Iblis level 6 …” Ratu Lilith bergumam. Tatapannya menjadi lebih cerah ketika bertanya, “Apakah kamu yakin tidak-”

__ADS_1


“Aku mohon, Bu! Biarkan aku hidup tenang di perbatasan selatan. Ini jelas yang terbaik untukku, okay?” ucap Ciel dengan senyum pahit di wajahnya.


“Mungkin …” Ratu Lilith menghela napas tanpa daya. Dia merasa putus asa melihat sikap memberontak putranya itu.


“Aku juga harus segera kembali ke wilayah kekuasaanku. Sudah lebih dari setengah bulan aku pergi. Dalam perjalanan ini, aku berencana menghabiskan total waktu satu bulan.” Ciel menjelaskan.


“Kamu harus kembali pada saat pernikahan kakakmu.”


“Putra ini mengerti, Bu.”


... ***...


Tanpa terasa, sudah waktunya untuk Ciel kembali ke wilayahnya.


Dikarenakan dirinya harus membawa Ariana, Flora, dan Fiona pergi bersamanya ... Ciel tidak bisa kembali lebih cepat dengan menaiki Deschia. Dia memerintah Wyvern hitam itu untuk mengikuti sambil terbang di atas awan sembari mengawasi area yang mereka lewati.


“Kalau begitu aku pergi dulu.”


Ciel tersenyum sambil memandang ayah, ibu, serta saudara-saudarinya sebelum memasuki gerbong kereta. Ketika masuk ke dalam, dia melihat tiga gadis cantik yang duduk di sisi lain gerbong kereta. Tentu saja mereka adalah Ariana, Flora, dan Fiona.


Sebagai formalitas, Ciel diantar rombongan ksatria seperti sebelumnya. Hanya saja, mereka sekarang terlihat lebih hormat dan serius dalam mengawalnya.


Ciel tersenyum pahit. Bingung harus menangis atau tertawa.


Perjalanan mereka pun dimulai.


Dalam satu minggu perjalanan, mereka sama sekali tidak mendapatkan halangan. Meski Ciel bertingkah tak acuh, para ksatria sama sekali tidak marah karena mereka sudah terbiasa dengan sikapnya.


Melewati waktu bersama, tanpa sadar Ciel mulai menerima Ariana di sisinya. Tentu saja, itu hanya sebatas hubungan sederhana. Dia tidak akan membocorkan rahasia penting karena belum sepenuhnya percaya.


Dalam dunia ini, yang paling berbahaya bukan binatang buas dalam legenda … tetapi hati orang lain yang tidak bisa diketahui kebenarannya.


“Sayang, ini teh pagi …”


“Sayang, ini camilan siang …”

__ADS_1


“Sayang, ini teh sore …”


Setiap hari mendengar suara itu, Ciel semakin terbiasa. Sampai suatu sore di perbatasan Central Plain dan South Duchy.


“Sayang, ini tehnya …”


“Terima kasih, Ariana. Kamu bisa meletakkannya di situ.”


Ciel terlihat sibuk mencatat sesuatu. Dia sebenarnya agak menyesal karena perjalanannya masih panjang. Mungkin memerlukan waktu hampir satu minggu untuk mencapai Kota Black Lily. Pemuda itu hanya bisa tersenyum pahit.


“Ariana, lain kali kamu bisa istirahat. Biarkan Flora atau Fiona yang membuatnya. Bagaimana kamu bisa bekerja terlalu keras seperti ini.”


“Berbakti kepada suami sudah tanggung jawab seorang istri, Sayang.” Ariana berkata tanpa mengubah ekspresinya.


Ugh! Masalahnya … kita masih bertunangan, okay? Kamu juga memiliki pengikut, mereka tidak mungkin hanya bertindak sebagai pajangan, kan?


Ciel diam-diam mempertanyakan hal itu dalam hatinya. Namun melihat Ariana yang lebih antusias setiap harinya, pemuda itu tidak tega mengatakannya. Biarlah disimpan dalam pikiran semata.


Melihat matahari di musim panas yang meski sudah sore masih memanggang dunia, Ciel merasa tidak nyaman. Sebagai Pangeran Sampah sekaligus ‘orang rumahan’, pemuda itu sebenarnya membenci aktivitas di luar ruangan. Tentu saja masih ada beberapa pengecualian.


“Dirikan tenda di sini. Tidak mungkin melewati hutan perbatasan di malam hari. Meski ada jalan utama, itu masih terlalu berbahaya.” Ciel segera memerintah.


“Baik, Tuan!” jawab para ksatria serempak.


Mengikuti arahan Ciel, mereka benar-benar bisa melewati perjalanan ini dengan nyaman. Pemuda yang dianggap pemalas itu sudah membuat jadwal untuk titik istirahat dan berkemah. Pemilihan lingkungan yang tepat membuat mereka terhindar dari banyak masalah.


Malam hari di bawah sinar bulan, Ciel melihat Deschia yang turun dari langit dan mendarat tepat di depannya.


“Ada apa?” tanya Ciel.


Deschia menoleh ke arah selatan lalu menggeram. Itu adalah tanda kalau ada musuh.


Ciel langsung memanggil para ksatria. Dia memberi isyarat diam dan menyuruh mereka untuk memperkuat penjagaan. Sementara itu, dirinya menaiki punggung Deschia lalu menyuruhnya untuk terbang tinggi mengawasi musuh.


Pada saat melihat orang-orang yang bersembunyi di hutan, Ciel langsung mengaktifkan skill ‘Eye of The Lord’. Melihat musuh yang lebih dari seratus orang, dia mengangkat sudut mulutnya.

__ADS_1


Hehehe … Bandit yang sangat lucu.


>> Bersambung.


__ADS_2