
“Ini benar-benar buruk …”
Ciel bergumam dengan ekspresi tak berdaya. Dia tidak menyangka bahwa dirinya benar-benar dipermainkan secara mental oleh dua nenek yang tidak tahu malu.
Memegang sebuah sisik dengan warna safir, Ciel turun dari puncang gunung dengan ekspresi tertekan. Awalnya dia meminta tolong kepada Starla agar membantu menyingkirkan awan itu agar dirinya bisa terbang bebas. Namun, ternyata tiga lapis awan itu terbentuk secara ajaib dan alami.
Dibodohi dua nenek … mendaki dan menuruni gunung secara manual …
Belum lagi … sekarang ada pedang yang begitu bagus dalam cincin dimensi tetapi tidak bisa digunakan.
Keterlaluan! Benar-benar keterlaluan!
Ciel meraung dalam hati. Menggeleng ringan, dia berjalan menuruni gunung dengan ekspresi lelah.
“Paling tidak, para Frost Wyvern tidak akan lagi berburu secara berlebihan dan mengacaukan wilayahku,” gumam Ciel.
Pemuda itu kemudian melanjutkan perjalanannya. Setelah bejalan sangat lama dan merasa hampir tertidur karena bosan, dia akhirnya sampai ke tempat suku Frost Wyvern berada.
Dalam goa tempat Tetua Frost Wyvern berada.
“Ternyata kamu mendapatkan persetujuan Yang Mulia, Nak.”
“...”
Apakah pak tuan ini berpura-pura bodoh? Nenek Starla jelas teman nenekku sendiri. Bukankah jelas kalau dia akan setuju?
Melihat ke arah Ciel yang memandangnya dengan tatapan seperti sedang melihat makhluk aneh, Tetua Frost Wyvern tidak bisa berkata-kata. Setelah diam dan berpikir cukup lama, dia akhirnya melanjutkan..
“Kami tidak akan berburu di lingkaran luar Blackwood Forest. Kami berjanji untuk melakukannya. Selain itu … apakah ada yang lain?”
“Aku ingin menyarankan sesuatu,” ucap Ciel.
“Katakan, Nak.”
“Aku ingin Frost Wyvern menjadi bagian dari pasukanku.”
“Ditolak!” ucap Tetua Frost Wyvern dengan tatapan dingin.
“Biarkan aku menjelaskannya dahulu.”
“Kalau begitu … jelaskan.”
“Kamu pasti mengetahui kondisi Deschia sebelum pergi dari suku dan setelah kembali sekarang. Kami, para Iblis bisa membantu kalian menjadi lebih kuat.
Juga, aku tidak berniat hanya meminta. Satu tahun … dalam satu tahun aku akan membawa sepuluh bawahanku untuk datang ke tempat ini. Mereka akan menantang duel, satu lawan satu dengan Frost Wyvern.
__ADS_1
Jika mereka menang, anggap saja mereka pantas menjadi rekan Frost Wyvern itu. Jika tidak, biarkan mereka kembali dengan kecewa.”
“Rekan?” tanya Tetua Frost Wyvern.
“Iya. Daripada menganggap kalian sebagai hewan peliharaan atau tunggangan, aku lebih suka menganggap kalian sebagai rekan seperjuangan. Karena rekan harus saling mendukung, kan?”
“Apakah kamu yakin kalau mereka tidak akan menyakiti para Frost Wyvern, Nak?”
“Tentu! Orang yang akan aku bawa adalah 10 prajurit terbaik sekaligus paling setia. Selain itu, aku akan melihat karakter mereka. Setelah menemukan kriteria yang cocok, baru aku akan membawa mereka kemari.”
“Jadi begitu …”
“Sepuluh Frost Wyvern dalam satu tahun. Jika ada orang atau pasukan lain yang datang, kalian boleh membantai mereka.”
“Aku tahu kamu tidak menipu. Jadi … aku akan menyetujui permintaanmu, Nak.”
“Terima kasih.” Ciel tiba-tiba tersenyum. “Kalau begitu … mohon bantuannya mulai sekarang.”
“Kami juga, mohon bantuannya.”
Setelah pembicaraan dengan Tetua Frost Wyvern selesai, Ciel menghela napas lega. Meski kuota per tahun tidak sebanyak pasukan elit di Royal Capital yang membuat perjanjian dengan para Griffin, paling tidak dari segi kualitas Ciel dan pasukannya tidak akan kalah.
