
Beberapa waktu kemudian, di hutan yang tidak terlalu jauh dari desa yang disebutkan.
“Kenapa kita harus berhenti di sini, Tuan?”
Mendengar Clark yang bertanya dengan ragu, Ciel menghela napas pendek lalu menatap dua Demonic Beast miliknya.
“Deschia dan Pelican raksasa harus bersembunyi di hutan terlebih dahulu.”
“Kenapa?” Clark memiringkan kepalanya dengan ekspresi konyol.
“Tidakkah kamu melihat bagaimana orang-orang yang menggigil ketakutan di Kota Green Oak? Aku tidak ingin membuat keributan yang tidak perlu. Melakukannya dengan santai dan tenang … hal itu lebih baik.”
“Bukankah lebih baik muncul seperti tadi, Pangeran Ciel? Jika saya jadi anda, saya akan selalu muncul dengan gaya seperti itu. Tampak mendominasi … mengejutkan banyak orang.” Ferel memejamkan mata, membayangkan jika dirinya adalah Ciel.
“Saya rasa Pangeran Luciel benar. Meski bukan pewaris kepala Keluarga Raevern, sebagai putra Duke, saya juga diperlakukan secara berlebihan, dan … itu agak menjengkelkan.” Savian menggeleng ringan.
Hutan tempat mereka mendarat merupakan hutan kecil dengan pepohonan yang relatif jarang. Itu sebabnya, tidak ada sosok Demonic Beast yang terlihat. Bahkan jika ada, paling-paling berada di level 1 atau 2. Kehadiran Deschia dan Pelican raksasa saja udah menakuti mereka.
“Kalau begitu kita pergi.”
“Baik,” jawab ketiga orang itu secara bersamaan.
Dari bagian dalam, Ciel dan ketiga oran lainnya pergi menuju area pinggir hutan. Pada saat itu, mereke berhenti ketika mendengar suara gemericik dari semak. Suara itu sangat samar, tapi Savian yang paling lemah bahkan bisa mendengarnya.
“Clark …” Ciel berkata dingin.
Mendengar ucapan Ciel, Clark langsung mengambil tombaknya. Bergegas ke depan tanpa ragu, bahkan terlihat cukup ceroboh. Melihat itu membuat Ciel dan dua orang lainnya menggeleng ringan.
Clark terlalu menyepelekan lawannya. Bahkan, seekor singa harus berburu kelinci dengan sekuat tenaga. Melihat punggung si kadal bersayap, Ciel diam-diam memutuskan.
Aku akan melatih Clark lebih keras setelah kembali.
Tidak tahu pelatihan apa yang akan menantinya kembali, Clark masih terlihat agak sombong ketika menghancurkan semak dengan tombaknya. Ketika beberapa tanaman disingkirkan, pemandangan di baliknya membuat Ciel dan lainnya agak heran.
Di sana terlihat seorang wanita cantik dengan pakaian kasar yang meringkuk ketakutan. Tanpa menunggu Ciel memerintah, Clark yang tidak menghargai kecantikan selain dari ras Centaur langsung menyeret wanita itu dan membawanya mendekati Ciel.
“Tidak! Tidak! Tolong … Tolong lepaskan saya!”
“Lepaskan dia, Clark.”
Mendengar perintah Ciel, Clark dengan santai melepaskan wanita itu. Setelah diperhatikan, wanita itu terlihat agak menarik. Kulit kecoklatan, bagian depan dan belakang yang cembung, ditambah wajah cantik serta polos khas wanita desa … itu memang cukup menarik.
“Apakah kamu warga dari desa di sekitar sini?”
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban pun Ciel sebenarnya tahu. Wanita itu adalah warga desa terdekat. Dari keranjang kecil di tangannya berisi beberapa buah, sayur, dan jamur liar juga bisa menjelaskan lebih detail tentang situasinya.
“T-Tolong … tolong jangan sakiti saya …”
Wanita itu menutupi dadanya dengan kedua tangan, meringkuk dengan ekspresi ketakutan. Bahkan matanya terlihat mulai berkabut.
Merasa diperlakukan seperti preman yang suka menculik dan memperlakukan wanita dengan buruk, sudut bibir Ciel berkedut.
“S-Saya sudah menikah. S-Saya … saya sudah tidak bersih lagi. Bangsawan seperti tuan-tuan pasti tidak akan menyukai tubuh kotor saya.”
“...”
Melihat bagaimana wanita itu mulai berkicau tidak jelas karena ketakutan, Ciel mengerutkan kening. Dia kemudian menatap ketiga orang di sisinya.
Clark tampak melamun dengan wajah kosong. Savian tampak tidak terlalu tertarik. Sedangkan Ferel … si gempal itu benar-benar memasang wajah mencurigakan. Hal itu membuat Ciel merasa tertekan.
“Jangan pasang wajah menjijikkan seperti itu, Ferel! Juga, kamu …” Ciel menatap wanita yang duduk di tanah dengan ekspresi dingin. “Kami sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hal-hal yang sedang kamu pikirkan. Antar saja kami menuju desa, lalu kamu boleh pergi.”
“Benarkah???” Wanita itu menatap Ciel dan ketiga orang lainnya dengan ragu.
