
Melihat sosok yang tersenyum di depan pintu, sudut bibir Ciel bergerak-gerak. Tangannya mengepal erat. Dia menahan diri untuk tidak memukuli orang yang menyeringai di depannya.
Ciel menahan diri karena … ada sosok yang tidak dia kenal di depannya.
Sosok itu adalah seorang gadis yang seusia dengan dirinya atau Zack. Memiliki rambut pirang bergelombang, kulih putih seperti salju, dan iris mata biru dengan pola berbentuk cross.
Meski wajahnya sedikit kurang dibandingkan dengan Ariana, gadis itu memang cantik. Tidak seperti Ariana yang meski agak pendek, bagian depan dan belakangnya begitu menonjol. Gadis di depannya sedikit lebih pendek. Sedangkan bagian depan dan belakang … datar seperti papan kayu.
“Ini?” tanya Ciel.
“Perkenalkan, Pangeran Luciel, nama saya Vexia Goldfield. Saya adalah tunangan dari Tuan Muda Zack.” ucap Vexia ketika membungkuk sambil mengangkat sedikit gaunnya. Melakukan etiket bangsawan.
Okay … dari namanya aku tahu kalau gadis kecil ini ‘kaya’.
Mendengar nama belakang gadis itu, Ciel bingung harus menangis atau tertawa. Namanya terlalu mencolok. Benar-benar mudah diingat.
“Senang bertemu denganmu, Vexia.” Ciel membalas etiket sambil tersenyum ramah.
“Ayolah, Vexia. Kamu benar-benar melupakan perjanjiannya. Kamu harus memanggilku ‘Sayang’ dengan manja, okay?” Zack berkata kepada Vexia dengan ekspresi tidak puas.
“T-Tapi Tuan Muda … itu sangat memalukan,” ucap Vexia dengan wajah merah.
Ciel menatap Zack dalam diam.
Gadis cantik, pirang, memiliki iris dengan pola unik, sedikit pendek, dan penurut.
Memikirkan kriteria itu, sudut bibir Ciel bergerak-gerak. Sahabatnya itu benar-benar agak gila. Ciel tahu kalau Zack menganggapnya sebagai rival. Hanya saja, meniru begitu saja, bahkan tentang masa depan? Itu terlalu berlebihan.
“Kalian masuk terlebih dahulu.”
“Baik.” Zack membalas dengan senyum ramah.
“Terima kasih atas keramahan anda, Pangeran Luciel.” Vexia membungkuk sopan.
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam kastil, Ciel segera menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar tamu di lantai pertama. Tentu saja, apa saja yang ada di lantai dua dan seterusnya masih tidak boleh dikunjungi.
Dalam bangunan utama kastil, selain lantai pertama yang sudah termasuk dengan kamar tamu, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang santai, dan sebagainya … lantai lain biasanya dibiarkan kosong.
Maksudnya, selain Ciel atau bawahannya yang benar-benar dia anggap setia, tidak ada yang boleh menginjakkan kaki di sana. Seperti ketika Zack datang dulu. Orang itu sama sekali tidak naik ke lantai dua atau tahu jalan menuju ruang bawah tanah.
“Karena kalian bertunangan, apakah aku perlu menyiapkan kamar yang sama?” tanya Ciel.
“T-Tolong siapkan kamar yang berbeda untuk saya, Pangeran Luciel. Saya tidak berani melanggar etiket.” Vexia berkata dengan wajah merah.
Memang, menurut peraturan, meski sudah bertunangan, biasanya bangsawan laki-laki belum boleh melakukan dengan pasangannya sebelum pesta pertunangan resmi di usia 18 tahun.
Ketika sudah berusia 15 tahun atau dianggap dewasa, karena tidak boleh melakukannya dengan tunangannya, biasanya mereka (para bangsawan laki-laki) melakukannya dengan selir atau membeli budak untuk melampiaskan.
Meski begitu, banyak yang melakukannya lebih awal dan hal itu sudah bukan rahasia. Namun, jika sudah melakukannya, tidak ada jalan untuk mundur. Berarti, pertunangan sudah tidak bisa dibatalkan.
Lagipula, pertunangan awal selama 3 tahun bisa dibilang masa ‘pacaran’ jika itu di dunia Ciel sebelumnya. Hanya saja, di dunia ini, khususnya lingkungan bangsawan, hal semacam itu lebih ketat.
Jika pasangan muda yang bertunangan melakukannya sebelum usia 18, tetapi akhirnya salah satu mencoba memutuskan pertunangan, dia akan dihukum. Dicabut gelar bangsawan miliknya, bahkan bisa dihukum mati jika pasangannya adalah bangsawan tingkat tinggi.
