
Ciel kemudian berjalan bersama dengan Heath. Mereka berdua menuju ke kelompok yang datang dari Kekaisaran Black Sun terlebih dahulu.
Pintu pada gerbong kereta kuda terbuka, banyak orang mulai turun. Ciel mengamati dua kereta kuda paling mewah, dari sana dua sosok turun. Melihat mereka, pemuda itu menyapa dengan santai.
“Selamat datang, Pangeran Jasper … Pangeran Xavier.”
Ya, dari pihak Ratu Victoria mengirim Pangeran ke-6, Jasper Dawnbringer. Sedangkan, pihak Ratu Margaret mengirim Pangeran ke-7, Xavier Dawnbringer.
Melihat Ciel dan tiga orang yang dia bawa menyapa mereka, kedua Pangeran dari Kekaisaran Black Sun itu kaget.
“Anda sudah sampai di sini, Pangeran Luciel.”
Jasper, adik Victor menatap ke arah Ciel. Meski tidak terlalu senang, mereka masih dari tempat yang sama. Sudah tanggung jawab mereka untuk tidak mempermalukan nama Kekaisaran Black Sun. Jadi pemuda itu menahannya.
“Anda mengejutkan saya, Pangeran Luciel. Anda datang lebih awal, benar-benar tidak seperti biasanya.” Xavier berkata dengan setengah bercanda, tampak cukup ramah di permukaan.
Ketika tidak ada kakak-kakak mereka, kedua orang itu benar-benar tidak lagi bersikap patuh dan bahkan terlihat agak meninggi (sombong). Ciel yang sudah akrab dengan superioritas para Pangeran sama sekali tidak terkejut. Namun tetap saja, perkataan Xavier agak berlebihan.
“Saya baru tiba kemarin.” Ciel mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh.
“Kalau begitu anda melakukan perjalanan dengan lebih cepat,” ucap Xavier. “Saya dengar anda memiliki Demonic Beast terbang lain?”
“Ya. Pelican raksasa.” Ciel berkata santai.
“Sama sekali tidak buruk. Cocok dan nyaman untuk perjalanan. Keberuntungan anda membuat saya iri, Pangeran Luciel.”
“Terima kasih atas pujian anda, Pangeran Xavier.”
Sementara keduanya bertukar kata ringan, Jasper hanya diam. Dia terlihat tak acuh dan sombong, merasa lebih baik daripada yang lainnya.
Beberapa orang yang turun dari kereta kuda segera bergerak. Perwakilan dari West Duchy segera mendekati Jasper. Perwakilan dari East Duchy segera mengikuti Xavier. Sedangkan perwakilan dari North Duchy, Zack Flamehart langsung bergegas ke arah Ciel.
__ADS_1
“Hahaha! Ternyata kamu telah tiba lebih dulu, Sahabatku.” Zack menyapa dengan senyum percaya diri seperti biasa.
Melihat Zack yang kembali energik, tidak kuyu dan pucat seperti sebelumnya benar-benar membuat Ciel lega. Hanya saja, entah kenapa ekspresi orang itu membuatnya agak jengkel. Pemuda itu merasakan firasat yang tidak terlalu baik.
“Aku tiba di sini kemarin, Zack.”
“Kelihatannya kamu tidak ingin banyak bicara, Sahabatku. Kalau begitu kita bicarakan nanti.” Zack kembali tertawa seperti biasa.
Ciel melirik dua perwakilan lain dari Kekaisaran Black Sun. Mereka adalah Perwakilan dari South Duchy dan Central Plain. Selain keempat Duke yang berada di Duchy, ada satu lagi Duke yang berada langsung di bawah Kaisar. Bisa dibilang, salah satu kepercayaan Kaisar itu sendiri.
Untuk perwakilan dari South Duchy, ada Saevel Raevern. Wajahnya mirip dengan Savian, tetapi lebih gagah dan tegap. Dia adalah saudara dari Savian, tetapi dianggap lebih baik dan lebih dihargai.
Sedangkan perwakilan dari Duke terakhir, Ciel melihat sosok pemuda kurus dengan rambut hitam bergelombang. Kantung matanya terlihat agak hitam, mata pemuda itu merah gelap … seperti darah.
Ketika Ciel menatapnya, pemuda itu juga menatap dirinya. Orang itu tidak terlihat sombong, cukup berantakan untuk sosok sekelas bangsawan. Bahkan perwakilan dari Duke lain mengerutkan kening ketika menatapnya, termasuk Zack.
Sosok pemuda itu mengangguk dengan agak ceroboh sambil berkata pelan, bahkan kurang tegas.
