Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Bersiap Untuk Perang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, di depan pintu bangunan utama kastil.


Ariana tampak merapikan kerah Ciel yang agak kurang rapi. Wajahnya sama sekali tidak berganti ekspresi. Kemudian, gadis itu membenamkan diri dalam pelukan tunangannya itu.


“Pastikan kembali dengan selamat.”


Meski yakin kalau dirinya sendiri akan baik-baik saja, Ciel merasa kehangatan di hatinya ketika Ariana mengatakan itu. Ciel melihat kalau ekspresi tunangannya sama sekali tidak berubah. Namun jelas, kekhawatiran gadis itu tulus dan muncul dari hati.


“Nantikan aku kembali,” ucap Ciel dengan lembut.


“En.” Ariana mengangguk ringan.


Ciel kemudian melihat Camellia dan Isabella yang berdiri tidak jauh di belakang Ariana. Dia menatap mereka lalu mengangguk sembari tersenyum lembut.


“Kalian juga jaga diri. Ngomong-ngomong, Isabella, seperti yang aku bilang, jika ada sesuatu yang genting terjadi di kota … ‘mereka’ boleh keluar.” Ciel berkata dengan ekspresi serius.


“Sesuai perintah anda, Tuan.”


“Kalau begitu aku berangkat.”


“Semoga keberuntungan selalu menyertai anda dan kembali membawa kemenangan, Tuan.”


Ketiga wanita, para maid, dan penjaga berkata serempak. Ciel mengangguk ringan sebelum akhirnya naik ke punggung Deschia lalu terbang tinggi.


Seperti sebelumnya, Ciel berhenti di padang rumput tidak jauh dari Kota Black Lily, tempat pasukannya telah menunggu. Kali ini, karena strategi perang gabungan antara para bangsawan South Duchy, Ciel tidak membawa banyak pasukan.


Pasukan yang Ciel bawa justru tiga divisi baru dan bayangan. Selain itu, Ciel juga membawa bawahannya yang setia seperti Elena, Asterious, Jean, dan Clark. Keenam bawahan Jean beserta Kun akan menjaga daerah Greenscale. Sedangkan keluarga Asterious dan Ronn akan menjaga Kota Blackrock.


Ciel akan membawa 10.000 prajurit. Selain dirinya, untuk kewajiban, lima Viscount juga akan ikut dan masing-masing akan membawa 8000 prajurit. Jadi, selain beberapa tokoh penting seperti bawahan Ciel yang setia dan lima Viscount, Ciel memimpin 50.000 prajurit.


Untuk perang wilayah skala besar, ini bukan jumlah yang banyak. Namun karena ini pengepungan banyak pihak ke satu wilayah. Jumlah sebanyak itu … bisa dibilang cukup. Lagipula, Ciel juga memiliki tugas khusus dibandingkan para bangsawan lain dari South Duchy.

__ADS_1


“Anda telah tiba, Tuan.”


Melihat sosok Ciel dan Deschia yang turun dari langit, Elena segera mendekat. Bukan hanya wanita itu, tetapi juga Asterious, Jean, Theo, dan Clark.


“Apakah kalian sudah siap?” tanya Ciel dengan ramah.


“Kami siap menjalankan tugas, Tuan!” ucap kelima orang itu bersamaan.


Ciel kemudian melihat ke arah Clark. Setelah beberapa waktu tinggal dan banyak berlatih, dia sudah tidak terlihat seperti pengecut. Clark tampak lebih kuat dan garang. Caranya menggunakan tombak sudah banyak berkembang dan tidak lagi terlihat canggung. Ciel merasa senang karena ‘bisikan iblis’ benar-benar berhasil mempengaruhinya.


“Clark …”


“Ya, Tuan!” Clark langsung maju dan memberi hormat.


“Bagaimana latihan terbangmu, sudah banyak perkembangan?” tanya Ciel.


Mendengar pertanyaan Ciel, ekspresi Clark menjadi pucat. Benar, selain belajar bertempur menggunakan tombak atau tangan kosong, Clark juga dipaksa berlatih terbang oleh Ciel.


‘Bagi bayi burung yang belajar terbang, jatuh dari pohon itu biasa.’


Setelah mengucapkan kalimat itu, Ciel langsung mendorong Clark dari lantai tertinggi kastil. Tentu saja, pada saat pertama mencoba, jangankan terbang, membuka sayapnya saja Clark merasa kesusahan. Alhasil, Clark memilki cedera karena jatuh dari ketinggian puluhan meter.


