Useless 8th Prince

Useless 8th Prince
Terima Kasih Atas Segalanya


__ADS_3

Perang telah usai. Pasukan di bawah Charles mulai menangkap orang-orang yang merupakan anggota dari Curses of Shadow dan bawahan Andrew.


Untuk para anggota Curses of Shadow, mereka akan langsung dihukum mati di tempat. Sedangkan para ksatria yang dulu juga ikut melayani Kerajaan Silver Fang, mereka semua diikat dan akan dipenjara. Mereka akan diadili setelah semuanya menjadi lebih tenang dan aman.


“Kerja bagus, Theodore.”


Duke Harry yang mendatangi Theo tersenyum ramah. Mendengar ucapannya, para ksatria berseru.


“Hidup Pangeran Theodore!!!”


“Anda sangat luar biasa, Pangeran Theodore!!!”


Theo yang sudah menyarungkan kembali pedangnya agak linglung ketika mendengar teriakan mereka. Remaja itu mengerjap dengan tatapan polos dan bersih. Benar-benar terlihat kebingungan.


Ini … apa yang sebenarnya terjadi di sini?


“Hahaha! Kamu tampak sangat bingung, Theodore.”


Duke Harry menepuk pundak remaja itu dengan ramah. Melihat ekspresi Theo yang begitu polos, dia hampir tidak percaya bahwa remaja di depannya begitu kuat dan hebat di medan perang. Tidak hanya itu, Theodore bahkan juga memiliki kharisma yang tidak dimiliki sembarang orang.


“Theodore … ikuti aku untuk bertemu dengan pamanmu. Dia pasti sangat sedih sekarang.”


Mendengar itu, Theodore mengangguk. Dia kemudian mengikuti Duke Harry di bawah sorakan banyak ksatria yang memuji atas pencapaiannya. Setelah sampai di area tempat Raja Charles dan Andrew bertarung, mereka melihat pemandangan yang membuat mereka menghela napas panjang.


Di kejauhan, terlihat sosok pria paruh baya berdiri, mendongak sembari memejamkan matanya. Di depan orang itu ada mayat saudaranya sendiri. Serigala yang kesepian … mungkin kalimat itu cocok untuk menggambarkannya.


Hujan mengguyur wajahnya. Dua aliran mengalir dari sudut matanya. Entah itu karena hujan, atau karena air mata. Mungkin saja …


Itu karena keduanya.


Melihat pemandangan itu, Duke Harry menghela napas panjang. Sementara itu, ekspresi Theo juga melunak. Dia tidak lagi membenci Raja Charles seperti sebelumnya.


Pada saat itu, seolah merasakan sesuatu, Theo menoleh ke arah tertentu. Menatap kejauhan, matanya memancarakan kilau harapan. Ya … arah itu adalah tepat di mana tuan sekaligus ayah tirinya, Ciel beranda.


...***...


Lokasi pertempuran Ciel dengan Ferdo dan Fito.

__ADS_1


“Ini tidak baik, Fito.”


“Kamu benar, Ferdo.”


Kedua orang itu saling memandang dengan ekspresi agak cemas. Setelah bertempur cukup lama dengan Ciel, mereka tahu bahwa lawan mereka sangat sulit di atasi.


Melihat bagaimana rintik hujan mulai turun membasahi bumi, mereka tahu bahwa sihir berbasis api seperti milik Ferdo akan sedikit menurun keefektifan. Memang, tidak terlalu banyak berpengaruh. Namun, sedikit pengaruh juga bisa membawa hasil yang berbeda.


Ciel sekali lagi membuang dua pedang patah di tangannya. Jika Kaisar Julius tahu betapa borosnya putra bungsunya itu, dia pasti semakin sakit kepala. Senjata yang mungkin tidak pernah disentuh oleh orang-orang biasa di seluruh hidup mereka benar-benar menjadi barang sekali pakai di tangan Ciel.


Benar-benar terlalu boros!


Dua pedang baru muncul di tangannya. Setelah bertarung cukup lama, Ciel tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.


Ini melelahkan. Telapak tanganku mati rasa. Bukankah si kembar yang mati otak itu juga kelelahan? Atau mereka bahkan tidak tahu kalau sebenarnya mereka kelelahan?


Ciel sebenarnya ingin membuka batasannya lagi. Namun tidak lagi melakukannya karena seperti sedang berada di sebuah batas. Sebuah batas dalam ilmu pedang miliknya. Pemuda itu merasa … jika dirinya mendapat sedikit pencerahan, ilmu pedangnya akan meningkat drastis.


