
“Apakah teman anda baik-baik saja, Tuan Luciel?”
Salah satu prajurit Centaur yang melihat kegilaan Clark agak penasaran. Ciel yang mendengar itu merasa agak malu. Sebagai tuan dari kadal bersayap, dia juga ikut malu jika bawahannya itu melakukan hal yang konyol.
“Maaf, mungkin dia hanya terlalu bersemangat. Dulu Clark sebatang kara, ditemukan lalu dirawat oleh sebuah suku Centaur. Sekali lagi melihat suku yang mirip … mungkin dia merindukan kampung halamannya.
Namun aku cukup kagum. Meski tertutup dengan dunia luar, kalian masih memiliki hati ksatria. Benar-benar menolong yang membutuhkan tanpa harus membedakan pihak lain.”
Ciel sangat tahu bahwa para Centaur sangat senang disebut sebagai ksatria atau prajurit hebat. Benar saja, mendengar perkataannya … prajurit Centaur itu menggaruk belakang kepala dengan ekspresi agak malu.
“Anda dan rekan-rekan anda juga luar biasa, Tuan Luciel. Tidak hanya kuat, kalian juga mau membantu yang lemah. Seperti si kecil Caca contohnya,” ucap prajurit itu dengan tulus.
“Kamu terlalu berlebihan.” Ciel menggeleng ringan. Tidak terlihat rendah hati atau sombong.
“Kalau begitu biarkan saya mengantar kalian menemui Kepala Suku.”
“Maaf merepotkanmu,” ucap Ciel.
“Sama sekali tidak.”
Melihat Clark yang masih bersemangat, Ciel menggeleng ringan. Di bawah tatapan terkejut banyak orang, pemuda itu memegang kerah belakang armor Clark lalu menyeretnya seperti anak kucing.
Para Centaur di suku yang melihat itu sangat heran. Sosok Ciel tampak begitu ramping. Meski berotot, tetapi sama sekali tidak menonjol. Bahkan tidak tampak dari luar. Menyeret sosok yang beberapa kali lebih berat dari tubuhnya, itu tampak luar biasa.
Mungkin seperti perkataan ‘buah tidak jatuh dari pohonnya’, karena ibunya sering menyeret pemuda itu seperti anak kucing, dia sendiri sering melakukan hal yang sama kepada bawahannya yang konyol. Khususnya si kerbau dan kadal bersayap.
Di depan rumah Kepala Suku.
Tampak sosok Centaur tua dengan janggut panjang yang diwarnai dengan warna putih. Benar-benar telah meninggalkan masa jayanya. Namun, tatapannya masih begitu jernih.
Di sisi kanan lelaki tua itu ada sepasang Centaur yang tampak gagah dan cantik. Di sisi kirinya, terlihat gadis Centaur yang teramat cantik. Lebih cantik dari kebanyakan Centaur di suku. Jika para Centaur di suku sedikit lebih buruk dari Zenara, gadis itu setara atau bahkan sedikit lebih cantik darinya.
Caca yang datang bersama Ciel dan rombongan tiba-tiba berlari.
“Ayah, Ibu, Kakek … Caca telah membawa para tamu kemari.”
Caca menatap sosok itu dengan ekspresi yang mengatakan ‘puji aku’ dengan jelas. Hal yang membuat pasangan di sebelah lelaki tua itu menyambut dengan hangat. Bahkan lelaki tua itu juga tersenyum tipis.
“Gadis pintar,” ucap lelaki tua itu.
__ADS_1
“Hehehe …” Caca tampak bahagia.
Clark yang memandang gadis cantik itu tidak bisa memalingkan wajahnya. Sayangnya, pertemuan pertama mereka agak canggung. Lagipula, sekarang dia masih diseret seperti anak kucing oleh tuannya. Benar-benar merasa malu di depan gadis cantik itu.
Hanya saja, gadis cantik itu hanya memandang Clark sekilas. Dia juga memandang Ferel dan Savian sekilas. Ketika melihat Ciel yang menyeret Clark, barulah gadis itu memandangnya cukup lama.
Tentu saja, Ciel mengabaikan yang lainnya dan fokus ke lelaki tua itu. Dia memberi salam dengan sopan santun, etiket khas bangsawan.
“Maaf jika kedatangan kami malah merepotkan suku ini, Tetua.”
Mengikuti Ciel, Ferel dan Savian memberi hormat. Melihat ketiga bangsawan di depannya, lelaki tua itu tampak terkejut.
“Kalian sama sekali tidak merepotkan kami, Teman dari jauh. Justru kami merasa beruntung mendapatkan kunjungan kalian. Belum lagi, kalian telah menolong cucu saya, Caca.”