Yang menjadi masalah bukan cedera tubuh karena Clark memiliki tubuh dan sisik yang kuat. Namun yang menjadi masalah adalah cedera mental. Clark yang bisa dikatakan takut ketinggian benar-benar dipaksa terjun bebas selama hampir satu hari penuh setiap minggunya.


Akan tetapi, usaha tidak mengkhianati hasil, setelah banyak latihan, Clark akhirnya bisa melayang. Setelah belajar melayang, Clark kemudian belajar terbang tanpa harus terjun dari ketinggian. Setelah itu … Clark belajar bermanuver di udara.


Clark masih ingat ketika belajar bermanuver di udara. Tuannya, Ciel benar-benar menembakinya dengan panah api hitam yang bisa melukainya bahkan jika dia memiliki sisik yang kuat. Tentu saja, dia tidak langsung berhasil dalam percobaan pertama. Bahkan percobaan pertama sangat buruk.


Karena tidak bisa menghindar, Clark benar-benar seperti bebek yeng berusaha terbang lalu ditembak oleh pemburu. Langsung jatuh ke lumpur dengan cara yang tidak elegan. Hal itu masih teringat jelas dalam benaknya.


“Walau tidak bisa langsung meluncur dengan kecepatan luar biasa, untuk bermanuver di udara … saya rasa tidak ada masalah, Tuan.” Clark menjawab dengan ekspresi gugup.

__ADS_1


“Bagus.” Ciel mengangguk. “Meski belum menguasai sepenuhnya, bisa terbang di medan perang sudah merupakan keuntungan. Tentu saja, kamu tidak boleh terlalu ceroboh dan malah menghampiri ratusan atau ribuan pemanah musuh. Kalau tidak … mungkin kamu akan ditembak jatuh dan berpenampilan seperti landak karena ditusuk ratusan panah.”


Membayangkan adegan yang Ciel ucapkan, Clark bergidik ngeri. Dia terus mengingat dan memastikan kalau dirinya tidak begitu ceroboh dalam perang pertamanya. Mati dalam perang pertama … bukannya mengharukan, itu kematian yang tidak epic dan malah memalukan bagi Clark.


“Tenang saja, Tuan tidak akan membiarkan bawahannya mati begitu saja.”


Merasakan tepukan di punggung, Clark menoleh dan melihat Asterious yang memakai armor perang tersenyum kepadanya. Sebagai tanggapan, dia mengangguk dengan ekspresi serius.


“Baik, Senior Asterious!”ucap Clark tegas.


“Mari sama-sama berusaha, Kak Clark!”


Mendengar suara itu, Clark melihat ke arah Theodore. Sudut bibirnya berkedut. Anak yang begitu muda itu bisa dikatakan monster yang sebenarnya di antara bawahan Ciel. Di usia seperti itu, Theo akhirnya sudah naik tingkat ke level 3 (awal).


Bukan hanya itu, Clark jelas mengingat ketika dirinya bertempur dengan Theo. Membandingkan penguasaan senjata, Clark benar-benar kalah dengan anak kecil itu. Bukan hanya Clark, dibanding Theo, hampir semua anggota dari divisi bayangan benar-benar kalah dalam penguasaan senjata.


“Ya, mari berjuang,” ucap Clark membalas Theo.


Theodore mengangguk dengan ekspresi ceria. Dia benar-benar tidak terlihat seperti orang yang akan pergi berperang, tetapi anak yang akan pergi menuju taman hiburan. Benar-benar membuat Clark terdiam.


“Pastikan jangan mati.” Jen berkata dengan nada dingin.


Clark memandang Jean dan mengangguk. Dibandingkan Asterious yang terkadang datang dan memukulinya sampai hitam dan biru, atau Theo yang mempermalukannya ketika berlatih penguasaan senjata … Clark lebih menyukai Jean. Bukan hanya lebih menyukai, tetapi juga kagum.


Meski sedikit bicara dan ucapannya dingin, bagi Clark, Jean adalah senior yang berhati hangat. Setiap kali tiba, karena Greenscale merupakan kota yang diubah menjadi pertanian obat, Jean akan membawakan Clark bahan obat sisa yang kemudian diproses untuk dijadikan potion penyembuhan tingkat rendah.


Ucapannya dingin, tetapi Clark merasa kalau Jean adalah yang paling perhatian. Clark diam-diam berseru dalam hati.


Ya! Dibandingkan tuan yang kejam, senior yang konyol, dan junior yang begitu aneh … Senior Jean memang yang terbaik!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2