
“Sayang …”
Di suatu sore, Ariana yang memasuki ruang kerja menatap sosok yang duduk di kursi sambil mengurus beberapa dokumen penting di atas meja. Menoleh kearah Ariana, pemuda itu tersenyum lembut.
“Ada apa, Ariana?” tanya Ciel dengan lembut.
“Apakah saya mengganggu?”
“Sama sekali tidak.” Ciel menggeleng ringan. “Masuk lalu duduk. Ada apa? Tidak perlu sungkan, katakan saja.”
Setelah menutup pintu, Ariana kemudian duduk di sofa dengan tenang. Melihat gadis yang masih tidak mengekspresikan emosinya dengan baik itu membuat Ciel menggeleng ringan. Bangkit dari tempat duduknya, pemuda itu kemudian menuju sofa dan duduk di samping Ariana.
Ciel melingkarkan lengannya di pinggang Ariana, menarikya sedikit mendekat, membuat gadis itu bersandar kepadanya.
“Ada apa? Ceritakan saja …”
“Apakah aku mengecewakan anda, Sayang?”
“Kenapa kamu tiba-tiba membicarakan itu? Apakah kamu mendengar rumor buruk dari luar atau semacamnya?”
Bersandar di dada Ciel, Ariana memejamkan matanya. Gadis itu menggeleng ringan.
“Tidak. Hanya saja, saya tidak mematuhi perintah ketika anda pergi. Saya menggunakan barang yang anda tinggalkan tanpa persetujuan.”
Melihat Ariana yang ternyata merasa khawatir, Ciel tersenyum lembut.
“Sama sekali tidak. Aku sudah bilang untuk mempercayakan apa yang aku tinggalkan kepadamu. Untuk keputusan yang kamu ambil … aku sama sekali tidak kecewa.
Sebaliknya, aku merasa kamu luar biasa karena bisa mengatur Wilayah Blackfield ketika aku tidak ada di sini. Tempat ini masih aman dan semuanya berjalan tanpa kendala. Hal itu membuatku merasa lega.”
“Benarkah?” Ariana mendongak untuk menatap Ciel.
“Tentu saja benar.”
Sebagai tanggapan, Ciel tersenyum sembari memandang wajah Ariana sebelum mengecup lembut bibir tunangannya itu.
Sementara dalam ruangan kerja Ciel terasa hangat dan romantis, pemandangan berbeda tampak di tempat latihan khusus tiga anggota divisi bayangan.
Di pinggir lapangan latihan, Ryo tampak tertekan.
Sekarang Gordon telah mulai mengatur banyak hal sebagai persiapan sebelum Akademi Black Lily mulai dibuka. Jadi lelaki tua itu tidak ada di sekitar Ryo. Sedangkan Aiz dan Vahn, keduanya menjadi ekor Theo dan selalu menyebut remaja itu sebagai ‘Senior’, hal yang membuat Theo bersemangat mengajari mereka.
Apa yang membuat Ryo tertekan bukanlah kesendirian, tetapi … dua sosok baru di sekitarnya.
__ADS_1
Di sisi kiri, terlihat sosok kadal humanoid dengan sayap di punggungnya. Sedangkan duduk di kanannya, terlihat sosok Minotaur hitam yang tinggi dan kekar. Ya .. mereka tentu saja Clark dan Asterious.
Asterious menepuk pundak kanan Ryo sebelum bertanya dengan nada khawatir sekaligus sok bijak.
“Ada apa, Junior? Apakah kamu merasa tertekan? Ada masalah apa? Mungkin aku bisa membantu.”
Sementara itu, Clark juga menepuk pundak kiri Ryo. Memiliki ekspresi bersemangat di wajahnya, kadal konyol itu bertanya dengan khawatir.
“Jangan khawatir, Junior. Apakah Tuan memukulimu sampai hitam dan biru? Tidak masalah! Kamu belum dilempar dari dari atas kastil, kan? Bersyukurlah! Tetap semangat!
Jika ada masalah, kamu boleh bercerita. Jangan terlalu dipendam dalam hati. Itu tidak baik. Mendengar keluhan junior … juga merupakan tugas dari seorang senior.”
Mendengar bagaimana Clark menekankan kata ‘Junior’ membuat Ryo lebih tertekan. Dia merasa tertekan karena kemarin setelah keduanya tiba dan Ciel menyuruh dirinya melawan keduanya … ternyata dia kalah!
Tidak terlalu masalah jika kalah melawan Asterious yang seusia dengannya. Namun melawan Clark yang lebih muda … Ryo cukup tertekan. Awalnya dia berusaha menerima karena Clark adalah ras Dragonborn yang langka. Dia tidak menyangka kalau bisa menemui Dragonborn di sini.