“Jika ingin melakukannya, memangnya kamu bisa menolak?” Ciel berkata tak acuh. “Bahkan kamu tidak memiliki kekuatan untuk berdiri. Tidak lebih dari daging yang siap disantap.”
Mendengar ucapan Ciel, wanita itu menunduk malu. Apa yang dikatakan pemuda di depannya memang benar. Bukannya dia tidak ingin melarikan diri, tetapi karena ketakutan, wanita itu bahkan tidak bisa berdiri.
Sosok Lizardmen di belakangnya membuat wanita itu sangat ketakutan. Tidak hanya itu, dia merasa sosok tampan Luciel yang kelihatannya paling lemah (karena tidak bisa merasakan aura yang terpancar darinya) adalah pemimpin ketiganya. Dengan kata lain, sosok yang paling berbahaya!
“A-Apakah anda bangsawan, Tuan?”
“Apakah aku bangsawan atau tidak, itu tidak penting. Tugasmu hanya mengantar kami ke desa. Lebih baik tidak terlalu penasaran.” Ciel berkata dengan nada tak acuh.
Melihat bagaimana Ciel dan beberapa orang lainnya benar-benar tidak berniat melakukan hal yang buruk, wanita itu menghela napas lega. Dengan ekspresi agak malu, dia akhirnya berkata.
“S-Saya tidak keberatan, Tuan. Namun … bisakah anda menunggu sebentar?”
“Kenapa?” Ciel mengangkat alisnya.
“S-Saya tidak bisa menggerakkan kaki saya.”
“...”
Tempat itu langsung menjadi sunyi.
...***...
__ADS_1
BRUAK!!!
Dalam sebuah rumah kayu tua dan agak bobrok di pinggir desa, tampak sosok lelaki kurus yang terlempar lalu menghancurkan meja dan kursi. Tidak jauh dari sana, terlihat sosok empat orang dengan pakaian ksatria. Selain mereka, terlihat seorang lelaki gempal dengan pakaian bangsawan yang memiliki ekspresi angkuh di wajahnya.
“Aku sudah bilang, Ralph. Kamu harus segera membayar hutangmu. Jika kamu tidak ingin nyawa kecilmu menghilang dan pertanian bobrok milikmu diambil kembali, kamu harus segera melunasinya!”
“Bagaimana mungkin kami bisa melunasinya ketika panen dan penjualan kami menurun, sementara kamu terus menaikkan bunga! Kamu sudah menyalahgunakan kekuasaan milikmu, Boris!”
“Lancang! Serangga sepertimu benar-benar berani memanggil nama yang mulia satu ini.” Boris mendengus dingin. “Apa yang kalian tunggu? Haruskah aku memerintah ini dan itu agak kalian mengerti!”
Mendengar Boris yang marah, keempat ksatria langsung mendekati Ralph lalu memukuli lelaki kurus itu sampai hitam dan biru. Melihat bagaimana Ralph tidak bisa langi bangkit, suara dingin kembali terdengar.
“Cukup. Serangga ini … beri dia kesempatan untuk membayar hutangnya.”
“Hentikan!”
Pada saat itu, sosok wanita memasuki rumah lalu bergegas ke arah Ralph yang berbaring di lantai dengan tubuh berlumuran darah.
“Sayang … apakah kamu baik-baik saja, Sayang?” tanya wanita itu dengan ekspresi khawatir.
“Kenapa kamu tetap kembali setelah melihat keributan. Seharusnya kamu kembali nanti, Catherine.”
Menatap sosok Catherine, mata Boris berbinar. Dia kemudian mendengus dingin.
“Suamimu memiliki banyak hutang. Jika tidak membayar, kami terpaksa harus mengambil nyawanya dan menyita kembali lahan miliknya. Namun …” Boris memandang tubuh Catherine lalu menjilat bibirnya. “Jika kamu mau bekerja di kastil sebagai maid, aku tidak keberatan memberi keringanan untuk suamimu.”
“Saya-”
Sebelum bicara, suara marah Ralph terdengar.
“Jangan hiraukan ucapan orang itu, Catherine. Jangan kira aku tidak tahu yang kamu inginkan selama ini, BORIS!!!”
“Serangga ini!”
Boris menggertakkan gigi ketika memandang Ralph dengan niat membunuh. Sebelum dia memberi perintah, suara lain terdengar dari luar rumah.
“Ada apa ini? Kelihatannya cukup ramai?”
Suara ceroboh Ferel terdengar. Beberapa saat kemudian, tiga sosok memasuki rumah. Mereka adalah Ferel, Savian, dan Clark. Boris yang melihat mereka hendak mengatakan sesuatu, tetapi saat itu aroma anggur yang manis dan lembut tercium. Semua orang langsung menoleh ke sumbernya.
Di dekat rak yang berisi beberapa botol anggur, sosok pemuda tampan bersandar di rak. Tidak ada yang tahu kapan dia datang, kelihatannya muncul begitu saja. Pemuda tampan itu menuangkan anggur ke dalam cawan kecil lalu menyesapnya.
Mengabaikan tatapan semua orang, dia memejamkan matanya lalu mengangguk ringan.
__ADS_1
“Anggur ini … sama sekali tidak buruk.”
>> Bersambung.