
“S-Saya selesai membacanya, Tuanku.”
Ronald terlihat begitu lelah. Sementara Ciel duduk santai sambil menikmati anggur buah yang dicampur madu khas lokal, dia menghabiskan seluruh waktunya dengan membaca tumbukan kertas yang Ciel bawa.
Meski lelah, ekspresi terkejut dan kagum masih terlihat di wajahnya. Ronald menatap Ciel yang sedang menopang dagu sambil membaca buku dengan ekspresi malas. Pria paruh baya itu tidak menyangka sosok pangeran yang terlihat ogah-ogahan itu bisa membuat rencana semacam itu.
“Hm? Sudah selesai?” Ciel memiringkan kepalanya.
Pemuda itu menutup buku lalu memasukkannya kembali ke tas dimensi lalu menatap jam yang menggantung di dinding. Meski sudah sore, jelas waktu yang digunakan Ronald untuk membaca sangat singkat.
“Kamu bahkan tidak beristirahat dan membaca semuanya sekaligus?” tanya Ciel.
“S-Saya tidak berani menghabiskan banyak waktu berharga anda, Tuan.”
“Hmmm … tuangkan anggur sendiri dan minum. Kamu pasti haus.”
Ciel berkata santai. Melihat pria paruh baya itu masih diam dan menatapnya, pemuda itu tersenyum.
“Apakah aku perlu menuangkannya?” tanya Ciel santai.
“S-Saya tidak berani!” Ronald langsung menjawab. “S-Saya takut anggur anda kurang dan-”
“Jika kurang, tinggal pesan lagi. Minum saja.” Ciel berkata dengan nada tidak puas.
“S-Sesuai dengan keinginan anda, Tuan.”
Ronald langsung menuangkan anggur dan meminumnya dengan hati-hati. Dia tidak mau bertindak sembrono di depan sosok yang terlihat pemalas tetapi kejam itu.
Setelah melihat Ronald minum beberapa gelas, Ciel mengangguk.
“Seluruh rencana itu … bagaimana menurutmu?”
Merenung cukup lama, Ronald akhirnya menjawab, “Ini rencana luar biasa, Tuanku. Dengan ini, Kota Greenscale akan melambung tinggi. Pendapatannya mungkin akan melebihi daerah lain dalam kekuasaan anda. Hanya saja …”
“Tidak perlu ragu. Katakan saja.”
“Rencana ini sangat besar, perlu banyak biaya dan melaksanakannya jelas bukan hal yang mudah. Jika gagal … kerugiannya jelas tidak terbayangkan.”
“Kamu tidak perlu memikirkan kerugian. Apa yang perlu kamu lakukan adalah memenuhi tugasmu.
Aku ingin kamu menggunakan metode baru untuk melatih pasukan. Aku ingin mereka menjadi lebih kuat dan cepat. Urusan biaya atau semacamnya … aku yang akan mengaturnya.
__ADS_1
Kamu … cukup lakukan tugas yang aku berikan. Mengerti?”
Ronald langsung berdiri sambil menepuk dadanya dengan ekspresi hormat.
“Sesuai keinginan anda, Tuanku.”
Meski awalnya dia cukup marah kepada Ciel yang tiba-tiba datang dan mengakuisisi segalanya. Setelah melihat kemungkinan besar yang ada di depan mata, Ronald merasa menyerahkan seluruh daerah ini kepada Ciel adalah pilihan yang paling tepat.
Lagipula … aku juga tidak ingin dianggap sebagai pengkhianat dan dieksekusi.
Jika Ciel mendengar apa yang dipikirkan Ronald, dia pasti hanya bisa terkekeh. Pemuda itu kemudian menjelaskan.
“Aku akan tinggal di sini selama satu malam. Sedangkan untuk proses berjalannya rencana … bawahan kepercayaanku akan datang sekitar dua minggu kemudian. Masih sedikit lebih dari satu bulan sebelum panen, jadi seharusnya waktunya akan cukup. Itu saja, kamu boleh pergi.”
“Baik, Tuan.” Ronald mengangguk ringan sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Ciel yang melihat Ronald pergi mengambil gelas, menuang anggur lalu menyesapnya perlahan. Dia kemudian mengambil buku dari tas dimensi dan mulai membaca dengan ekspresi bosan.
Meski terlihat seperti itu … tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu.
...***...
“Ini tidak bisa dibiarkan, Putri Ariana.”
“Apanya yang tidak bisa dibiarkan?” Ariana bertanya balik dengan ekspresi kosong.
“Pangeran Luciel!” ucap Flora.
“Suamiku? Ada apa dengannya?” Ariana masih berbicara dengan nada monoton.
“Bukankah ini keterlaluan, Putri Ariana? Pangeran Luciel adalah tunangan anda, tetapi membatasi apa yang anda lakukan.
