
“Lalu apa yang kita tunggu, seharusnya kita melapor, kan?”
Melihat Ferel yang cukup panik, Ciel menggeleng ringan.
“Apakah saya harus menghubungi ayah, Pangeran Ciel?”
Savian terlihat cukup panik, tetapi Ciel masih diam.
“Tidak cukup bukti. Bahkan jika ada bukti, itu akan berdampak terlalu besar.”
“Maksud anda?”
“Belum lama ini Duke Raevern kehilangan seorang Count. Sebelumnya, dia bahkan kehilangan Marquis dan wilayah. Apa yang terjadi jika dia kembali kehilangan Marquis?”
“...”
Savian dan Ferel diam, tetapi mereka diingatkan Ciel, mereka mengetahui apa yang pangeran itu maksud. Jika hal itu memang terjadi, perang besar akan terjadi di South Duchy. Kekacauan akan melanda tanah ini.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Pangeran Ciel?” tanya Savian.
“Langsung bunuh Marquis Bathory.”
“...”
Kedua orang di depan Ciel langsung terdiam. Hal itu membuatnya merasa lucu.
“Aku bercanda. Meski memiliki kekuatan yang cukup lalu menyelinap ke kastil dan membunuh Marquis Bathory, itu tidak terlalu berguna.
Walau aku seorang pangeran. Menempati dan mengacaukan wilayah yang bukan dalam kekuasaanku, aku tetap akan mendapat hukuman.”
“...”
“Jika menurutku pribadi, lebih baik kalian melupakannya. Anggap saja tidak pernah mendengar hal ini.”
Mendengar jawab Ciel yang begitu tak acuh seolah tidak peduli dengan South Duchy, Savian dan Ferel mengerutkan kening. Sedangkan itu, Arla dan Shana diam. Tangan mereka mengepal erat. Sebagai korban, tentu saja mereka tidak puas dengan keputusan Ciel.
“Maksud anda, kita harus berpura-pura tidak mengetahui itu? Ini sangat penting dan menyangkut-”
PLAAKK!!!
Savian yang belum selesai mengucapkan seluruh ucapannya ditampar oleh Ciel. Yang lain memandang mereka dengan ekspresi kaget.
“Bukan kita, tetapi kalian.” Ciel berkata tak acuh.
“...”
“Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Kalian tidak perlu membantu.”
__ADS_1
“Apakah anda pikir kami akan menjadi beban, Pangeran Ciel?” Ferel tampak tidak puas.
“Ya. Kalian memang beban. Selain beban, kalian hanya akan mengacaukan apa yang telah aku persiapkan.”
“...” Ferel hanya diam.
“Itu terlalu berbahaya, Pangeran Ciel.” Meski masih merasakan sakit, Savian tetap berbicara. “Paling tidak, izinkan kami membantu.”
“Marquis Bathory memiliki urusan denganku. Kami memiliki banyak skor yang perlu dihitung. Kalian tidak perlu ikut campur.”
“Tapi-”
“Baiklah. Sebenarnya aku sedang menyelidiki tentang Marquis Bathory dan bangsawan di bawahnya. Sebenarnya sudah ada banyak perkembangan. Namun belum cukup lengkap.”
“Kami harus membantu mencari informasi?”
“Ya.” Ciel mengangguk sambil menatap Savian. “Khususnya kamu, Savian. Tidak perlu langsung terjun ke lokasi. Kamu hanya perlu menyelidiki data tentang pajak yang diberikan Marquis Bathory setiap tahunnya. Memastikan kalau tidak ada tikus yang bersembunyi di bawah Duke Raevern.”
“Baik.” Savian mengangguk dengan ekspresi tegas.
“Bagaimana dengan saya, Pangeran Ciel?” tanya Ferel dengan tegas.
“Kamu … duduk di rumah dengan tenang. Jangan berlarian mencari wanita dan membuat masalah.”
“...”
“Baiklah. Kita sudahi hari ini. Aku akan menghubungi kalian lewat surat.”
...***...
Sepuluh hari kemudian, Kastil Black Lily.
“Apakah kamu menyukai hal seperti itu, Sayang?”
Mendengar suara Ariana, Ciel hanya bisa tersenyum pahit. Sejak dia kembali kemarin dan para gadis dari ras semi-heteromorph datang, para wanita melihatnya dengan ekspresi aneh.
“Tentu saja aku memiliki rencana sendiri untuk penggunaan mereka.”
Duduk di sofa, Ciel mengelus lembut kepala Ariana yang bersandar kepadanya.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk.”
Pintu ruang kerja terbuka, tampak sosok Camellia yang terlihat kelelahan. Gadis itu menutup pintu lalu duduk di sisi lain Ciel.
