Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Benar-benar Kebetulan?


__ADS_3

Keesokan harinya.


Berdiri di ruang kerja, Ciel menatap kereta kuda yang pergi dari Kastil Black Lily. Pada saat itu, suara wanita terdengar dalam ruangan.


“Apakah anda benar-benar akan membiarkannya pergi seperti itu, Tuanku?”


Menoleh ke sumber suara, Ciel melihat sosok Isabella yang baru saja memasuki ruangan. Wanita itu memakai gaun bangsawan berwarna hitam dengan ornamen ungu yang cocok untuknya.


“Apakah menurutmu lebih baik menghabisi mereka dan melenyapkan bukti begitu saja?” Bukannya menjawab secara langsung, Ciel malah balik bertanya dengan ekspresi bosan di wajahnya.


“...”


Melihat bahwa Isabella hanya diam saja, Ciel berjalan santai lalu duduk di sofa. Dia kemudian melambai ke arah wanita itu. Tanpa sedikit pun keraguan, Isabella berjalan mendekat lalu duduk di samping Ciel.


Isabella dengan berani bersandar ke bahu Ciel sebelum bertanya dengan ekspresi agak bingung.


“Bukankah semuanya akan menjadi rumit jika anda melepaskan orang itu, Tuanku?”


“Memang.” Ciel mengangguk. “Jika aku hanya menargetkan Keluarga Blackscar, lebih baik menghabisi keduanya. Namun, Zander Fergus masih berguna. Karena Keluarga Astorio ingin bermain-main denganku … aku juga tidak keberatan untuk bermain dengan mereka.”


Mendengar ucapan Ciel, Isabella terkejut. Setelah memikirkannya dengan saksama, wanita itu bertanya dengan nada ragu.


“Apakah … apakah anda mencoba mengendalikan Keluarga Fergus. Tuanku?”


Melihat Isabella yang menatapnya dengan ekspresi bingung dan ragu, Ciel mengecup lembut bibir wanita itu. Dia kemudian tersenyum sebelum menjawab singkat.


“Entahlah.”


“...”


Isabella hanya bisa diam ketika mendengarkan itu. Meski dirinya juga salah satu dari selir Ciel, wanita itu tahu bahwa suami sekaligus tuannya itu memiliki pikiran yang sulit untuk ditebak. Benar-benar tersembunyi dalam kegelapan.


Pada saat keduanya hanya diam, berbagi kehangatan dalam pelukan, suara ketukan pintu terdengar.


Tok! Tok! Tok!


“Masuk.”


Setelah Ciel mengatakan itu, pintu terbuka dan sosok Dark Elf cantik masuk ke dalam ruangan. Ketika melihat dirinya, tubuh wanita itu gemetar. Ciel yang menyadarinya menatap ke arah Isabella.


“Kamu kembali terlebih dahulu, Isabella.”


Melihat ke arah Elena, Isabella tersenyum. Dia kemudian bangkit dari kursinya dan membungkuk sopan ke arah Ciel.


“Sesuai perintah anda, Tuanku.”

__ADS_1


Setelah Isabella keluar dari ruangan dan menutup pintu rapat, Ciel berdiri lalu berjalan ke arah Elena. Melihat gadis cantik dengan ekspresi dingin itu, dia menghampiri lalu memeluknya.


“Ada apa?” tanya Ciel dengan lembut.


“...”


Melihat bagaimana Elena hanya diam tidak menjawab, Ciel menggeleng ringan. Dia tahu wanita itu memiliki harga diri tinggi dan tampak sombong di luar, tetapi cukup rapuh di dalam.


“Apakah kamu pikir aku melupakan janji yang aku berikan dulu, Elena?”


“...”


“Maaf membuatmu menunggu lama,” bisik Ciel.


Mendengar bisikan Ciel, Elena membalas pelukan pemuda itu. Menenggelamkan diri dalam dekapannya. Menutupi wajahnya agar tidak ada yang tahu … air mata mulai mengalir di wajahnya, membuat wanita yang biasanya terlihat dingin dan kuat itu juga memiliki sisi lemah dan rapuh.


“Bersabarlah sebentar lagi. Aku akan mengambil abu dari seluruh anggota Keluarga Blackscar dan membawanya untuk bertemu ibu mertua serta adik ipar.”


“En?”


Elena mendongak. Melihat bagaimana Ciel tersenyum lembut ke arahnya, hati yang dulunya telah membeku mulai kembali mencair.


Awalnya Elena berpikir Ciel telah melupakan semuanya. Namun wanita itu sama sekali tidak marah. Lagipula, sosok tuannya itu juga selalu baik dan memperhatikannya. Elena berpikir dan mencoba untuk melupakan masa lalu, fokus untuk menjadi bahagia bersama Ciel.


Dalam dekapan Ciel, Elena tiba-tiba berpikir.


Apakah … semua itu kebetulan?