Anda tidak boleh keluar dari kastil. Anda tidak boleh masuk ke berbagai ruangan yang pangeran larang. Bahkan … Pangeran Luciel melarang anda membantu dia mengurus pekerjaannya.”
Flora menjelaskan kepada Ariana yang masih tidak merubah ekspresinya. Bahkan sang adik, Fiona juga terus mengangguk setuju. Gadis itu juga marah terhadap perlakuan Ciel kepada mereka. Karena dibandingkan dengan tunangan, Ariana lebih diperlakukan seperti tahanan.
“Suami ... dia tidak memperlakukanku dengan buruk. Mungkin dia hanya merasa aku mengganggu atau tidak bisa mempercayaiku. Lagipula, kami belum lama kenal. Kami masih orang asing.
Terlebih lagi … aku tidak keberatan. Sudah tugas istri untuk menuruti perintah suami. Ini juga merupakan bentuk dukungan.”
“Tidak mungkin!” seru Flora dengan ekspresi marah.
__ADS_1
Flora berpikir, jika Ariana mengikuti Ciel, putri boneka itu perlahan-lahan akan membaik. Cepat atau lambat, sang putri mungkin menjadi gadis normal seperti yang seharusnya. Namun semuanya berbeda dengan apa yang diharapkan.
Memang, Ciel memberi mereka bertiga perawatan yang terbaik. Dari makanan, pakaian, tempat tinggal, dan sebagainya. Hanya saja, sebagai tunangan … Ciel selalu meninggalkan Ariana sendiri. Pemuda itu sibuk mengurus ini dan itu, lalu pergi ke sana-sini. Mengurus wilayahnya seperti orang gila sampai lupa dengan tanggung jawabnya.
“Setelah kembali, aku akan berkata langsung kepada Pangeran Luciel! Hal ini tidak bisa dibiarkan?
Bukankah para pasangan muda seharusnya selalu bersama dan berbagi rasa? Apa-apaan dengan Pangeran Luciel itu! Pangeran malah sibuk bekerja dan mengabaikan tanggung jawabnya.” Flora mendengus tidak puas, sementara Fiona yang disampingnya terus mengangguk seperti burung pelatuk.
“Bukankah itu bagus? Bukankah itu berarti Pangeran Luciel sangat bertanggung jawab kepada rakyatnya?” Ariana memiringkan kepalanya. Suaranya masih monoton dan ekspresinya sama sekali tidak berubah.
“I-Itu benar. Pangeran Luciel memang lebih baik daripada para bangsawan yang lepas dari tanggung jawabnya itu, tapi … tapi … argh!” Flora mengacak-acak rambutnya sendiri dengan wajah depresi.
“Menurutku, suami … dia memilih untuk menjauhkan diriku dari pekerjaan karena belum mempercayaiku. Atau …”
“Atau apa, Putri Ariana?” tanya Flora.
“Atau karena aku tidak berguna baginya. Lagipula, ini hanya pernikahan politik. Aku di sini untuk kebutuhan Kerajaan Black Star. Sementara, Pangeran Luciel mau menerimaku karena terpaksa.
Ini hanyalah sebuah hubungan simbiosis. Pangeran Luciel juga memiliki banyak wanita cantik di sisinya. Seperti Dhampir, Dark Elf, atau mungkin Succubus itu …
Aku yang tidak merasakan apa-apa mungkin tidak menarik di matanya.”
“Putri …” Flora dan Fiona saling memandang dengan ekspresi sedih.
“Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak marah. Bukankah sudah seharusnya seperti ini? Bukankah memang kehidupanku selalu seperti ini?
Ini hanya perubahan tempat tinggal. Seiring berjalannya waktu, kalian mungkin akan terbiasa.”
“Apakah anda akan menerimanya begitu saja, Putri Ariana! Jika anda-”
Sebelum ucapan Flora terselesaikan, suara monoton Ariana memotongnya.
“Aku baik-baik saja. Aku akan menikah dan menjadi istri pertama. Mungkin akan ada dua istri lain atau beberapa selir, tetapi itu tidak ada hubungannya denganku.
Aku akan mengurus kebutuhan suami serta mendengarkan perintahnya. Aku juga akan melahirkan anak-anaknya dan membesarkan mereka dengan baik. Bukankah itu alasanku … datang ke Kekaisaran Black Sun ini?”
Ucapan Ariana memang tidak terbantahkan karena itulah tugas yang dia emban. Namun Flora dan Fiona dibuat terkejut oleh putri Boneka di depan mereka.
Meski suaranya monoton. Meski senyumnya tak berubah. Meski pandangannya kosong.
Sekali lagi … dua baris air mata mengalir melewati pipinya.
__ADS_1
>> Bersambung.