
Sore hari dalam bangunan dekat danau.
“Jadi dulu kalian membohongiku?”
Ciel yang sedang duduk di kursi malas bertanya kepada Flora dan Fiona yang berdiri tidak jauh darinya. Sedangkan Ariana, gadis itu terlihat duduk di tepi bangunan. Duduk bersandar di pilar sambil memberi makan ikan.
Melihat tunangannya sudah kembali tenang, Ciel merasa lega. Namun dia tidak bisa tidak mengingat si kembar yang pernah mengaku sebagai anak Marquis dari Kerajaan Black Star. Pemuda itu paling tidak senang ketika seseorang membohonginya.
“K-Kami tidak berani.”
Flora menjawab dengan gugup. Sementara itu, Fiona terus menunduk. Kakinya gemetaran, jelas ketakutan. Mereka tidak menyangka kalau orang yang tanpa sengaja menyelamatkan mereka adalah tunangan tuan mereka.
“Tidak berani?” Ciel memiringkan kepalanya dengan ekspresi bosan.
“Sayangku … tolong jangan terlalu kasar kepada mereka.” Suara Ariana yang tenang terdengar. Sesaat kemudian, gumaman lain terdengar. “Tidak … apakah itu permainan paksaan dan dominasi seperti dalam buku yang aku baca? Permainan sandiwara sebelum permainan yang sebenarnya?”
Ciel yang mendengar gumaman Ariana langsung terdiam. Sudut bibirnya berkedut. Dia langsung mengeluh dalam hati.
Sial! Sebenarnya buku macam apa yang kamu baca, Ariana!
“T-Tuan …” Flora dengan ragu memanggil.
“Ada apa?”
“J-Jika memang ingin melakukannya. Bisakah kita melakukannya di dalam ruangan? S-Saya rasa di tempat terbuka agak terlalu berlebihan. Ini … Ini juga pertama kalinya bagi kami.” Flora menjelaskan dengan suara rendah. Wajahnya tampak semerah apel. Benar-benar tampak sangat malu.
Sial! Bahkan si kembar ini …
Memangnya kalian pikir aku ini apa? Ayam, domba, sapi, atau kuda? Meski memiliki pikiran ‘agak’ kotor, aku masih memiliki etika!
Ciel kembali mengeluh. Diam-diam pemuda itu berpikir kalau kehidupannya terus seperti ini, lambat laun dia pasti akan stress dan terkena tekanan mental.
“Berhenti mengatakan omong kosong. Jelaskan saja latar belakang kalian … yang sesungguhnya.”
“K-Kami sebenarnya tidak berbohong, Tuan. Kami berdua memang putri seorang Marquis. Hanya saja … kami putri tidak sah. Bukan dari istri atau selirnya.
Kami … anak seorang petani biasa.
Lebih tepatnya, seorang putri kepala desa yang dipaksa oleh orang itu.”
Mengatakan kalimat terakhir, Flora menggertakkan gigi. Bahkan Fiona yang biasanya malu-malu juga terlihat marah dan benci.
“Bukankah kalian seharusnya tinggal di desa?” tanya Ciel.
“Pada saat kami berusia 7 tahun, kami membangkitkan bakat bawaan kami yang bisa dibilang lumayan … setara dengan rata-rata bangsawan.
Kemudian orang-orang Marquis membawa kami dengan paksa, bahkan membunuh ibu kami yang mencoba menghalangi mereka.”
Nada bicara Flora semakin berat. Aura penuh kebencian dari kedua gadis itu semakin kental dan terasa. Hal itu membuat Ciel mengerutkan kening.
__ADS_1
“Orang itu berniat membesarkan kami untuk dijual ke putra bangsawan sebagai istri atau paling tidak selir. Jika tidak ada yang tertarik … dia berkata akan menaruh kami ke dalam rumah bordil yang dia miliki untuk melayani bangsawan atau saudagar kaya.
Namun baru beberapa hari di kediaman orang itu, tiba-tiba kami terselamatkan. Putri Ariana sedang mencari teman bermain. Meski hanya kebetulan, kami terpilih dan akhirnya menjadi budak Putri Ariana.
Meski sekarang seperti itu, Putri Ariana sama sekali bukan orang jahat! Anda harus mempercayai itu, Tuan!”
“Cukup.” Ciel menggeleng ringan. “Sekarang, bisakah kalian jelaskan hal yang kalian ketahui tentang Pangeran ke-2 Kerajaan Black Star.”
“Itu …” Flora dan Fiona saling memandang. Terlihat ketakutan.
Kelihatannya orang itu benar-benar tidak sederhana …
Ciel menghela napas dalam hatinya. Melihat ekspresi keduanya sudah membuktikan kalau lawannya jelas sosok yang berbahaya. Dia hanya bisa memikirkan sesuatu sambil menutup matanya. Namun, suara kembali terdengar di telinganya.
“K-Kami akan menceritakan hal yang kamu ketahui, Tuan.”
Melihat keduanya tampak membulatkan tekad, Ciel mengangguk. Dia cukup senang karena dua gadis itu mau bercerita. Pemuda itu bahkan tersenyum kepada keduanya.
“Sebenarnya …”
Flora menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
...***...
Keesokan harinya, Ciel yang berpikir harinya akan sedikit senggang tiba-tiba dipanggil oleh ibunya untuk berbicara empat mata.
Ugh! Waktuku di Istana Utara tanpa sadar hampir habis. Sudah hampir satu minggu. Setelah itu, aku harus segera kembali.
Datang ke ruang rapat, Ciel melihat Ratu Lilith yang sedang duduk di kursinya dengan ekspresi tenang. Hal itu membuatnya agak khawatir. Ibunya biasanya lebih aktif dan bersemangat. Jika terlihat tenang, jelas beliau sedang dalam mode serius.
