Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Hari Yang Dijanjikan


__ADS_3

“Kamu bisa bilang demikian …”


Mengatakan itu, Aragil mencabut pedangnya lalu mengangkatnya tinggi dengan kedua tangan lalu mengayunkannya ke ke bawah dengan tenang.


Mata Ciel menyempit, sosoknya langsung menghilang dari tempatnya. Detik berikutnya, sebuah garis pedang merah darah memotong tempat di mana dirinya berdiri sebelumnya.


“Benar-benar tanpa basa-basi, kah?”


Sosok Ciel muncul di udara dengan dua lingkaran sihir besar di kedua sisi. Menunjuk ke arah Aragil, dua ular raksasa yang terbuat dari api hitam bergabung menjadi satu.


“Hellfire magic … Shadowflame Imoogi!”


“...”


Aragil memegang pedangnya erat lalu mengayunkannya secara horizontal.


BLARRR!!!


Ledakan keras terdengar. Pada saat itu, Ciel yang mendarat menatap sosok Aragil dengan ekspresi heran.


Benar-benar memotong sihir semacam itu hanya dengan satu ayunan pedang?


Memikirkan itu, Ciel langsung mengaktifkan skill Eye of The Lord. Ekspresi pemuda itu berubah secara total.


“Level 6 (menengah) … Full-plate Armor yang tidak diketahui … ditambah dengan Greatsword yang merupakan senjata artifak …


Tidak menyangka kamu benar-benar bisa mencapai sejauh ini, Aragil.”


“Jika terus bermain … kali ini kamu benar-benar akan mati, Luciel Dawnbringer.”


Mendengar itu, Ciel yang awalnya terdiam dan tampak serius tiba-tiba menyeringai sebelum tertawa terbahak-bahak.


“Menarik … Sangat menarik!!! Bahkan sebuah kota menjadi panggung kita? Kalau begitu aku tidak akan membuatmu kecewa!”


Level 6 (awal) … level 6 (menengah) … level 6 (akhir)!


Enam sayap hitam legam muncul di punggungnya. Mata emasnya memancarkan kilau misterius. Sementara kedua pedang di tangannya … dilapisi dengan energi hitam, yaitu sihir hellfire yang telah dipadatkan berkali-kali. Suara udara yang terbakar bahkan terdengar samar.


Melihat kekuatan Ciel yang naik dengan gila, mata Aragil menyipit. Energi merah darah melapisi greatsword di tangannya.


Sosok Ciel menghilang dari tempatnya dan langsung muncul di depan Aragil.


“Mati!” ucap Ciel dingin.


Aragil juga langsung mengayunkan pedangnya.


KLANG!


Menerima serangan Ciel, ekspresi Aragil langsung berubah menjadi penuh kejutan.


Ini … sihir gravitasi?


BLARRR!!!


Belum sempat memikirkannya dengan benar, tubuh Aragil terhempas ke kota dan menghancurkan beberapa bangunan dalam prosesnya.


“Masih belum!”

__ADS_1


Ketika Aragil bangkit dari reruntuhan, Ciel muncul sambil mengayunkan pedangnya.


BLARRR!!!


Dua cahaya hitam dan merah bertemu. Ledakan keras tercipta ketika dua sosok terhempas mundur karena ledakan itu. Pada saat kepulan asap reda, Ciel menatap Aragil dengan mata dingin.


Sementara itu, Aragil berdiri dengan tenang. Rune merah aneh di armornya menyala, benar-benar memancarkan aura yang tidak menyenangkan.


Ciel yang tenang menoleh ke samping lalu meludahkan sesuap darah. Pemuda itu kemudian menatap ke arah Aragil.


“Dragon Slayer Armor …” gumam Ciel. “Kamu benar-benar menggunakan benda semacam itu, Aragil.”


Melihat ekspresi dingin Ciel, Aragil tampak tenang.


“Apakah kamu berpikir ini salah, Luciel?”


“Apakah salah?” Ciel menunduk sebelum berteriak, “Tentu saja ada yang salah dengan otak kalian! UNTUK APA KALIAN MENGEJAR KEKUATAN SAMPAI SEPERTI ITU!”


“Sosok yang terlahir dengan latar belakang dan bakat yang nyaris sempurna sepertimu … tidak akan mengerti yang kami rasakan, Luciel.”


“...”


Melihat Ciel hanya diam, Aragil memegang erat pedangnya.


“Perlu kekuatan untuk untuk merubah dunia ini, Luciel.”


Tidak langsung menjawab, Ciel berjalan perlahan ke depan sambil bergumam.


“Kekuatan? Keadilan? Merubah dunia?”


Ciel muncul di depan Aragil sambil mengayunkan pedangnya.


KLANG!


“Jika semua itu bisa merubah dunia … maka tunjukkan kepadaku, seperti apa keadilan milikmu itu, Aragil!”


Dari tujuh kali berat, berat serangan Ciel meningkat menjadi lima belas kali lipat. Membuat Aragil langsung terpental dan menabrak bangunan kota.


