
Setelah petir hitam di sekeliling Theo menghilang, dia membuka matanya. Melihat sang tuan menepuk punggungnya dengan lembut, Theo terkejut. Kemudian, seluruh ingatan tentang pertarungan yang terjadi sebelumnya masuk ke dalam otaknya. Dia memegangi kepala dengan ekspresi kesakitan.
Sadar dan mengingat semua yang terjadi, Theo tampak sangat terkejut. Dia sendiri telah mendengar apa yang harus dilakukan Lycan muda sewaktu kebangkitan. Namun karena takut berbahaya, Theo ingin ibunya menghentikan dirinya. Tidak terlalu khawatir bahkan jika dirinya ‘cacat’. Yang terpenting, sang ibu baik-baik saja.
Theo tidak menyangka, tuannya bena-benar membantunya dalam kebangkitan. Bukan hanya itu, dia merasakan ada kekuatan aneh yang menyatu dan berubah dalam dirinya. Kemungkinan besar itu adalah kekuatan tuannya. Melihat luka di telapak tangan Ciel yang hampir sembuh, Theo merasa ingin menangis.
“Tuan … saya-”
“Theo, coba perlihatkan sihir yang baru saja kamu kuasai.”
Melihat Ciel berhenti memeluknya, Theo agak linglung. Dia kemudian melihat tatapan Ciel yang diarahkan kepadanya. Ekspresi Theo menjadi lebih serius. Dia mengangkat tangan kanannya, kemudian petir kecil berwarna hitam menari di tangannya.
Benar saja, skill bawaannya bermutasi … lebih tepatnya berevolusi.
Ciel yang mempelajari banyak hal dari gurunya tidak ingat kalau sebuah skill bawaan bisa berevolusi. Yang dia ketahui, ada beberapa cara jahat yang bisa dilakukan untuk mendapat skill bawaan lain. Seperti Jean yang telah mendapatkan skill Entomancer karena sebuah percobaan.
Lalu … apakah itu karena ritual kebangkitan?
Ciel bertanya-tanya dalam hatinya. Dia merasakan sebuah ikatan aneh dengan Theo. Meski awalnya telah membuat kontrak darah, sekarang pemuda itu merasa kalau dirinya dekat dengan Theo.
“Hubungan darah?” gumam Ciel. Menggeleng ringan, dia kemudian berkata, “Cukup.”
Theo menghentikan gerakannya. Setelah agak ragu, dia tidak bisa tidak bertanya.
“Tuan, kenapa saya merasa ada perubahan dalam sihir saya?” tanya Theo dengan ekspresi berhati-hati.
Aku sendiri tidak terlalu mengerti. Mungkin itu karena darahku?
Ciel bertanya-tanya dalam hatinya. Biasanya, jika darah yang berbeda diinjeksikan ke tubuh makhluk lain, jika itu sedikit … itu tidak akan terlalu berpengaruh. Jika terlalu banyak, itu akan menjadi racun dan membuat tubuh tidak seimbang. Ya … itu jika langsung diinjeksikan ke saluran darah.
Sedangkan jika dimakan, biasanya tidak memperngaruhi apa-apa. Kecuali darah mengandung racun, baru orang yang memakannya akan keracunan. Namun kondisi Theo benar-benar berbeda dari biasanya. Jadi Ciel yakin, itu karena darah yang dia berikan ketika Theo hampir menyelesaikan kebangkitan.
Jika darah dan dagingku benar-benar bisa membangkitkan kekuatan seseorang …
__ADS_1
Ciel tiba-tiba bergidik ngeri. Dia takut dirinya akan menjadi ‘Biksu Tang’ dalam cerita perjalanan ke barat. Dianggap sebagai tonik para siluman, selalu diburu siang dan malam. Belum lagi, Ciel juga mengerti kalau di dunia ini, para iblis lebih gila daripada siluman dalam cerita itu.
“Theo, kamu harus merahasiakan apa yang terjadi kali ini.” Ciel kemudian memandang ke arah Jenny. “Kamu juga harus merahasiakan ini, Jenny.”
“Baik, Tuan.” Theo berkata dengan patuh.
Jenny yang melihat ekspresi serius Ciel juga mengangguk. Wanita itu memiliki pemikiran lain. Dalam benaknya, jika orang-orang lain tahu Theo memiliki sihir yang mirip dengan Ciel, mereka jelas akan cemburu dan membuat Theo dalam bahaya.
Bukan hanya itu, Jenny berpikir kalau Ciel memperlakukan Theo seperti keluarganya sendiri. Meski usia Ciel hanya tiga atau empat tahun lebih tua dibanding Theo. Di mata Jenny, Ciel terlihat begitu dewasa dan benar-benar seperti ayah angkat bagi putranya.