“Caca sudah bilang, Kakek! Caca tidak tersesat.” Caca menggembungkan pipinya dengan ekspresi tidak puas.
“Iya … Iya … Caca tidak tersesat.” Lelaki tua itu menggeleng ringan dengan senyum menggantung di bibirnya.
Ciel dan yang lainnya sama sekali tidak menyela. Lelaki tua itu agak terkejut dengan sikap sopan mereka. Padahal, bangsawan rendah pun biasanya mengabaikan etika dan melihat mereka dengan ekspresi menghina. Merasa lebih superior.
“Kalian berempat boleh berkeliling suku, tetapi tolong menahan diri serta mengabaikan para Centaur khususnya anak-anak yang penasaran. Lagipula, mereka belum melihat dunia luar.”
“Terima kasih atas sambutan hangat kalian,” ucap Ciel santai.
“Ini …”
“Itu sama sekali tidak merepotkan, jadi tolong terima kebaikan kami.”
Setelah memikirkannya baik-baik, Ciel mengangguk ringan. “Baik.”
“Kalau begitu kalian bebas melakukan segala sesuatu asal tidak membahayakan suku.”
“Terima kasih,” ucap Ciel sembari sekali lagi mengangguk.
“Izinkan Caca!” Caca kecil mengangkat tangannya. “Izinkan Caca yang mengantar para tamu berkeliling.”
“Apakah kalian tidak keberatan?” tanya lelaki tua itu.
“Tentu saja tidak apa-apa.” Ciel tampak santai.
__ADS_1
“Kakak-kakak … ikuti Caca! Caca akan menunjukkan hal-hal hebat di suku!”
Setelah mengangguk kepada lelaki tua, pasangan di sisi kanan, dan gadis di sisi kiri, mereka mengikuti Caca pergi.
Usai Ciel dan rekan-rekannya pergi menjauh, pria di kanan lelaki tua itu tiba-tiba berbicara.
“Apakah ini tidak apa-apa, Ayah?” tanya orang itu ragu.
“Tidak apa-apa. Jika mereka berniat buruk pun, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Si gempal yang sedari tadi diam sudah merepotkan. Belum lagi Lizardmen bermutasi itu, yang adalah iblis level 4 (akhir). Lelaki tua ini yang hanya ada di level 3 (akhir) sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
Terlebih lagi, pemuda tampan yang tampak santai tadi. Meski aku tidak bisa mendeteksi level pasti, jelas … dia berada di level 5 (awal) atau lebih.”
“T-Tidak mungkin.” Pria itu tampak sangat terkejut.
“Mereka tidak memiliki niat jahat. Hal itu sudah cukup bagi kami. Belum lagi, mungkin ini kesempatan kita untuk mengenal sosok-sosok kuat itu. Jamuan malam ini, jangan sampai mengecewakan!” ucap lelaki tua itu tegas.
“Kami mengerti, Ayah.” Ketiga orang lainnya menjawab bersamaan.
Waktu berlalu begitu saja, malam hari telah tiba.
Api unggun besar menerangi hutan di sekeliling tempat tinggal suku Centaur. Banyak makanan di sediakan, dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari suku Centaur sampai yang hanya dibuat pada hari perayaan besar.
Meski agak tenang, Ferel dan Savian tampak puas. Ciel sendiri agak kewalahan dengan antusiasme para Centaur kepada dirinya. Tentu saja, Ciel masih menerima hadiah dari orang-orang itu. Khususnya anggur yang dibuat dengan campuran rempah dan tumbuhan obat khas mereka.
Para tamu tampak senang, kecuali satu orang. Ya … itu adalah Clark.
Tidak seperti Ciel yang dikerumuni, bahkan dia tidak terlihat seperti Ferel atau Savian yang sesekali diundang untuk menari. Clark mengajak banyak gadis cantik untuk berkenalan dan menari, tetapi ditolak mentah-mentah.
“Hah … ini menyebalkan.” Duduk sendirian, Clark bergumam pelan.
Sosok Centaur kecil mendekatinya dengan ekspresi khawatir di wajahnya. Ya, itu adalah Caca. Gadis kecil itu memiringkan kepalanya.
“Apakah kamu baik-baik saja, Kak Clark? Apakah kamu sakit? Apakah kamu membutuhkan bantuan Caca?”
Melihat gadis kecil yang perhatian kepadanya, ekspresi Clark mereda. Dia bahkan berpikir.
Imutnya … mungkinkah aku harus membawanya pulang?
Jika Ciel tahu apa yang dipikirkan si kadal bersayap, pemuda itu pasti sudah memukulinya sambil mengutuk di tempat.
__ADS_1
Lepaskan ide konyol itu, Kadal tidak berguna! Itu illegal! ILLEGAL!!!
>> Bersambung.