“Duduk.”
Mendengar ucapan Ratu Lilith, Ciel langsung duduk dengan patuh. Meski levelnya sekarang sama dengan ibunya dan memiliki bakat bawaan lebih kuat, dirinya tidak berani untuk tidak patuh. Pemuda itu sangat menghormati, mematuhi, dan menyayangi sosok yang melahirkannya ke dunia ini.
“Aku tidak ingin banyak bicara, Luciel. Sebagai Pangeran Kekaisaran Black Sun, kamu benar-benar lalai, tidak patuh, dan mencemarkan nama baik Keluarga Kekaisaran.
Jika kamu memang tidak memiliki bakat, itu tidak masalah. Namun … memiliki kekuatan besar berarti tanggung jawab yang besar!”
Errr … Bukankah itu ‘agak banyak’, Bu? Sekali lagi kamu mengulang kalimat yang sama!
Ciel berseru dalam hati. Namun dalam kenyataan, dia terlihat patuh dan terus mengangguk seperti ayam yang mematuk biji-bijian di tanah.
“Bagus kalau kamu mengerti.” Ratu Lilith mengangguk puas.
Bagus! Jadi ternyata sudah selesai.
Ciel menghela napas panjang. Merasa lega dan hendak pamit untuk pergi, tetapi sebuah kalimat kembali terdengar di telinganya.
“Datang kemari.”
__ADS_1
Melihat ekspresi ibunya yang serius, Ciel dengan patuh mendekat.
Ratu Lilith bangkit dari tempat duduknya lalu memilih area yang cukup luas. Dia kemudian mengusap cincin hitam di jari telunjuk kanannya. Secara ajaib, lima peti dengan panjang 1 meter, tinggi 1 meter dan lebar 75 cm muncul. Selain itu, ada sebuah peti yang berukuran setengah dari kelima peti.
“Coba buka.”
Mendengar perintah ibunya, Ciel tiba-tiba merasa gugup. Membuka peti demi peti, dia terkejut melihat tumpukan koin emas dengan pola rune aneh. Ini adalah koin yang digunakan secara universal di dunia iblis.
Bicara tentang uang. Mata uang di dunia iblis berupa koin bronze, silver, gold, dan platinum. Nilai tukarnya adalah 100 bronze \= 1 silver, 100 silver \= 1 gold, dan 100 gold \= 1 platinum coin.
Jangan bilang!
Ciel berseru dalam hati. Dia langsung mendekati peti kecil yang tampak lebih indah lalu melihatnya. Di dalamnya terdapat tumpukan koin platinum, membuat mata pemuda itu silau. Dalam kehidupannya, dia belum melihat uang sebanyak ini.
“I-Ibunda … ini?”
“Sebenarnya ini adalah biaya kehidupan dan pendidikanmu sampai dewasa. Seperti berlatih sihir, membuat ramuan, berlatih pedang, tombak, panah, mencari tunggangan, dan sebagainya.
Dengan kata lain, ini sebenarnya uang konsumsi yang harus diberikan kepada ‘setiap pangeran’ agar bisa tumbuh cepat sampai usia 17 tahun. Setelah para pangeran mengadakan upacara pertunangan resmi, baru mereka harus mulai bisa menanggung hidup mereka sendiri.
Karena kamu hidup hanya untuk makan, tidur, dan bermalas-malasan tanpa usaha … Kaisar tidak bisa memberikan uang itu.”
Ciel kemudian mengerjap. Dia bertanya-tanya, “Semua pangeran? Bahkan Pangeran ke-5?”
“Jangan meremehkan orang itu! Meski bakatnya dalam sihir atau pertempuran buruk, dia memiliki bakat yang baik dalam perdagangan. Uang yang dimilikinya sekarang bahkan beberapa kali lebih banyak daripada ‘uang wajib’ ini.”
Sial! Jadi selama ini aku diperlakukan seperti anak tiri!
Melihat ekspresi cemberut Ciel, Ratu Lilith menggelengkan kepala.
“Sebenarnya kamu sudah mendapat gantinya, kan? Sebuah wilayah luas milikmu sendiri yang puluhan kali atau bahkan ratusan kali lebih berharga daripada setumpuk uang ini.”
Memikirkan hasil panen yang bisa dikatakan melimpah dan rakyat di bawahnya, Ciel diam-diam mengangguk. Jika dia bisa mengelola wilayah dengan baik dan mengembangkannya. Satu peti koin emas dalam setahun bukan tidak mungkin.
Ya … tapi itu memakan waktu yang lama.
Ciel menghela napas panjang. Dia kemudian bertanya, “Lalu untuk apa anda memamerkan uang ini, Ibunda?”
Uhuk! Uhuk!
Ratu Lilith berpura-pura terbatuk. Dia kemudian menjelaskan.
“Alasan aku hanya berbicara denganmu karena takut kakakmu atau pangeran lain tahu dan merasa tidak adil. Sebenarnya … ayahmu menyiapkan ini untukmu.
Meski sudah diberi sebuah wilayah kaya dan makmur, dia berkata … ini kompensasi atas kasih sayang yang kurang selama tahun-tahun yang lalu.”
Mendengar penjelasan ibunya, Ciel ternganga. Dia kemudian membayangkan ayahnya yang tampak keren dan mendominasi lalu melihat tumpukan koin emas dan platinum. Pemuda itu meraung dalam hati.
Sial! Kamu benar-benar tidak bisa diandalkan, Ayah! Kamu benar-benar menyuap anakmu sendiri!
__ADS_1
>> Bersambung.