
“Kenapa Ibunda tersenyum seperti itu? Apakah ada hal yang membahagiakan, Ibunda?”
Lilia yang hendak kembali ke kamar terhenti ketika melihat ibunya duduk di ruang keluarga sambil memegang sebuah surat. Wanita itu tersenyum dengan ekspresi bahagia seolah telah memenangkan lotere.
“Hehehe … Ini laporan tentang Ciel kecil. Apakah kamu penasaran, Lilia?”
Mendengar nama ‘Ciel’, Lilia mengerutkan kening. Dia masih belum menerima kenyataan kalau kakaknya itu seorang jenius. Bahkan gadis itu merasa kalau laporan itu terlalu dibuat-buat.
“Kaisar telah tiba!”
Suara ksatria yang menjaga gerbang Istana Utara mengagetkan Lilia dan ibunya. Sebenarnya, Istana Kekaisaran juga dibagi menjadi beberapa bangunan. Selain bangunan istana utama, ada tiga istana tempat tinggal para istri Kaisar. Istri pertama tinggal di Istana Barat. Istri kedua tinggal di Istana Timur. Sedangkan Istri ketiga tinggal di Istana Utara.
Selain ketiga istri, keturunan mereka juga tinggal di istana itu. Untuk Kaisar sendiri, biasanya dia tinggal di istana utama. Seorang istri akan tinggal di istana utama setiap satu minggu, bergantian sesuai urutan. Sangat jarang Kaisar pergi ke istana tempat tinggal istri kecuali ada keperluan mendesak.
Pintu Istana Utara terbuka, sosok pria tampan serta gagah masuk ke dalam istana. Pria itu memiliki rambut hitam bagai tinta. Kedua iris matanya berwarna merah bagai rubi. Dia memiliki perawakan tinggi dan kekar dengan kulit putih pucat. Yang paling mencolok, orang itu memiliki delapan sayap hitam di punggungnya.
Dia adalah Kaisar di Kekaisaran Black Sun, Julius Dawnbringer.
“Selamat datang di Istana Utara, Yang Mulia.” Pasangan ibu dan anak, Lilith serta Lilia langsung membungkuk sopan.
“Angkat kepala kalian. Ini bukan urusan resmi, jadi tidak perlu begitu formal.”
“Jika anda berkata seperti itu, Yang Mulia … em, maksudku Sayang.” Lilith berkata dengan ekspresi malu-malu.
Kaisar mengangguk ketika melihat istri ketiga serta putrinya.
“Tunggu apa lagi? Lilia, tolong buatkan teh untuk ayahmu.”
“Baik, Ibunda.” Lilia mengangguk kepada ibunya. Dia kemudian membungkuk sopan kepada ayahnya sebelum pergi dari ruang keluarga.
“Silahkan duduk, Sayang.” Lilith mempersilahkan. “Apakah ada masalah sampai-sampai anda datang kemari?”
Kaisar yang baru saja duduk memandang ke arah Lilith lalu menghela napas panjang.
“Rasanya agak canggung ketika mendengarmu berbicara sopan, Lilith.” Kaisar menggeleng ringan.
__ADS_1
“Hehehe … Aku hanya malu jika terlihat terlalu manja di depan anak-anak,” ucap Lilith.
Dibandingkan dua istri lainnya, Julius sebenarnya lebih nyaman bersama dengan Lilith. Alasannya tentu saja cinta. Sebagai pewaris tahta, dulu Julius harus menerima pernikahan politik demi keuntungan Kekaisaran Black Sun. Hal itu sudah terjadi dua kali.
Pada saat dirinya berpikir itu sudah takdir seorang Kaisar Black Sun, Julius bertemu dengan Lilith. Mereka berdua saling jatuh cinta. Karena Lilith juga adalah putri dari salah satu kekaisaran terkuat di benua, ayah Julius akhirnya merestui hubungan mereka.
“Apakah kamu datang untuk menanyakan soal Ciel kecil?” tanya Lilith.
“Luciel …” menggumamkan nama itu, Kaisar mengelus keningnya.
Sebagai putra Lilith serta pangeran terakhir, Julius memang agak memanjakan Ciel. Dia juga memiliki harapan yang tinggi karena Ciel terlahir agak berbeda dan lebih tenang daripada kebanyakan anak lainnya. Namun harapan adalah harapan, terkadang melenceng dari kenyataan.
