
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”
Mendengar pertanyaan Ryo, Ciel yang telah mengemasi jarahan segera menoleh dan melihat medan perang yang berantakan.
“Kita harus menmbersihkan tempat ini.”
“Di tengah badai salju?” tanya Ryo.
Merasakan angin musim dingin dan salju yang berjatuhan mengenai kulit wajahnya, sudut bibir Ciel berkedut.
“Kita tidak punya pilihan, kan? Lagipula, kita tidak bisa meninggalkan bukti.”
“Baik.”
Beberapa jam kemudian.
Melihat ke arah jalan yang kembali normal tanpa ada bekas bukti yang tersisa, Ciel mengangguk puas. Kali ini dia membakar semua bukti, sementara Ryo dan Gordon mengembalikan … lebih tepatnya menutup kembali bagian-bagian rusak.
Tempat itu akan tertutup salju di musim dingin. Sedangkan di musim semi yang akan datang, tanah dan tempat lain akan kembali padat. Lokasi kejadian menjadi bersih. Di tempat itu, tidak akan ada yang menduga kalau ada pertempuran besar yang terjadi.
Melihat salju yang semakin lebat, Ciel merasa agak bersyukur. Selain jauh dari kota, badai salju yang datang benar-benar membantu pemuda itu dan rekannya untuk melakukan aksi tanpa membuat curiga.
“Ngomong-ngomong … kenapa pewarna milikmu masih aktif sementara milikku hampir kehilangan efeknya, Ryo?” Ciel menunjuk ke rambutnya yang memiliki campuran warna perak dan hitam.
“Mungkin karena level anda lebih tinggi, jadi efeknya menghilang lebih cepat.”
“Maksud akal …” gumam Ciel dengan ekspresi agak menyesal. Dia masih menikmati perannya sebagai Gin si perampok … maksudnya, tentara bayaran.
Setelah membersihkan segala bukti, Ciel beserta Ryo dan Gordon segera meninggalkan tempat itu.
Dua hari kemudian, di luar Kota Redstone.
“Apakah anda yakin akan pergi begitu saja?”
Ryo yang baru saja keluar dari kota melewati tembok bertanya kepada Ciel. Ditambah dengan Gordon, mereka bertiga memakai jubah hitam yang menutupi seluruh tubuh. Bahkan tidak memperlihatkan wajah mereka.
Alasan Ryo pergi ke Kota Redstone adalah untuk mengantar pendant serta surat dari Ciel yang ditulis untuk Pangeran Adler.
“Tentu. Kita akan segera pergi.” Ciel sudah kembali tenang, menjawab dengan tak acuh.
“Meski dia berhutang kepada anda 2500 emas?”
__ADS_1
“...” Ciel diam sejenak. “Cincin dimensi milik Fenton lebih mahal daripada itu. Belum algi isinya.”
“Ya. Itu tidak salah. Saya hanya berpikir anda tetap akan menagih utuh tanpa diskon.” Ryo mengangkat sudut bibirnya.
Setelah menghabiskan cukup banyak waktu dengan Ciel, Ryo merasa lebih akrab dengannya. Meski pemalas, egois, dan seenaknya sendiri … Ryo tahu kalau Pangeran bungsu dari Kekaisaran Black Sun itu sama sekali tidak jahat. Lebih tepatnya, baik kepada sekutunya. Hanya saja, tingkah malasnya sudah keterlaluan.
“Mari segera pergi, Orang-orang dari Crimson Night akan menyadari surat dan hadiah yang kita tinggalkan.”
“Baik!” Ryo dan Gordon menjawab bersamaan.
Sembari mengingat apa yang dia dapat sebelumnya, Ciel dan rekannya pergi meninggalkan tempat itu. Mereka berniat untuk kembali ke Kekaisaran Black Sun. Tentu saja tidak menggunakan rute aman, tetapi langsung memotong jalan pintas.
Selain karena mereka berjalan, ketiganya ingin menaklukkan makhluk di hutan perbatasan untuk digunakan sebagai sarana berkendara.
Tujuh hari kemudian, di depan tembok Kota Crimson Dust.
Para ksatria yang sedang bertugas tampak lesu. Lagipula, banyak ksatri yang malas untuk bekerja pada saat musim dingin seperti itu. Pada saat itu, mereka melihat bayangan besar yang mendekat.
