
Kenapa orang itu masih bisa berdiri?
Pertanyaan itu terus terpikir dalam benak Ciel. Meski tidak menggunakan sihir skala besar, dia telah menggunakan berbagai jenis sihir. Api, es, bahkan mencoba memperlambat orang itu dengan sihir gravitasi. Namun tetap saja … orang itu mampu menangkis serangannya.
Kalau begitu …
Energi sihir dan tekanan kekuatan Ciel tiba-tiba naik dari level 5 (menengah) menjadi level 5 (akhir). Level yang sama dengan Aragil. Dengan level ini, dia seharusnya sudah menunjukkan bakat melebihi Pangeran pertama.
Melihat tekanan yang terpancar dari Ciel, semua orang yang sibuk bertarung tertegun sejenak. Mereka merasa takjub sekaligus takut. Seorang remaja berusia 15 tahun … benar-benar memiliki kekuatan setara dengan seorang Marquis tua di sebuah kekaisaran.
Mata Aragil terbelalak. Dia tidak menyangka kalau Ciel akan naik level dalam pertarungan melawannya. Bukannya takut, pria itu malah semakin bersemangat, menjadi liar dan gila.
“HAHAHAHA! Astaga! Aku benar-benar berhadapan dengan monster sekarang! Jika itu satu atau dua tahun kemudian, aku tidak yakin untuk mengalahkanmu. Namun …”
Aragil membuang jubahnya, memperlihatkan armor hitam yang tidak bisa menutupi otot-otot tubuhnya. Pria itu meraung, otot di sekujur tubuhnya mengencang, tidak … daripada mengencang, itu terlihat lebih kokoh dan lebih besar. Dia kemudian melihat Ciel yang menatap dirinya dengan ekspresi dingin.
“MAJU!!!”
Ringankan tubuh setidaknya sepuluh kali … beri tekanan berat pada pedang setidaknya sepuluh kali …
Lapisi pedang dengan sihir api … selimuti lengan kiri dengan sihir es …
Ciel mengoperasikan mana dalam tubuhnya dengan cepat dan akurat. Menarik napas panjang lalu mengembuskan perlahan, tatapan pemuda itu berangsur-angsur tenang. Tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, tidak ada kesombongan … hanya ada kekosongan.
Ditemani dengan embusan angin, Ciel tiba-tiba muncul di depan Aragil sambil mengayunkan pedangnya. Aragil tersenyum gila, takjub dengan gerakan Ciel dan membuat gerakan menangkis, tetapi …
BLARRR!!!
Seolah pemain baseball yang memukul home run, Aragil yang menahan serangan CIel langsung terpental, melesat cepat sampai-sampai menghancurkan dinding dan membuat bangunan kastil bergetar.
Huuuh …
Ciel mengembuskan napas panjang. Uap panas keluar dari mulutnya. Menggunakan kekuatan dan kecepatan ekstrem, tubuhnya menerima dampak kuat karena belum terbiasa. Dia menatap lubang besar di dinding yang dipenuhi kepulan debu, ekspresinya benar-benar tidak acuh.
Suara ledakan terdengar saat siluet keluar dari lubang. Orang itu melesat cepat, seluruh tubuhnya diselimuti dengan aura scarlet. Kobaran api yang membara terlihat menyelimuti pedang raksasa di tangannya.
“HANCURKAN!!!” teriak Aragil dengan ekspresi gila.
Sebagai tanggapan, Ciel juga mengayunkan pedangnya. Pada saat kedua bilah bertemu …
BLARRR!!!
Ledakan dahsyat tercipta. Tanah yang dipijak langsung hancur. Debu beterbangan saat gelombang udara menghempaskan orang-orang dalam ruangan. Kastil Jade Water berguncang keras.
Pertarungan antara iblis kelas atas … benar-benar pantas dianggap sebagai pertarungan antara dua bencana berjalan.
__ADS_1
Orang-orang baik dari anak bangsawan atau anggota kelompok Curses of Shadow yang terpental segera bangkit. Mereka buru-buru meninggalkan ruangan, tidak ingin mati secara tidak sengaja akibat pertarungan dua monster itu.
Pada saat kepulan asap debu mulai menyebar, tampak sosok Ciel dan Aragil. Aragil terlihat berdiri sambil memegang pedang raksasa dengan kedua tangannya. Sementara itu, Ciel melayang di udara.
Mata Ciel menyipit, tidak menyangka kalau dirinya masih kalah dalam kekuatan murni. Menyapu pandangan di sekitar, ruangan benar-benar kosong karena semua orang melarikan diri. Hanya tersisa dirinya dan Aragil.
“Turun dan berdansa denganku, Pangeran LUCIEL!!!” teriak Aragil dengan ekspresi gila dan bersemangat.
Sebagai jawaban, Ciel membuat gerakan menunjuk dengan tangan kirinya.
“Maaf, kamu pasti tahu, aku memiliki tunangan. Lagipula, aku tidak memiliki kelainan untuk menyukai seorang pria paruh baya. Sebagai gantinya … menari saja bersamanya.
Hellfire magic … Shadowflame IMOOGI!!!”
Ular raksasa yang mirip naga banjir, tetapi terbuat dari api hitam muncul di belakang Ciel sambil meraung. Karena ukurannya yang besar, dinding ruangan dan atap berderak, hampir meleleh karena panasnya.
Ciel mengangkat sudut bibirnya dengan senyum sadis.