KLANG!


Tiga sosok melesat. Di awan hitam dan guyuran hujan yang semakin deras, ketiganya saling bertabrakan.


Meski tidak terlalu kuat, serangan gabungan keduanya membuat Ciel kerepotan. Khususnya serangan bola merah dan biru yang ketika bergabung akan menciptakan sebuah ledakan.


Tunggu! Perbedaan suhu … ya! Itu yang aku cari!


Seolah mengkonfirmasi sesuatu, Ciel menyerang kedua saudara kembar itu dan memaksa mereka untuk menggunakan skill itu berkali-kali. Setelah itu, ekspresnya semakin tenang. Pada akhirnya … sudut bibir pemuda itu terangkat.


KLANG! KLANG! KLANG!


Pedang di kedua tangan Ciel diselimuti oleh api dan kabut dingin berwarna hitam. Pemuda itu terus menyerang si kembar dengan sudut-sudut aneh. Gerakannya terasa aneh dan campur aduk, tetapi anehnya … setiap serangan pemuda itu kuat. Hal itu membuat Ferdo dan Fito dalah keadaan defensif.


Awalnya keduanya merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Namun ketika merasakan perubahan suhu di sekitar mereka yang terus berubah secara aneh, Ferdo dan Fito merubah ekspresi mereka.


“FITO!”


“FERDO!”

__ADS_1


Mengetahui jika terlambat akan berakibat sangat fatal, keduanya langsung menggunkanan seluruh mana yang tersisa. Sayap merah dan biru yang tebuat dari api dan es kembali muncul di sisi lain tubuh mereka berdua. Mereka kemudian melihat sosok Ciel yang telah menghilang dan melayang di langit.


Ferdo dan Fito mengayunkan belati di tangan mereka ke arah Ciel sambil meraung.


“RAGE OF BLAZING DRAGON!!!”


“RAGE OF FROZEN DRAGON!!!”


Dua naga barat berwarna merah dan biru muncul. Bergegas ke arah Ciel dengan ganas, tetapi pemuda itu tampak begitu tenang.


Karena suhu panas dan dingin ekstrem, dua pedang di tangan Ciel rusak dan dia membuangnya. Menatap dua naga yang terbuat dari api dan es menuju ke arahnya, pemuda itu memejamkan mata lalu bergumam.


“Sen no Hana …”


Ferdo dan Fito tiba-tiba melihat titik-titik cahaya hitam yang saling berdekatan di sekitar mereka. Menggunakan konsep Black Sakura yang memisahkan sihir menjadi banyak serpihan lalu menggabungkannya. Dia menciptakan hal yang sama dengan wujud yang berbeda.


Apa yang membuat Ferdo dan Fito terkejut adalah bagaimana cahaya seperti kunang-kunang itu tercipta. Semua itu terdiri dari sihir api yang sangat panas dan es yang sangat dingin. Hal yang seharusnya tidak bisa dilakukan.


Ciel sendiri akhirnya telah memahami konsep keseimbangan. Seperti konsep Yin-Yang di kehidupan sebelumnya. Dengan ekspresi tenang, pemuda itu menyatukan kedua telapak tangan … seperti Buddha yang berdoa lalu berkata.


“Frozen Flame Lotus.”


Ferdo dan Fito yang melihat cahaya di sekitar mereka menyala mendongak, menatap ke arah Ciel dengan ekspresi penuh kekaguman. Karena dibesarkan seperti binatang dan menganggap yang kuat akan memakan yang lemah, mereka sama sekali tidak takut atau marah.


Di mata mereka … hanya terisi dengan kakaguman murni.


BLAAARRR!!!


Teratai hitam raksasa mekar dan menelan segalanya sebelum sebuah ledakan dahsyat tercipta. Mengguncang langit dan bumi.


Bersamaan meredanya guncangan, semua orang menatap langit. Langit yang awalnya gelap menjadi biru. Cerah tanpa setitik awan di sana. Bukan hanya melenyapkan awan, bahkan banyak bangunan di kota yang retak atau bahkan roboh karena guncangan itu.


Di lokasi kejadian, Ciel yang melayang di langit membuka matanya. Dengan telapak tangan yang masih disatukan, dia melihat sebuah lubang raksasa yang tidak lebih kecil dari sebuah kota.


Dengan ekspresi tenang dan dami, Ciel berkata.


“Terima kasih atas segalanya.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2