Hanya saja, setelah melihat kebodohan Clark … Ryo menjadi curiga dengan ilmu yang dia baca sebelumnya.
Bukankah ras Dragonborn itu heroic dan bertindak layaknya ksatria sejati? Apa-apaan dengan Dragonborn ini? Dia bahkan lebih bodoh dari Goblin!
Ugh! Mungkinkah buku yang aku pelajari salah? Mungkin para Dragonborn memang sebodoh ini?
Seolah mengingat sesuatu, Clark tiba-tiba kembali menasihati.
“...” Ryo hanya diam.
“Bayangkan paras cantik itu, suara merdu, dan … empat kaki mulus yang kencang dan indah.” Clark berkata sebelum menggeleng penuh makna.
“Empat kaki?” Menatap Clark, Ryo tampak bingung.
“Apakah kamu bodoh, Junior? Centaur memiliki empat kaki. Kamu … bahkan tidak tahu itu?” Clark menatap Ryo dengan ekspresi tercengang.
Melihat ekspresi konyol di wajah reptil itu, Ryo entah kenapa ingin langsung memukulinya. Namun dia juga tidak berdaya karena dirinya lebih lemah dari kadal bersayap itu. Pemuda itu hanya bisa mengutuk dalam hati.
Omong kosong! Bukankah kamu Dragonborn? Mana aku tahu kalau kamu sedang membahas Centaur!
Juga … bukankah ras Dragonborn itu terhormat? Apa-apaan dengan ekspresi mesum itu!
Ketika Ryo mengeluh dalam hati, suara Asterious yang sok bijak kembali terdengar.
“Tidak apa-apa, Junior. Jangan terlalu dipikirkan. Clark memang terlalu obsesif kepada ras Centaur.”
“...”
__ADS_1
Mendengar ucapan Asterious yang cukup ‘waras’, Ryo menghela napas panjang sebelum mengangguk.
“Tapi kamu harus ingat, Junior. Cinta itu tidak memandang ras. Aku sendiri memiliki dua istri dari ras Minotaur dan Melusine.
Meski Minotaur memang baik, Melusine … sama sekali tidak buruk. Kamu mungkin akan menyukai mereka (ras Melusine).”
Mendengar saran dari Asterious, Ryo yang menghela napas lega hampir tersedak. Pemuda itu tercengang. Baru beberapa hari di Kota Black Lily, dia merasa sangat lelah secara fisik dan mental.
Bukankah Melusine itu ras setengah ular? Apa-apaan ini! Apa yang salah dengan kalian!
Apakah orang-orang di kastil ini sudah tidak waras? Atau aku yang berbeda dan sebenarnya tidak normal!
Pangeran Luciel … tolong segera kirim aku ke Kota Black Orchid! Aku sudah tidak tahan dengan kedua senior bodoh ini!
...***...
Waktu kembali berlalu.
Di akhirnya musim dingin, sebuah kereta kuda yang dikawal oleh banyak ksatria berkuda sampai di Kastil Black Lily.
“Duke Raevern datang untuk berkunjung!”
Mendengar laporan dari salah satu penjaga, Ciel yang memakai pakaian tebal keluar dari kastil diikuti oleh Ariana. Karena sudah bisa dianggap pasangan, sangat wajar jika keduanya menyambut tamu bersama.
Melihat sosok yang turun dari kereta kuda, Ciel menyapa dengan ekspresi yang santai.
“Selamat datang di Kota Black Lily, Duke Raevern. Apa yang membuat anda repot-repot sampai di tempat terpencil seperti ini?”
Tempat terpencil, kah?
Duke Raevern menatap Ciel dengan senyum di wajahnya. Pada perjalannya, orang itu merasa terkejut dengan perkembangan Wilayah Blackfield. Di bawah kekuasaan Ciel, tempat yang dulunya dianggap terpencil dan hanya menjadi pemasok makanan pokok itu menjadi lebih makmur.
Tidak hanya warganya yang tampak sehat atau para ksatria disiplin. Namun … rasanya penduduk dalam wilayah itu menjadi lebih harmonis.
Pangeran Luciel … kamu benar-benar tidak sederhana!
Setelah menghela napas dalam hatinya, Duke Raevern menjawab dengan sopan.
“Ada hal penting yang ingin saya diskusikan dengan anda, Pangeran Luciel.”
Melihat ekspresi serius di wajah Duke Raevern, Ciel mengangkat bahu dengan ekspresi santai.
“Kalau begitu, mari masuk ke dalam kastil. Tidak pantas untuk membicarakannya di luar.”
__ADS_1
>> Bersambung.