
Keesokan harinya.
Berdiri di atas tembok kota, Ciel yang memakai jubah untuk menutupi seluruh tubuhnya melihat kejauhan. Di sana terlihat banyak gerbong kereta kuda yang semakin menjauh dan menghilang di kejauhan. Pemuda itu tersenyum lembut.
“Semoga kalian lebih bahagia di luar sana,” gumam Ciel.
Ciel kemudian berbalik pergi kembali ke kastil dengan berjalan kaki. Dia sedang tidak ingin terbang atau menggunakan Deschia sebagai tunggangan. Alasan kenapa dirinya melakukan itu adalah untuk melihat-lihat Kota Black Lily yang semakin makmur.
Berkeliling sekitar kota, Ciel puas dengan kemakmuran kota. Selain makmur, tidak terlihat pengemis atau orang-orang semacam itu. Kebanyakan mereka semua bekerja dengan semangat dan ceria. Bahkan seorang kuli panggul di pasar sama sekali tidak diremehkan. Benar-benar hidup harmonis dan saling menghargai.
Ciel telah memberi para rakyatnya sebuah konsep kehidupan. Orang miskin mungkin tidak bisa hidup tanpa uang dari orang kaya. Namun, tanpa orang miskin yang bekerja, orang kaya pun juga akan kesusahan mengurus banyak pekerjaan mereka tanpa pembantu.
Tidak apa untuk membedakan orang kaya atau miskin, itu sudah menjadi kebiasaan. Namun, Ciel mengajarkan mereka untuk saling menghargai. Baik kaya atau miskin, baik muda atau tua, baik laki-kali atau perempuan. Ya … itu memiliki efek positif dan membuat orang hidup harmonis.
Tentu saja, itu baru di Kota Black Lily, Greenscale, dan Black Orchid. Karena ketiga kota di bawah Ciel itu diawasi ketat secara langsung. Sedangkan di kota kecil dalam berbagai daerah, masih banyak yang belum bisa menerapkan hal semacam itu. Lagipula, sikap egois masih saja tertanam begitu dalam pada para saudagar atau bangsawan.
Pada saat Ciel berjalan, dia tiba-tiba berhenti di dekat gang. Sosok tinggi lewat di depannya dan hampir menabraknya. Orang itu melihatnya lalu membungkuk sopan.
“Maafkan saya karena terburu-buru dan hampir menabrak anda.” Sosok itu kemudian berbalik dan berjalan dengan ekspresi cemas.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Clark?”
Ciel tiba-tiba bertanya karena sosok tinggi yang hampir menabraknya adalah bawahannya sendiri. Karena hari ini libur dan tidak ada latihan, setiap ksatria bisa beristirahat di rumah atau melakukan aktivitas sesuka mereka. Apa yang membuat Ciel penasaran adalah sosok Clark yang terburu-buru dan terlihat mencurigakan.
Clark berhenti berjalan. Mendengar suara yang familiar, dia berbalik dengan kaku. Menatap sosok berjubah itu, Clark tampak ragu.
“Apakah itu anda … Tuan?”
Sedikit membuka tudungnya, Ciel memperlihatkan iris ungu dan emas. Dia kemudian menutup kembali tudungnya. Clark yang melihat iris berwarna indah sekaligus unik itu langsung membatu. Kadal humanoid bersayap itu terlihat gugup dan panik.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Clark?”
“Anu … itu …” Clark mulai berkeringat deras.
“Katakan.” Ciel berkata dengan nada dingin dan tegas.
__ADS_1
“S-Saya pergi berbelanja, Tuan.”
Jika ingin berbohong, paling tidak jangan terlihat panik! Itu malah membuatmu semakin mencurigakan!
Ciel berseru dalam hati. Dia mengeluh dengan sikap Clark yang seperti itu. Menghela napas panjang, pemuda itu kemudian berkata, “Kalau begitu aku akan mengikutimu.”
Mendengar ucapan Ciel, Clark langsung tertegun di tempat. Dari wajahnya terlihat jelas kalau semua rencana yang disiapkan langsung berakhir dengan kegagalan.
Melihat Clark yang tertekan, Ciel menggeleng ringan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya menemanimu berbelanja. Benar, kamu telah mengumpulkan cukup banyak uang-”
Belum menyelesaikan kalimatnya, Ciel berhenti bicara. Menyadari sesuatu, sudut bibirnya berkedut. Pemuda itu bertanya dengan makna yang dalam.
“Kamu berniat untuk membeli budak, kan?”
Melihat rencananya terbongkar, Clark langsung berlutut di depan Ciel. Tubuhnya sedikit gemetar. Mendongak menatap dua iris dingin di balik tudung, dia berkata, “M-Maafkan saya, Tuan.”
“Kenapa kamu minta maaf? Apakah kamu berpikir aku marah karena hal itu?”