Kelihatannya Keluarga Goldfield masih memiliki reputasi baik. Benar-benar tidak ingin memanfaatkan putrinya untuk keuntungan pribadi.
Ciel mengangguk puas. Tidak seperti kebanyakan keluarga yang ingin memanfaatkan bangsawan tingkat tinggi seperti Duke atau bahkan Keluarga Kerajaan, sepertinya keluarga gadis itu masih cukup baik.
Setelah mengatur pelayan akan menyiapkan dua kamar, Ciel mengajak keduanya ke ruang makan. Sedangkan untuk para ksatria yang mengantar Zack, mereka semua tinggal di bangunan lain dan bukan di bangunan utama kastil. Ya … seperti pengaturan sebelumnya.
“Karena buru-buru sampai ke sini, aku yakin kalau kalian belum makan. Makan dulu, kita akan membahas yang lain setelah itu.”
“Terima kasih, Ciel.” Zack tertawa santai.
Menemani kedua pasangan yang sedang makan malam, Ciel menikmati anggur dalam diam. Selesai makan, Ciel membawa mereka berdua ke ruang santai di lantai pertama. Beberapa saat kemudian, sosok Ariana muncul menghampiri ketiganya.
Ketika Ariana datang, pakaiannya terlihat rapi. Benar-benar tidak merubah ekspresi di wajahnya. Gadis itu membungkuk sopan, “Selamat datang, Tuan Muda Flamehart, Nona Goldfield. Perkenalkan, nama saya Ariana, tunangan Pangeran Luciel”
__ADS_1
Karena Isabella terlah memberitahu Ariana tentang tunangan Zack sebelum datang, dia langsung menyapanya. Sebagai tanggapan, Zack dan Vexia membalas dengan sopan.
“Duduk.” Ciel segera berkata.
Ariana duduk di sebelah Ciel. Pada saat itu, Ariana merasakan tatapan intens yang diarahkan kepadanya. Dia melihat gadis yang merupakan tunangan Zack memandangnya dengan ekspresi aneh.
“Sekarang kamu bisa bicara. Kenapa kamu datang kemari? Tidak perlu membohongiku, orang tuaku tidak memiliki keperluan untuk mencariku.”
Zack yang ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba terdiam. Kelihatannya dia telah menyiapkan berbagai alasan dalam perjalanan, tetapi semuanya telah disangkal oleh Ciel dalam satu tarikan napas.
“Ya … sebenarnya, aku hanya ingin berkunjung.” Pada akhirnya, kalimat itu yang terucap dari mulut Zack.
Berkunjung? Bukankah kamu hanya ingin memamerkan tunanganmu? Apakah kamu harus begitu kekanak-kanakan?
Ciel diam-diam mengeluh dalam hatinya. Melihat Zack yang menggaruk belakang kepala dengan ekspresi canggung, dia menghela napas panjang.
“Kalau begitu kalian beristirahat. Kita bisa berbicara besok.”
“Tunggu, Ciel! Kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kalau kita minum anggur bersama sampai pagi?”
Melihat wajah menjengkelkan sahabatnya, Ciel akhirnya menyetujui permintaannya. Dengan lambaian tangan, satu sepuluh botol wine Green Pearl muncul. Dia kemudian berkata, “Ariana, tolong.”
Mendengar ucapan Ciel, Ariana dengan sopan mengambil satu botol dan membukanya. Dia menuangkan anggur ke cawan yang Ciel pegang. Keduanya terlihat begitu harmonis. Benar-benar sudah seperti suami-istri yang sesungguhnya.
Tidak mau kalah, Zack juga meminta Vexia untuk menuangkan anggur. Ciel dan Zack akhirnya minum sambil membicarakan beberapa hal acak yang terjadi di Kekaisaran Black Sun akhir-akhir ini. Ketika jam di dinding menunjukkan pukul setengah tiga pagi, Zack yang menghabiskan hampir empat botol wine sudah pada batasnya.
“Pergi tidur.” Ciel berkata singkat.
Karena bakat bawaannya yang menyerap energi dan kandungan gizi, Ciel sama sekali tidak mabuk. Ketika meminum anggur, yang dia rasakan adalah rasanya. Jadi, dia agak pemilih soal anggur. Tidak peduli seberapa kuat alkohol yang terkandung, yang paling penting baginya adalah rasa dan aroma.
Setelah mengantar Zack yang setengah sadar ke kamar tamu, Ciel hendak kembali ke kamar. Namun, saat itu ada yang menghalangi jalannya. Melihat sosok itu, Ciel tersenyum ringan.
“Ada yang bisa saya bantu, Nona Vexia?”
__ADS_1
>> Bersambung.