Ciel tentu saja tidak menyadari apa yang sedang di pikirkan Jenny. Dirinya sibuk mengawasi sekitar. Meski gerakan yang Theo lakukan cukup menarik perhatian, setelah penjaga melihat Ciel, mereka langsung kembali ke pos masing-masing. Benar-benar tidak berani mengganggu apa yang dilakukan tuan mereka.
Melihat kalau yang mengawasi mereka hanya Isabella yang bersembunyi dalam bayangan malam dan Elena yang mengamati dengan mata tajam dari kejauhan, Ciel menghela napas panjang.
Syukurlah. Aku tidak perlu membungkam orang dan menambah jumlah pembunuhan.
Jika orang-orang tahu apa yang Ciel pikirkan, mereka pasti akan menganggapnya agak gila dan terlalu berhati-hati. Hanya karena takut sedikit berita bocor, Ciel benar-benar rela membunuh beberapa orang. Bahkan yang tidak sengaja mendengarnya.
“Theo, kamu harus menyembunyikan sihirmu dan hanya menggunakannya di saat genting. Untuk pelatihan sihir, aku akan mengajarimu secara pribadi di waktu senggang.”
The memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung, tetapi segera menjawab, “Baik, Tuan.”
Ciel memahami kebingungan Theo. Lagipula, biasanya seorang tutor akan lebih mudah mengajari murid dengan sihir yang cukup mirip. Meski ada beberapa tutor yang bisa mengajar lintas elemen, pemahaman mereka tentang sihir elemen lain agak kurang baik.
Sebagai jawaban untuk keraguan Theo, Ciel mengangkat tangan kirinya. Petir hitam muncul di sekitar tangan. Terlihat begitu halus sekaligus kejam, seolah ular yang menari dan siap menyerang mangsanya.
Melihat tatapan Theo tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, Ciel mengangkat sudut bibirnya.
“Sebagai keturunan Keluarga Dawnbringer, tentu saja aku harus memiliki petir hitam, kan?” Ciel terkekeh.
Melihat Ciel, Theo terus mengangguk dengan ekspresi bersemangat. Bocah itu tidak menyangka kalau tuannya selama ini masih menyembunyikan sihir lain.
Sihir gravitasi, sihir api, sihir es … sekarang tuannya berkata kalau ternyata memiliki sihir petir yang kuat dan cepat.
__ADS_1
Melihat Theo yang terkagum-kagum, Ciel berhenti. Dia kemudian segera memberi perintah.
“Kamu pasti lelah. Segera kembali bersama ibumu dan beristirahat.”
“Baik, Tuan”
Setelah semua selesai, semua orang kembali ke tempat masing-masing untuk beristirahat.
...***...
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa, sudah memasuki bulan tiga musim semi.
Ciel yang duduk di kantornya sendirian membaca sebuah laporan dengan ekspresi yang tenang. Tatapannya terlihat begitu tajam dan berbahaya. Meletakkan laporan, Ciel menghela napas panjang.
Dalam waktu ini, tidak banyak hal yang terjadi. Semua yang Ciel atur telah berjalan dalam posisi yang tepat dan mantap. Kekuatan dalam militer maupun ekonomi berkembang cepat sampai-sampai bisa dirasakan dampaknya.
Namun, laporan … lebih tepatnya surat yang dikirim oleh Savian kali ini membuat Ciel sangat serius. Apa yang ditunjukkan oleh Savian kepadanya adlah pergerakan Marquis Bathory akhir-akhir ini.
Belum lagi, bukti kalau Marquis Bathory terlibat dengan Curses of Shadow telah ditembukan oleh Savian. Tentu saja, Savian melaporkannya tidak hanya kepada Ciel, tetapi juga kepada Duke Raevern.
Ciel dan Duke Raevern setuju untuk tidak membuat gerakan, membiarkan Marquis Bathory tidak curiga kepada mereka. Dalam rencananya, Ciel berniat untuk melakukan gerakan saat masuk ke bulan pertama musim panas.
Hanya saja, gerakan Marquis Bathory kali ini benar-benar semakin mencurigakan dan meresahkan. Menunggu satu bulan kemudian, Ciel dan Duke Raevern takut hal buruk terjadi dan malah terlambat. Jadi … keduanya bersiap untuk melakukan pengepungan.
Ciel memejamkan matanya. Dia sudah mempersiapkan banyak hal untuk perang ini. Hanya saja, entah kenapa dia merasakan suatu pertanda bahaya.
Memejamkan mata, Ciel mengingat kekalahannya sewaktu melawan Aragil. Waktu itu, dia sama sekali tidak bermain serius. Selain menahan level, dia juga menahan banyak sihir yang dia ketahui. Karena kecerobohan dan terlalu menganggap remeh musuh, dia akhirnya kalah.
Membuka matanya, Ciel tampak begitu tenang dan dingin.
“Apapun halangan yang menghadang, misi ini harus sukses.”
>> Bersambung.
__ADS_1