Serangkaian kata ‘kebetulan’ muncul dalam benak Elena. Ciel pergi ke Istana Kekaisaran. Pada saat bertarung, pemuda yang biasanya menolak bertarung tiba-tiba menyetujui tantangan. Bukan hanya menyetujui, tetapi menaikkan taruhan.


Memenangkan pertandingan, Ciel kemudian merebut salah satu wilayah yang begitu kaya yang setara menampar wajah Duke Astorio secara langsung. Dari perselihan Victor ditambah kebencian keluarga Astorio, jelas pemuda itu akan menjadi target. Oleh karena itu, Keluarga Astorio mencari informasi tentang Ciel.


Ketika mereka mencari informasi Ciel, Keluarga Astorio pasti menemukan informasi tentang Elena. Setelah membuat banyak persiapan, Duke Astorio mengirim Marquis Fergus dan Count Blackscar pergi ke Wilayah Blackfield.


Di Wilayah Blackfield, tidak hanya menangkap Count Blackscar dengan banyak bukti, Ciel jelas memaksa Marqusi Fergus tunduk sebelum mengembalikannya ke West Duchy. Setara menanam mata-mata ke musuh.


Menyambungkan semua ‘kebetulan’ itu, ekspresi terkejut tampak di wajah cantik Elena.


Benarkah … semua ini kebetulan?


Elena mendongak untuk menatap Ciel yang tersenyum lembut kepadanya. Pada saat itu, dia merasa jantungnya berdegup kencang. Seolah mengetahui rahasia yang seharusnya tidak diketahui, wanita itu merasa tidak nyaman.


“Ada apa, Elena?” tanya Ciel dengan lembut.


Tidak peduli apakah itu benar atau tidak, Elena hanya tahu bahwa Ciel telah mendukung dirinya untuk melakukan balas dendam.

__ADS_1


“Terima kasih banyak, Tuanku.”


Sebagai tanggapan, Ciel menyentuh dagu wanita itu dan mengecup lembut bibirnya. Tidak melawan, Elena memejamkan mata, menyerahkan dirinya, jiwa dan raganya kepada sosok yang telah menepati janjinya itu.


Selesai berciuman, suara Ciel kembali terdengar di telinga Elena.


“Apakah kamu tahu, Elena?” tanya Ciel.


“En?”


Mendengar ucapan Ciel, Dark Elf cantik itu memiringkan kepalanya dengan ekspresi sedikit bingung.


“Tidak … bukan apa-apa.” Seolah mengingat sesuatu, Ciel akhirnya menggelengkan kepalanya.


Ketika mendengarkan itu, Elena tahu bahwa Ciel menyembunyikan sesuatu darinya. Namun karena pemuda itu tidak ingin mengatakannya, dia pun tidak keberatan. Wanita itu yakin bahwa Ciel tidak akan pernah mencoba menyakiti dirinya.


Melihat bagaimana Elena hanya menguburkan diri dalam dekapannya, Ciel menghela napas dalam hatinya. Pemuda itu sebenarnya secara tidak sengaja menemukan berita yang bisa dianggap sangat penting sekaligus tidak berguna. Mengingat sesuatu dalam benaknya, dia menggeleng ringan.


Tidak perlu mengungkapkannya. Kami sudah bahagia di tempat ini. Aku rasa … itu sudah cukup.


Ciel meyakinkan diri dalam hati.


Setelah itu, Ciel menghabiskan harinya untuk menemani Elena. Tentu saja, dia masih akan makan siang bersama putrinya di sela-sela waktu. Membuat gadis kecil itu tidak marah dan terus mencarinya.


... ***


...


Malam harinya.


Di salah satu sel penjara bawah tanah, terlihat sosok Count Blackscar yang telah kehilangan dua lengan dan kakinya. Ekspresinya tampak pucat dan kuyu, kelihatannya mengalami trauma akibat kekejaman Ciel di hari sebelumnya.


Suara langkah kaki bergema di tempat yang gelap dan sunyi itu. Beberapa saat kemudian, dua sosok mendekati sel penjara dengan membawa lampu sihir di tangan mereka.


Melihat keduanya, Count Blackscar mendongak lalu menunduk lagi. Orang itu benar-benar kehilangan semua harapannya. Bahkan sudah tidak peduli dengan hidup dan mati.


Kedua orang yang datang adalah Ciel dan Elena. Melihat sosok Count Blackscar, tubuh Dark Elf cantik itu menggigil. Matanya memancarkan kilau dingin penuh dengan kebencian.


Pada saat itu, Elena merasakan tangan lembut menepuk pundaknya. Menoleh, dia melihat Ciel tersenyum kepadanya. Pemuda itu kemudian memberikan sebuah belati yang sangat tajam kepada dirinya.


“Akhiri penderitaannya,” ucap Ciel.


Mengambil belati tersebut, dengan ekspresi penuh tekad … Elena memasuki sel penjara.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2