BOOM!!!


Sosok Aragil kembali muncul dari reruntuhan. Namun tubuhnya sama sekali tidak terluka.


“Kenapa kamu begitu marah, Luciel? Mungkinkah karena orang-orang seperti kami berjuang lebih keras daripada dirimu. Atau mungkin …


Kamu yang berpaling dari dunia merasa kesal melihat orang-orang seperti kami mencoba melawan takdir kami sendiri?”


“...”


Dua sosok itu menghilang lalu muncul dengan senjata dilapisi dengan energi hitam dan merah yang begitu kuat.


“Sen no Hana … Black Cereus!”


“Scarlet Flame Style … Basilisk Slayer!”


BLARR!!!


Dua energi merah dan hitam saling bertabrakan. Menghancurkan bangunan di sekitarnya dan mencabik-cabik awan di atas mereka.

__ADS_1


Aragil yang berdiri di tengah reruntuhan lalu melihat ke arah sekitar, di mana jutaan kelopak hitam melayang. Sedikit terkejut, pria itu mengangkat sudut bibirnya. Detik berikutnya, suara dingin Ciel terdengar.


“Sen no Hana … Black Sakura.”


Melihat kelopak bunga berputar di sekelilingnya sebelum menyatu menjadi pusaran topan api, Aragil memejamkan matanya sambil mengangkat pedang tinggi dengan kedua tangannya.


Mencengkeram erat, cahaya merah melesat ke langit sebelum Aragil membanting pedangnya.


“Scarlet Flame Style … Wyvern Slayer!”


Cahaya merah langsung memotong tornado api hitam menjadi dua.


Setelah itu, Aragil mendongak ke atas. Melihat sosok pemuda dengan enam sayap hitam legam mengangkat tangan kanannya. Di atas pemuda itu, terlihat awan gelap yang terus berputar.


Melihat sosok layaknya utusan Dewa yang diperintahkan untuk menghakimi dunia, Aragil tertawa bahagia. Mengerahkan seluruh sisa energi sihir dan tenaganya, pedang di tangannya menyala dengan warna merah darah.


Menjentikkan jarinya, Ciel bergumam.


“Jatuh untukku … Lightning Judgement!”


“Scarlet Flame Style …”


Menggertakkan gigi sambil memeras seluruh energinya untuk mengayunkan pedangnya. Aragil berteriak dengan sekuat tenaga.


“Flame Dragon Slayer!!!”


Menebas ke atas, cahaya merah memadat menjadi sosok naga merah yang membumbung ke langit. Menyambut naga petir hitam yang jatuh dari langit.


BLAAARRR!!!


Dua naga, merah dan hitam bertabrakan. Menyebabkan ledakan dahsyat yang menelan semua di sekitarnya. Langit berawan langsung sirna. Bangunan di kota runtuh karena dampaknya. Bumi berguncang hebat, membuat orang-orang dari kota lain bangunan karenanya.


Ketika asap mereda, sosok Aragil terlihat sedang berdiri tegak. Melihat cahaya hitam seperti kunang-kunang yang naik dari tanah menuju langit, pria itu menatap sosok Luciel yang menyatukan telapak tangan di depan dadanya, seolah sedang berdoa.


“Seno no Hana … Frozen Flame Lotus.”


Mengetahui itu adalah kekalahannya, Aragil memejamkan matanya sambil tersenyum.


“Pertarungan yang benar-benar memuaskan … Luciel.”


BLAAARRR!!!


Teratai hitam raksasa mekar dan menelan sosok Aragil dan seluruh kota sebelum sebuah ledakan dahsyat tercipta. Mengguncang langit dan bumi.


Ketika guncangan berakhir dan asap mereda, Ciel melayang turun ke kota yang telah rata dengan tanah. Pemuda itu kemudian jatuh berlutut sebelum memuntahkan beberapa teguk darah. Wajahnya tampak pucat.


Menatap ke pusat ledakan, mata Ciel menyipit ketika melihat Dragon Slayer Armor yang masih berdiri tegak sambil memegang sebuah pedang yang ditancapkan ke tanah. Tidak seperti Ferdo dan Fito yang merupakan Dragonborn dengan tubuh yang cukup kuat, Frozen Flame Lotus telah melenyapkan seluruh tubuhnya.


Hanya saja, melihat bagaimana cara armor itu berdiri dengan bangga, Ciel bisa membayangkan akhir dari Aragil. Sosok lelaki yang menyambut kematiannya dengan punggung lurus dan sambil tetap tersenyum tanpa keraguan sedikit pun.


“Jadi ini adalah keadilan yang kamu perjuangkan …”


Ciel berdiri berhadapan dengan armor yang tersisa. Dia sama sekali tidak tampak dengan apa yang didapatkan olehnya. Pada saat itu, matahari akhirnya terbit … menyinari sosok keduanya.


Mendongak ke langit sambil memejamkan mata, Ciel menghela napas sebelum berkata,


“Ya. Pertarungan itu … tidak buruk juga.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2