Mendengar itu, Ciel mengangkat alisnya. Tidak seperti anak-anak istri resmi, dalam bangsawan kelas tinggi, anak-anak selir tidak diizinkan menyandang nama keluarga. Tentu saja, ada juga pengecualian dalam kondisi khusus.
James bisa dianggap sebagai contohnya. Karena ayahnya tidak memiliki seorang putra dari istri resmi, seharusnya dia bisa mendapat nama keluarga. Namun, kelihatannya banyak yang menentang James karena suatu hal.
Tidak hanya Ciel yang berbicara, Heath juga menyapa para tamu dari Kekaisaran Black Sun. Setelah itu, pemuda itu menyapa para tamu dari keempat Kerajaan lainnya. Barulah kemudian, mereka semua berjalan menuju Istana tamu.
Sampai di lantai tiga istana, Heath mulai menunjukkan kamar setiap tamu menurut area masing masing. Setelah perjalanan panjang, mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Ciel dan tiga bawahannya sendiri juga kembali ke kamar masing-masing.
Malam harinya.
“Sebagai penanggungjawab Istana tamu kali ini, saya sangat senang atas kehadiran kalian semua. Selamat datang dan selamat bersenang-senang, Cheers!”
Di lantai pertama, area pesta. Di bawah lampu kristal yang sedikit redup, Heath mengangkat cawan dengan ekspresi hormat. Para tamu pun juga mengangkat cawan mereka.
__ADS_1
Setelah itu, orang-orang mulai berpesta. Sementara itu, Ciel memilih untuk duduk di sudut dan tidak terlalu menarik banyak perhatian orang lain. Tiga orang yang dia bawa juga duduk di sana.
Selain mereka, ada empat sosok lainnya. Itu adalah Zack dan tiga orang pemuda yang merupakan perwakilan dari tiga Marquis di North Duchy. Satu orang terlihat sopan, satu orang terlihat licik, dan satu orang lainnya memiliki tubuh besar serta terlihat garang.
Hanya saja, ketiga pemuda itu memiliki kesamaan. Mereka tersenyum dan tampak bersemangat. Ya, meski setiap senyuman terlihat berbeda. Senyum sopan, senyum licik, dan senyum garang … kira-kira seperti itu Ciel menggambarkannya.
Sedangkan soal semangat, Ciel sendiri agak tertekan. Kelihatannya mereka terinfeksi oleh sikap bersemangat Zack. Hal yang membuat Ciel merasa agak tidak berdaya.
Tidak adakah yang normal di sekitarku? Bukankah hal-hal semacam ini tidak baik untuk kesehatan mental? Benar-benar membuat tertekan!
Di antara semuanya, Savian tampak agak normal. Namun pemuda itu selalu memperlakukan dirinya sendiri secara inferior. Menganggap dirinya sendiri adalah sampah, tidak berguna, dan hal-hal semacamnya. Meski cukup normal, itu masih membawa aura negatif.
Empat orang yang terlau bersemangat, satu orang depresi, satu orang yang penuh ***** …
Ciel kemudian melihat Clark yang melamun. Dia mengalihkan pandangnya beberapa detik kemudian.
Dan kadal ini … sudahlah. Ini benar-benar membuatku tertekan.
Ciel benar-benar merindukan rumah sekarang. Tunangan serta selir yang baik dan cantik, putra tiri yang heroik dan pekerja keras, putri yang polos serta menggemaskan … dia sangat merindukan kehidupan semacam itu.
Sementara sekarang. Bau anggur dan makanan menusuk hidung. Dalam istana tamu di mana tidak ada banyak larangan, para bangsawan itu mulai menunjukkan sifat mereka. Mengajak para pelayan cantik berdansa, membuat para wanita itu melayani mereka, bahkan yang sudah tidak tahan langsung membawa pelayan pilihan mereka menuju kamar.
Tanpa ada peraturan, tanpa ada sosok yang ditakuti seperti orang tua atau kakak, tanpa ada yang mencoba menghentikan … para pemuda itu melepaskan sisi ‘binatang’ mereka.
Alasan Zack, tiga orang yang datang bersamanya, atau tiga orang yang datang bersama Ciel tidak seperti itu tentu karena kehadiran Pangeran Malas itu. Lebih tepatnya, sosok itu masih seperti aturan dan sosok yang ditakuti bagi mereka.
Jadi, selama Ciel tidak melakukannya, mereka sama sekali tidak melakukannya.
Ciel menatap sekeliling, di mana para tamu mulai berkurang. Satu demi satu memilih wanita yang cocok untuk melepaskan rasa lelah mereka karena perjalanan panjang. Melihat semua itu, dia menjadi lebih dingin dan tak acuh.
Jadi begitu. Memang cocok dengan julukan tempat ini … Istana *****.
__ADS_1
>> Bersambung.