Suara Ciel yang santai dan tenang membuat Clark tertegun di tempat seperti orang bodoh. Kembali berdiri, dia menggaruk kepalanya dengan ekspresi ragu.
“Aku memang marah, tetapi bukan karena kamu ingin membeli budak.” Ciel menatap Clark dengan ekspresi dingin. “Kamu itu salah satu pemimpin prajurit di medan perang. Jika ingin beli, beli saja! Kenapa harus bertingkah mencurigakan? Itu mencoreng nama baik barisan ksatria.”
“Tapi … bukankah itu memalukan, Tuan?” Clark tampak malu.
“Kenapa harus malu? Ikuti aku.” Ciel berkata dingin.
Keduanya berjalan beberapa saat dan akhirnya melihat bangunan besar, Wild and Happy Life. Pada saat itu, kebetulan ada pedagang paruh baya yang keluar dari tempat itu. Di belakangnya, ada iblis cantik yang mengikuti. Ya … pria itu membeli budak.
“Lihat itu? Mungkin dia terlihat bodoh karena mengangkat kepala tinggi dengan bangga. Paling tidak, orang itu percaya diri.” Ciel berkata santai. “Bagaimana aku harus bilang? Tidak perlu malu ketika membeli budak. Lagipula, itu hal yang wajar. Biasa saja.”
Biasa saja?
Sudut bibir Clark berkedut. Pada umumnya, seseorang yang membeli budak akan malu atau bangga. Seseorang yang melakukannya dengan nada biasa saja sangat jarang. Menurut Clark sendiri, Tuannya cukup aneh. Melakukan semuanya, bahkan membunuh banyak orang dengan tatapan biasa saja, Clark yakin kalau Tuannya memiliki penyakit mental akut.
__ADS_1
“Kenapa kamu melamun dengan ekspresi konyol? Ikuti aku.”
“Baik, Tuan.” Clark buru-buru menjawab.
Memasuki tempat itu, Clark dan Ciel disambut dengan ramah. Ciel melihat sosok pria paruh baya bulat yang tidak asing.
“Norwen.” Ciel berkata santai.
Mendengar ucapan Ciel, sosok Norwen, pemilik Wild and Happy Life datang mendekat. Tampak agak ragu, dia bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Antar kami ke tempat para budak.”
“Anda …” Sadar dan tidak asing dengan suara Ciel, Norwen yang menyadari identitasnya terkejut. Namun sebagai seorang professional, dia langsung membungkuk sopan. “Silahkan ikuti saya, Tuan-tuan.”
Mengikuti Norwen, Ciel dan Clark akhirnya sampai di ruang bawah tanah di mana para budak diperdagangkan.
Melihat para budak dengan paras cantik, Clark menjadi lebih bersemangat. Meski Ciel sendiri tidak terlalu suka jika bawahannya kecanduan wanita, dia lebih memilih itu daripada seorang bawahan yang tak memiliki motivasi untuk berkembang. Pemuda itu memeras bakat Clark, walau dengan cara yang kurang baik.
“Jangan terlalu bersemangat, Clark.”
Ciel berkata tanpa daya. Namun Clark kelihatannya seperti seseorang yang pertama kali datang ke kota. Menoleh ke kiri dan kanan dengan ekspresi gugup sekaligus bersemangat. Sama sekali tidak mendengar ucapan Ciel.
“Ngomong-ngomong … kali ini anda mencari apa, Pangeran Luciel?”
Norwen berkata dengan ekspresi hormat.Lagipula, Ciel adalah pelanggan besar bagi dirinya. Memuaskan pelanggan semacam itu adalah kewajiban jika menginginkan lebih banyak keuntungan di masa depan.
“Aku mengantar orang ini.” Ciel menunjuk ke arah Clark. “Tolong tunjukkan bagian budak dari ras Centaur. Ya … para Centaur wanita.”
Mendengar itu, Norwen memandang ke arah Clark dengan ekspresi aneh tetapi langsung merubahnya dengan senyum profesional. Setelah mengingat sesuatu, dia tiba-tiba minta maaf.
“Maaf, Tuanku. Budak Centaur wanita telah sold out, belum ready stok. Bagaimana kalau yang lain?”
Melihat Norwen yang berbicara dengan nada penjual di dunia Ciel sebelumnya, sudut bibir pemuda itu berkedut. Dia ingin mengutuk, tetapi bisa menahan diri dengan baik. Namun ketika melihat sosok Clark, sekali lagi sudut bibirnya bergerak-gerak.
Clark berdiri mematung di tempat dengan senyum konyol di wajahnya. Senyum bahagia masih jelas di bibirnya, tetapi …
__ADS_1
Tatapan yang menggambarkan kalau seluruh harapannya telah sirna.
>> Bersambung.