Setelah dilihat, ternyata itu adalah Demonic Beast level 4 yang berukuran sangat besar. Melayang di udara, lebar ketika sayap membentang mencapai dua puluh meter. Seluruh tubuhnya putih dengan paruh kuning yang panjang. Selain itu, ada kantung di bawah paruhnya. Ya … makhluk itu mirip dengan burung pelican raksasa.
Makhluk itu turun perlahan. Di atas punggungnya yang luas, terlihat tiga sosok berjubah hitam. Mereka tentu saja Ciel dan rekan-rekannya.
Dengan ekspresi santai, Ciel mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Di tangannya, terlihat emblem milik Keluarga Flamehart. Melihat itu, para ksatria yang waspada langsung menjadi lega. Mereka menghela napas panjang sebelum menyambut Ciel dan kedua temannya dengan ramah.
Tentu saja, Ciel juga membawa Demonic Beast baru miliknya untuk memasuki kota. Pelican raksasa itu sendiri hanya memiliki ketahanan dan tubuh yang sangat besar. Sedangkan untuk bertarung, sayangnya kurang bisa diandalkan. Namun makhluk itu cukup nyaman untuk dinaiki beberapa orang sekaligus.
Melangkah melewati gerbang kota, Ciel menghela napas panjang.
“Akhirnya kita kembali.”
“...”
Ryo hanya memandang Ciel dalam diam. Dia tahu, walau mengeluh, pangeran itu juga menikmati perjalannya. Karena daripada misi untuk membunuh, bagi Ciel … itu lebih mirip piknik.
Ciel kemudian menitipkan pelican raksasa di tempat penitipan Demonic Beast yang ada di kota. Dia dan dua orang lainnya kemudian menuju ke penginapan untuk memesan kamar selama 3 hari 3 malam.
Karena ketiganya tiba di sore hari, mereka memutuskan untuk makan bersama lalu beristirahat sampai pagi untuk memulihkan rasa letih baik fisik atau mental.
Keesokan harinya.
Ciel, Ryo, dan Gordon yang telah mandi dan mengenakan pakaian santai turun untuk sarapan. Setelah itu, Ciel mengajak dua orang lain untuk menemaninya menuju suatu tempat.
__ADS_1
Melihat rumah sederhana yang dilapisi warna putih di halaman dan gentingnya, Ciel mengangkat sudut bibirnya. Meski terlihat sederhana, rumah kecil itu masih terlihat hangat di musim dingin.
“Apakah ini rumah rekan anda, Tuanku?” tanya Gordon lirih.
“Sudah aku bilang, dalam identitas ini … panggil aku dengans sebutan Gin.”
“Saya-”
“Kamu Gord, rekan Gin dan Xan yang menjalankan misi di Kerajaan Blood Diamond.”
Melihat ekspresi serius Ciel, Gordon terus mengangguk seperti ayam yang mematuk biji-bijian.
Ciel kemudian memimpin dan mulai mengetuk pintu rumah itu.
Tok! Tok! Tok!
Setelah beberapa saat mengetuk, langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Ketika pintu terbuka, sosok yang tidak asing di mata Ciel muncul.
Gadis kecil yang membuka pintu tampak terkejut. Benar-benar merasa sedang bermimpi.
“Tuan … apakah itu benar-benar anda, Tuan?”
“Tentu saja ini aku,” jawab Ciel dengan ekspresi santai. “Bagaimana kabar kalian, Aiz?”
Gadis kecil yang telah sehat itu langsung bergegas ke arah Ciel dan melompat ke dalam pelukannya. Benar-benar seperti seorang putri yang merindukan ayahnya.
“Suara ini …”
Dari dalam rumah, langkah berat terdengar. Beberapa saat kemudian sosok pria botak dengan tubuh kekar dan ekspresi ganas keluar dari rumah.
“Ternyata itu benar-benar anda, Tuan Gin.”
“Bagaimana kabarmu-”
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Ciel melihat wajah Don. Selain bekas luka di kepala yang lama, ada bekas luka baru. Selain itu, salah satu matanya benar-benar ditutup dengan eye-patch. Melihat itu, dia menghela napas pendek.
Melihat kalau Ciel tampak kasihan kepadanya, Don malah tersenyum ramah.
“Ya … dalam perjalan pulang, banyak hal yang telah terjadi.”
>> Bersambung.
__ADS_1