Melihat gadis yang bersandar kepadanya, Ciel mengelus kepalanya dengan lembut. Dia sadar kalau keduanya merindukan dirinya. Itu karena dia juga merindukan mereka.
__ADS_1
“Kerja bagus, Camellia.”
“Setiap hari semakin sibuk, Tuan. Tidak bisakah anda mencari budak yang lebih berguna untuk membantu memerintah wilayah?” tanya Camellia.
“Aku sedang memikirkannya.”
Ciel menghela napas panjang. Bukannya dia berniat mengoleksi wanita cantik atau mencari budak khusus petarung. Namun, mencari budak yang memiliki pendidikan begitu baik benar-benar sulit.
Bahkan jika harus mengeluarkan banyak uang, Ciel sebenarnya ingin membelinya. Itu salah satu alasan Ciel ingin mendirikan akademi.
Meski dalam pandangan setiap orang pendidikan gratis itu merugikan. Sebenarnya memiliki banyak keuntungan yang tidak bisa hanya diucapkan dengan kata-kata. Berbeda dengan kehidupan sebelumnya di mana pendidikan dianggap remeh, di tempat ini pendidikan begitu dihargai.
Menjadi pemimpin wilayah itu melelahkan.
Ciel tersenyum pahit. Setelah menghabiskan siang hari bersama Ariana dan Camellia, dia menghabiskan sore bersama dengan Elena. Karena sudah terpisah beberapa waktu, saling merindukan adalah hal biasa.
Setelah makan malam, Ciel menuju ke ruang bawah tanah untuk mengunjugi para Dark Elf cantik. Tentu saja, tidak untuk melakukan hal aneh, tetapi melihat perkembangan mereka.
Sampai di sana, Ciel disambut oleh Verrona dan Lyfalia. Selain itu, ada juga tiga komandan lain. Mereka bernama Elora, Amara, dan Meira.
Setelah dalam perawatan Ciel cukup lama dan berlatih keras. Kelima wanita itu sudah berada di level 4. Verrona dan Lyfalia berada di level 4 (akhir). Sedangkan ketiga wanita lainnya berada di level 4 (awal).
Selain itu, perkembangan para wanita Dark Elf itu juga tidak kalah dengan tiga divisi bayangan. Itu karena Ciel membesarkan mereka dengan cara yang sama. Hanya saja, karena mereka sudah memiliki pengalaman, dia tidak menyuruh mereka keluar ketika acara pembersihan di musim dingin.
“Anda sangat sibuk, Tuanku. Budak ini berpikir anda telah melupakan kami,” ucap Verrona sambil mengedipkan mata.
Suara lembut, tatapan menggoda, tubuh dan aroma wanita yang telah sepenuhnya matang … merasakan itu semua membuat jantung Ciel berdegup kencang. Dia masih normal, jadi terkadang dalam benaknya juga tertanam fantasi liar. Meski merasa tergoda, wajah Ciel terlihat begitu tak acuh.
“Sebagai pemimpin kelompok, kamu seharusnya menjaga penampilan di depan bawahanmu, Kak.” Lyfalia mendengus dengan ekspresi tidak puas.
“Aku tidak peduli, Adik kecil. Lagipula … kita semua adalah milik pangeran. Jika dia ingin, sudah tugas kita untuk memuaskannya. Apakah kalian pikir kita diperlakukan seperti ini secara gratis?”
Mendengar pernyataan Verrona, Dark Elf lain diam. Mereka mengingat betapa suramnya kehidupan mereka sebelumnya. Ketika mereka menjadi budak dari bangsawan-bangsawan kecil berhati kejam.
Bukan hanya diperlakukan sebagai boneka, mereka bahkan disiksa dan tidak diperlakukan dengan baik. Mereka kelaparan, kelelahan, tetapi para bangsawan itu tidak peduli.
Lagipula … mereka hanya dianggap sebagai boneka. Ketika rusak, tinggal membuangnya dan membeli yang baru.
Hal semacam itu adalah yang dipikirkan kebanyakan bangsawan. Namun juga ada beberapa pengecualian seperti Ciel dan Savian. Sedangkan Ferel … ayahnya akan memukulinya jika dirinya mencoba main-main dengan budak. Entah kenapa, keluarganya tidak menyetujui kepemilikan budak wanita di dalam Keluarga Guldebell.
“Diam.”
Ciel menyuruh mereka semua diam. Dia kemudian menatap mereka dengan ekspresi tak acuh. Ketika semua Dark Elf berkumpul dan melihatnya, pemuda itu mengangguk sebelum berbicara.
“Kalian bisa segera keluar.”
>> Bersambung.
__ADS_1