Putra bungsu yang Julius manja mengatakan kalau dirinya sendiri tidak berbakat, tidak ingin bekerja, dan ingin hidup ‘bebas’ seperti itu saja. Perkataan itu membuat sang ayah merasakan sakit di hatinya. Dia mencoba terus mendorong Ciel dengan kata-kata agar tidak menyerah seperti kakaknya, Pangeran ke-5. Namun Ciel lebih memilih menikmati hidupnya.
Seiring berjalannya waktu, banyak orang-orang di Istana Kekaisaran yang tidak puas dengan Ciel. Karena itu, pada ulang tahun ke-15 Ciel, Kaisar memutuskan mengirimnya pergi untuk memimpin suatu wilayah dan bersantai di sana.
Awalnya Kaisar berniat mengirim Ciel untuk menguasai daerah bekas seorang Count di North Duchy. Namun istri pertama dan kedua kurang setuju karena orang-orang North Duchy memihak Lilith. Mereka beralasan kalau Ciel dikirim ke North Duchy, anak itu akan terlalu dimanja dan mencemarkan nama baik Lilith.
Pada akhirnya, Ciel dikirim ke South Duchy yang netral dan tidak memihak istri manapun. Bukan hanya itu, Pangeran ke-8 bahkan diberi wilayah luas bekas milik seorang Marquis yang tanahnya subur dan kaya. Kaisar yang tidak terlalu mengetahui wilayah itu berbahaya berpikir Ciel akan bisa bersantai di sana.
“Apakah kamu baik-baik saja, Sayang?” Lilith yang melihat Julius terdiam tampak khawatir.
“Huh …” Julius menghela napas panjang. “Kalau mengetahui ini … aku pasti akan mengirimnya pergi lebih awal.”
“Eh?” Lilith memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.
“Luciel, bocah itu … dia benar-benar menipu kita.”
“Berarti …”
“Laporannya valid, bocah itu benar-benar Abyssal Angel level 5 (menengah).” Julius memandang istrinya yang bahagia dengan ekspresi rumit. “Apakah Luciel juga menyembunyikan kekuatannya darimu, Lilith?”
“Hehehe … Ciel kecil memang berbakat. Dia bahkan bisa menipu ibu yang selalu mengkhawatirkannya,” ucap Ilith dengan senyum. Sebuah senyuman yang membuat Kaisar sampai berkeringat dingin.
Uhuk! Uhuk!
__ADS_1
Berpura-pura terbatuk, Julius menatap istrinya sebelum berkata, “Ngomong-ngomong … aku mendapat banyak surat.”
“Surat apa itu, Sayang?”
“Tawaran perjodohan.”
“Hmph!” Lilith mendengkus. “Dasar tidak tahu malu! Para bangsawan itu mencoba mendekati Ciel kecil setelah dirinya menunjukkan bakat. Aku tidak sudi menikahkan CIel dengan orang seperti itu.”
“Jadi menurutmu bagaimana?” tanya Julius.
“Aku mendapat surat dari beberapa kenalan.” Lilith berkata bangga.
“Jangan-jangan …” Julius tampak kaget.
“Hehehe … Awalnya temanku menyetujuinya karena merasa tak enak kepadaku. Namun sekarang wanita itu merasa sedang memenangkan lotere. Dia bahkan ingin segera melakukan upacara pertunangan antara Ciel kecil dan putrinya.”
“Itu … luar biasa!”
Kaisar mengangguk penuh persetujuan.
...*-*-*
...
Achoo!
Ciel yang sedang duduk di atas batu besar tiba-tiba bersin. Dia memandang kejauhan, melihat gunung tinggi dengan pepohonan rimbun. Tak hanya itu, bahkan sebagian gunung tertutup awan. Itu adalah Black Cloud Mountains.
Sekarang Ciel yang telah menyelesaikan urusan pemerintahan wilayah ‘kabur’ untuk memenuhi keinginannya. Pada saat perang, pemuda itu menaiki kuda pinjaman. Karena itu dia benar-benar menginginkan tunggangannya sendiri. Ciel bahkan repot-repot pergi ke tempat berbahaya untuk mencarinya.
“Padahal tidak dingin, kenapa aku bersin? Sial! Apakah aku menjadi kurang sehat karena terlalu banyak melihat dokumen?” Ciel bergumam dengan ekspresi tidak berdaya.
Yang Ciel tidak ketahui, pada saat dia bepergian, ayah dan ibunya sedang menentukan masa depannya.
>> Bersambung.
__ADS_1