Keluar dari goa, Ciel melihat Deschia yang dikelilingi oleh para Wyvern dengan tatapan kagum. Tidak lagi ada rasa jijik dalam mata rekan-rekannya. Lagipula, di dunia ini … yang lebih kuat lebih dihormati.
Ketika keluar dari goa, Ciel melihat sosok kecil yang berlari ke arahnya. Melihat itu, ekspresi lembut muncul di wajah pemuda itu.
Ciel memegang lalu mengangkat bayi Frost Wyvern yang seukuran anak sekolah dasar itu.
“Apakah kamu tidak takut, Anak nakal?”
Bayi Frost Wyvern ini memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Dia mala menjulurkan lidah lalu menjilat tangan Ciel.
“Dasar …”
Merasakan geli di tangannya, Ciel tersenyum. Pada saat itu, suara geraman terdengar. Menoleh ke sumber suara, dia melihat Deschia yang mendekat dengan tatapan tidak puas.
“Aku sudah selesai mengurus semuanya, Deschia. Apakah kamu ingin tinggal di sini sementara atau kembali?”
Ciel meletakkan kembali bayi Frost Wyvern lalu memandang Deschia. Melihat Black Wyvern yang ingin segera pergi, dia mengangguk ringan.
“Kalau begitu kita berpamitan lalu segera pergi. Eh?”
Melirik ke bawah, Ciel melihat bayi Frost Wyvern yang menggigit pakaiannya. Kelihatannya enggan untuk berpisah dengannya.
“Kelihatannya anak itu ingin mengikuti kamu, Nak Luciel. Bawa dia kembali dan buat dirinya melihat dunia. Tentu saja … kamu harus menjaganya baik-baik.”
__ADS_1
Mendengar suara Tetua Frost Wyvern, Ciel kaget. Dia tersenyum sebelum mengangguk. Pemuda itu kemudian menggendong si bayi kecil karena belum bisa terbang dengan baik.
Melihat bayi Frost Wyvern di tangannya, Ciel tiba-tiba mengingat sesuatu.
“Kelihatannya Eve akan senang karena mendapat teman baru.”
Naik ke punggung Deschia, Ciel berpamitan dengan para Frost Wyvern sebelum akhirnya pergi meninggalkan Frozen Cloud Mountains.
Segera kembali ke Kota Black Lily!
...***
...
Sekitar tiga belas hari kemudian, Kastil Black Lily.
Ciel akhirnya tiba. Hanya saja, katika sampai di kastil dia merasa ada beberapa kekurangan. Lebih tepatnya, beberapa orang tidak ada di kastil.
“Apa kamu bilang? Ariana dan yang lainnya pergi menuju ke Royal Capital? Kenapa?”
Melihat ekspresi Ciel yang bingung, Jenny mencoba segera menenangkannya. Dia kemudian memberikan dua surat. Yang satu dari ibu Ariana yang telah dibuka, yang lainnya adalah surat resmi dari Kaisar Julius yang masih tersegel utuh.
Karena surat yang pertama memang ditunjukkan kepada Ariana, Ciel sama sekali tidak marah karena dibuka terlebih dahulu. Namun setelah membaca surat untuk Ariana dan membaca surat dari ayahnya, ekspresi pemuda itu menjadi dingin.
“Siapa saja yang pergi dengan Ariana?” tanya Ciel dengan tenang.
“Rombongan kecil yang terdiri dari Putri Ariana, Eve, Isabella, Flora, dan Fiona.”
“Karena Eve ikut, seharusnya tidak akan ada ancaman sama sekali. Namun … aku harus segera pergi menyusul mereka.”
“Apakah anda tidak akan beristirahat terlebih dahulu, Tuan?” tanya Jenny dengan ekspresi agak cemas.
“Tidak.” Ciel menggeleng ringan. “Aku minta maaf kepada kalian, tetapi aku harus segera pergi.”
“Tidak apa-apa. Pastikan keselamatan anda.”
Ciel memeluk Jenny, Camellia, dan Elena sebentar. Dengan ekspresi menyesal di wajahnya, pemuda itu berkata.
“Aku berangkat.”
Naik ke punggung Deschia, mereka segera pergi menuju ke arah Royal Capital. Karena Ariana dan lainnya baru berangkat tiga hari yang lalu, Ciel berharap masih bisa menyusul mereka.
Selain itu, apa yang membuat Ciel gugup adalah surat dari ayahnya. Jika diringkas menjadi satu kalimat, surat itu mengatakan bahwa …
Nyawa Ratu Elizabeth dalam bahaya!
__ADS_1
>> Bersambung.