“Mati.”
Dengan perintah Ciel, Shadowflame Imoogi langsung menuju ke arah Aragil dengan cepat. Melihat makhluk raksasa itu, Aragil mengangkat pedangnya dengan kuda-kuda yang begitu mantap serta kokoh. Api di pedangnya berhenti berkobar.
Seolah seluruh api meresap ke pedang. Warna pedang itu benar-benar berubah menjadi scarlet. Penampilannya seperti besi yang dipanaskan. Saking panasnya, udara di sekitar pedang mendesis kesakitan seolah terbakar.
DUARRR!!!
Kastil Jade Water bergetar hebat. Bangunan utama kastil, hampir seluruh bagian depan runtuh. Terlihat seperti apel yang digigit separuh. Kepulan asap membumbung ke langit. Ketika asap mulai reda, terlihat dua orang berdiri di atas reruntuhan.
Aragil terlihat sangat lelah ketika keringat mengucur di wajahnya. Sementara Ciel … matanya terbelalak. Dia kemudian melirik ke pundaknya kirinya. Di sana … terlihat luka tebasan. Tidak terlalu dalam, tetapi darah terus mengalir darinya.
Aku … terluka?
Ciel menjadi linglung. Sejak tubuhnya dibentuk dengan kekuatan skill Devour. Musuhnya memang masih bisa memukul, membuatnya terpental, atau bahkan membantingnya. Hanya saja … dia tidak pernah sampai terluka.
Orang ini … harus mat-
Uhuk! Uhuk!
Ciel tiba-tiba jatuh berlutut. Memuntahkan seteguk darah dari mulutnya, pemuda itu menatap Aragil dengan ekspresi tidak percaya. Meski tubuhnya sangat kuat, karena jarang berlatih dan belum terbiasa, pemuda itu masih belum bisa menerima dampak dari sihir gravitasi. Mempercepat dan menguatkan diri sampai 10 kali.
Menjadikan pedang sebagai penyangga, Ciel berdiri dengan tubuh gemetar. Tiba-tiba dia hampir terjatuh lagi ketika pedang di tangannya patah. Pemuda itu terlihat semakin tidak percaya. Pedang di tangan Aragil masih utuh sementara pedang di tangannya patah.
Mata emasnya sedikit berkilau, tanda skill ‘Eye of The Lord’ diaktifkan. Melihat sosok Aragil, tubuhnya gemetar. Pada saat kritis, potensi orang itu meledak, Aragil benar-benar naik level menjadi level 6 (awal).
Aragil menatapnya dengan ekspresi tenang. Tidak lagi ada wajah penuh kegembiraan atau bersemangat. Bahkan, tidak ada niat membunuh yang diarahkan kepadanya.
__ADS_1
Melihat tatapan itu, Ciel benar-benar marah. Dia belum pernah merasakan kemarahan seperti itu sebelumnya. Membuang pedangnya, Ciel berjalan ke depan sambil tertatih.
“Ini belum selesai … AKU-”
“Ini sudah selesai, Pangeran Luciel.” Aragil berkata dengan tenang. Menyarungkan pedang ke punggung.
“Tarik pedangmu! AKU TIDAK SELEMAH INI! AKU-”
“Kamu kuat!” teriak Aragil. “Kamu begitu kuat, bahkan bakatmu itu .. aku belum pernah melihat hal semacam itu dalam kehidupanku.”
“...”
“TAPI KAMU SOMBONG, BEGITU SOMBONG SAMPAI KESOMBONGANMU MENEMBUS LANGIT!
Kamu berbakat dan kuat, tetapi aku yakin … kamu tidak pernah melakukan semuanya dengan serius! Kamu merasa cukup! Kamu berpuas diri! Lihat tubuhmu!
Mana di tubuhmu tidak stabil! Tubuhmu tidak terbiasa dengan seluruh gerakan yang kamu buat! Kamu hanya melakukannya dengan insting, dan itu … sama sekali tidak cukup!
Kamu baik, tetapi alasan aku tidak membunuhmu bukan karena itu. Jangan merasa senang! Kamu hanya beruntung bisa hidup karena memiliki Kakek dan Ayah yang kuat!
Kamu bertahan hidup bukan karena kekuatanmu. Dengan bakat itu, kamu benar-benar mengecewakanku, Pangeran Luciel. Kamu … LEMAH.”
“...”
Seolah semua energinya habis, Ciel sekali lagi jatuh berlutut. Menatap ke arah Aragil, ingin membalas, tetapi dia tahu semua kenyataannya.
Aragil tersenyum.
“Kita tidak bisa didamaikan lagi. Lain kali, kita lakukan duel hidup dan mati tanpa mempedulikan organisasi atau statusmu sebagai pangeran. Lain kali, bukan sebagai Jenderal dari Curses of Shadow atau Pangeran dari Kekaisaran Black Sun …
Mari kita berduel sebagai Aragil dan Luciel Dawnbringer.”
Aragil berbalik pergi, meninggalkan Ciel yang menunduk tanpa bisa membalas sepatah kata.
Seandainya aku serius sejak awal …
Seandainya saja aku terbiasa dengan kekuatanku sendiri …
Seandainya saja aku tidak hanya menganggap semua semudah teori …
Ciel membanting wajahnya sendiri ke tanah. Bergumam pelan dengan frustrasi. Hanya satu kata yang terucap dari bibirnya.
“SIALAN!”
>> Bersambung.
__ADS_1